LOGINDi kehidupan sebelumnya, aku memilih menikah dengan pria yang kucintai. Tidak kusangka cinta membawaku pada petaka. Aku kehilangan harta, anak, keluarga, sahabat, hingga nyawa. Takdir memberiku kesempatan kedua. Aku hidup kembali tepat di hari pernikahan. Kali ini, tidak akan kubiarkan para pengkhianat mengambil segalanya. Tapi ... kurasa aku bukan satu-satunya yang lahir kembali.
View More[Natalia: Sera, makasih ya. Semua milikmu sekarang jadi milikku. Hahaha.]
Pesan singkat di layar ponselku itu bagai belati berkarat yang dihujamkan berulang kali tepat di ulu hati. Nama pengirimnya terpatri jelas di layar: Natalia—Sahabat terbaik yang sudah kuanggap seperti saudara kandung sendiri, wanita yang kutarik dari kemiskinan dan kuberi posisi mentereng sebagai Direktur Operasional di perusahaanku. Di hadapanku, di atas meja kerja kayu mahoni milikku yang megah, berserakan setumpuk dokumen resmi berstempel basah dan puluhan lembar foto bermutu tinggi. Foto-foto yang menampilkan Adrian—suamiku—sedang memeluk mesra tubuh Natalia di atas ranjang kamar hotel mewah. “Sialan kamu, Adrian, Natalie. Setega ini kalian lakukan ini ke aku,” gumamku menahan perih. Dalam foto itu, mereka tertawa lepas, saling mengecup, dan menatap kamera seolah sedang merayakan kemenangannya atas kebodohanku. Dan tepat di samping foto-foto laknat itu, berlembar-lembar kertas hukum memperlihatkan kenyataan yang jauh lebih mengerikan. Sertifikat tanah atas nama orang tuaku, pengalihan 100% saham family office, hingga pemindahtanganan seluruh aset perusahaanku, kerajaan bisnis yang dibangun keluargaku dengan darah, keringat, dan air mata, kini resmi berpindah tangan menjadi milik Adrian. Tanda tanganku terpampang jelas di setiap lembar dokumen tersebut. Dipalsukan dengan sangat sempurna dalam surat kuasa mutlak, tepat saat aku terbaring kritis tak berdaya usai operasi SC untuk melahirkan anakku dan Adrian. "Bu Sera ... maafkan saya. Saya baru berhasil melacak dan mengumpulkan semua bukti ini secara diam-diam," bisik Pak Hendra, asisten kepercayaanku, yang berdiri tergopoh-gopoh di depan meja. Napasnya masih terengah-engah, peluh membasahi dahinya yang pucat. "Pak Adrian ... saya rasa … saya rasa beliau tidak pernah mencintai Anda. Sejak awal sebelum kalian menikah, Pak Adrian dan Bu Natalia ternyata sudah menjalin hubungan. Mereka sengaja mengincar Anda demi menguras seluruh harta keluarga besar Ibu." Dadaku sesak, seperti gelas kaca yang dibanting hingga pecah berkeping-keping. Pandanganku kabur oleh air mata yang merebak panas, tetapi api amarah membakar seluruh kesadaranku. Tiga tahun pernikahan kami. Tiga tahun janji-janji manis Adrian, belas kasihnya saat aku lelah bekerja, kecupan hangatnya di dahi setiap pagi ... semuanya hanyalah sandiwara murah tingkat tinggi. Pria yang kutangisi saat dia sakit, pria yang kuangkat derajatnya dari seorang manajer semenjana menjadi suami dari seorang CEO kaya raya, nyatanya hanyalah seekor parasit busuk. Dan Natalia, wanita yang kujadikan sahabat, yang selalu kupercaya, rupanya ular yang sangat munafik. “Letakkan semua bukti itu di meja, Pak. Akan saya periksa lebih lanjut,” ucapku. Aku, Seraya—wanita yang disegani di dunia bisnis, yang dikenal dingin, cerdas, dan selalu rasional—telah diperdaya secara tragis oleh orang-orang yang paling kucintai. “Aah … Adrian, lanjutkan, aku mau keluar.” Suara desahan itu terdengar begitu jelas saat aku memutar video yang kudapat dari Pak Hendra. Sungguh menjijikkan. Mereka main gila dan berbuat mesum di belakangku sampai seliar ini. Seketika, rasa sakit yang teramat sangat berdenyut sengit di perut bawahku. Bekas jahitan pendarahan pascamelahirkan serasa mau robek. Darah segar rasanya kembali merembes membasahi gaun luarku. Lalu, memori tentang bayiku menderu keras di kepala. Malaikat kecilku yang terpaksa ditinggal di ruang NICU rumah sakit, berjuang sendirian di dalam inkubator karena lahir prematur akibat stres tinggi yang kualami selama masa kehamilan. Bayiku ... bayi kecilku yang bahkan belum sempat kuraih ke dalam pelukanku! "Bu? Anda baik-baik saja? Bu?" Pak Hendra panik melihatku memegangi perut dengan wajah sepucat mayat. "Nggak ... aku nggak boleh hancur sekarang," bisikku serak, suara geraman tertahan keluar dari tenggorokanku. "Pak Hendra, hubungi pengacara keluarga dan kepolisian sekarang juga! Blokir seluruh rekening operasional! Aku akan hancurkan mereka berdua sampai tak bersisa! Aku akan buat mereka membusuk di penjara! Pergilah, saya baik-baik saja di sini." “Ba-baik, Bu.” Pak Hendra melangkah ke luar. Aku memaksakan diri untuk berdiri, menahan rasa nyeri luar biasa yang menusuk organ dalamku. Aku membalikkan badan, hendak berlari keluar dari ruang kerja untuk mencari keberadaan para bangsat itu. Dua bulan aku tidak melihat Natalia karena dia ijin bekerja jarak jauh ke Singapura untuk menemani ibunya menjalani pengobatan. Aku akan menelepon wanita sialan itu. Namun, baru dua langkah bergerak, denyut panas yang membakar mendadak merayap cepat dari tenggorokan turun ke paru-paruku. Ugh! Pandanganku kabur. Kepalaku dihantam rasa pusing yang teramat sangat, seolah tengkorakku dihimpit oleh beton tajam. Rasanya seluruh organ dalamku mencair dan terbakar hebat. Tubuhku kehilangan keseimbangan. Lututku meliuk mati rasa, dan aku ambruk menghantam lantai kayu keras. Tubuhku berguncang hebat akibat kejang parah. Apa ini? Apa yang terjadi padaku? Aku tak bisa bersuara. Napasku tersengal mencekik leherku sendiri. Dari sudut bibirku, cairan putih berbusa meluncur keluar tanpa bisa kukendalikan. Racun? Siapa yang meracuniku? Suplemen pemulihan pascamelahirkan yang disiapkan Adrian dan disuapkan padaku secara lembut sebelum aku keluar dari rumah sakit ... teh herbal manis yang kuminum dengan rasa penuh syukur atas perhatiannya ... mungkinkah semua itu adalah racun mematikan yang dirancang untuk membunuhku secara perlahan? “Minum ya, Sayang ... Kamu harus cepat sembuh demi aku dan anak kita.” Suara lembut Adrian saat menyuapiku beberapa jam lalu mendadak bergema di telingaku bagai bisikan iblis. Menjijikkan! Pria bajingan itu tidak hanya merampas seluruh harta milik keluargaku, tapi dia juga secara berdarah dingin merencanakan pembunuhanku! Susah payah aku merangkak agar bisa meraih ponselku. Aku ingin menelepon agar Pak Hendra kembali. Dalam keputusasaan dan rasa sakit luar biasa yang menyayat raga, suara derap langkah kaki yang tenang, santai, dan penuh irama kemenangan terdengar dari arah lorong. Klek. Pintu ruang kerja terbuka lebar. Sepatu kulit mewah yang kubelikan sebagai hadiah ulang tahunnya tahun lalu melangkah masuk. Sepatu itu berhenti tepat di depan wajahku yang terkapar tak berdaya. Aku mendongak dengan sisa kekuatanku yang terakhir, menatap sosok pria yang sangat kukenal berdiri angkuh di sana. Adrian. Pria itu menyisir rambut rapinya ke belakang, lalu menatapku dengan pandangan penuh penghinaan—sama sekali tidak ada sisa rasa cinta atau rasa iba. "Wah wah ... aku dengar kamu sudah tahu soal hubunganku dan Natalia? Sayang sekali, Sera, kamu terlalu lamban” Adrian membungkuk sedikit, memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana, lalu mengukir senyum culas yang amat dingin. “Sekarang, semua sudah terlambat. Nikmati detik-detik terakhir sisa hidupmu. Bersiaplah bertemu malaikat di neraka."Tiga tahun lalu, aku menganggap momen ini sebagai awal dari kisah dongeng impianku.Namun hari ini, gaun pengantin putih berhias ribuan kristal yang melekat di tubuhku terasa seperti kain kafan yang mendinginkan darahku."Selamat ya, Sera. Kamu kelihatan cantik sekali hari ini," bisik Natalia manis sembari merapikan veil di kepalaku.Wajah aslinya—sebelum dirombak habis-habisan menjadi wajahku di kehidupan lalu—tersenyum lebar penuh kemunafikan."Makasih, Nat. Tanpa kamu, aku nggak tahu gimana nervousnya aku hari ini," jawabku. Aku mengukir senyuman tipis.Di sampingku, Adrian berdiri gagah dalam tuksedo mewahnya. Pria itu merangkul pinggangku posesif, lalu mengecup pelipisku dengan kelembutan palsu yang dulu sanggup melumpuhkan seluruh logikaku."Aku janji akan membahagiakan kamu seumur hidupku, Sera," bisik Adrian tepat di telingaku.Membahagiakanku? Atau membunuhku dan membuang abuku ke laut lepas setelah menguras seluruh harta keluargaku?Aku menahan mual.Nikmatilah sandiwara ini
"Maksud Dokter apa? Saya … Aku ini Seraya! Istri Adrian dan ibu dari Selina!" Natalia tersentak, suaranya naik satu oktav dengan nada tinggi yang dibuat-buat.Matanya membelalak, memasang raut wajah terluka. Aku tahu Natalia pasti sempat lupa jika aku dan Bima pernah sangat akrab. Dia juga pasti sedang berpikir bagaimana bersikap lebih mirip aku.“Bima, aku bukan berubah, aku cuma stres. Kamu nggak tahu gimana menderitanya aku! Anakku sekarat, dan sekarang kamu malah menuduhku yang aneh-aneh?! Memangnya, kalau aku bukan Sera, lalu aku siapa?"Natalia mengganti cara bicaranya menjadi lebih santai.Bima hanya menatap Natalia dengan senyum tipis. Tidak terlihat ada sedikit pun keraguan di matanya."Oh, ya?" Bima melipat kedua tangannya di dada, melangkah setengah tapak mendekati Natalia. "Kalau begitu, Sera ... kamu pasti ingat betul hadiah apa yang kamu berikan padaku waktu kita lulus SMA dulu? Dan tempat apa yang selalu kita kunjungi kalau kamu lagi stres dipaksa Almarhum Ayahmu belaja
Rohku melompat menerjangnya, mencoba memukul tangannya, tetapi tubuh kasatmataku meluncur menembus tubuhnya tanpa berdampak apa pun.Bayiku berjuang di bawah bungkaman selimut tebal itu, tangan-tangan kecilnya bergerak-gerak panik mencari udara.Natalia menatap ke dalam boks bayi dengan senyum sadis yang sangat mengerikan, menekan selimut itu makin dalam."Muka anak ini mirip sekali dengan ibunya yang sudah jadi abu di laut," bisik Natalia tepat di telinga bayi kecilku yang tak berdaya. "Setiap kali aku lihat wajah anak ini, aku teringat betapa bencinya aku pada Seraya. Kamu pikir aku akan merawatmu baik-baik? Kamu cuma alat agar penampilanku sebagai Sera kelihatan makin sempurna di mata publik. Tunggu saja, tidak lama lagi, aku pasti singkirkan kamu, iblis kecil!"*****"Ya Allah! Nona Shelina! Ya Allah, Pak Adrian! Ibu!"Bi Minah, ART senior yang sudah bekerja denganku sejak aku masih merintis bisnis, berlari gemetar turun dari lantai dua.Syukurlah, ada yang sadar anakku tidak baik
Rasa terbakar di dalam dadaku perlahan berganti menjadi dingin. Busa putih yang mengalir dari sudut bibirku.Tatapanku mengarah pada senyum culas Adrian, sebelum akhirnya kegelapan total menelan seluruh indraku.Tunggu, apa aku mati?Mengenaskan dan semudah ini? Aku melihat tubuhku sendiri tergeletak tak berdaya di lantai. Sementara aku berdiri dengan tubuh seringan kapas. Pandanganku lebih terang dibanding sesaat setelah aku tersungkur ke lantai. "Ck, berantakan sekali," gumam Adrian. Terdengar jelas nadanya yang mengejek. Tanpa sedikit pun ragu, ia mengayunkan ujung sepatu kulit—yang dulunya adalah hadiah dariku—untuk menendang dan menggeser kepalaku."Kasihan sekali kamu, Seraya," kekeh Adrian sembari melipat kedua tangannya di dada. "Kamu pikir kamu wanita paling pintar di dunia ini hanya karena punya gelar bisnis dan memimpin konsorsium ratusan miliar? Kamu itu cuma wanita bodoh yang haus kasih sayang. Sedikit perhatian dan buaian manis saja sudah cukup buat kamu menyerahka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.