Mag-log inNala price got rejected by her mate who was also her boyfriend, Jordan price. She was lucky to have a second chance mate Don Richardo a ruthless hot and rich lycan well know for his anger. Will Nala be able to open her heart to Don And Will Don be able to open his heart after the death of his first mate. They are each other's second chance at love!!
view more“Yang mulia, sebentar lagi adalah waktu yang tepat melakukan ritual pembuahan!”
Seorang wanita cantik yang menggunakan kebaya lengkap dengan selendang yang disampirkan di lengannya, tengah berdiri dengan kepala tertunduk di depan singgasana. “Carilah laki-laki untuk sang putri!” Sahut wanita lain yang tengah duduk di singgasana dengan sangat berwibawa. Wanita itu, walaupun tegap dan terlihat ganas, memiliki tubuh yang tinggi dan begitu berisi. Otot-ototnya yang liat tak menutupi keanggunan gunungan miliknya yang begitu besar, tertutup kain sutra tipis yang membuat keduanya membayang jika ditatap dari arah berlawanan. Namun, tidak ada yang tergoda. Sebabnya, tak lain karena kerajaan tersebut seluruh penduduknya berjenis kelamin wanita! “Ta–tapi Yang Mulia, bukankah Tuan Putri masih sangat muda untuk ritual ini?” Wanita yang sedang duduk di singgasana langsung berdiri dengan mata yang melotot tajam. “Jangan membantah! Laksanakan!” Wanita yang menghadap itu langsung pergi meninggalkan ruangan dengan langkah sedikit cepat. Penampilannya cukup elegan, terlihat dari beberapa perhiasan simpel yang melekat di tubuhnya seperti kalung, anting, maupun gelang. Sementara itu di luar, wanita yang baru saja menghadap bercucuran keringat. Ia menatap seorang perempuan yang berpakaian hampir sama dengannya dengan gusar. “Bagaimana ini Panglima? Ratu menyuruh kita agar mencari pria untuk Tuan Putri. Aku rasa ini juga belum saatnya bagi Tuan Putri.” Panglima itu mengernyitkan dahi, “Bukankah harusnya giliran Ratu Arunya sendiri yang harus melakukan ritual itu?” –––-------––– Wiryana Pangestu terbangun karena terdengar suara langkah kaki yang bergesekan dengan dedaunan. Matanya terbuka, dia mendapati dirinya berada di sebuah hutan yang sangat lebat. Di hadapan Wirya terlihat sebuah mata tombak yang mengarah begitu dekat, beberapa inchi dari wajahnya. “A–ada apa ini?” Suara Wirya sedikit tercekat melihat beberapa wanita sudah mengelilinginya sambil mengacungkan tombak dan pedang. Para wanita itu memakai baju zirah sederhana yang terbuat dari kulit tebal, memperlihatkan perut mereka yang begitu mulus dengan kulit mereka yang kecoklatan. Beberapa dari mereka mereka memiliki kaki yang begitu jenjang. Sebagiannya lagi memiliki buah dada yang begitu membuat Wirya tergoda. Belum lagi wajah masing-masing dari mereka yang memiliki kecantikan yang begitu khas. “Tu–tunggu, tolong jelaskan di mana aku sekarang!” Bugh! Ujung kayu tombak tiba-tiba saja menerjang kening Wirya, membuatnya seketika sempoyongan. “Jangan melawan! Kamu telah memasuki wilayah kami!” Teriak salah seorang dari mereka dengan suara lantang. Meskipun yang di hadapan Wirya hanya lima orang wanita, namun mereka terlihat cukup kuat karena mereka adalah prajurit kerajaan yang terlatih. Hal itu dibuktikan dari bagaimana ketangkasan mereka mengikat Wirya dengan cepat. “A–apa yang kalian inginkan dariku?” Nada bicara Wirya masih dipenuhi ketakutan. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya yang sudah mulai terikat dengan kedua tangan di belakang. “Diam kamu! Penyusup!” Dengan kasar para wanita itu mulai menggiring Wirya untuk berjalan keluar dari hutan. Entah kesialan apa yang menimpa Wirya. Kehidupan yang sebelumnya tenang kini berubah setelah dianggap sebagai penyusup. “Sepertinya aku telah terlempar kembali ke masa lalu.” Dia hanya mengingat bahwa dirinya menemukan sebuah jam genggam kuno di sebuah rumah yang akan ia beli. Namun saat dia menekan tombol pada jam tersebut pandangannya menjadi gelap hingga dia sadar ketika para wanita itu menyergapnya. “Apa ini karena benda itu? Aku tidak percaya kalau hal seperti itu benar-benar ada.” Gumam Wirya. Sepanjang perjalanan Wirya berusaha mengamati keadaan sekitar meski dengan rasa takut dan bingung. Pakaian para wanita itu memang tampak asing bagi Wirya, tak sama seperti pakaian yang biasa dipakai dalam kehidupan sehari-hari. “Ayo cepat jalan!” Para wanita itu bertindak semakin kasar seolah tak membiarkan Wirya menyadari apa yang sedang menimpanya. Wirya menunduk ke arah tubuhnya, dia mulai menyadari pakaian yang dikenakan bukan kaos atau kemeja yang sering dia pakai. Rupanya Wirya hanya memakai baju tanpa lengan yang terbuat dari katun tipis dengan warna cokelat. Wirya terus digiring hingga sampai di depan sebuah pemukiman yang tak begitu padat. Para penduduk seketika menghentikan aktivitas mereka ketika rombongan prajurit yang menggiring Wirya melintas. “Siapa itu yang ditangkap prajurit kerajaan?” Bisik beberapa penduduk dengan rasa takut. “Apa itu yang dinamakan pria?” “Aku tak pernah melihat jenis yang seperti mereka. Tapi dari berita yang beredar kita tidak boleh mendekat dengan manusia yang berjenis pria.” Bisik-bisik para penduduk terdengar samar karena ada larangan untuk membahas tentang laki-laki di kerajaan. Wirya sempat memandangi beberapa penduduk, namun ada hal aneh yang mengganjal di hatinya. Sejauh matanya menyapu, memang tak ada satu pun penduduk laki-laki yang dia temukan saat itu. Semuanya wanita, memakai kemben yang dililitkan di dada. Beberapa dari mereka ada yang memakai kebaya yang sederhana. Dalam kebingungan yang luar biasa, ada satu hal yang kini bisa Wirya pastikan. Dia merasa seperti di zaman kerajaan. Sebuah tembok besar menjulang tinggi di hadapannya seolah meyakinkan dirinya ini memang sebuah kerajaan. “Ma–maaf. Kalau aku boleh tahu, apa nama kerajaan ini?” Wirya bertanya kepada prajurit yang sedang menggiringnya. “Wanawaron. Apa kau tidak bisa membacanya?” Ternyata kerajaan itu adalah Wanawaron, hal itu tertulis dengan aksara kuno di atas gerbang kayu tinggi sebagai akses masuk yang tepat berada di tengah tembok besar. Wirya memang tak begitu mengerti tentang aksara kuno, maupun bahasa kuno. Kerajaan Wanawaron tak bisa kita temukan di buku sejarah yang dipelajari di sekolah. Tepat saat pintu gerbang di buka Wirya menjadi sangat ketakutan setelah menyadari semua yang terjadi saat ini. “Lepaskan aku! Aku tak mau menjadi tahanan kalian. Aku bukan orang sini.” Dengan gerakan meronta sebisanya, Wirya berusaha lari dari para prajurit dengan sekuat tenaga meski dalam kondisi tangan yang terikat. Wirya memang bukan orang dari jaman ini. Dia tanpa sadar melakukan perjalanan kembali ke masa lalu hingga sampai di jaman kerajaan Wanawaron. Berlari sekencang-kencangnya adalah hal yang bisa dilakukan Wirya saat itu untuk menghindari kejaran para prajurit. “Jangan lari!” Karena tubuh Wirya masih terikat, dia merasa sedikit kesusahan untuk berlari. Namun tiba-tiba seseorang muncul dari depan menghadang Wirya hingga terjengkang. Buk! Orang itu langsung duduk di atas perut Wirya yang terbaring di tanah. Namun, bukan itu yang mengejutkan Wirya! Wanita di depannya ini… tak mengenakan… Melihat apa yang ada di depannya, seketika ada yang berontak di balik celananya…I am Luna, a cursed Lycan. The sins of my grandfather brought this curse upon me. According to the witches, nothing can break this curse. The witch who placed the curse is dead and now we make sacrifices every full moon to her to beg her. This sacrifice started when I was fourteen and now I'm nineteen. I guess six years isn't enough for her broken heart. If you asked me I'd say she was being cruel. I mean six years of living in hell aren't enough for her to let me go and let me be?."What are you thinking of Luna?" Alarie asked with a sad smile. One of the reasons I hate this curse, everyone thinks because I'm bound to the moon I can't function well. I mean when I change and lose myself for over three hours and after that I'm fine. Over the years the pain of shifting has lessened. Tomorrow is another full moon and that's why my brother is being so sad and pitiful towards me." My mate. Do you think if I find him the curse will stop?" I asked. I've always thought of it.
LUNA "Alarie come down this second!!" I scream at my stubborn son. I've been calling him all day. "I'm coming mum. Just a minute!" He shouts from his room. "You said that five minutes ago," His sister Luna says as she hugs me. I ruffled her hair a bit before combing it with my hand again. "Shut it cam!" He glares at her as he came down the stairs. He looks so much like his father, Donald. I thought my firstborn and also my son is going to take their father's anger but surprisingly no. Luna's anger is almost as bad as Don's. "Why don't you say that to June" She teases. She knows that was going to get him mad. Well, he likes June and thinks she's his mate even though he isn't old enough to know his mate. He's just sixteen. "Mum!" He said angrily and I just laugh. "You shouldn't let these ladies get under your skin you know" The man who I'm s
Epilogue I love you all too much not to give an insight into life after graduation. As soon as we got back to his place Don places a kiss on my lips roughly, claiming me in his territory, our territory now. I don't have any regrets about my decision to skip college. This sacrifice is the first real thing I have ever done for Donald and he deserves the world. This so-called cruel man has changed me and turned my entire life around. I love Donald so much. "Babe, what are you thinking so deeply about?" He turns looking at me in confusion. I smile. "I'm thinking of different ways in which I can take you" I whisper in his ears seductively. My moves affect him much as it affects me too. His sharp breath intake confirms it. "Baby you're really tired and I think you need to rest," He says huskily. How can he deny himself so much pleasure because he thinks I'm tired? "We
CHAPTER FORTY "What's happening to me!" I ask Don for the thousandth time. I wake up this money to a very big surprise and I have no idea why Don doesn't seem bothered by it. "Donald I'm serious here!" I exclaim. "Nala. It's normal. You change to a lycan when you're fully mated to one" He says. "How come I never knew this?" I ask. "I don't know" he shrugs. "It will be so weird walking around with the changes" I sigh as I sit on the bed with my hands in my hair. "You don't have to leave the house for now until you're fine with the changes" He suggests. "My graduation is in a few days, Don. My clothes don't even fit anymore!" I say in frustration. "The changes are bound to happen Nala you can't change it," He says. "Why?" I a
CHAPTER FIVE The ride to wherever he is taking me is long, or maybe the fact that I am scared makes it look like hours. I do not even move, because I do not want to make him get mad at me. The ca
CHAPTER FOUR I wake up feeling less sorry for myself. I do not know why I am smiling. My stomach rumbles rather loudly. I put on one of my tight black high-waist jeans, a yellow crop top, and I decide to let my hair dow
CHAPTER THREE “All students should gather,” Our principal announces. My friends and I get to the hall quite early. A few minutes later, students fill the hall, and the principal stands in front of us, on an elevated platform. “Good
CHAPTER TWO It is the middle of the night. I feel a sharp pain in my stomach which makes me scream. I almost immediately feel a warm hand on mine, and I know it’s my mom. I really did not want to wake her. “Mum…..mum…..”. I try tell






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
RebyuMore