MasukChapter 121 Aneesa Pernah Menyukainya Sorak-sorai di tribune belum sepenuhnya mereda ketika Marcello akhirnya melepas helmnya. Keringat masih mengalir di pelipis, napasnya belum benar-benar stabil, dan dunia terasa berdengung—antara suara mesin yang baru saja mati dan gemuruh penonton yang terus bertepuk tangan. Balapan hari itu terasa berbeda, bukan karena hasilnya semata, melainkan karena tatapan-tatapan dari paddock yang sejak awal ia rasakan menempel di lintasan. Ia baru saja melangkah turun dari mobil ketika Roy menepuk bahunya, hendak mengatakan sesuatu, namun kalimat itu belum sempat diucapkan Roy karena seorang staf resmi, mengenakan tanda khusus dengan gesture yang terlalu rapi untuk sekadar urusan tim, berdiri menunggu beberapa langkah dari mereka. Wajahnya tenang, nyaris kaku—jenis ekspresi yang hanya muncul saat membawa pesan penting dan Marcello mengenali pengawal itu, begitu pula pengawal itu yang pasti mengenalinya. "Marcello," katanya singkat, suaranya rendah namu
Chapter 120 Tidak Lagi Sendirian Seri kelima berlangsung di Barcelona di bawah langit biru yang bersih, udara Mediterania terasa hangat meski pagi masih muda. Marcello duduk di bangku ruang ganti, tubuhnya sedikit condong ke depan saat menarik tali sepatu balapnya hingga rapat lalu menepuk-nepuk ujungnya memastikan kuncinya pas. Nomex putihnya sudah terpasang rapi, ritsleting suit ditarik perlahan sampai ke dada, dan sarung tangan diletakkan sejajar di atas bangku seolah mengikuti kebiasaan yang menenangkan. Ia menghela napas pendek, fokusnya utuh pada lintasan yang sebentar lagi akan menjadi dunianya dan di tribun, Aneesa duduk menyaksikannya. Menunggunya. Pintu mendadak tebuka, Roy masuk dengan langkah tegesa, napasnya belum sepenuhnya teratur. "Dengar semuanya...!" katanya tegas membuat beberapa orang menoleh bersamaan. "Raja dan Putra Mahkota Spanyol datang ke paddock. Bersama Menteri Pemuda dan Olahraga." Seketika ruangan itu hening lalu berdenyut oleh kesadaran baru: balap
Chapter 119Unexpected Recovery FP2 dimulai dengan udara yang lebih hangat dan lintasan yang mulai "bersih". Di atas kertas, kondisinya nyaris sama dengan FP1. Namun sejak Marcello duduk di kokpit dan mesin dinyalakan, ia sudah merasakan perbedaannya—bahkan sebelum keluar pit.Getaran mesin lebih halus. Nada suaranya tidak lagi tertahan."Power feels... normal," ucap Marcello pelan lewat radio, seolah belum sepenuhnya percaya.Roy menatap Oliver. Keduanya tidak menjawab langsung seolah menunggu sesuatu, namun tak kunjung mendapatkan jawaban hingga lampu hijau menyala dan mobil Marcello meluncur keluar pit lane.Lap pertama masih konservatif. Marcello tidak memaksa. Ia menguji—rem di tikungan lambat, respons throttle di tikungan menengah, kestabilan bagian belakang saat keluar tikungan panjang. Semua kembali seperti yang ia kenal. Mobil itu kembali menjadi dirinya."Grip belakang stabil, aku bisa push," kata Marcello.Roy menarik napas dalam-dalam. "Copy. Push when ready."Di pit wall
Chapter 118Mobil CacatKamis pagi Marcello dijdwalkan melakukan sesi latihan resmi sebelum balapan, tujuannya supaya pembalap dan tim menyesuaikan sirkuit, strategi, dan mobil. Marcello langsung tahu sejak lap pertama mobilnya berbeda dan itu bukan sekedar perasaan. Respons pedal gas terasa tertahan sepersekian detik, downforce di tikungan cepat tidak sebersih kemarin di Baku, dan bagian belakang mobil sedikit "mengambang" saat keluar tikungan panjang. Ia mengatupkan rahang, memaksa fokus, menyelesaikan satu putaran penuh sebelum suara Roy masuk lewat radio."Lap time-mu turun, tapi bukan karena kamu," suara Roy terdengar ditahan. "Stay calm, Marcello. Kita kumpulkan data."Di pit wall, Oliver berdiri dengan tablet di tangan, alisnya bertaut. Grafik-grafik berwarna bergerak tidak sinkron—alur tenaga mesin, konsumsi bahan bakar, hingga distribusi panas tidak lagi rapi. Ia menggeser layar, menelan napas. Tanpa sponsor, beberapa komponen harus diturunkan spesifikasinya. Bukan rusak—tapi
Chapter 117Memiliki Saingan Malam di rumah orang tua Aneesa berakhir tanpa seremoni, setelah makan malam yang diselingi obrolan-obrolan ringan tentang keluarga mereka, Marcello dan Aneesa meninggalkan rumah itu. Marcello mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah orang tuanya. Di sana juga tidak ada penyambutan dan perayaan, juga tidak ada pengakuan resmi dari Marcello dan Aneesa di depan keluarga Marcello. Namun, tangan Aneesa yang terus digenggam oleh Marcello, sikap, dan gesture mereka sudah cukup menegaskan jika keduanya tidak lagi berada dalam hubungan pertemanan seperti dulu sehingga kalimat pengakuan tidak lagi diperlukan. Mereka duduk di ruang keluarga, menikmati camilan yang dibuat sendiri oleh ibu Marcello dan minuman hangat sembari berbagi cerita dengan seekor anak serigala Alaska yang meringkuk dengan manja di pangkuan Aneesa. “Aku ingat saat kau kecil, kau paling suka dengan serigala Jessie. Bahkan kalian tidak terpisahkan, kau mengajak serigala Jessie ti
Chapter 116Meminta Terlalu Banyak Rabu siang waktu Barcelona, tim Haas tiba. Tanpa sambutan dan iring-iringan kamera, hanya wajah-wajah lelah dan jadwal yang menunggu tanpa janji, bagi dunia balap mungkin ini hanya kedatangan rutin. Tetapi, bagi Marcello kota ini menyimpan kebahagiaan yang tak tercatat di jadwal tim dan kedatangannya kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Aneesa menunggunya, bukan di paddock melainkan di tempat yang aman yang selama ini hanya sebatas angan-angan.Pukul enam sore setelah mengikuti briefing internal, Marcello meninggalkan hotel tempat tim Haas menginap dan mengemudikan mobil ke rumah ayah Aneesa, di sana Aneesa menunggunya. Tempat di mana pertama kali Marcello melihat Aneesa, saat pesta pernikahan bibinya dan ayah Aneesa.Marcello menghela napas pelan, bibirnya menyunggingkan senyum, pandangannya menyapu seluruh tempat itu. Bangunan rumah itu modern dan tenang, warnanya pucat seolah menyatu dengan cahaya Barcelona, dan berada di atas tebing M







