เข้าสู่ระบบTanggal pernikahan telah ditentukan. Namun, sebuah kabar mengejutkan membuat Nadira memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Sang calon suami ternyata menghamili sepupu Nadira. Ia bersyukur aib calon suaminya terbuka sebelum janur kuning melengkung. Bahkan, ia rela menghibahkan cincin pertunangannya pada mereka. Nadira memilih untuk memantaskan diri, untuk jodoh terbaik yang telah Allah siapkan untuknya. Tapi, apakah semudah itu?
ดูเพิ่มเติมThe sky was clear and blue as if joining the festivities that would happen later this morning.
After a long time of fighting, we were finally here. Marco was finally getting the crown he deserved.
Tama. I should be rest assured. Everything was according to plan. I had already placed the path of the chess pieces meticulously, so all they had to do was to take the step I laid out for them.
Breathing deeply, naupo ako sa harap ng study table then grabbed the nearest book to read.
"...Reincarnation's concept is deep and highly mysterious. Not everyone's second life is the same as others. The ancient believes that everyone will be reborn according to one's death. If a person fulfilled his destiny at the end of his life, he may be reborn as one of the nature (e.g. animals, flowers, plants). Otherwise, if he died with dissatisfaction, his soul might find a way to end one's destiny."
I was surprised sa nabasa ko and looked at the title of the book. Ancient Oriental's Philosophies.
Napatawa na lang ako sa sarili ko. I should do some clean up on my bookshelves and make sure that all the books there were worth my time reading.
I placed the book back on the table at the same time, someone knocked on the door.
A familiar face appeared as it opened.
"Samantha, it's time."
We smiled at each other before I joined him walked out of the room.
***
"Aduh, nyumbang kok, terus!"Zahra meletakkan tas yang tadi dibawa ke rumah tetangga yang punya hajat menikahkan anaknya. Melepaskan kerudung, menyalakan kipas angin, Zahra merebahkan badan sambil memejamkan mata."Besok masih ada Aji, khitanan dia, sama Bulek Rumi nikahkan anaknya. Beras kayaknya tinggal sedikit, ya, Mas?" tanya Zahra yang kembali membuka mata.Rudy menatap karung beras yang isinya tinggal satu takaran untuk memasak nasi. Lelaki itu menghela napas lelah. Belum satu Minggu beras seberat dua puluh lima kilo itu dibeli untuk konsumsi sendiri. Namun, banyaknya hajatan di desa tersebut, membuat stok beras yang cukup untuk satu bulan itu hanya bertahan beberapa hari.Melihat toko sembako yang dirintis sejak lima tahun yang lalu, hati lelaki itu kian nelangsa. Tidak ada perkembangan berarti pada toko tersebut. Pembeli memang ada, tapi pengeluaran tidak sebanding dengan besarnya pemasukan.Lelaki itu tidak habis mengerti, ke man
Lila tidak pernah menyangka bahwa keputusan orang tuanya adalah mutlak. Nama orang tua yang tercoreng akibat perbuatannya yang viral di sosial media, membuat semua fasilitas dicabut paksa.Wanita itu mulai kelimpungan sebab tak biasa hidup sederhana. Jatah uang jajan yang berkurang drastis, tak mampu menyokong gaya hidupnya. Beberapa barang mewah yang pernah didapat dari Rendi berusaha dia jual. Namun, lagi-lagi kecewa harus dirasakan. Perhiasan bertabur berlian, tas mewah, sepatu bermerk, semua adalah barang KW. Otomatis tidak bisa dijual dengan harga tinggi.Kata makian kembali terlontar berulang kali. Namun, hal itu tidak bisa mengubah apa pun. Terlebih ketika dia akhirnya menemui Rendi, lelaki itu justru mengatakan kalau Lila bisa mendapatkan semua barang branded yang dipilih dari outlet resmi sesukanya, yakni dengan menukar Sahara untuk dirawat dan dibesarkan bersama kekasihnya di luar negeri."Masa depan anak itu akan terjamin. Kamu bebas menjadi wan
"Mohon maaf, Mbak. Apa ada kartu yang lain? Kartu ini tidak dapat digunakan," ucap petugas kasir membuat Lila melotot."Masa nggak bisa, sih? Saldonya masih banyak, loh?" jawab Lila mulai gusar. Diberikan sebuah kartu lain, hasilnya sama saja."Atau bisa dibayar dengan uang cash saja," pinta petugas kasih dengan sopan. Meskipun demikian, perempuan muda itu merasa tak enak hati saat melihat antrian yang masih mengular."Saya nggak bawa uang cash, Mbak," jawab Lila mulai kesal. "Sebentar saya telpon dulu, ya," ijinnya yang diiyakan oleh wanita dengan name tag Almira."Biar saya yang bayar."Sebuah suara yang dirasa tak asing, membuat Lila mengurungkan niat menelpon orang tuanya. Kedua matanya melotot melihat lelaki yang tempo hari mengaku istri kekasihnya.."Gue nggak butuh dikasihani!" seru Lila dengan ketus, saat Audrey memaksa membayar dan membawa belanjaannya. "Kau akan menyusahkan kasir kalau sampai batal membeli. Dia harus bayar itu semua yang sudah discan. Iya kalau dia punya du
Beberapa saat sebelumnya ...."Kamu apa nggak kangen anakmu, Nang?" tanya Bu Astuti pada Rudy yang duduk di teras ditemani rokok dan segelas kopi pahit."Kangen, Bu," jawab Rudy tanpa menoleh pada sang ibu. Asap kembali ia kepulkan ke udara.Bu Astuti menatap anaknya dengan pandangan iba. Semenjak tinggal berdua dengan ibunya saja, Rudy lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Toko sembako yang baru dirintis itu, hanya dibuka saat malam, tepatnya lewat Magrib hingga kantuk datang. Tidak menentu.Seperti sekarang, Rudy istirahat dari lelahnya beraktivitas di sawah sambil menunggu pembeli. Bu Astuti ikut duduk di samping anaknya yang terlihat lelah. "Kenapa, Bu? Ibu mau ketemu cucu ibu?" tanya Rudy kemudian. Bu Astuti ingin mengangguk, tapi, kepalanya justru menggeleng. Rasa rindu itu sudah demikian besar. Pun ingin tahu bagaimana kabar sang cucu pasca cedera tulang ekor hari itu. Hanya saja, melihat Rudy yang nyaris tak pernah membahas istri dan anaknya, membuat wanita paruh bay
"Gadis keras kepala. Ayo, pulang!"Pemilik tubuh tinggi tegap di depanku mengulurkan tangan. Aku menengadah, lalu terkejut melihat wajah yang memenuhi ruang pandangku."Di-mas Se-to?"Meski pelan, gumaman itu masih terdengar olehku. Entah kalau sosok di depanku, yang la
Usai acara makan yang diselingi obrolan ringan pelepas rindu, Mas Adi dan Mbak Ira membujukku supaya ikut dalam perjalanan mereka menuju ke kota yang sejuk dengan buah apel yang menjadi ikonnya. Bagaimana mungkin aku setuju, sedangkan mereka berdua pun sedang dalam misi khusus. Pun
Aku makin tenggelam dengan duniaku, dunia rajut. Seperti orang yang sedang jatuh cinta, maka demikian lah adanya aku. Pelan tapi pasti, merajut telah menjadi candu bagiku.Maka kuhabiskan akhir pekan dengan rajutan. "Hari Minggu ada acara rajut bareng di taman Bungkul jam delap
"Pak Arfan datang, Mbak," seru Mbak Yuli mengagetkanku. Membuka pintu dengan tergesa. Napasnya terengah-engah. Ia pamit ke belakang sejak satu jam yang lalu. Ia lalu menyibukkan diri di balik meja. Sekitar sepuluh menit kemudian Pak Arfan baru masuk ke ruangan ini."S
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.