LOGINVimala datang bersama Robi.
Beberapa staf yang masih berada di project office langsung berdiri ketika melihatnya.“Pak Robi?”Robi mengangguk sementara Vimala menatap sekeliling.“Pak Zyandru mana?” Vimala bertanya.Seorang engineer terlihat bingung.“Tadi masih di sini, Bu.”“Terus Ratu?”“Bu Ratu juga.”Jantung Vimala seperti jatuh ke perut.“Di mana?”Tidak ada yang langsung tahu.Robi diam di belakangnya.Ponselnya bergetar.“Pak Yudha?”Zyandru langsung mendongak dari layar komputer ketika Yudha memasuki ruangannya.Davin sedang duduk di sofa membaca berkas lalu bangkit.“Saya di luar, Pak.”“Ya.”Davin lantas keluar dari ruangan sang Direktur Utama.Zyandru bangkit dari kursi. “Silahkan duduk, Pak Yudha.” Laki-laki yang lebih tua itu mengangguk kecil.“Ada yang ingin saya bicarakan.”“Ada apa, Pak?” Suara Zyandru terdengar cemas.“Barusan saya ketemu Mala.”Entah mengapa satu kalimat itu langsung membuat Zyandru meletakkan pulpennya.“Ada apa?”Yudha tidak berputar-putar.“Mala meminta saya mengurus perceraiannya.”Tubuh Zyandru seketika membeku.Beberapa detik—benar-benar tidak bergerak.“Apa?”“Dia ingin prosesnya mulai disiapkan setelah urusan alih nama aset selesai.”“Dia serius?”“Kelihatannya begitu.”Zyandru berdiri.Berjalan beberapa langkah menjauh dari meja.Tangannya men
Kabar buruk selalu menyebar lebih cepat daripada kebenaran.Pagi berikutnya, cerita tentang kejadian di proyek sudah tidak lagi berbentuk seperti kejadian aslinya.Versi pertama mengatakan istri Direktur Utama MG Group datang dan memergoki suaminya berduaan dengan Project Lead perusahaan partner.Versi kedua mengatakan mereka ditemukan di ruangan terkunci.Versi ketiga menambahkan bahwa posisi mereka sedang berpelukan.Menjelang siang—entah dari mana muncul versi bahwa mereka nyaris berciuman.Dan tentu saja, orang-orang yang sejak awal kurang menyukai Ratu jadi menemukan hiburan baru.“Pantes cepat banget dipercaya pegang proyek sebesar itu.”“Cantik sih.”“Cantik doang mah banyak.”“Katanya kenal pak Zyandru dari dulu.”“Wah, makin jelas ‘kan sekarang.”Suara-suara itu berhenti ketika pintu pantry terbuka.Ratu masuk.Tiga perempuan yang tadi berbicara langsung sibuk dengan kopi masing-masing.Ratu tahu.
“Aku dituduh pelakor, Gas.”Bagas yang sejak tadi duduk di sofa langsung menegakkan tubuh.“Apa?”Ratu berdiri di dekat jendela apartemennya.Sudah hampir pukul sebelas malam ketika ia pulang.Bagas yang sebelumnya berniat menjemput akhirnya langsung datang ke apartemen setelah Ratu mengirim pesan bahwa terjadi masalah di proyek dan meminta waktu untuk bicara.Sejak datang, Bagas tahu sesuatu yang buruk terjadi.Tetapi ia tidak menyangka seburuk ini.Ratu berbalik.Matanya merah.“Vimala datang ke proyek.”“Terus?” Ekspresi wajah Bagas tampak panik.Tentu dia tidak bisa bayangkan apa yang akan dilakukan anak Konglomerat manja itu kepada perempuan yang masih dicintai suaminya.“Dia nemuin aku sama Zyandru berdua di coordination room.”Rahang bagas mengeras.“Berdua?” tanyanya ingin memastikan.“Iya.” Ratu segera menggeleng. “Tapi bukan seperti yang kamu pikir.”“Aku enggak mikir apa-apa.”“Aku sama dia enggak selingkuh.” Ratu menekankan.Bagas tidak menyela.“Aku be
Vimala baru menyadari ada yang tidak beres dengan tubuhnya ketika mobil Robi memasuki halaman kediaman Wisnutama.Rasa nyeri yang semula hanya seperti mulas perlahan berubah menjadi kram yang menusuk di bagian perut.Perempuan itu menekan telapak tangan ke sana.Matanya terpejam.“Mala?” Suara Robi membuatnya membuka mata.“Kenapa?”“Enggak apa-apa.”“Kamu sakit?”“Enggak.” Jawabannya terlalu cepat.Robi mematikan mesin mobil lalu menatapnya.“Wajah kamu pucat.”“Aku cuma capek saja kayanya.”Vimala segera membuka pintu.Ia tidak ingin Robi bertanya lebih jauh.Apalagi kalau pertanyaan berikutnya berhubungan dengan Zyandru.Malam ini kepalanya sudah terlalu penuh.“Makasih ya Kak.”Vimala turun kemudian berjalan cepat menuju pintu rumah.“Mala.”Langkahnya berhenti.Robi ikut turun. “Besok kabarin aku kalau butuh apa-apa.”Vimala hanya mengangguk.“Dan soal yang kamu lihat tadi…” Robi sengaja menggantung kalimat.Vimala menoleh lagi.“Jangan dipikirin terus.”
Robi akhirnya mengikuti Vimala yang lebih dulu berjalan meninggalkan koridor.Suara langkah mereka perlahan menjauh.Namun ketegangan yang tertinggal sama sekali tidak ikut pergi.Beberapa karyawan masih berdiri kikuk di sekitar sana sampai Ratu menarik napas panjang.“Teman-teman, silakan kembali ke pekerjaan masing-masing.”Satu per satu mereka membubarkan diri.Begitu koridor benar-benar sepi, Ratu berbalik.Tatapannya langsung menghunjam Zyandru.“Kamu bohong sama aku.”Zyandru terdiam.“Waktu itu aku tanya apakah Mala sudah tahu tentang kita.” Suara Ratu terdengar bergetar menahan marah. “Kamu bilang belum.”“Neng—”“Jangan panggil aku Neng!”Zyandru mengembuskan napas. “Ratu, dengar dulu.”“Apa lagi yang harus aku dengar?”“Aku sengaja enggak kasih tahu karena aku tahu kamu.”Ratu tertawa sumbang.“Tahu aku?”“Iya. Begitu kamu tahu Mala sudah tahu semuanya dan rumah tangga kami bermasalah
“Kamu ngapain di sini?”Robi mengangkat kedua tangan. “Aku cuma antar Mala.”“Mala tahu aku di sini dari siapa?”Vimala langsung menyela. “Jangan serang kak Robi!”Zyandru menatap istrinya.“Dia enggak ada hubungannya sama perselingkuhan kalian.”Rahang Zyandru mengeras.Robi tidak bersuara lagi.Namun di dalam kepalanya—semuanya berjalan lebih baik daripada rencana.Zyandru kembali menatap Vimala.“Aku mau kamu pulang sama aku.”“Enggak.”“Mala.”“Aku enggak mau pulang sama kamu.”“Kita bicara di rumah.”“Enggak ada lagi yang perlu dibicarakan.”Vimala menatap Ratu.Air matanya terus mengalir. “Selamat.”Ratu mengernyit.Vimala menghapus air matanya dengan kasar.“Kamu hebat.”“Mala—”“Diam dulu, Zyan.”Kali ini bahkan Zyandru terdiam.Tatapan Vimala kembali tertuju kepada Ratu.Dari ujung kepala sampai kaki.Seolah untuk pertama kalinya ia benar-benar s







