LOGINBanga Adikara diperintahkan ibunya untuk kabur karena ibunya tidak rela ia dijadikan selir oleh Ratu Nayaka yang kejam dan bengis. Akibatnya sungguh mengerikan. Klan Adikara dimusnahkan dengan cara yang keji, membangkitkan amarah dan dendam di hati Banga. Dengan berbekal pedang tertua di muka bumi, Banga melakukan pembalasan kepada semua pendukung Ratu Nayaka. Kemarahannya tidak bisa dihentikan. Tahta terancam. Ratu Nayaka mengirim puteri mahkota untuk membinasakan Banga, di mana kecantikannya jauh lebih berbahaya daripada kesaktiannya. Dapatkan ia menghentikan Banga?
View More“Dengarkan baik-baik. Sekarang bukan waktu untuk berdebat dan mempertahankan harga diri. Ini masalah nyawamu.”
Gayatri menatap putranya dengan pandangan penuh kasih sayang berlumur kecemasan yang luar biasa. Tangannya yang lembut menggenggam lengan Banga erat-erat, seolah takut ia lenyap tanpa jejak. Banga baru saja melangkah masuk ke halaman rumah, membawa debu dan aroma keringat dari perjalanan panjangnya. Selama tiga tahun, ia merantau ke Negeri Han Timur untuk menuntut ilmu bela diri dan pengetahuan yang sulit dimiliki orang lain. Kini ia pulang dengan tubuh gagah, wajah tampan, dan wibawa yang tumbuh seiring kedewasaannya. Ia berharap bisa membanggakan ibunya dan membangun impian bagi Klan Adikara yang hidup dalam bayang-bayang kekuasaan. Namun sambutan yang ia terima bukan senyum gembira, melainkan tatapan panik dan perintah yang terdengar seperti larangan tak masuk akal. “Aku baru saja menginjakkan kaki di rumah ini," kata Banga bingung. "Perjalanan berbulan-bulan melewati hutan dan sungai berbahaya belum hilang lelahnya. Mengapa Ibu bicara seolah ada malapetaka di depan pintu?” Ia melepaskan ikat kepalanya, lalu menatap wajah ibunya yang terlihat pucat dan ketakutan. “Aku sudah mempelajari banyak hal. Sekarang aku bisa melindungi Ibu dan klan kita. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti.” Gayatri menarik Banga masuk ke ruang dalam, menjauh dari jendela yang bisa didengar orang luar. Suaranya diturunkan menjadi bisikan nyaris tak terdengar, namun cukup jelas sampai ke telinga putranya. “Malapetaka itu tidak datang dari hutan atau binatang buas, Banga. Ia datang dari tempat yang paling berkuasa, dari istana yang dianggap pusat hukum dan aturan.” Jantung Banga berdegup kencang. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat kelam akan disampaikan ibunya. “Apa kabar itu, Bu? Katakan saja, jangan buat aku tambah gelisah.” “Kabar ini baru sampai lewat seorang pedagang yang berhutang nyawa pada ayahmu. Ia berani bicara hanya karena takut melihat kita hancur tanpa tahu sebabnya.” Gayatri menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara bergetar. “Ratu Nayaka telah mendengar kabar kepulanganmu. Ia tahu kau kini tumbuh menjadi pria tampan, berwibawa, dan memiliki ketenangan yang jarang dimiliki orang lain. Hasratnya terbangun. Ia menginginkan dirimu untuk jadi selirnya.” Tubuh Banga terasa membeku. Alisnya mengerut dalam, rahang mengeras, dan tinjunya terkepal kuat menghantam tiang kayu langka. Rasa marah, malu, dan tidak percaya bercampur menjadi satu di dadanya. “Jadi selir?” ulangnya dengan suara bergetar menahan amarah. “Sejak kapan keturunan terhormat Klan Adikara diperlakukan seperti barang mainan?” Ia memukul tiang sekali lagi. Matanya menyala menahan gejolak hati. “Semua orang tahu Ratu Nayaka kejam dan bengis. Ia hanya memandang manusia sebagai alat pemuas dan penguat kekuasaannya. Jika aku menuruti keinginannya, sama saja menghancurkan martabat seluruh keturunan ayah!” “Maka itu Ibu memintamu kabur,” sahut Gayatri sambil menahan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya. “Kau kira Ibu tidak ingin kau melawan? Tapi lihat kenyataannya.” Ia memegang kedua bahu Banga, menatapnya dalam-dalam. “Kekuasaan Ratu Nayaka mencengkeram seluruh negeri ini. Ia punya ratusan ribu prajurit dan ksatria sakti yang siap membunuh atas perintahnya. Jika kau menolak terang-terangan, bukan hanya nyawamu yang melayang, tapi seluruh klan Adikara akan masuk penjara bawah tanah.” Gayatri menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada lembut. “Ibu rela hidup sepi dan jauh darimu, asalkan nyawamu selamat dan harga dirimu tetap terjaga. Jangan biarkan dia memiliki tubuhmu, apalagi menguasai jiwamu.” Banga berdiri mematung, pikirannya berputar menimbang segala kemungkinan. Darah mudanya mendidih ingin membuktikan kekuatannya. Tapi nasihat gurunya di Negeri Han Timur terngiang jelas: pahlawan sejati tahu kapan harus bertarung dan kapan harus mundur demi menyelamatkan kehidupan di hari esok. “Ke mana aku harus pergi, Bu?” tanya Banga akhirnya, suaranya lebih tenang meski terasa berat. “Di mana tempat yang cukup aman dari kekuasaan yang menjangkau seluruh penjuru negeri?” Gayatri melangkah ke sudut ruangan, mengeluarkan bungkusan kain yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Ia menyerahkannya kepada Banga, berisi bekal makanan, uang logam, dan selembar peta yang digambar tangan. “Pergilah ke Pegunungan Sunyi di utara,” bisiknya sambil menunjuk ke arah cakrawala yang samar terlihat. “Orang-orang menyebutnya gunung kosong yang penuh misteri. Kabut tebal menyelimutinya sepanjang tahun, jalannya terjal, bahkan prajurit istana pun enggan pergi ke sana.” Ia memandang putranya penuh harap. “Kau bisa bersembunyi sampai situasi aman, atau sampai kau menemukan kekuatan yang cukup untuk kembali berdiri.” Banga menerima bungkusan itu. Ia memeluk ibunya erat-erat, merasakan kehangatan yang mungkin tak bisa dinikmati lagi dalam waktu lama. “Aku berjanji, Bu. Pergi bukan karena takut mati, tapi karena tahu hidup ini masih punya tujuan lebih besar.” Ia melepaskan pelukan, lalu menatap wajah ibunya sekali lagi. “Suatu hari nanti, saat kekuatan sudah terkumpul, aku akan kembali. Saat itu bukan lagi aku yang lari, tapi kezaliman yang akan lari dari hadapanku.” Gayatri hanya menangis, tahu perpisahan ini adalah awal perjalanan yang penuh bahaya. Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah jingga, Banga melangkah keluar dari halaman rumah. Ia hanya membawa bungkusan pemberian ibunya. Ia menoleh sekali lagi, ibunya melambaikan tangan di balik air mata. Langkah kakinya sangat cepat menuju jalan setapak ke utara. Angin malam membawa hawa dingin dan bisikan yang terdengar seperti peringatan dari alam. Semakin jauh ia melangkah, semakin gelap jalan yang dilalui, dan semakin samar kampung halaman. Jauh di belakangnya, di pembaringan sangat mewah, sepasang mata indah dan penuh keinginan mengawasi pria gagah perkasa dari balik tirai. Kabar kepergian Banga sudah sampai ke telinga Ratu Nayaka sebelum pagi tiba. Dengan senyum samar penuh intrik, ia berbicara kepada panglima yang berlutut di hadapannya. “Jangan biarkan dia pergi jauh. Ke mana pun dia lari, temukan jejaknya dan bawa dia kembali, dengan bujukan atau paksaan.” "Baik, Yang Mulia." Ia menatap dengan sinar mata penuh perintah. “Jika dia bersembunyi di tempat yang sulit dijangkau, gunakan apa saja yang dia sayangi sebagai umpan. Aku ingin dia jadi milikku."Setelah kapaknya terlepas dan kekuatannya terbukti kalah jauh, Komandan Rendra berdiri diam di tempatnya, napasnya memburu dan pandangannya tidak lagi berani menatap lurus ke arah Banga. Ia tahu bahwa perlawanan lebih lanjut hanya akan membawa kematian yang sia-sia, dan kebenaran tidak bisa lagi disembunyikan. Dengan suara yang lebih rendah dan tidak sekeras sebelumnya, ia mulai berbicara, seolah membebani hatinya yang selama ini menyimpan rasa tidak tenang. “Benar… aku ikut serta dalam penyerangan itu. Ketika perintah resmi datang dari pusat, aku diminta mengerahkan pasukanku untuk memblokir semua jalan keluar dari wilayah Klan Adikara, memastikan tidak ada seorang pun yang bisa melarikan diri.” Ia mengangkat wajahnya sebentar, lalu segera menunduk lagi seolah menghindari tatapan yang tajam. “Namun perlu kau dengar, aku hanya menjalankan tugas yang diberikan. Jika aku menolak perintah istana, maka bukan hanya aku yang akan dihukum, tapi juga seluruh keluargaku dan anak buahku. Ka
Saat malam beranjak dini hari, Banga bangkit dan melangkah masuk melewati pagar kayu di bagian belakang markas. Tanpa suara, ia mendarat di atas tanah basah yang berbau garam dan lumpur. Cahaya remang dari obor-obor itu hanya cukup untuk membayangi sosoknya, bukan menampakkannya.Namun gerakan itu tidak luput dari pengawasan terakhir. Dua penjaga yang sedang memeriksa muara sungai segera berteriak keras, “Ada penyusup! Tangkap dia!”Suara itu menggema, dan dalam hitungan detik seluruh markas bergemuruh. Pintu bangunan utama terbuka lebar, dan keluar puluhan prajurit bersenjata tombak, pedang, serta perisai. Di depan mereka berdiri seorang lelaki bertubuh tegap, berambut pendek, mengenakan baju besi lapisan tebal dan memegang kapak perang yang besar. Komandan Rendra, pemimpin pasukan pesisir yang dikenal kejam dan bengis.“Siapa yang berani menyusup ke tempat ini?” bentak Rendra, suaranya menggelegar menutupi suara ombak. “Kau sendirian? Apa kau tidak tahu tempat ini dijaga lebih dari
BAB 41. Menuju Markas di Tepi Laut Setelah menyelesaikan urusan di perkampungan dan memastikan warga menerima bagian yang menjadi hak mereka, Banga tidak berlama-lama di sana. Ia tahu bahwa pasukan istana akan segera menyebar ke seluruh jalan utama, sehingga ia harus memilih jalur yang lebih jauh namun lebih aman. Pilihannya jatuh ke arah pesisir pantai — wilayah yang jarang dilalui orang, menjadi tempat berdirinya markas besar pasukan yang bertugas mengawasi seluruh pergerakan penduduk dan arus barang masuk ke daerah itu. Perjalanan memakan waktu dua hari penuh. Ia menyusuri jalan setapak di tepi hutan, melintasi sungai dangkal, dan bergerak hanya saat malam tiba agar tidak terlihat oleh patroli yang mulai bertebaran. Di siang hari, ia bersembunyi di gua-gua kecil atau di balik rimbunnya semak belukar, menggunakan tenaga dalamnya untuk menenangkan napas dan memulihkan kekuatan tanpa perlu banyak istirahat. Malam itu ia mulai mencium bau garam dan mendengar suara deburan ombak yan
Jauh di seberang pegunungan, di lembah yang lebih sejuk dan tertutup kabut, berdiri Akademi Han Barat — tempat ilmu pengobatan, strategi, dan seni bela diri yang lebih halus diajarkan. Di sanalah Mahira menghabiskan tujuh tahun terakhir, mengasah ketajaman pikiran dan kepekaan hati yang menjadi ciri khas keluarganya.Ia sedang merapikan gulungan catatan tanaman obat saat seekor merpati pos terbang masuk lewat celah jendela, sayapnya sedikit lelah setelah perjalanan jauh. Begitu melihat tanda lilin di kaki burung itu, jantungnya berdegup kencang — itu adalah lambang yang hanya digunakan oleh keluarga besar Klan Adikara dan kerabat dekatnya.Setelah membuka dan membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh Abiyasa, wajah Mahira memucat perlahan. Kata-kata yang tertulis jelas menyebutkan nasib klan, kebangkitan satu-satunya keturunan yang tersisa, dan panggilan bagi siapa saja yang masih memiliki ikatan darah dan janji.Nama Banga terlintas seketika di benaknya.Sejak kecil, mereka tumbuh b
Banga menginginkan mereka membangun kembali kejayaan klan Adikara, menguasai perekonomian secara arif dan menjadi cendekiawan yang bermanfaat. "Pulanglah kalian ke kampungku," kata Banga. "Jadi perampok bukan pilihan klan Adikara, apalagi merampok uang rakyat, mendingan mati kelaparan. Janganlah
Percuma kepala kampung memohon ampun, pintu itu sudah ditutup. Pemusnahan klan Adikara adalah jalan kematian bagi orang-orang yang menjadi kaki tangan istana. Banga hanya mengijinkan sembilan istrinya untuk pergi. Mereka hanyalah selimut yang diambil secara paksa dari orang tua. Banga bukan ibli
Sasaran pedang kalkolitik bukan hanya pendekar yang mengepung Banga, juga prajurit terdekat yang berusaha menyerang dengan tombak. Mereka begitu sulit menembus pertahanan pemuda itu, padahal ilmu pedangnya biasa saja, bahkan terlihat aneh. Mereka tidak mengenali ilmu pedang kalkolitik, ilmu it
Rumah itu sangat megah dengan halaman luas, dikelilingi pagar tinggi dari papan tebal. Brak! Banga menendang pintu gerbang sehingga palang pintu patah dan pintu terbuka lebar. Di dalam sudah menunggu satu kompi prajurit sena dan dua puluh pendekar bayaran. Kepala kampung berdiri dengan pongah di
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews