Pendekar Pedang Mirabilis

Pendekar Pedang Mirabilis

last updateLast Updated : 2026-07-07
By:  Enday HidayatOngoing
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel16goodnovel
10
1 rating. 1 review
43Chapters
1.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Banga Adikara diperintahkan ibunya untuk kabur karena ibunya tidak rela ia dijadikan selir oleh Ratu Nayaka yang kejam dan bengis. Akibatnya sungguh mengerikan. Klan Adikara dimusnahkan dengan cara yang keji, membangkitkan amarah dan dendam di hati Banga. Dengan berbekal pedang tertua di muka bumi, Banga melakukan pembalasan kepada semua pendukung Ratu Nayaka. Kemarahannya tidak bisa dihentikan. Tahta terancam. Ratu Nayaka mengirim puteri mahkota untuk membinasakan Banga, di mana kecantikannya jauh lebih berbahaya daripada kesaktiannya. Dapatkan ia menghentikan Banga?

View More

Chapter 1

BAB 1. Lari dari Bayang Kekuasaan

“Dengarkan baik-baik. Sekarang bukan waktu untuk berdebat dan mempertahankan harga diri. Ini masalah nyawamu.”

Gayatri menatap putranya dengan pandangan penuh kasih sayang berlumur kecemasan yang luar biasa. Tangannya yang lembut menggenggam lengan Banga erat-erat, seolah takut ia lenyap tanpa jejak.

Banga baru saja melangkah masuk ke halaman rumah, membawa debu dan aroma keringat dari perjalanan panjangnya. Selama tiga tahun, ia merantau ke Negeri Han Timur untuk menuntut ilmu bela diri dan pengetahuan yang sulit dimiliki orang lain.

Kini ia pulang dengan tubuh gagah, wajah tampan, dan wibawa yang tumbuh seiring kedewasaannya. Ia berharap bisa membanggakan ibunya dan membangun impian bagi Klan Adikara yang hidup dalam bayang-bayang kekuasaan.

Namun sambutan yang ia terima bukan senyum gembira, melainkan tatapan panik dan perintah yang terdengar seperti larangan tak masuk akal.

“Aku baru saja menginjakkan kaki di rumah ini," kata Banga bingung. "Perjalanan berbulan-bulan melewati hutan dan sungai berbahaya belum hilang lelahnya. Mengapa Ibu bicara seolah ada malapetaka di depan pintu?”

Ia melepaskan ikat kepalanya, lalu menatap wajah ibunya yang terlihat pucat dan ketakutan. “Aku sudah mempelajari banyak hal. Sekarang aku bisa melindungi Ibu dan klan kita. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti.”

Gayatri menarik Banga masuk ke ruang dalam, menjauh dari jendela yang bisa didengar orang luar. Suaranya diturunkan menjadi bisikan nyaris tak terdengar, namun cukup jelas sampai ke telinga putranya.

“Malapetaka itu tidak datang dari hutan atau binatang buas, Banga. Ia datang dari tempat yang paling berkuasa, dari istana yang dianggap pusat hukum dan aturan.”

Jantung Banga berdegup kencang. Ia merasakan ada sesuatu yang sangat kelam akan disampaikan ibunya. “Apa kabar itu, Bu? Katakan saja, jangan buat aku tambah gelisah.”

“Kabar ini baru sampai lewat seorang pedagang yang berhutang nyawa pada ayahmu. Ia berani bicara hanya karena takut melihat kita hancur tanpa tahu sebabnya.”

Gayatri menelan ludah, lalu melanjutkan dengan suara bergetar. “Ratu Nayaka telah mendengar kabar kepulanganmu. Ia tahu kau kini tumbuh menjadi pria tampan, berwibawa, dan memiliki ketenangan yang jarang dimiliki orang lain. Hasratnya terbangun. Ia menginginkan dirimu untuk jadi selirnya.”

Tubuh Banga terasa membeku. Alisnya mengerut dalam, rahang mengeras, dan tinjunya terkepal kuat menghantam tiang kayu langka. Rasa marah, malu, dan tidak percaya bercampur menjadi satu di dadanya.

“Jadi selir?” ulangnya dengan suara bergetar menahan amarah. “Sejak kapan keturunan terhormat Klan Adikara diperlakukan seperti barang mainan?”

Ia memukul tiang sekali lagi. Matanya menyala menahan gejolak hati. “Semua orang tahu Ratu Nayaka kejam dan bengis. Ia hanya memandang manusia sebagai alat pemuas dan penguat kekuasaannya. Jika aku menuruti keinginannya, sama saja menghancurkan martabat seluruh keturunan ayah!”

“Maka itu Ibu memintamu kabur,” sahut Gayatri sambil menahan air mata yang mulai menetes membasahi pipinya. “Kau kira Ibu tidak ingin kau melawan? Tapi lihat kenyataannya.”

Ia memegang kedua bahu Banga, menatapnya dalam-dalam. “Kekuasaan Ratu Nayaka mencengkeram seluruh negeri ini. Ia punya ratusan ribu prajurit dan ksatria sakti yang siap membunuh atas perintahnya. Jika kau menolak terang-terangan, bukan hanya nyawamu yang melayang, tapi seluruh klan Adikara akan masuk penjara bawah tanah.”

Gayatri menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada lembut. “Ibu rela hidup sepi dan jauh darimu, asalkan nyawamu selamat dan harga dirimu tetap terjaga. Jangan biarkan dia memiliki tubuhmu, apalagi menguasai jiwamu.”

Banga berdiri mematung, pikirannya berputar menimbang segala kemungkinan. Darah mudanya mendidih ingin membuktikan kekuatannya. Tapi nasihat gurunya di Negeri Han Timur terngiang jelas: pahlawan sejati tahu kapan harus bertarung dan kapan harus mundur demi menyelamatkan kehidupan di hari esok.

“Ke mana aku harus pergi, Bu?” tanya Banga akhirnya, suaranya lebih tenang meski terasa berat. “Di mana tempat yang cukup aman dari kekuasaan yang menjangkau seluruh penjuru negeri?”

Gayatri melangkah ke sudut ruangan, mengeluarkan bungkusan kain yang sudah disiapkan sejak malam sebelumnya. Ia menyerahkannya kepada Banga, berisi bekal makanan, uang logam, dan selembar peta yang digambar tangan.

“Pergilah ke Pegunungan Sunyi di utara,” bisiknya sambil menunjuk ke arah cakrawala yang samar terlihat. “Orang-orang menyebutnya gunung kosong yang penuh misteri. Kabut tebal menyelimutinya sepanjang tahun, jalannya terjal, bahkan prajurit istana pun enggan pergi ke sana.”

Ia memandang putranya penuh harap. “Kau bisa bersembunyi sampai situasi aman, atau sampai kau menemukan kekuatan yang cukup untuk kembali berdiri.”

Banga menerima bungkusan itu. Ia memeluk ibunya erat-erat, merasakan kehangatan yang mungkin tak bisa dinikmati lagi dalam waktu lama.

“Aku berjanji, Bu. Pergi bukan karena takut mati, tapi karena tahu hidup ini masih punya tujuan lebih besar.”

Ia melepaskan pelukan, lalu menatap wajah ibunya sekali lagi. “Suatu hari nanti, saat kekuatan sudah terkumpul, aku akan kembali. Saat itu bukan lagi aku yang lari, tapi kezaliman yang akan lari dari hadapanku.”

Gayatri hanya menangis, tahu perpisahan ini adalah awal perjalanan yang penuh bahaya.

Saat matahari mulai terbenam dan langit berubah jingga, Banga melangkah keluar dari halaman rumah. Ia hanya membawa bungkusan pemberian ibunya. Ia menoleh sekali lagi, ibunya melambaikan tangan di balik air mata.

Langkah kakinya sangat cepat menuju jalan setapak ke utara. Angin malam membawa hawa dingin dan bisikan yang terdengar seperti peringatan dari alam. Semakin jauh ia melangkah, semakin gelap jalan yang dilalui, dan semakin samar kampung halaman.

Jauh di belakangnya, di pembaringan sangat mewah, sepasang mata indah dan penuh keinginan mengawasi pria gagah perkasa dari balik tirai. Kabar kepergian Banga sudah sampai ke telinga Ratu Nayaka sebelum pagi tiba.

Dengan senyum samar penuh intrik, ia berbicara kepada panglima yang berlutut di hadapannya. “Jangan biarkan dia pergi jauh. Ke mana pun dia lari, temukan jejaknya dan bawa dia kembali, dengan bujukan atau paksaan.”

"Baik, Yang Mulia."

Ia menatap dengan sinar mata penuh perintah. “Jika dia bersembunyi di tempat yang sulit dijangkau, gunakan apa saja yang dia sayangi sebagai umpan. Aku ingin dia jadi milikku."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

reviews

Enday Hidayat
Enday Hidayat
Kita mulai lagi. Maaf ya untuk reader yang telah membaca cerita ini, karena cerita ini mengalami revisi total.
2026-07-01 14:16:17
0
0
43 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status