LOGINThe Coleman's family, a powerful dynasty, lost their sole child 5 years ago. They have no idea what their child's look is since after Queen Elizabeth passed out after giving birth to their firstborn child, the youngster and their loyal maid vanished. Will they be successful in locating the heir? Or Will they give up looking for her? But what if a girl appeared out of nowhere, claiming to be the Coleman's clan's heir? Is she going to be believed? Is she the long-lost heiress they've been searching for?
View MoreAwalnya, Firly keberatan menikah dengan Rendi, karena ia ingin mengejar cita-citanya dulu. Namun, Rendi berniat akan meninggalkan Firly, jika ia lebih memilih karir daripada cintanya. Karena itulah, Firly menikah dengan Rendi. Rendi meyakinkan Firly, bahwa setelah menikah pun karir dan cita-cita masih bisa dikejar.
Satu tahun pertama, hubungan Firly dan Rendi masih terbilang manis. Tahun ke empat dan kelima, hubungannya mulai renggang, tak seromantis biasanya. Rendi dan Firly sama-sama menyadari kesibukannya masing-masing. Oleh karena itu, mereka berdua memahami kerenggangan yang terjadi dan tak menganggap itu masalah besar.
"Mas, besok aku ada acara workshop sama karyawan-karyawanku. Aku akan camping di puncak, Mas. Sesuai kesepakatan karyawanku. Maaf, aku harus ikut, karena ini acara butik-ku." ucap Firly pada Rendi.
"Jadi, kamu mau ninggalin aku dan Calief?" tanya Rendi.
"Maaf ya, Mas. Aku gak bisa nolak keinginan mereka, karena mereka semuanya ikut. Aku harus menyenangkan mereka." ujar Firly.
"Baiklah, jika kamu memaksa. Aku izinkan." jawab Rendi.
Firly mencium lengan Rendi, "Mas gak marah kan sama aku?"
"Enggak, itu pilihan yang kamu inginkan. Bukankah kamu bahagia menjadi seorang fashion designer? Tentu saja aku harus mendukungmu, sayang." Rendi memeluk Firly.
"Terima kasih, suamiku. Oh, iya Mas, bilang sama Mila, Calief hari minggu harus lari pagi, terus nanti video ya, kalau sudah selesai, nanti kirim ke aku ya, Mas. Gurunya suruh buat tugas lari pagi di hari minggu. Awalnya, aku senang bisa menemani Calief lari pagi, tapi ternyata aku tak bisa menemaninya, karena acara camping bersama karyawanku." ucap Firly.
"Kenapa kamu gak bilang sendiri sama Mila?"
"Aku takut lupa, akhir-akhir ini sangat sibuk dengan berbagai rancangan busana baru, maklum lah Mas, memoriku terbatas, jadi aku ingatkan Mas Rendi juga, takutnya aku lupa, kan ada Mas yang bakal ingetin ke Mila. Gitu lho, sayang." Firly tersenyum manis.
"Ya sudah, ayo berangkat. Aku anterin, aku gak ke restoran pagi ini. Mungkin siang nanti aku baru akan ke restoran." ujar Rendi.
"Iya, Mas. Ayo," Firly menenteng tas nya.
Firly berangkat diantar oleh Rendy seperti biasa. Restoran Rendi terbilang sudah cukup sukses dan terkenal. Ia memiliki beberapa cabang restoran. Salah satunya di Bandung dan juga Bogor, namun pusatnya tetap di Jakarta. Ia merintis restorannya dari awal. Sejak kuliah, ia meneruskan bisnis orang tuanya, hingga kini ia mampu mendulang kesuksesan.
"Semangat kerjanya ya sayang," Rendi mengecup kening Firly.
"Makasih, Mas. I love you,"
"Love u too, my wife!" Rendi segera masuk ke mobilnya dan berlalu.
Sesampainya di rumah, Rendi segera memarkirkan mobilnya, dan Rendi melihat Mila sang pembantu di rumahnya, sedang memakaikan sepatu Calief, karena pagi ini Calief harus sekolah. Calief sekarang sekolah di TK A. Mila yang selalu mengantar jemput Calief, karena kebetulan, sekolahnya tak terlalu jauh, naik satu kali angkutan umum pun, pasti akan cepat sampai di sekolah Calief.
"Papah ..." sapa Calief.
"Halo, Lief. Mau berangkat sekolah ya? Mau Papa antar?" ajak Rendi.
"Mau, Papa. Tapi Mbak Mila harus ikut." ujar Calief.
"Loh, kenapa ikut? Kan ada Papa," ucap Rendi.
"Papa pasti gak mau anterin Alief masuk ke dalam kelas, kalau Mbak Mila kan selalu anterin Alief sampai kedalam sekolah." ujar Calief.
"Baiklah, ayo kita berangkat." ajak Rendi.
Calief dan Mila duduk dibelakang kemudi. Rendi memang tahu, Calief dan Mila sangat dekat, karena sejak bayi, Calief diasuh oleh Mila karena Firly sibuk dengan butiknya. Mila sudah bekerja selama lima tahun di rumah Rendi. Mila masih gadis, ia adalah gadis sebatang kara yang tak punya keluarga. Kini usianya baru menginjak 24 tahun. Ia hanya seorang lulusan SMP, karena itulah ia bekerja menjadi pembantu di rumah Rendi dan Firly.
Rendi dan Firly sangat mempercayai Mila. Karena sejak usianya 19 tahun, Mila seperti diangkat menjadi bagian dari keluarga Rendi. Firly menemukan Mila saat Mila terkapar lemah di jalanan, ia di usir oleh Ibu tirinya, karena Ayahnya sudah meninggal. Mila begitu baik dan jujur, karena itulah Firly sangat menyayangi Mila. Begitu pun dengan Mila, ia sangat bahagia ada keluarga kaya yang mau mengangkatnya dan mempekerjakannya.
Calief sudah masuk kelas. Mila kembali ke parkiran dan menemui Rendi yang sedang menunggunya. Mila awalnya canggung sekali karena Rendi menunggunya, ini baru pertama kalinya Rendi berada di rumah, dan mau mengantar Calief ke sekolah.
"Pak, Calief sudah masuk kelas." ucap Mila dari luar mobil.
"Ya sudah, kamu pulang saja bersamaku. Kalau menunggu di sekolah, pasti lama. Nanti biar aku jemput Calief lagi." ujar Rendi.
"Baik Pak," Mila akan membuka pintu belakang mobil,
"Mil, didepan saja. Memangnya saya supir kamu apa, kamu duduk dibelakang," tukas Rendi.
"Ah, i-iya Pak. Maaf," Mila membuka pintu depan mobil dan segera masuk ke mobil Rendi.
Baru kali ini Rendi dan Mila berada satu mobil bersama. Biasanya, Rendi sangat sibuk dengan restorannya. Namun, kali ini entah mengapa ia mau meluangkan waktunya untuk berada di rumah dan mengantar Calief pergi ke sekolah.
"Mil, pakai sabuk pengamannya." perintah Rendi.
"Ba-baik, Pak." Mila memakaikan sabuk pengamannya.
Ia begitu kesulitan memakai sabuk pengaman. Berulang kali masih saja tak berhasil. Selama naik mobil Rendi, Mila tak pernah duduk didepan. Jika duduk dibelakang pun, jarang menggunakan sabuk pengaman karena Calief tak bisa diam jika dipakaikan sabuk pengaman.
"Bisa gak?" tanya Rendi.
"Bentar, Pak. Ini gak nyantol terus." ujar Mila.
"Sini saya bantuin," Rendi menawarkan diri untuk membantu Mila yang kesulitan memakai sabuk pengaman.
Mila terlihat keberatan, " Eh, Pak biar saya saja."
Rendi tak mendengarkan ucapan Mila. Mila mengelak pun percuma, karena ia tak bisa menggunakan sabuk pengaman dengan benar. Rendi mengambil sabuk pengaman yang berada di dada Mila, Rendi menarik sabuk pengaman itu, hingga Rendi sadar bahwa tangannya telah bersentuhan dengan dada Mila yang menonjol sangat menggoda. Tangannya terlalu kuat menarik sabuk pengaman, sehingga ia menyenggol dada Mila yang besar.
Jantung Rendi berdebar. Ia merasa, darahnya mengalir cepat seperti hantaran listrik. Baru kali ini, ia bersentuhan dengan dada pembantunya. Mila begitu kaget, ketika merasa bahwa tangan majikannya menyenggol buah dadanya. Sesegera mungkin Mila memalingkan wajah karena begitu malu. Rendi pun segera memasangkan sabuk pengaman dengan benar.
"Maaf, saya tak sengaja." ucap Rendi.
"I-iya, gak apa-apa Pak." Mila merasa tak enak hati.
Pikiran Rendi sangat kacau. Rendi tak bisa fokus menyetir. Ia terbayang-bayang saat tadi, tangannya yang menyentuh barang paling sensitif milik Mila. Rendi mencoba menghapus bayang-bayang nakal itu. Namun, pikiran itu selalu menghantui kepalanya.
Mila dan Rendi telah sampai di rumah. Mila kembali bekerja seperti biasa. Ia mencuci piring, karena ia belum mencuci piring bekas sarapan. Setelah sarapan, Mila langsung mengantar Calief ke sekolah, dan belum sempat mencuci piring.
Rendi meminum teh nya yang sudah dingin hingga habis. Ia melihat Mila sedang mencuci piring, karena ia telah selesai minum teh, ia pun berinisiatif pergi ke dapur untuk memberikan cangkir kotornya pada Mila. Dari belakang, Rendi sudah memperhatikan bentuk tubuh Mila yang melekuk indah bak gitar spanyol.
Rasanya, kini Mila sudah tumbuh dewasa. Semuanya telah matang, termasuk dada yang tadi aku senggol. Saat dia baru datang disini, aku tahu sekali, bagaimana kondisi tubuhnya saat itu. Mila sangat kurus dan tak berisi. Kini, tubuhnya sangat kencang dan padat. Mila yang dulu, bukanlah yang sekarang. Mila kini mampu menarik perhatian ku sebagai lelaki. Selain dia cantik, dia juga begitu menggoda. Batin Rendi.
"Mil, ini cangkir bekas teh ku," Rendi menyerahkan cangkirnya pada Mila.
"Baik, Pak. Akan saya cuci sekarang," ujar Mila.
Rendi menatap Mila. Entah kenapa, jika menatap Mila, pikiran Rendi menjadi semakin liar dan bergairah. Baru kali ini Rendi merasa hatinya sangat bahagia menatap seorang pembantu.
Mila merasa tak nyaman, karena ia tahu, bahwa Rendi sedang memperhatikannya dari belakang. Rendi tak meninggalkan dapur sedikit pun, ia malah fokus melihat Mila yang sedang mencuci piring.
Rendi perlahan mendekati Mila, Rendi sudah kalang kabut, dan ia tak bisa menoleransi lagi sifat nakalnya. Ia terus melangkah mendekati Mila, mencoba memperhatikan Mila dari belakang, dan dengan pelan tapi pasti, Rendi melingkarkan tangannya di pinggang Mila. Ya, Rendi memberanikan diri memeluk Mila dari belakang, saking tak kuatnya ia menahan gairahnya ketika melihat Mila.
Mila terperanjat kaget, "Eh, Eh Pak. Bapak ngapain? Le-lepasin, saya! Saya mohon, Pak. Lepasin saya,"
"Mila, maafkan saya. Saya tertarik dengan tubuh kamu. Izinkan saya memeluknya seperti ini," Rendi tetap memeluk Mila.
"Pa-Pak, saya mohon lepas, gak enak dilihat orang. Pak, saya mohon. Bapak jangan kurang ajar sama saya!" Mila hampir menangis karena ketakutan.
"Saya gak akan ngapa-ngapain kamu, saya cuma pengen meluk kamu aja! Gak lebih, Mil." Rendi mendekatkan kepalanya pada bahu Mila, membuat tubuh Mila merinding hebat karena sentuhannya.
Mil, Mila ... Kamu hangat sekali, berbeda jika aku memeluk Firly. Rasanya sudah tak ada gairah mendalam saat dengan Firly. Apalagi, Firly lebih mementingkan karirnya daripada aku. Kini, baru aku sadari, ternyata aku mempunyai seorang pembantu yang bisa membuatku kembali bergairah. Maafkan aku, Firly. Aku sungguh hanya ingin memeluknya saja, tak lebih.
Time flew fast. The world, which was formerly erratic, is now calm. They have nothing to worry about. They have been detained and imprisoned together with Shane, Melanie, Asha, and their collaborators. They won't believe that fate has taken advantage of them excessively. Perhaps they are experiencing an uphill battle in life. They once held the position of leadership. They believe they are done dealing with issues at this point.Who would believe that the young woman who shares a modest lifestyle with her well-known mother is actually an heiress to the Coleman Clan? She now resides with them and has a permanent smile on her face. Caitronia who became the target locked is now finally free from any burden. Mrs. Coleman believed that her daughter had passed away. Even Shane is unsure which of the two is real and which is phoney in light of the fact that the only heir has been murdered. She was clutching her sidekick, but she was unaware of it. She didn't realize that the other Cait
As I open my eyes, the white ceiling and a smell of hospital welcome me. Oh God! What time is it? Why do I feel like I overslept? I look at my phone and there are many miscalled from Attorney Kalix. The call was 1 hour ago. Did something happen? I tried to call him but I forgot that my sim has no load anymore. I stand up and hurriedly went out. I went to the Frontline. "Please send my bill to my facebook account. I will pay later on." And after that, I ran and I am glad they didn't stop me. They even look frozen. Why do I feel like I am missing something? What is it?"The most famous wife of a business tycoon could not find the body in the said bomb blast." I immediately looked at the news that was showing on the big screen outside the hospital. I stopped because what they were talking about seemed familiar to me. I immediately closed my eyes when I realized that maybe they thought I hadn't left that place! My goodness. I immediately called Daniel's cell phone but his cell phone was
When I open my eyes, I met a different ceiling. Where am I? Why does I feel like we are moving? is there an ongoing earthquake? My goodness! Wait! Where is Riley? I remember going inside the hospital but I suddenly slept when I drank the water that my mother Melanie gave me. I gulp upon realizing something. This scene is very familiar to me. Betrayals. Mommy Melanie betrayed us. She betrayed me. I thought she wants a new life with us but I guess this is all a mistake. I cannot believe her. She did this for money. For the dream she once had. Just what the hell."Where are we?" I asked while roaming my eyes around. We are at the ship? They did plan this one that much?"We're going far. We're starting again, daughter." She replied that I wanted to throw up."I don't have a mother who is a traitor. Don't call me daughter anymore. From now on I will not consider you as a mother. You are a traitor." I said angrily. I don't know where this ship is going. I stood up and went outside of the
"Where is my wife?" I asked as one police look at me with sympathy. I glared at him. I don't need a look like that. "Where is she? Did she told you to take care of the bomb?" I asked hoping for a good response. "I am sorry sir. The bomb exploded. We went late. The bomb already exploded." He explained. I stared at him blankly. "After sacrificing her life to all of you, you are telling me that you didn't saw her? What kind of bullshit are you trying to tell?" I asked with a very loud voice. How can I fucking calm down when I know that my wife is inside. My soul will never be quiet while I worry about how she said she would wait for the police. I immediately walked in but they blocked me. I tried to enter but I couldn't do anything because they stopped me. "How can you let her die alone while trying to do something to stop that bomb? Why you didn't save her! Let me come in! I know that my wife is still alive! I know that she is still there! She is waiting for me!" I shouted with wea
"Where is mom?" Daniel asked as he look at my direction. "I didn't know. Mommy Lavinia must be doing something?" I asked as I answered him."Yeah, maybe. Maybe we need to visit her for awhile?" My husband looks at me while he asked that. "Is there something wrong?" I asked as I can feel him looking c
As I open my eyes, the very stressed and furious eyes of my wife welcomed me. "You are on a high blood again..." I said and now she is looking at me with her wide eyes. "Daniel!" She exclaimed in happiness and hugs me. I am now finally awake. I am just too lucky that I can able to fight back the dea
"Where are you going, sir?" The one on the front line asked.I looked at her and said, "Is Caitronia here?""Ah yes sir. She is in a meeting with the board members." She answered."Please tell her I'll just wait in the lobby." The woman immediately nodded. I got on the elevator and hit the 8th floor. B
No one mentioned Asha's tenacity and rage: "Who the hell made my captive escape?!" All of the guards bowed and were silent. The girl's mother, Prairie, is holding them, so they are unable to communicate.Se said in a loud voice, "What? No one will speak? Do you want me to cut out your tongues so you


















Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.