LOGINCatherine Smith was born into untouchable wealth, a girl with everything except the freedom to love by choice and not demand. When she falls for Elijah Blakes, the quiet, kind man who works at the repair shop, she thinks she’s found the one thing money can’t afford: real love. But Elijah is hiding a secret. He’s not poor. He’s not powerless. He’s the estranged heir of a rival empire— and he’s been pretending to be someone else to keep her close. When her powerful parents discover their forbidden relationship, they break them off mercilessly. Catherine is forced to marry into a loveless engagement. Elijah, heartbroken, disappears and marries someone else. Years later, fate brings them back together. He’s colder now. Married. Untouchable. But the fire between them never died. And now, with everything to lose and nothing left to hide, the only question left is: Will she risk everything again for a man who lied to win her heart or—will love truly the only thing they can’t afford?
View More“Sudah kubilang, jangan lakukan!”
“Kau hanya takut, Tuan Raja.”
Derak pagar pembatas ladang meledak seiring geraman dari para pemuda yang sejak dua menit lalu saling adu mulut.
Jude Smith, gadis cantik yang baru saja melewatkan hari ulang tahun paling membosankan, kini mendapat sedikit kemeriahan dari gerombolan pemuda di batas luar ladang gandum pamannya.
Gadis itu memutar bola mata, dan menghela napas berat saat para pemuda itu kini saling adu jotos. “Yah, kini aku berusia dua puluh, dan seperti inilah kehidupan awal dewasaku dimulai.” Jude membanting garu rumput yang sejak tadi digunakannya membersihkan ilalang, dan menyeka keringat di dahi.
Keributan di batas luar ladang semakin menjadi-jadi. Bukan lagi saling menggeram dan memukul, para pemuda itu sudah berhasil merobohkan seluruh pagar. Saat Jude memalingkan wajah, seketika pagar kayu itu menyala-nyala.
“Astaga! Apa yang orang-orang bodoh itu lakukan?” Jude berlari memintas ladang, dan terbelalak menatap api yang melalap habis pagar, kemudian merambat cepat pada gandum-gandum siap panen.
“Oh, tidak, tidak!” Jude meremas rambut frustasi. “Aku bisa mati dibakar bersama gandum-gandum itu oleh pamanku!”
“Ya ampun, aku minta maaf.” Seorang pemuda berambut hitam, dengan sorot mata biru terang, menatap Jude sopan. Pria itu sangat tampan. Garis wajahnya tegas, tubuhnya tinggi dan dadanya tegap.
Sebelah alis Jude terangkat skeptis. “Oh, tidak apa-apa. Semua orang melakukan kesalahan.” Gadis itu memutar bola mata lagi. “Kau pikir hanya dengan meminta maaf, pagar ini bisa kembali utuh? Dan lagi, oh, tidak, tidak … gandum-gandum ini akan segera habis terbakar!”
“Tenanglah, Manis. Kehilangan gandum tidaklah seburuk yang kau bayangkan.” Suara lain menimpali santai.
Mata Jude membelalak lebih lebar. Ia menatap pemuda berambut kuning yang nampaknya baru saja kena pukul di sudut bibirnya, dan berseru putus asa. “Tak seburuk yang kubayangkan? Bayangan macam apa yang ada dalam pikiranmu, eh?”
Pemuda berambut kuning terkekeh. “Oh, lihatlah mata cantiknya itu. Aku bisa menelannya sekaligus, tanpa perlu menyakiti kulit halusnya yang berkilauan.”
Jude mengerutkan hidung. Kulitnya memang berkilau, dan Jude tidak akan heran karena ia telah bekerja membersihkan ladang sejak pagi. Tentu saja sekujur kulitnya mengilap oleh keringat.
“Berhenti mengoceh, dan bereskan semua kekacauan ini!”
“Aku akan membereskannya.” Pemuda berambut hitam mengajukan diri.
Jude mundur satu langkah, dan mengangguk galak. “Bagus. Ajak serta kawan berandalmu itu.”
“Kawan berandal, kau dengar itu, Drake?” Pemuda rambut kuning terbahak-bahak. “Aku benar-benar akan menjadikannya pelayan favoritku! Ayo, Manis, ikut denganku ke istana.”
Jude membersut. “Ikut denganmu ke … mana? Istana?” Gadis itu tertawa mengejek. “Aku akan siap-siap, sementara kau memadamkan api sialan ini!”
“Kau tidak tahu siapa aku? Drake Aiden?” Pemuda rambut hitam menunjuk dadanya. Mata biru terangnya menatap Jude keheranan.
“Tidak.” Jude bersidekap angkuh. “Dan untuk apa aku tahu? Aku hanya perlu kau berusaha memadamkan api ini!”
Kini setengah ladang gandum sudah terbakar, dan api masih merambat cepat menghanguskan apa yang tersisa.
“Kalian manusia tidak bisa memerintah kami seperti itu, Nona.” Tawa pemuda berambut kuning lenyap seketika.
“Aku tidak memerintah.” Jude menantang mata si pemuda dengan berani. “Aku menuntut tanggung jawab.”
“Api ini tidak bisa dihilangkan begitu saja.” Pemuda bernama Drake, bicara dengan nada sopan yang sama. “Kau tahu itu,” sambungnya tenang, seolah Jude sudah harus tahu tanpa diberitahu.
Hal itu semakin membingungkan Jude. “Sayangnya aku tidak tahu bahwa api tidak bisa dihilangkan, bahkan dengan sedikit usaha menimba air di sumur sebelah sana, dan menyiramkannya pada⸻ya ampun, matilah aku!”
Jude menatap ngeri pada ladang gandum pamannya yang kini sudah sepenuhnya terbakar. Api menjilat-jilat udara dengan beringas. Semakin lama, semakin perkasa.
Kalut, gadis itu balik badan untuk menimba air dan bermaksud memadamkan api itu sendiri. Namun, pemuda rambut kuning mengira Jude akan lari kabur darinya.
“Hey, jangan pergi! Kau tidak bisa kabur saat aku akan menjadikanmu pelayan!”
“Ancalagon, jangan!” Drake mendului pemuda rambut kuning bernama Ancalagon yang hendak menarik lengan Jude. Baru saja ujung jemari Drake menyentuh kulit Jude, gadis itu berteriak kesakitan kemudian jatuh pingsan.
“Aku lebih dulu mendapatkannya.” Drake menatap Jude sendu, lalu mengibaskan tangannya ke udara.
Seketika wujud manusianya berubah menjadi tinggi besar. Ia salin rupa menjadi naga hitam, menggamit pinggang langsing Jude dengan cakar, dan mengepakkan sayap gagahnya ke angkasa.
“Drake, sialan!” Ancalagon menggeram marah, menahan ledakan emosi sebelum kemudian ikut berubah wujud menjadi naga kuning, dan menyusul saudaranya dengan kibasan keras dari sayap bersisiknya yang lebar.
***
“Jangan coba-coba membuatku marah, Jude, atau akan kujadikan kau persembahan para naga!”
Jude meringkuk ketakutan. Bukan karena ancaman soal para naga dan kekejamannya yang melegenda, tapi karena suara keras sang paman yang telah menumbuk hancur mentalnya sejak kanak-kanak.
Orang tua Jude wafat dalam kecelakaan tunggal saat Jude masih balita. Kini, ia harus puas hidup bersama pamannya, dan membalas budi atas kepingan roti keras yang ia dapatkan setiap hari dengan kerja keras mengurus ladang gandum petakan di belakang rumah milik sang paman.
“Mereka akan menyiksamu, sampai kau lupa caranya berteriak!” Darius Smith, sang paman, mengeraskan suaranya. Jude semakin menggigil.
“Kenapa kau lakukan kesalahan berulang-ulang, Jude, apa kau mau aku berikan pada para naga?”
“Mereka ada di langit, memperhatikan setiap jiwa yang layak dijadikan mangsa! Setiap hari mata naga mengawasi kita, Jude. Mereka siap menerkammu kapanpun!”
“Kau mau aku tumbalkan pada para naga itu, hah? Apa kau tidak takut aku berikan pada para naga? Kenapa kau terus melakukan kesalahan ….”
“Tidak!” Jude dibangunkan rasa sakit luar biasa pada dada. Napasnya tersengal, dan kini kepalanya berdenyut gila-gilaan.
“Aduh, mimpi buruk lagi.” Jude memegangi kepala, dan memejamkan mata rapat. “Paman dan cerita tentang naganya yang biasa.”
Jude mengatur napas, lalu perlahan membuka mata. Hal pertama yang ia lihat adalah kanopi mewah keemasan dari ranjang empat tiang yang sekarang menjadi alas tidurnya.
Mata Jude membelalak seketika. Ia menyapu seluruh ruangan. Ruangan itu besar, sangat besar.
Keseluruhan temboknya dilapisi beludru merah dan ornamen emas yang rumit dan elit. Pajangan-pajangan kristal berkilauan, menyapa Jude dengan kerlipnya yang cantik. Ia sendiri berbaring di ranjang besar dan empuk, berbalut selimut merah senada yang tebal dan berat, mengingatkannya akan ranjang-ranjang istana negeri dongeng dalam buku kanak-kanak yang sering ia baca di gudang penyimpanan gandum, setiap kali ia beristirahat dari kegiatan mengurus ladang.
Walaupun Jude sering memimpikan bisa tinggal di istana megah, tempat itu justru membuatnya merinding ketakutan. Lebih-lebih lagi hawa dingin yang membuat tulang-tulangnya menggigil.
Napas Jude tertahan. “Apa-apaan ini? Di mana aku?”
Di tengah ketakutannya, pintu ganda raksasa di hadapannya mengayun terbuka. Mata Jude terbelalak melihat siapa yang masuk.
The knock on Catherine’s door wasn’t gentle.It was deliberate. Sharp. Like it came with a threat.She opened it, half-expecting Elijah. Maybe even James.But nothing — nothing — could’ve prepared her for Talia Blake, standing in a bone-white coat, a wicked smile playing on her lips like she already knew she’d won.Catherine froze. “You’re kidding me.”Talia’s eyes swept over her, calm but cutting. “I don’t do jokes, sweetheart. I do facts. Truths. And I brought one for you.”She held up a black envelope sealed in wax.Catherine didn’t move. “If you think I care—”“You don’t. Yet.” Talia stepped closer. “But you will. The man you’re so in love with? He’s not who you think he is. He never was.”“I don’t believe a word out of your—”“You don’t have to. Just read.” Talia shoved the envelope into her hands and walked off, the click of her heels echoing like gunshots.Catherine’s fingers trembled as she broke the seal.Inside: documents. Dozens of them.Private jet manifests.Offshore acco
The phone buzzed again.JAMES CATER IS LIVE.Catherine’s blood turned cold.She opened the stream.James stood in front of a luxury backdrop, all charm and heartbreak. The lighting soft, his voice calculated.“I never wanted to speak about this publicly, but… after everything she’s done… I can’t stay silent.”The comments flooded in:“You deserve better.”“She’s sick.”“This is what women like her do.”James continued, eyes glassy.“I loved Catherine with everything I had. Even when she ran back to him. Even when I found out about the video… I still prayed she’d come home.”A beat.“But some people aren’t meant to be saved.”That was the moment Catherine cracked.She screamed.She screamed like her soul had claws and needed to tear through her body to breathe. Her phone hit the floor. Her fists balled into the sofa.He’d made her the villain of a tragedy he wrote.⸻Her assistant, Marla, banged on the door minutes later.“Everyone’s pulling out, Catherine! Vogue dropped the feature. E
The internet didn’t whisper.It screamed.By morning, hashtags had changed.From #CatherineForgiveHim to:#HomewreckerHeiress#CaughtWithElijah#SlutInSilkA blurry but undeniable video was everywhere.Elijah, on his knees.Catherine, crumbling into him.His hands wrapped around her waist like she belonged to him.It wasn’t pornographic.But it was intimate. Raw.And the captions twisted it into filth.“This is what loyalty looks like?”“Engaged but grinding on your ex?”“James deserves better.”Catherine’s name became poison.⸻She woke up late.Her eyes swollen. Her throat dry.Her phone buzzing like a wasp nest.“Catherine,” her assistant, Marla, sobbed over the phone. “Your brand sponsors are pulling out. Harper & Vale just ended the campaign. All of them saw it.”Catherine sat upright, heart pounding. “What… saw what?”Marla hesitated.“You and Elijah. Someone filmed it. It’s everywhere. Twitter. TikTok. News blogs. Even your mom shared a cryptic post saying she’s ‘praying for yo
The rain had started without warning.Not a downpour — just enough to blur car windows and drown out thoughts.Catherine sat in the back of a nondescript black sedan, hood pulled low over her forehead, dark sunglasses shielding swollen eyes. She hadn’t slept. Not really. Her phone had remained beside her all night like a ghost whispering Elijah’s words over and over again:“Tell me where you are. I’ll come.”She didn’t text back.She just… showed up.The driver took a turn down a narrow alley in Westbridge — the kind of place nobody photographed for magazines. Elijah had chosen the location: a run-down piano bar turned private loft. No cameras. No staff. Just keys under a mat and memories waiting to explode.She stepped out slowly. Her heels clicked against the pavement, but it wasn’t confidence anymore. It was armor.The door creaked as she pushed it open.And there he was.Leaning against the grand piano, the keys dusty and untouched — but his eyes? They burned like matches.“Cather
Catherine’s house was quiet. Not peaceful—never peaceful—but hollow, like something had been removed and never replaced.It wasn’t just the media scandal anymore.It was the people who used to claim they loved her.Her parents had gone silent. Her mother hadn’t replied to a single call. Her father’
Catherine stood frozen, a silk robe barely clinging to her trembling frame, heart hammering like a war drum.James’s mother—Margaret Cater—stood still in the doorway, the icy judgment in her eyes more scalding than any slap. James, too stunned to speak, stared at her with something between horror a
The engagement dress hung in her closet like a noose.It was custom-made. Ivory silk. Sleeves she didn’t ask for. A neckline high enough to please her mother and a train long enough to silence the gossip. It wasn’t her dream dress — it was damage control stitched in expensive lace.Catherine stared
Catherine didn’t expect the email.She didn’t expect it to come from James’s assistant either, or for it to be sent to every one of her brand partners.A single sentence:“Due to Catherine Smith’s unstable emotional state and increasingly erratic public behavior, the Carter family no longer endorse












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviewsMore