MasukUlric Wolcott, known as miniature wolf by his friends and family, has no boundary between man and wolf. His Native American heritage from his mother gave him access to his spirit guide, the Spirit of the Wolf itself. The Spirit of the Wolf blended easily with the wolf nature he received from his werewolf father. The first werewolf he met outside his family set his feet on the path to a new name that would define his future. An encounter with a young girl who would become pivotal in his life would seal it. miniature wolf's spirit guide is leading him to become not only the ruling Alpha of Spirit Wolf's worldly pack but King to all werewolves!
Lihat lebih banyakKedatangan Keluarga Mantan
Aku duduk menghadap suami istri yang duduk berdampingan. Sang suami menegakkan tubuhnya di atas sofa ruang tamuku. Matanya berkali-kali mengalihkan pandangannya denganku saat kami bertatapan tanpa sengaja. Tangan sang istri bergelayut di lengan suaminya, menegaskan dengan kuat posisinya saat ini.
Wanita itu dengan begitu jelas menampakkan wajah tak sukanya padaku. Matanya melirik dengan pandangan sinis sekaligus merendahkanku. Beberapa kali dia mengeratkan jemari lentikknya pada lengan Sang suami. Aku tertawa dalam hati melihat tingkahnya yang seperti ketakutan kehilangan laki-laki di sampingnya.
Sedangkan dua orang lagi, sepasang suami istri lanjut usia masing-masing duduk di kursi single di kanan dan kiriku. Sama dengan pasangan sebelumnya, tak ada raut ramah sama sekali dari air mukanya. Aneh, padahal merekalah yang datang sendiri kemari tanpa kuundanh. Bahkan jika aku mau, sudah kuusir kedua pasang manusia yang sudah menorehkan luka begitu dalam di dalam hatiku. Tetapi aku menahan diri, aku ingin tahu keajaiban apa yang membawa mereka datang kemari.
Kuangkat daguku, mengabaikan dentuman detak jantung dan emosi yang tertahan. Aku tak bisa membiarkan emosi membuatku lepas kendali dan kalah dengan permainan ini.
" Bagaimana kabar anak-anakmu, Vin?" tanya Pak Tanu, mantan mertuaku. Rambutnya hampir keseluruhan memutih, berbeda dengan tiga tahun lalu, saat terakhir bertemu dengannya. Suara baritonnya sama angkernya dengan bertahun yang lalu. Hanya saja mentalku sudah lain, aku tak serapuh dulu saat masih menjadi menantunya.
"Sehat, Alhamdulillah." Aku menjawab datar. Bahkan aku tak ingin memanggilnya dengan sebutan 'pak'. Kudengar dia berdehem. Mungkin dia tak suka dengan nada suaraku. Mana aku peduli! Kulihat mantan ibu mertuaku meremas tas yang dari tadi berada di pangkuannya. Entah kalimat apalagi yang akan dia lontarkan untuk mencairkan sebongkah hati yang sudah beku di dalam dadaku.
Sedangkan pria di depanku, yang tiga tahun lalu menjatuhkan talak dan mengusirku beserta tiga anaknya, hanya tertunduk saat tatapan mataku menghujam manik matanya. Tak ada kesombongan yang terlihat dari sana. Tentu kontras dengan sikapnya dulu. Aku masih ingat matanya menyala-nyala seolah ada bara api kebencian disertai kalimat kasar yang dia lontarkan padaku tanpa ampun.
"Dimana mereka sekarang?" tanya mantan mertuaku lagi.
"Adek tidur di kamar. Dua kakaknya sedang ikut les di bimbel, " jawabku lantang tak ada keraguan sama sekali.
"Kamu biarkan Zoya sendirian di kamar? Bukankah tadi waktu kami datang kamu sedang berada di dapur?" Pertanyaan Ibu mertua terdengar ingin mengulitiku. Matanya terlihat puas mempermalukanku. Seolah aku ibu yang payah, membiarkan anaknya yang berusia tiga tahun tidur sendirian di dalam kamar. Dia belum tahu serangan apa yang kusiapkan untuk menjawab kalimatnya.
"Siapa bilang sendirian? Sudah kuminta pengasuh untuk menjaganya." Sengaja kutekan kata 'pengasuh' kali ini. Kata yang hampir tak mungkin dikeluarkan saat aku masih menjadi menantunya dahulu.
Kulihat wajah-wajah tegang mereka. Entah hanya perasaanku atau memang nyatanya seperti itu, aku melihat rona wajah kecewa setelah aku menjawab demikian. Memang benar, aku meminta Mbak Yuli—pengasuh Zoya—untuk menjaga anak bungsuku itu. Tak ada kebohongan dalam kalimatku. Hanya saja mereka yang seolah tak siap dengan jawaban yang kulontarkan.
" Jam berapa Zayn dan Ziyan pulang dari les? " Laki-laki pecundang di depanku akhirnya bersuara. Kulihat sang istri meremas lengan suaminya, seolah tak setuju dengan kalimat yang dikeluarkannya. Aku hampir terkekeh melihat kecemburuan yang mudah sekali terlihat dari mata cantik wanita itu.
"Sebentar lagi. Sudah kuminta tantenya untuk menjemput, " jawabku singkat dengan menatap sekilas ke arahnya. Lagi-lagi mata itu mengalihkan pandangannya. Kali ini aku tak tahan menyunggingkan senyum sinis untuknya.
" Tiga tahun tak bertemu, sepertinya banyak perubahan pada dirimu, Vin. Belum juga berniat menikah? " Mantan Ibu mertuaku bertanya. Wanita yang dulu begitu kuhormati dan kuperlakukan selayaknya ibu kandung itu bertanya lagi. Nada suaranya seperti mengejekku yang belum juga menikah selepas bercerai dari anak kesayangannya.
" Belum. Fokusku membesarkan anak-anak dengan baik."
" Menikahlah, Vin. Anak-anak membutuhkan sosok ayah dalam kehidupan mereka. Jangan larut dengan kesedihan seperti ini. Kamu masih muda, masih banyak laki-laki …."
" Memangnya ada, laki-laki yang mau dengan janda beranak tiga?" tanyaku memancing emosi mereka. Kuingatkan kembali kalimat yang dulu pernah mereka ucapkan saat mengusir kami dari rumah.
" Bukankah semua laki-laki dan keluarganya kebanyakan mencari gadis yang memiliki karir? Lagi pula anak-anakku sudah terbiasa hidup dengan ibunya saja, bahkan jauh sebelum orangtuanya bercerai mereka sudah tak punya ayah. Ayah mereka sibuk dengan pekerjaan … dan urusan lainnya."
Kuberi tekanan lebih saat mengucapkan kalimat terakhir. Mereka semua tertunduk, kecuali wanita di depanku. Soraya menatapku penuh kebencian. Aku tak gentar, lagi pula aku tak pernah melakukan kesalahan sedikit pun padanya. Bahkan dialah wanita mengerikan yang sudah masuk dan memporak-porandakan kehidupan keluargaku.
Kenanganku dengannya berkelebat di kepalaku. Tiga tahun yang lalu aku nekat menemuinya di sekolah tempat dia bekerja. Bahkan aku menggendong Zoya yang seharusnya tertidur nyaman di kasurnya yang hangat. Saat itu aku berharap dia mengasihiku dan mau memutuskan hubungannya dengan Mas Galih—suamiku.
"Tentu saja. Mas Galih dan keluarganya mendambakan istri dan menantu sepertiku. Wanita karir lebih menjamin kehidupan rumah tangga ke depannya dibandingkan dengan ibu rumah tangga yang tidak memiliki kemandirian finansial. Jangan salahkan orang lain, salahkan dirimu yang tak memiliki apapun untuk dibanggakan."
Soraya mengangkat dahunya tinggi. Bibir berwarna mirabela berpadu cantik dengan wajahnya yang putih berseri. Rambutnya digerai begitu indah yang membuatnya sangat mirip dengan model papan atas.
Perkataan Soraya membuatku tergelitik. Kutarik sudut bibirku, membuat senyuman yang tidak simetris.
" Wah … Ibu juga dulu hanya ibu rumah tangga kan, Bu? Berarti kehidupan Ibu dan Bapak dulu juga tidak terjamin? Serba kekurangan tepatnya … "
Kutatap wajah kedua mantan mertuaku bergantian. Rahang Pak Tanu mengeras, matanya nyalang menatapku. Begitu pun istrinya, kulihat jarinya bertaut satu sama lain. Sementara Soraya memandangku penuh amarah. Kalimatnya berhasil kukembalikan, hingga justru memukul wajahnya sendiri. Sang suami membelai punggung tangannya dengan lembut. Perlakukan yang dulu hanya kuterima di awal-awal pernikahan.
Suara gawaiku berbunyi. Sebuah panggilan dari Tania, adikku perempuanku satu-satunya.
"Mbak. Kembar pengin main timezone dulu, boleh nggak, nih?" tanya adikku setelah aku menjawab salam darinya. Kuyakin mereka yang duduk disana mendengar kalimat yang diucapkan Tania. Buktinya wajah mereka berubah lebih keruh.
" Boleh. Maksimal satu jam, jangan lebih. Ingatkan mereka jam lima nanti guru ngajinya datang ke rumah. Jangan sampai ustadzah menunggu," jawabku. Panggilan dimatikan oleh Tania. Kudengar lamat-lamat Zayn dan Ziyan berteriak kegirangan setelah keinginan mereka dikabulkan. Aku tersenyum membayangkan tingkah kedua anak kembarku. Pasti mereka tak menyangka aku mengizinkan mereka bermain tanpa pulang terlebih dahulu.
"Loh, kok mereka diijinkan main timezone? Padahal kami ingin mengajaknya jalan-jalan, kenapa malah tidak langsung pulang?" protes Bu Mirna, mantan mertuaku. Aku balas memandang wajahnya yang memang tak pernah menyukaiku dari awal pernikahan.
" Loh, siapa yang mengijinkan kembarku ikut kalian? Lagi pula … kalian yakin sekali mereka mau ikut orang asing." Ja
" Kami bukan orang asing! Kami keluarganya! Jangan mencoba memisahkan anak dari ayahnya!" ucap mantan suamiku setengah berteriak. Aku berusaha menetralisir debaran jantung yang berdetak makin cepat seiring emosi yang mulai naik.
Sejak kapan dia ingat bahwa dirinya adalah seorang ayah?
" Kalau kalian bukan orang asing, mengapa dengan teganya mengusir kami berempat dari tempat tinggal kami, padahal waktu itu sudah malam."Aku menjeda kalimatku dengan sekali tarikan napas. Kutatap mereka satu persatu dengan dengan emosi yang kutekan sekuat tenaga.
"Dan kau, Mas. Hal apa yang membuatmu tiba-tiba ingat dirimu adalah seorang ayah? Dan sejak kapan?"
***
Kutatap kepergian mereka satu per satu dari ruang tamu. Raut kekecewaan tergambar jelas di wajah mereka. Setelah menunggu lama Zayn dan Ziyan dari bermain timezone, nyatanya hanya kekecewaan yang mereka dapatkan.
Tak ada sambutan penuh haru biru layaknya ayah bertemu anak yang bertahun-tahun terpisah. Tak ada pelukan hangat dari Sang cucu pada kakek neneknya yang mungkin baru ingat ada darah dagingnya disini. Hanya kekecewaan karena anakku bahkan menampakkan wajah pias saat melihat tamu-tamu itu duduk rapi di sofa rumahku.
Kedua anak kembarku yang saat ini berusia delapan tahun kupaksa bersalaman dengan mereka. Tadinya mereka hanya menampakkan wajah kaget dengan orang-orang itu tanpa mau beranjak dari tempatnya berdiri.
Sedangkan Zoya, dia hanya menangis kencang saat Mas Galih berusaha menggendongnya. Aku tak bisa memaksa, karena Zoya bahkan hanya merasakan dekapan ayahnya kurang dari tiga bulan. Itu pun sangat jarang, mengingat ayahnya saat itu sibuk dengan Soraya—selingkuhannya.
"Jangan racuni anakmu untuk membenci ayahnya. Bagaimanapun Galih adalah ayah kandung mereka," ujar Bu Mirna dengan wajah kesal. Dia yang ingin menggendong Zoya bahkan tak sempat menyentuh kulit bungsuku. Saat Mas Galih tak bisa menenangkan Zoya barang sedetik pun, kuminta dengan segera Mbak Yuli mengambil alih anakku. Zoya mendekap erat tubuh pengasuhnya seolah tengah terlepas dari bahaya yang mengancamnya.
Bagus, penolakan itu sudah pasti melukai harga diri mereka hingga tak berharga sama sekali. Aku tak bisa memaksa anak-anakku untuk menerima mereka, sedangkan orang-orang dewasa itulah yang dulu sudah menolaknya mentah-mentah.
"Anakku punya ingatan, Bu. Mereka tentu tak akan lupa pernah melihat bagaimana ayah mereka memperlakukan ibunya. Bagaimana kakek neneknya bahkan tak punya perasaan sama sekali pada anak sekecil mereka. Jangan merasa menjadi pihak yang tersakiti disini, Bu. Nada suaramu terdengar kau begitu didzolimi. Justru itu lucu sekali.
Kalau Zoya, barangkali memang dia benar-benar asing dengan ayahnya. Maklum Bu, sejak lahir Zoya hanya mengenal ibunya. Mas Galih bahkan bisa dihitung dengan jari berapa kali dia menggendong Zoya," jawabku menohok.
Puas sekali kukuliti mereka satu per satu. Laki-laki yang pernah menyandang gelar suamiku selama hampir enam tahun itu hanya menunduk mendengar penuturanku. Tangannya mengepal rapat, kurasa perkataanku cukup membuatnya tersudut. Tetapi dia bisa menyangkalnya, karena memang kenyataannya sama dengan yang kuucapkan.
"Mohon maaf, sebentar lagi guru ngaji kembar akan datang. Aku harus mempersiapkan baju mereka. Jika ada hal penting lainnya, kalian bisa tunggu mereka disini. Mungkin saja setelah mengaji pikiran mereka jauh lebih fresh dan bisa menerima kunjungan mendadak dari keluarga ayahnya. Tidak lama, menjelang maghrib mereka selesai."
Kurasa mereka paham dengan kalimat pengusiranku kali ini. Buktinya tak lama mereka berdiri, diawali oleh mantan ayah mertuaku. Disusul Mas Galih dan dua orang lainnya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulut mereka. Bahkan kalimat pamitan pun tak keluar sama sekali dari mulut orang-orang berpendidikan itu.
Kuikuti mereka sampai pintu rumahku. Kututup pintu dengan gerakan cepat hingga menimbulkan bunyi cukup keras. Tak peduli lagi soal sopan santun yang selalu kukatakan pada kedua anakku. Mereka, Orang-orang tak punya hati itu harus tahu bagaimana rasanya terusir.
Jacob hung around for a while. When I had a few moments he and I would discuss the different moves the fighters used. We were interrupted by some shouts from upstairs.Someone opened the door to the basement to holler for Mac when a big dog snuck down. I had to laugh when I saw the yellow wolf with the black back. He sniffed around, easily avoiding the hands that tried to nab him."My fault," I laughed, "I bet he heard me howl earlier. I'll get rid of him for you Mac.""If you can catch him," said Jacob as he watched the four legged intruder make a circuit around the basement."Easily done," I said. "Clear the steps please," I hollered out, "and every one hushed."I stalked him, giving some playful whines and barks, acting like I did at storytime. I huffed, moved toward the steps, then added some more wolf sounds. Lobo came over and I herded him up the steps with another playful growl."I'm surprised to see you here," I told him once we were outside and out of view. He shifted in the
I was going through life with a permanent smile on my face these days.Winter had set in. Everyone had gone home during the holidays, spending vacation with their respective families.Derrick had flown home to Maine, complaining because he wouldn't be able to bring back a suitcase full of seafood. I think he was getting tired of elk. I did laugh helplessly when two big boxes full of frozen seafood arrived. We split the cost of a small chest freezer as a Christmas gift to each other. He was looking forward to a clam bake in the fire pit.The wolves had long gone their separate ways. They stayed in contact. Arctic was now the proud father to a set of twins, one boy and one girl, the mother doing fine. Old Grey often came to visit dad. Our living room became his winter home when he wasn't out and about. Lobo ranged around, unable to not travel. Businessman had left us his card, and I had promised to come visit him in the spring.Cherokee actually invited dad and I to come to their pow-wo
I stirred from my spot stretched out in the back of Mahina's car. Derrick was driving my bike back."Hey, how are you doing up there?""Good."Uh-oh. I had the impression Mahina wasn't thrilled with me right now. I climbed over the seat, stretching before buckling myself in."I really appreciate you putting up with me this weekend.""It's ok.""Nice of you to say so, even if it really isn't ok. I mean you come out here because you're worried about me, then I foist you off on my cousin and you get cornered by my grandfather."Anna said he was kinda brusk with you," I said sympathetically. "You should see him with my dad. Sometimes I think Grandfather doesn't realize it's different from me, even though it's the same," I finished thoughtfully."What do you mean?""Hmm, it's the part of my family history no one really talks about, and to be honest, part of it is a conversation that normally would wait for that moment in a relationship where someone asks the other how they feel about havin
Sheep made a slow, thoughtful nod."Ok then. Here's an amazing thing. The omega can have a special relationship with the alpha. See, the omega isn't going to attack his leader. If it's just the two of them, the alpha can let his guard down, be himself, not be vigilant one hundred percent of the time. Same with the beta. They can relax and be friends with the omega. They'll keep him in his place but might tolerate more from him than others will."I watched him, but more I smelt him. This had long been my specialty, gauging emotions."You've seen this?" I asked, knowing he was comparing what I said with the human interactions he had seen."Yes."His one-word answers slightly amused me."That's not all an omega does. The omega is usually the one who instigates play. Among wolves, what purpose does play serve?""Teaches skills."I smiled. Two words! We were working our way to a conversation."The omega will also break the tension. He might try to play with the alpha to distract him. If a
"Been thinking of wearing a doggie backpack," I told him."Hard to put that on as a wolf by yourself," he replied.Instead of answering, I started shifting my body. It's natural for me to begin with my feet when I'm doing a total shift. Concentration and practice, which my dad had insisted upon as
Things became awkward fast. I let go of my cousin's shoulder and stepped back a bit. I could tell Running Elk needed a moment to take it all in."You ok?" I asked with concern.Running Elk shook his head, taking half a step backward. It took a moment before words managed to spit their way out my co
I wished I had a way to carry my phone so I could capture the look of fear and confusion on Running Elk's face.A low growl had me spinning around, hackles raised. I placed myself squarely in front of my human cousin. The light grey timber-wolf facing me was showing teeth and hanging low, testing b
"Son, pay attention; keep your feet on the ground and stop climbing trees. miniature wolf, be careful where you put your paws, so you don't leave tracks. If you aren't going to eat them, leave the squirrels alone. miniature wolf, get over here and tell me what you can smell ... "Dad's training fro






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan