공유

BAB 110

작가: Faisalicious
last update 게시일: 2025-06-25 15:27:12

Ketika mereka mendekat ke mulut gerbang, dua penjaga berbaju hitam berdiri sigap. Mereka bukan pasukan biasa. Postur tubuh mereka tegak, langkah mereka stabil. Di sabuk pinggang mereka, tergantung lencana perunggu berbentuk piringan dengan lima titik cahaya kecil simbol otoritas dalam kota ini.

Salah satu penjaga melangkah maju. Suaranya tenang, tapi berwibawa. “Tunggu.”

Suara gesekan batu menggema saat gerbang utama Kota Pembantaian perlahan terbuka. Udara dingin dari dalam kota bertemu dengan
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 145

    Suara Shi Tian menggelegar, menggema ke segala penjuru, memenuhi langit dan bumi.“KAU YANG MEMAKSAKU MELAKUKAN INI, ZHUGE LIANG!!!”Langit di atasnya kembali retak. Retakan yang tadinya hanya guratan tipis kini merekah, melebar seperti jaring dimensi yang koyak. Dari celah itu, energi hitam ungu merembes keluar, menetes seperti darah kosmos.Shi Tian mengangkat kakinya perlahan… Satu langkah. Udara di bawahnya bergetar hebat.Dua langkah. Gunung di bawahnya pecah, bebatuan beterbangan. Lalu ia menghentakkan kakinya keras ke udara.DOOOOONG!!! Gelombang kejut memancar dari pijakannya, menyebar ke segala arah.Angin kencang bercampur racun menyapu lembah, menghancurkan tenda-tenda, menumbangkan menara pengintai, bahkan pasukan Moyan sendiri ikut terseret.Tanah terbelah, membentuk jurang panjang sejauh beberapa li. Di udara, retakan-retakan baru muncul, jalur-jalur gelap berkilat ungu, seperti serpihan dunia yang mulai terurai.Di bawah Pagoda Bayangan, Zhuge Liang membuka matanya. “Ibl

  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 144

    Udara malam di perbatasan Lembah Moyan begitu sunyi, seolah dunia menahan napas. Hanya ada suara derak roda kayu dan gelegar halus besi beradu dari gerobak pengangkut besar yang melintas perlahan di jalan utama lembah. Gerobak itu ditarik oleh dua binatang spiritual berbulu abu, matanya merah menyala samar di antara kabut. Di atasnya, tumpukan peti logam dan gulungan tombak Dao sudah diselimuti kain hitam. Di sisi jalan, beberapa pasukan patroli berjubah gelap berjalan perlahan, tombak mereka menancap pada tanah yang telah menjadi lumpur kering bercampur darah lama.“Sudah sebulan tak ada tanda-tanda pergerakan dari kedua belah pihak,” gumam salah satu penjaga muda, menatap horizon yang sunyi. “Apakah perbatasan akan terus terhimpit kekhawatiran seperti ini, sepanjang tahun?”Rekannya, seorang pria tua dengan bekas luka panjang di pipi, mengibaskan tangannya. “Apa menurutmu tuan Zhuge menutup mata begitu saja? Tidak. Tuan Zhuge dan para tetua aliansi pasti sedang mempersiapkan hal bes

  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 143

    Di dunia kultivasi, jarak antar tingkat bukan sekadar angka ia adalah jurang. Satu langkah kecil bisa memisahkan nasib manusia dan dewa. Seorang kultivator Taraf Empat puncak bisa memimpin sekte, menggetarkan sebuah negara. Namun begitu menembus Taraf Lima, dunia yang mereka pijak seolah berubah. Langit dan bumi merespons, Dao di sekitarnya menjadi tunduk. Apalagi Taraf Enam itu sudah merupakan makhluk langka di negeri tingkat rendah.Biasanya, seorang pendekar Taraf Enam tidak akan lagi membuang waktu di negeri kultivasi rendah. Mereka memilih pergi ke negara yang lebih tinggi, di mana energi Dao lebih padat, sumber daya lebih kaya, dan lawan lebih layak untuk mengasah diri. Maka dari itu, mendengar nama “Taraf Enam” di negeri seperti Kota Pembantaian adalah hal yang nyaris mustahil.Namun malam itu, di dalam tenda besar Camp Bayangan, sebuah rahasia yang tak seorang pun duga akhirnya terbongkar.Suasana menegang sejak Xu Ming mengucapkan kalimat itu.“Dia sebenarnya adalah seorang p

  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 142

    “Pendekar taraf lima lainnya?!” Suara berat Bai Simi pecah di dalam aula, matanya melebar, cambuk di tangannya bergetar tak terkendali.Kata-kata Xu Ming barusan bergema dalam pikiran semua orang yang hadir. Sesaat, udara di dalam ruangan seakan membeku. Bahkan napas berat prajurit pengawal di tepi aula terdengar jelas.Zhuge Liang menghentikan langkah mondar-mandirnya. Tubuhnya menegang, pupilnya menyempit. “Jadi bukan hanya Shi Tian, Lembah Moyan ternyata menyembunyikan satu lagi pendekar taraf lima?” gumamnya, suara rendahnya penuh ketegangan.Mo Lauzu menggeram, wajah tuanya berkerut semakin dalam. “Gila! Jika benar begitu, maka kekuatan kita selama ini sudah terlalu diremehkan. Kita semua tahu perbedaan puncak taraf empat dan taraf lima bukan sekadar satu tingkat.”Ketua Sekte Pengemis menambahkan dengan suara berat, tongkat bambu di tangannya menekan lantai. “melainkan jurang hidup dan mati. Bahkan mereka yang sudah bertahun-tahun di puncak taraf empat masih terjebak tanpa harap

  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 141

    Di atas langit, dua sosok masih bertarung sengit. Zhuge Liang, penguasa Kota Pembantaian, melayang dengan jubah berkibar, tombak peraknya menahan gempuran pedang hitam Shi Tian yang berlumuran aura iblis. Kedua pendekar itu seperti dewa perang yang saling mengiris langit. Xu Ming mendongak, pupilnya berkilat. Suara transmisinya menembus medan, langsung ke telinga Zhuge Liang.“Tuan Kota, kita sebaiknya mundur terlebih dahulu.”Zhuge Liang terperanjat, hampir kehilangan ritme serangannya. “Mund-mundur?!” serunya melalui transmisi. “Kenapa?! Kita belum kalah!”Xu Ming mengatupkan giginya, suaranya dalam dan penuh keyakinan. “Percayalah kepadaku, Tuan Kota! Saat ini, bertahan lebih lama hanya akan mengundang kehancuran. Aku punya cara untuk membalikkan keadaan, tapi kita harus mundur terlebih dahulu!”WHUUUMMMM!!! Langit berguncang saat Shi Tian menghantam dengan pedang hitamnya. Aura iblis meluap liar, melilit tubuhnya seperti kabut neraka. Tatapan matanya menyala buas, penuh amarah.“B

  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 140

    Whuushhh!!! Xu Ming menebarkan sayap naga es dan api dari manifestasi Dao-nya, tubuhnya melesat seperti anak panah. Lelaki tua itu menyilangkan tangan, melepaskan racun kental seperti kabut rawa, lalu menghantamkannya lurus ke dada Xu Ming. Duaarrr!!! Tubuh mereka berdua terpental bersamaan! Xu Ming menghantam pilar batu hingga retak, sementara lelaki tua itu menjejak lantai keras, meninggalkan bekas telapak kaki yang berasap korosif.Napas Xu Ming terengah, namun matanya masih bersinar tajam. Wajah lelaki tua itu pucat, keringat dingin bercampur darah mengalir di pelipisnya. Ia mendengus keras, dada naik-turun seperti tempa besi yang kehabisan arang.“Kau bajingan kecil!” lelaki tua itu meraung. “Bagaimana mungkin bocah sepertimu bisa mengimbangi Dao-ku?!”Xu Ming menyeringai bengis, meski darah menetes di sudut bibirnya. “Mungkin kau terlalu lama duduk menjaga reruntuhan ini, tua bangka. Sementara aku terus melangkah maju.”BOOMM!!! Aura keduanya meledak kembali, tapi kali ini lebi

  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 43 : TUNGKU KURA KURA EMAS

    Suara palu pelelang berdentang tiga kali, menandai dimulainya sesi utama di Gedung Batu Naga. Xu Ming dan Han Mimi duduk berdampingan di dalam bilik VIP, pandangan mereka tertuju pada panggung utama yang perlahan diselimuti cahaya lampion kristal. Sinar hangat memantul dari dinding giok pucat, menc

    last update최신 업데이트 : 2026-03-22
  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 38 : KEPALA KELUARGA HAN

    Suara langkah kaki bergema. Perlahan, dari balik pintu utama, muncul seorang pria paruh baya berpakaian jubah panjang warna gelap beraksen emas. Wajahnya tampak tegas dengan rahang kokoh, alis tebal seperti bilah pedang, dan mata yang menyala tenang namun penuh tekanan. Di setiap geraknya, tubuhnya

    last update최신 업데이트 : 2026-03-21
  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 39 : GEDUNG BATU NAGA

    “Uaaahhh…” Xu Ming menguap lebar sambil meregangkan tubuh. Ia bangkit perlahan dari posisi duduk bersila, membuka mata yang terasa berat setelah meditasi panjang semalam.“Akhirnya kau bangun juga, dasar manusia malas!”Suara mungil bernada tinggi muncul begitu saja, diiringi kilatan cahaya biru di

    last update최신 업데이트 : 2026-03-21
  • TULANG SUCI NAGA ABADI   BAB 41 : API PITON TULANG NERAKA

    Xu Ming tetap tenang. “Apa kebiasaan orang kaya adalah menyerobot barang orang lain?”Liam menatapnya lama, lalu mengangkat bahu. “Apakah pengemis sudah tak punya mata dan melihat sedang berbicara dengan siapa. Kau bahkan tak layak untuk menatapku dengan pakaian kumuhmu itu. ”Tangan Liam mencengke

    last update최신 업데이트 : 2026-03-21
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status