로그인Tanggal pernikahan telah ditentukan. Namun, sebuah kabar mengejutkan membuat Nadira memutuskan untuk membatalkan pernikahan. Sang calon suami ternyata menghamili sepupu Nadira. Ia bersyukur aib calon suaminya terbuka sebelum janur kuning melengkung. Bahkan, ia rela menghibahkan cincin pertunangannya pada mereka. Nadira memilih untuk memantaskan diri, untuk jodoh terbaik yang telah Allah siapkan untuknya. Tapi, apakah semudah itu?
더 보기Lexi POV
I smile up at the stranger, his fingers wrapped around my waist as we dance slowly to the music
My feet unsteady and our vision blurry we dance to the slow song, the Vegas strobing lights blocking our vision
The drink here is different I admit, it immediately turns me into an animal, I start to want and my desires come forward.
Today my desire is reflecting on the tall hunk of a man, he leans down, his hot breath on my lips, “Vacation?” he whispers, his words slurring out
I gulp, my body almost meshing with his like some parasite, my fingers clutch his exposed muscular arm, “Yes You?” I whisper back, the music turning up, the club being louder than before
But I can't tell if it's the DJ being louder or the vodka shots I took earlier taking over my senses.
“Want to get out of here?” he whispers in a rush, hoping I catch it
I don’t waste any time as I'm already burning for him, my body lighting up with intensity at his soft touch
I gulp nodding so fast my head could bob off my neck.
We slide into the back seat of a taxi and he turns to me, the trip a blur as our lips merge with each other.
We waste no time as he randomly tells the driver to stop, a row of clubs and offices surrounding us.
“Let's have some fun” he whispers pulling me out of the cab as we go on a mini adventure for the night
The next morning….
I squint my eyes the sun blinding my vision as soon as I open my eyes, “Fuck my head hurts” I mutter to myself, the last thing I remember is dancing in a club in Vegas that my best friend had forced me to for my bachelorette party.
My green eyes scan the bedroom and I notice the room is painted a lousy red and purple, I frown at all the hearts surrounding the bedroom, “What lousy fucker designed this room” I groan slamming my head back on the bed as my headache from drinking so much from the night before gets to me.
I look up at the ceiling to see it’s covered with glass, my eyes widen as I notice a tall figure next to me.
“No no no no” I mutter turning my head to the side and my eyes meet with a chiseled face, and a lump of brown hair his eyes shut close in sleep.
“Arrgggghhhh” my voice fills the room immediately waking him up.
Arrrggghhh” he yells back his blue eyes popping open to the sight of half-naked me lying across from him.
“What the fuck!!” I jump from the bed dragging the duvet with me but it exposes him naked with a boner.
“Oh my gosh, you have a boner!!” I yell turning my eyes away, I can’t believe this man.
Wait who is this man? And why is he naked in my hotel room? Wait.. my eyes roam around the room again, “This isn’t my hotel room” I mutter the words aloud
“No shit Sherlock!! You can turn around” he spits out
My frown deepens, Did I sleep with this man? Is he a Vegas Gigolo? I always heard about them but I never knew it was true.
Panic sets in at what I’ve done, if I did so, then I just cheated on my fiancé, which I’m about to get married to in a few weeks.
“Oh my gosh just slept with a gigolo,” I say the words out loud, my eyes wide in shock, they rake his muscular and very attractive body now covered by a single boxer landing on his face.
“I’m not a gigolo” he rolls his eyes, “Where is my phone and how in the hell did I end up here!!” He yells turning away from me and bending to check out his clothes splattered all around the floor.
“Arrogant” I mutter rolling my eyes and deciding to find my own clothes, “Who are you and how did I get here?” I point at him
He pauses rising up with a heavy sigh, “I should ask you the same question, what if you kidnapped me,” He shakes his head, “Victoria is going to kill me” he mutters moving around the room and grabbing his shirt.
my eyes move around the room and I find a partially used condom on the floor, “Did we?” I whisper in shock, panic setting in as I pull up the condom to both our views.
“I fucked up” I gasp for hair, now panic breathing
“What is wrong with you?” He rolls his eyes, “Look I will pay you a million dollars to never tell anyone about this” he stands hands crossed around his chest, his brow raised
“What? You bastard, I don’t want your money!!” I yell back at him
“So what do you want? Acres of land? A house? An investment? You mistresses are getting expensive by the day uh?” He stares across at me, a domineering aura surrounding him.
I roll my eyes Arrogant as much, “How did we end up here? What are we doing here and I’m guessing we had sex?” I turn to the condom immense sadness fills me again at the mistake I just made.
“He turns around to the table, halting in shock, he turns around to me, his fingers gripping a piece of rectangular paper in his hands, they shake for a while and he turns to look at me and then the paper again.
“I’m guessing your name is Lexi Thompson?” He looks up at me again, panic drawn across his face.
“How did you know my name? What’s that?” I raise a brow at him finally finding my dress strewn across another drawer at the edge of the room.
He moves from foot to foot nervously, “Because I guess you are Lexi Blackwood now and this is our Marriage certificate” he mutters waving the paper in the air
“What??” My eyes open in shock at the words that just left his mouth, “You’ve got to be kidding me, let me see!” I stand on my top toes immediately grabbing the paper from him.
I look down at the paper and our names and signatures are printed in the paper, along with an official stamp in the middle.
The paper shakes in my hand, my eyes moving to the condom and back to the paper in my hands.
“Oh my,” my eyes move to him meeting with his bright blue ones with a confused expression written across his face.
“I got married to a stranger in Vegas” I litter the words to myself, disappointment rushing through me.
"Aduh, nyumbang kok, terus!"Zahra meletakkan tas yang tadi dibawa ke rumah tetangga yang punya hajat menikahkan anaknya. Melepaskan kerudung, menyalakan kipas angin, Zahra merebahkan badan sambil memejamkan mata."Besok masih ada Aji, khitanan dia, sama Bulek Rumi nikahkan anaknya. Beras kayaknya tinggal sedikit, ya, Mas?" tanya Zahra yang kembali membuka mata.Rudy menatap karung beras yang isinya tinggal satu takaran untuk memasak nasi. Lelaki itu menghela napas lelah. Belum satu Minggu beras seberat dua puluh lima kilo itu dibeli untuk konsumsi sendiri. Namun, banyaknya hajatan di desa tersebut, membuat stok beras yang cukup untuk satu bulan itu hanya bertahan beberapa hari.Melihat toko sembako yang dirintis sejak lima tahun yang lalu, hati lelaki itu kian nelangsa. Tidak ada perkembangan berarti pada toko tersebut. Pembeli memang ada, tapi pengeluaran tidak sebanding dengan besarnya pemasukan.Lelaki itu tidak habis mengerti, ke man
Lila tidak pernah menyangka bahwa keputusan orang tuanya adalah mutlak. Nama orang tua yang tercoreng akibat perbuatannya yang viral di sosial media, membuat semua fasilitas dicabut paksa.Wanita itu mulai kelimpungan sebab tak biasa hidup sederhana. Jatah uang jajan yang berkurang drastis, tak mampu menyokong gaya hidupnya. Beberapa barang mewah yang pernah didapat dari Rendi berusaha dia jual. Namun, lagi-lagi kecewa harus dirasakan. Perhiasan bertabur berlian, tas mewah, sepatu bermerk, semua adalah barang KW. Otomatis tidak bisa dijual dengan harga tinggi.Kata makian kembali terlontar berulang kali. Namun, hal itu tidak bisa mengubah apa pun. Terlebih ketika dia akhirnya menemui Rendi, lelaki itu justru mengatakan kalau Lila bisa mendapatkan semua barang branded yang dipilih dari outlet resmi sesukanya, yakni dengan menukar Sahara untuk dirawat dan dibesarkan bersama kekasihnya di luar negeri."Masa depan anak itu akan terjamin. Kamu bebas menjadi wan
"Mohon maaf, Mbak. Apa ada kartu yang lain? Kartu ini tidak dapat digunakan," ucap petugas kasir membuat Lila melotot."Masa nggak bisa, sih? Saldonya masih banyak, loh?" jawab Lila mulai gusar. Diberikan sebuah kartu lain, hasilnya sama saja."Atau bisa dibayar dengan uang cash saja," pinta petugas kasih dengan sopan. Meskipun demikian, perempuan muda itu merasa tak enak hati saat melihat antrian yang masih mengular."Saya nggak bawa uang cash, Mbak," jawab Lila mulai kesal. "Sebentar saya telpon dulu, ya," ijinnya yang diiyakan oleh wanita dengan name tag Almira."Biar saya yang bayar."Sebuah suara yang dirasa tak asing, membuat Lila mengurungkan niat menelpon orang tuanya. Kedua matanya melotot melihat lelaki yang tempo hari mengaku istri kekasihnya.."Gue nggak butuh dikasihani!" seru Lila dengan ketus, saat Audrey memaksa membayar dan membawa belanjaannya. "Kau akan menyusahkan kasir kalau sampai batal membeli. Dia harus bayar itu semua yang sudah discan. Iya kalau dia punya du
Beberapa saat sebelumnya ...."Kamu apa nggak kangen anakmu, Nang?" tanya Bu Astuti pada Rudy yang duduk di teras ditemani rokok dan segelas kopi pahit."Kangen, Bu," jawab Rudy tanpa menoleh pada sang ibu. Asap kembali ia kepulkan ke udara.Bu Astuti menatap anaknya dengan pandangan iba. Semenjak tinggal berdua dengan ibunya saja, Rudy lebih sering menghabiskan waktu di luar rumah. Toko sembako yang baru dirintis itu, hanya dibuka saat malam, tepatnya lewat Magrib hingga kantuk datang. Tidak menentu.Seperti sekarang, Rudy istirahat dari lelahnya beraktivitas di sawah sambil menunggu pembeli. Bu Astuti ikut duduk di samping anaknya yang terlihat lelah. "Kenapa, Bu? Ibu mau ketemu cucu ibu?" tanya Rudy kemudian. Bu Astuti ingin mengangguk, tapi, kepalanya justru menggeleng. Rasa rindu itu sudah demikian besar. Pun ingin tahu bagaimana kabar sang cucu pasca cedera tulang ekor hari itu. Hanya saja, melihat Rudy yang nyaris tak pernah membahas istri dan anaknya, membuat wanita paruh bay
Nadira duduk termenung di depan kolam kecil berisi ikan koi yang berebut makanan. Bibir tipisnya sesekali melengkungkan senyum melihat gerakan mereka yang dirasa lucu. Berada di rumah seorang diri, membuat ia lebih suka menghabiskan waktu di tempat ini, menikmati gemericik air dan kecipak ikan yang
Di kediaman Nadira ….Bu Astuti menatap kagum pada tanaman yang tumbuh subur di halaman belakang rumah Nadira. Sepetak tanah yang dibuat beberapa lajur parit, ditanami beberapa tanaman buah dan sayur.Lima pohon pepaya sedang berbuah lebat. Dua di antaranya siap dipetik. Beberap
Keesokan harinya, Zahra dan Rudy terkejut ketika mendapati pintu rumahnya terkunci dan tak menemukan keberadaan ibunya di sana."Ibu mungkin ke sawah," gumam Rudy, membawa masuk tas berisi pakaian. "Kalian istirahatlah, biar kususul ibu," ucap Rudy pada Zahra yang menggendong R
Melihat menantunya berdiri di ambang pintu, Bu Astuti berjalan mendekat dengan langkah pelan. Zahra mengulas senyum dan mengulurkan tangannya."Ibu kangen kalian, Nduk. Pulang ke rumah ibu lagi, ya?" pinta Bu Astuti setengah memohon."Iya, Bu. Rencananya besok kami pulang ke san
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.