MasukTanggal pernikahan telah ditentukan. Namun, sebuah kabar mengejutkan membuat Nadira memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Sang calon suami ternyata menghamili sepupu Nadira. Ia bersyukur aib calon suaminya terbuka sebelum janur kuning melengkung. Bahkan, ia rela menghibahkan cincin pertunangannya pada mereka. Nadira memilih untuk memantaskan diri, untuk jodoh terbaik yang telah Allah siapkan untuknya. Tapi, apakah semudah itu?
Lihat lebih banyak“Ibu yakin ingin menitipkan Yin sama ibu Imelda ? Ibu sendirian doong di sini, Yin gak mau Bu, Yin gak mau tinggalin Ibu.”Terryn yang baru saja lulus SMP dengan nilai yang tertinggi merajuk dalam pelukan ibunya.
“Kamu mau gapai cita-cita kamu kan Yin? Almarhum bapakmu pasti senang jika kamu bisa melanjutkan sekolahmu yang tinggi. Ibu hanya penjual kue di pasar, mau sampai mana Ibu sanggup sekolahkan kamu Yin?” ibu Asih mengelus kepala putrinya, sebenarnya dia berat melepas Terryn untuk tinggal bersama sahabatnya itu tapi demi janjinya kepada almarhum suaminya untuk bisa menyekolahkan Terry ibu Asih memilih agar Terry tinggal bersama mereka.
“Tapi Ibu janji yaa bakal telpon Terryn.”
Ibu Asih mengangguk, “Tak hanya telpon Sayang, sekali waktu Ibu akan jenguk kamu.”
Seminggu setelah kelulusan ibu Imelda datang menjemput Terryn bersama Aluna , putri sulung Ibu Imelda. Aluna sangat baik dan ramah kepada Terryn, mereka langsung akrab bahkan seperti kakak beradik. Terryn merasa nyaman di rumah barunya hingga dia bertemu dengan anak laki-laki itu lagi.
“Siapa kamu?” tanya seorang remaja laki-laki yang lebih tua sedikit dari Terryn tapi masih lebih muda dari Aluna.
“Saya Terryn Kak, saya anak ibu Asih,” jawab Terryn takut-takut.
Mata remaja pria itu menatap Terry tajam, gadis berkepang dan berkacamata itu hanya tertunduk tak berani mengangkat kepalanya.
“Ngapain kamu di rumah saya?” tanya dia lagi dengan nada dingin yang membuat Terryn merinding.
“Sa-saya …,” Terryn terbata dan ragu melanjutkan kalimatnya.
“Terryn akan tinggal di sini bersama kita, Mama akan menyekolahkannya. Terryn ini anaknya pintar lhoo di sekolah, nilainya yang tertinggi di kecamatan daerahnya,” sambung ibu Imelda tib-tiba dan merengkuh bahu Terryn hangat. Terry senang ibu Imelda memperlakukannya sama dengan Aluna.
“Oh ya Terryn, perkenalkan ini Deva, anak Ibu yang bungsu dia sekarang kelas tiga SMU jadi kalian bisa satu sekolah.”
“Apa Ma? Satu sekolah dengan anak cupu ini? Enggak! Jangan harap Deva mau temenin dia.” Deva berlalu dengan wajah yang ketus. Ibu Imelda menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Maafkan Deva yaa Terryn, anak itu memang begitu pembawaanya, duuh ngidam apa siih dulu aku sampai anak itu jutek banget sama anak cewek. Ck … ck … ck.”
Terryn hanya tersenyum canggung dan mencoba memahami sikap Deva yang seperti itu.
Di kamarnya Deva berpikir keras, sepertinya Deva pernah melihat cewek culun itu tapi lupa di mana. Dia merasa dekat tapi tidak bisa mengingatnya dengan baik.
‘Bodo amat, mau kenal atau gak aku gak peduli.’ Deva akhirnya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya. Deva memang tidak bisa mengenali gadis itu dengan baik, karena kejadian terakhir bersama Terryn terjadi sangat cepat di saat Deva sudah hampir hilang kesadarannya di suatu peristiwa yang tak akan pernah bisa terlupa oleh Terryn.
Saat itu Deva masih SMP kelas tiga dan Aluna kelas satu SMU, mereka sekeluarga sedang dalam perjalanan wisata ke desa Terryn. Ibu Imelda adalah anak juragan perkebunan teh di mana banyak penduduk desa yang bekerja di kebun yang sangat luas itu, termasuk orang tua Ibu Asih dan ayah Terryn sendiri.
Saat itu cuaca memang sedang tidak bagus dan ayah Deva tetap memaksakan ingin kembali ke kota hari itu juga. Jalanan sangat licin sehingga terjadi kecelakaan dan membuat mobil mereka terperosok ke dalam jurang.
Terryn saat itu masih kelas satu SMP dan baru pulang dari rumah kakeknya. Jalanan sangat sepi di tengah hujan yang sangat deras. Terryn menyaksikan mobil yang keluarga Deva dalam keadaan rusak parah di bawah jurang. Bergegas dia mencari ayah dan ibunya serta orang-orang kampung agar menolong mobil yang kecelakaan itu.
Bersama orang tuanya dan beberapa orang kampung Terryn yang pemberani menuruni jurang untuk melihat kondisi para korban. Seorang anak laki-laki yang setengah sadar dan dalam keadaan terluka menggapai-gapai lemah ke arah Terryn. Terry melihatnya dan mencoba mengeluarkan anak laki-laki itu dari mobilnya sementara yang lain menyelamatkan ibu Imelda, suaminya dan Aluna yang juga terluka dan tak sadarkan diri.
“Tolong jangan tinggalkan aku, aku takut…,” wajah Deva pucat dengan luka di pelipisnya, Terryn membantunya untuk duduk di sebelahnya.
“Ayo Kak, duduk dulu disini, kita tunggu mereka untuk menaikkan Kakak ke atas. Aku tidak akan kemana-mana.” Sahut Terryn menenangkan Deva.
“Terima kasih sudah menolong kami,” ujar Deva lagi yang semakin melemah.
“Kakak yang sabar yaa sebentar lagi Kakak dan keluarga Kakak akan dibawa ke rumah sakit.”
“Selamatkan terlebih dahulu mamaku dan kakakku Aluna.” Setelah mengucapkan kalimat itu Deva rebah di pangkuan Terryn tak sadarkan diri. Terryn memanggil-manggil ayah dan ibunya agar Deva pun segera ditolong.
“Aku tak apa-apa jika kau tidak mengenaliku Kak Deva, aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu lagi, walau sikapmu dingin dan kasar seperti itu.” gumam Terryn pelan melihat Deva yang sedang bermain basket sendirian di halaman samping rumah mereka.
Tak ada yang meminta Terryn untuk mengerjakan pekerjaan rumah di kediaman keluarga ibu Imelda karena mereka memiliki sejumlah asisten rumah tangga. Akan tetapi Terryn anak yang rajin dia tidak mau diam saja, usai pulang sekolah dia membantu membersihkan rumah atau sekedar memasak di dapur bersama bi Inah.
“Aduuh Non Terryn, gak usah masuk ke dapur yaa, ini pekerjaan Bibi Inah dan mba Wati di sini. Non Terryn di kamar aja belajar kayak non Aluna atau apa saja.” Bi Inah merasa tidak enak karena Terryn turut membantu pekerjaan mereka.
“Gak apa-apa Bi, saya suka kok, hitung-hitung Terryn belajar memasak dan bisa tahu makanan kesukaan ibu Imelda, kak Aluna dan Kak Deva, juga tahu apa yang mereka tidak suka.” Terryn mengambil sayur yang ada di baskom kecil dan mulai menyianginya.
Bi Inah dan mba Wati saling pandang dan tersenyum, mereka suka dengan sikap rajin Terryn dan sopan santunnya.
“Baiklah, nanti Bibi ajari juga cara masak ikan kuah kuning kesukaan aden Deva dan udang asam manis kesukaan non Aluna.” Bi Inah akhirnya menyerah pada sikap gigih Teryn yang selalu ingin membantu mereka. Selama majikannya tidak menegur atau memarahi mereka karena membiarkan Terryn turut mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi tugas mereka.
“Bi Inah, masakan kali ini enak banget," puji Aluna di meja makan saat makan malam. Deva pun terlihat lahap menyantap masakan ikan kuah kuning yang tersaji di meja.
“Semua masakan ini dibuat oleh non Terryn, katanya dia mau tahu masakan kesukaan Non Aluna, Den Deva juga ibu.”
Terryn hanya tersenyum melihat ke arah Aluna yang mengangkat dua jempolnya, matanya melirik ke arah Deva yang hanya diam saja tanpa ekspresi apa pun.
‘Yaa ampuuun … orang ini memang luar biasa cuek yaa? Es batu kalah dingin ini.’ Terryn membatin melihat sikap dingin Deva.
“Jangan ngeliatin orang kayak gitu, gak sopan tau!” tegur Deva dengan ketus, dia meminum segelas air lalu mengelap mulutnya dan meninggalkan meja makan. Terryn terkejut dan segera memalingkan wajahnya. Aluna tersenyum kecil melihat sikap Terryn yang lucu di matanya.
“Jangan ambil hati yaa, Deva emang gitu dari dulu, gak ada manis-manisnya sama cewe. Takut kualat aja dia tuh sama aku kakaknya kalo mau judes-judes gitu hi hi hi….” Aluna tertawa kecil karena Terryn semakin terlihat salah tingkah dan senyum Terryn yang lucu.
“Kamu pintar masak Yin, cuma sayang, kita bakal jarang banget makan malam sama mama, mama orangnya sibuk banget. Apalagi hotel Ibu sekarang sedang berkembang dan ramai-ramainya pengunjung jadi Ibu sering pulang malam.” Aluna mengambil seporsi lagi udang asam manis yang dibuat Terryn tanpa nasi.
“Kak Aluna gak kesepian di rumah cuma sama kak Deva, bibi dan mba?” tanya Terryn sambil membereskan piring bekas makan mereka.
“Tadinya, tapi sekarang gak lagi karena ada kamu yang temani aku ngobrol dan hhmmmh … jago masak pula, ini lebih enak dari buatan bi Inah,” puji Aluna lagi.
“Terima kasih kalau Kak Aluna suka masakan saya.” Terryn tersenyum dengan sikap baik Aluna.
“Deva juga suka tuh sama masakan kamu, dia makan lahap banget sampai nambah kayak gitu, biasanya cuma sekali makan aja. Dia orangnya susah banget ngungkapin sesuatu di dalam pikirannya dia. Sebenarnya dia mau bilang terima kasih tapi gengsi.” Aluna setengah berbisik mengatakan kalimat terakhirnya. Deva yang sedang duduk di ruang tengah sambil memegang remot tivi sengaja mendehem agak keras, dia tahu kakaknya sedang membicarakannya.
Aluna menaruh telunjuk di depan bibirnya sebagai kode untuk tidak bersuara lagi, dan mereka berdua tertawa tertahan.
“Aku balik ke kamar dulu yaa Yin, kalo ada perlu masuk ke kamarku aja. Aku mau ujian besok.”
“Baik Kak, yang semangat yaa belajarnya.” Terryn mengacungkan lengannya tanda semangat, Aluna melakukan hal yang sama dan keduanya tertawa lagi.
Terryn ingin mencuci piring tapi segera dicegah oleh mba Wati.
“Duuuh … jangan Non Terryn, tadi kan Non sudah masak jadi cuci piring bagiannya Mba yaa? Non Terryn juga harus belajar lhoo kayak non Aluna.” Mba Wati merentangkan tangannya menghalangi Terryn masuk ke dapur. Terryn hanya mengangguk sambil tersenyum kecil kemudian balik badan menuju ke kamarnya. Dia juga baru ingat jika dia punya tugas pekerjaan rumah yang harus segera dikumpulkan besok pagi.
"Aduh, nyumbang kok, terus!"Zahra meletakkan tas yang tadi dibawa ke rumah tetangga yang punya hajat menikahkan anaknya. Melepaskan kerudung, menyalakan kipas angin, Zahra merebahkan badan sambil memejamkan mata."Besok masih ada Aji, khitanan dia, sama Bulek Rumi nikahkan anaknya. Beras kayaknya tinggal sedikit, ya, Mas?" tanya Zahra yang kembali membuka mata.Rudy menatap karung beras yang isinya tinggal satu takaran untuk memasak nasi. Lelaki itu menghela napas lelah. Belum satu Minggu beras seberat dua puluh lima kilo itu dibeli untuk konsumsi sendiri. Namun, banyaknya hajatan di desa tersebut, membuat stok beras yang cukup untuk satu bulan itu hanya bertahan beberapa hari.Melihat toko sembako yang dirintis sejak lima tahun yang lalu, hati lelaki itu kian nelangsa. Tidak ada perkembangan berarti pada toko tersebut. Pembeli memang ada, tapi pengeluaran tidak sebanding dengan besarnya pemasukan.Lelaki itu tidak habis mengerti, ke man
Lila tidak pernah menyangka bahwa keputusan orang tuanya adalah mutlak. Nama orang tua yang tercoreng akibat perbuatannya yang viral di sosial media, membuat semua fasilitas dicabut paksa.Wanita itu mulai kelimpungan sebab tak biasa hidup sederhana. Jatah uang jajan yang berkurang drastis, tak mampu menyokong gaya hidupnya. Beberapa barang mewah yang pernah didapat dari Rendi berusaha dia jual. Namun, lagi-lagi kecewa harus dirasakan. Perhiasan bertabur berlian, tas mewah, sepatu bermerk, semua adalah barang KW. Otomatis tidak bisa dijual dengan harga tinggi.Kata makian kembali terlontar berulang kali. Namun, hal itu tidak bisa mengubah apa pun. Terlebih ketika dia akhirnya menemui Rendi, lelaki itu justru mengatakan kalau Lila bisa mendapatkan semua barang branded yang dipilih dari outlet resmi sesukanya, yakni dengan menukar Sahara untuk dirawat dan dibesarkan bersama kekasihnya di luar negeri."Masa depan anak itu akan terjamin. Kamu bebas menjadi wan
"Mohon maaf, Mbak. Apa ada kartu yang lain? Kartu ini tidak dapat digunakan," ucap petugas kasir membuat Lila melotot."Masa nggak bisa, sih? Saldonya masih banyak, loh?" jawab Lila mulai gusar. Diberikan sebuah kartu lain, hasilnya sama saja."Atau bisa dibayar dengan uang cash saja," pinta petugas kasih dengan sopan. Meskipun demikian, perempuan muda itu merasa tak enak hati saat melihat antrian yang masih mengular."Saya nggak bawa uang cash, Mbak," jawab Lila mulai kesal. "Sebentar saya telpon dulu, ya," ijinnya yang diiyakan oleh wanita dengan name tag Almira."Biar saya yang bayar."Sebuah suara yang dirasa tak asing, membuat Lila mengurungkan niat menelpon orang tuanya. Kedua matanya melotot melihat lelaki yang tempo hari mengaku istri kekasihnya.."Gue nggak butuh dikasihani!" seru Lila dengan ketus, saat Audrey memaksa membayar dan membawa belanjaannya. "Kau akan menyusahkan kasir kalau sampai batal membeli. Dia harus bayar itu semua yang sudah discan. Iya kalau dia punya du
Beberapa saat sebelumnya ...."Kamu apa nggak kangen anakmu, Nang?" tanya Bu Astuti pada Rudy yang duduk di teras ditemani rokok dan segelas kopi pahit."Kangen, Bu," jawab Rudy tanpa menoleh pada sang ibu. Asap kembali ia kepulkan ke udara.Bu Astuti menatap anaknya dengan pandangan iba. Semenjak tinggal berdua dengan ibunya saja, Rudy lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Toko sembako yang baru dirintis itu, hanya dibuka saat malam, tepatnya lewat Magrib hingga kantuk datang. Tidak menentu.Seperti sekarang, Rudy istirahat dari lelahnya beraktivitas di sawah sambil menunggu pembeli. Bu Astuti ikut duduk di samping anaknya yang terlihat lelah. "Kenapa, Bu? Ibu mau ketemu cucu ibu?" tanya Rudy kemudian. Bu Astuti ingin mengangguk, tapi, kepalanya justru menggeleng. Rasa rindu itu sudah demikian besar. Pun ingin tahu bagaimana kabar sang cucu pasca cedera tulang ekor hari itu. Hanya saja, melihat Rudy yang nyaris tak pernah membahas istri dan anaknya, membuat wanita paruh bay
Nadira duduk termenung di depan kolam kecil berisi ikan koi yang berebut makanan. Bibir tipisnya sesekali melengkungkan senyum melihat gerakan mereka yang dirasa lucu. Berada di rumah seorang diri, membuat ia lebih suka menghabiskan waktu di tempat ini, menikmati gemericik air dan kecipak ikan yang
Di kediaman Nadira ….Bu Astuti menatap kagum pada tanaman yang tumbuh subur di halaman belakang rumah Nadira. Sepetak tanah yang dibuat beberapa lajur parit, ditanami beberapa tanaman buah dan sayur.Lima pohon pepaya sedang berbuah lebat. Dua di antaranya siap dipetik. Beberap
Keesokan harinya, Zahra dan Rudy terkejut ketika mendapati pintu rumahnya terkunci dan tak menemukan keberadaan ibunya di sana."Ibu mungkin ke sawah," gumam Rudy, membawa masuk tas berisi pakaian. "Kalian istirahatlah, biar kususul ibu," ucap Rudy pada Zahra yang menggendong R
Melihat menantunya berdiri di ambang pintu, Bu Astuti berjalan mendekat dengan langkah pelan. Zahra mengulas senyum dan mengulurkan tangannya."Ibu kangen kalian, Nduk. Pulang ke rumah ibu lagi, ya?" pinta Bu Astuti setengah memohon."Iya, Bu. Rencananya besok kami pulang ke san
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.