FAZER LOGINHampir pukul sebelas malam ketika Zyandru sampai di rumah.Rumah sudah sunyi.Lampu ruang keluarga menyala redup.Bi Tina rupanya sudah masuk kamar.Zyandru meletakkan tas kerja.Melepas jam tangan.Kemudian naik ke lantai atas.Baru ketika membuka pintu kamar—langkahnya berhenti.Vimala sudah tidur.Perempuan itu berbaring miring di sisi ranjang.Selimut menutupi tubuhnya sampai pinggang.Lampu tidur telah menyala.Dan ponselnya tergeletak tidak jauh dari tangan.Zyandru berdiri di ambang pintu.Ada sesuatu yang terasa salah.Kemudian ia teringat.Ponsel.Zyandru cepat mengambil ponselnya dari saku.Membuka layar.Dan seketika—dadanya bergemuruh.Pesan Vimala.Bukan hanya dua.Ada beberapa.Udah makan?Kamu masih di project?Aku makan duluan ya.Foto makanan.Lihat. Aku nurut. Enggak pedas 😒Kemudian—Pulang jam berapa?Satu jam setelahnya
Ternyata persoalan di titik U-17 lebih rumit daripada yang terlihat di drawing.Temporary access yang direncanakan memang masih memungkinkan digunakan.Tetapi setelah marking aktual dilakukan, turning radius kendaraan berat membuat sisi luar jalur terlalu dekat dengan existing utility corridor.“Kalau tetap pakai alignment ini, clearance kita kurang,” ujar Site Interface Engineer sambil menunjuk marking di tanah.Ratu berjongkok sedikit untuk melihat posisi garis.“Berapa minimum safe clearance untuk equipment terbesar?”Engineer menjawab.Zyandru berdiri di sampingnya.“Kalau access digeser ke timur?”Planning Manager membuka drawing.“Bisa, Pak. Tapi kena area yang tadinya disiapkan untuk temporary storage.”“Storage bisa pindah,” ujar Ratu.Zyandru menoleh.Ratu melanjutkan, “Yang enggak boleh dikompromikan utility safety. Temporary storage lebih fleksibel.”“Impact ke mobilization?”“Kalau keputusan hari
Pukul tujuh kurang lima menit, mobil Bagas sudah memasuki kawasan proyek Integrated Transit & Commercial Development.Ratu yang sejak beberapa menit lalu sibuk memeriksa pesan di grup proyek akhirnya mengangkat wajah.Di balik kaca mobil terlihat aktivitas yang sudah cukup padat meskipun matahari belum sepenuhnya tinggi.Beberapa kendaraan proyek terparkir berjajar. Sejumlah pekerja dengan rompi keselamatan mulai bergerak menuju area masing-masing. Di kejauhan terlihat alat berat yang belum dioperasikan karena joint site verification pagi itu memang harus selesai terlebih dahulu.Keputusan mengenai temporary access dan utility relocation yang dibuat pada Executive Site Alignment minggu sebelumnya ternyata membutuhkan penyesuaian setelah hasil marking aktual selesai dilakukan.Satu jalur temporary access yang direncanakan untuk mobilisasi alat berat memiliki clearance terlalu dekat dengan utilitas eksisting.Di atas drawing—masih terlihat aman.Di lapangan—belum tentu.Karena p
Tangis Ratu lama-lama mereda.Bukan karena rasa sakitnya hilang.Hanya karena tubuh manusia pada akhirnya kelelahan menangis.Ratu masih bersandar pada bahu Bagas.Matanya terpejam.Jemarinya berada di antara jemari laki-laki itu.Bagas sesekali meliriknya.Perempuan itu terlihat lelah.Ada sisa air mata di bulu matanya.Bagas mengembuskan napas perlahan.Ada begitu banyak hal yang ingin dilakukannya.Mengatakan bahwa Ratu pantas mendapatkan seseorang yang memilihnya tanpa keraguan.Mengatakan bahwa suatu hari ia tidak akan menangisi Zyandru lagi.Mengatakan bahwa kalau saja Ratu mau menoleh—ada dirinya.Namun Bagas tahu.Hari ini bukan waktunya.Mungkin besok juga belum.Maka ia tetap diam.Sampai tanpa sadar—ketika mobil melambat karena kepadatan lalu lintas—Bagas memiringkan kepala.Dan mengecup puncak kepala Ratu.Ringan.Hampir refleks.Begitu bibirnya menyentuh rambut perempuan itu—Bagas langsung tersadar.Ratu juga.Matanya terbuka.Tubuhnya sedikit men
Mobil yang dikendarai Bagas meninggalkan kawasan Lembang menjelang sore.Langit masih terang, tetapi matahari sudah mulai turun di balik perbukitan. Cahaya keemasan menyelinap di antara pepohonan yang berjajar di sepanjang jalan, sesekali jatuh ke dashboard mobil ketika mereka melewati celah-celah pepohonan.Di dalam mobil, musik mengalun pelan.Bagas memang sengaja mengecilkan volumenya sejak mereka berangkat dari rumah orang tua Ratu.Sejak tadi perempuan di sampingnya lebih banyak diam.Kado untuk Kaluna sudah diberikan.Ia sudah bertemu kakaknya.Seharusnya urusan sederhana.Datang.Mengucapkan selamat ulang tahun.Memberikan hadiah.Pulang.Setidaknya begitu rencana Ratu.Namun hidup sepertinya sedang sangat gemar merusak rencananya belakangan ini.Bagas melirik sekilas.Ratu sedang memandang keluar jendela.“Kamu kenapa?”Ratu menggeleng. “Enggak apa-apa.”“Lapar?”“Enggak.”“Ngantuk?”“Enggak.”Bagas kembali melihat jalan.“Oke.”Ratu menoleh. “Oke doang
Mereka kini berdiri bersama di salah satu area viewing deck kecil perkebunan.Angin bertiup lebih kencang.Vimala mengusap kedua lengannya.Satria tiba-tiba berkata, “Oh iya, Mala. Ratu ini sekarang Project Lead.”Vimala menoleh. “Project Lead?”“Di salah satu perusahaan besar di Jakarta.”“Keren.” Vimala tulus memuji.Ratu tersenyum. “Thank you.”“Project apa?”Satria menjawab santai. “Yang kerja sama dengan MG Group.”Vimala langsung membulatkan mata. “Serius?”“Iya.”Ia menoleh kepada Zyandru.Kemudian kembali kepada Ratu.“Berarti kalian sering ketemu dong?”Sunyi.Satu detik.Dua.Zyandru mengangguk.“Beberapa kali.”Ratu ikut mengangguk.“Iya. Untuk project.”Vimala tertawa.“Pantes.”Kening Zyandru langsung berkerut.“Pantes apa?”“Pantes… ya kenal.”Jawabannya terdengar bodoh.Zyandru menatapnya curiga.Vimala pura-pura tidak meliha







