LOGINGedung apartemen mewah menjulang di depan mereka.
Anindya menunjukkan akses masuk.Ketika mobil berhenti di lobby, perempuan itu bersuara kembali—“Pak Zyandru.”“Ya?”“Kamu masuk sendiri ya.”Zyandru menoleh ke belakang.“Jangan sampai Mala tahu kami bantu kamu.” Anindya melanjutkan.Keisha mengangguk. “Sekarang dia lagi marah. Kalau tahu kami bantu kamu mencari dia, bisa-bisa kami juga diblokir.”Marvelle menambahkan, “Kalau kami tetap bisa dekat samaVimala berdiri di foyer kediaman Wisnutama dengan tas menggantung di lengannya.Di hadapannya bi Tina berdiri serbasalah.Sedangkan dua petugas keamanan di dekat pintu bahkan tidak berani mengangkat wajah.“Non, jangan marah sama Bibi.”“Terus Mala harus marah sama siapa?”“Bapak cuma pesan—”“Ini rumah Mala!”“Iya, Non.”“Terus kenapa Mala enggak boleh keluar dari rumah Mala sendiri?!”Bi Tina menelan ludah.Karena itulah Vimala menelepon sumber masalahnya.Dan begitu sambungan terangkat—“Suruh mereka buka gerbang sekarang!”Di kantor, Zyandru mengusap kening.“Mau ke mana?”“Bukan urusan kamu.”“Kalau kamu mau keluar rumah, itu urusan aku.”Vimala mendelik meski suaminya tidak bisa melihat.“Kamu sekarang nyekap aku?”“Enggak.”“Terus ini apa?”“Aku cuma memastikan kamu enggak menghilang lagi.”“Aku bukan anak kecil!”“Aku tahu.”“Suruh sekuriti buka gerbang.”“Mau ke mana dulu?”“Zyan!”“Mala.” Nada Zyandru tetap tenang. “Ke mana?”Vimala mengembuskan n
Mobil Bagas berhenti tepat di area drop-off proyek Integrated Transit & Commercial Development hampir empat puluh menit kemudian.Ratu membuka seatbelt.“Thank you, ya.”“Hm.”Ratu baru hendak membuka pintu ketika menyadari Bagas justru celingukan melihat ke luar windshield.Keningnya langsung berkerut.“Kamu cari siapa?”“Enggak cari siapa-siapa.”Ratu mengikuti arah pandangan Bagas.Lalu tersenyum geli.“Cari Zyandru ya?” “Siapa yang cari dia?” Bagas menyanggah.“Terus kenapa dari tadi celingukan?”“Aku cuma lihat proyek.”“Proyeknya di depan, bukan di parkiran.”Bagas mendengus.Ratu terkekeh.“Dia enggak datang hari ini.”Kali ini Bagas menoleh cepat.“Kenapa?”“Nah.” Ratu menunjuk wajah laki-laki itu. “Ketahuan, kan?”Bagas tertawa kecil.Ratu menggeleng.“Dia banyak kerjaan di kantor hari ini. Katanya ada beberapa meeting internal MG Group. Jadi hari ini kemungkinan besar enggak ke proyek.”“Oh.”Hanya itu jawabannya.Tetapi entah mengapa wajah Bagas t
Robi membuka pintu depan rumah ayahnya, suasana temaram segera saja menyambut pria itu.Dia mengusap rahang tatkala rasa sakit akibat kepalan tangan Zyandru tiba-tiba menyerang.Belum sempat dia naik ke lantai dua, lampu di ruang televisi menyala.Robi menoleh ke sana. Burhan sedang berdiri di dekat panel lampu.“Dari mana kamu?” tanya Burhan dengan sorot mata marah.“Abis … ketemu klien, Yah ….” Robi menjawab tanpa berani menatap wajah sang ayah.“Tadi Zyandru ke sini cari istrinya.” Deg.Ucapan Burhan membuat Robi akhirnya berani menatap sang ayah.“Oh … jadi kalian sudah ketemu?” tanya Burhan lagi melihat memar di wajah putranya.Robi mendekat ke area sofa mengikuti Burhan yang kemudian duduk di single sofa.“Yah … Zyandru selingkuh, sama mantannya yang sekarang jadi lead di proyek baru itu … entah sengaja atau enggak, yang pasti sekarang mereka kerja bareng … kita bisa manfaatkan ini untuk merebut Mala kembali.” Robi bicara dengan sorot mata berapi-api.Burhan tidak
Perjalanan pulang berlangsung dalam diam.Vimala duduk di samping jendela.Kedua tangan terlipat di dada.Tatapannya tidak pernah berpindah dari lampu-lampu Jakarta yang melintas.Meski Zyandru duduk di sebelahnya, sesekali dia menoleh memastikan Vimala aman.Tidak mencoba menyentuh.Tidak mengajak bicara.Sampai hampir dua puluh menit kemudian Vimala akhirnya bersuara.“Dari mana kamu tahu aku di apartemen kak Robi?”Zyandru sudah menduga pertanyaan itu akan muncul.Ia tidak boleh membawa Anindya ke dalam masalah ini.“Aku telepon Anindya.”Vimala menoleh sedikit.“Dia bilang terakhir kalian ninggalin kamu di nightclub sama Robi.”Vimala kembali menatap keluar.“Aku datang ke sana.” Zyandru melanjutkan tenang. “Kalian sudah enggak ada.”“Terus?”“Aku tanya beberapa orang.”Vimala mendengarkan.“Ada perempuan yang bilang lihat kalian keluar lewat pintu belakang.”“Perempuan siapa?”
Gedung apartemen mewah menjulang di depan mereka. Anindya menunjukkan akses masuk.Ketika mobil berhenti di lobby, perempuan itu bersuara kembali—“Pak Zyandru.”“Ya?”“Kamu masuk sendiri ya.”Zyandru menoleh ke belakang.“Jangan sampai Mala tahu kami bantu kamu.” Anindya melanjutkan.Keisha mengangguk. “Sekarang dia lagi marah. Kalau tahu kami bantu kamu mencari dia, bisa-bisa kami juga diblokir.”Marvelle menambahkan, “Kalau kami tetap bisa dekat sama Mala, setidaknya kami bisa bantu jagain dia.”Zyandru memahami maksudnya. “Okay.”Anindya menatapnya. “Unit Robi di lantai dua puluh tiga.” Dia memberitahu sekali lagi.Zyandru mengangguk.“Terima kasih.”Ketiganya turun.Sebelum pergi, Keisha berpesan, “Jangan berantem ya Pak… Vimala memang kasar, keras kepala. Tapi asal Pak Zyandru tahu, beberapa waktu lalu dia mengatakan kalau dia sangat mencintai Pak Zyan… dia tidak ingin bercerai.”Zyandru tidak menjawab
Rumah Burhan masih terang ketika mereka tiba.Zyandru turun.Ketiga perempuan hendak mengikuti.“Enggak usah.”Anindya menatapnya.“Kalian di mobil aja.”Zyandru menutup pintu.Langkah Zyandru menderap gagah menapaki teras.Dia menekan bel.Seorang asisten rumah tangga yang membuka pintu.“Pak Burhan ada?” “Bapak siapa?” Wanita paruh baya itu bertanya.“Direktur Utama MG Group.” Zyandru menjawab.“Oh silahkan masuk, Pak.” Wanita itu menuntun Zyandru ke ruang tamu lalu pamit untuk memanggil Burhan.Beberapa menit kemudian Burhan datang. Pria tua itu tampak benar-benar terkejut. “Pak Zyandru?”“Robi mana?”Tidak ada salam maupun ada basa-basi.Burhan mengerutkan dahi. “Robi?”“Iya.”“Saya belum bertemu Robi sejak sore di kantor.”“Dia bilang ke mana?”“Katanya mau bertemu klien.” Burhan memperhatikan wajah Zyandru. “Memangnya ada apa?”“Dia menculik istri saya dari nightclub.”Sorot mata Burhan berubah sepersekian detik.Lalu kembali normal. “Menculik?”“Dia







