Share

Theraphy Kedua

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-08-15 21:05:13

Ruang terapi yang sama kembali menyambut mereka.

Kursi reclining berwarna krem berada di dekat jendela besar yang menghadap taman rumah sakit.

Vimala perlahan duduk.

Zyandru membantu melepaskan mantelnya kemudian menggantungkan pakaian itu di sandaran kursi.

“Sudah nyaman duduknya?”

Vimala mengangguk. “Lumayan.”

Ia sebenarnya sudah jauh lebih tenang daripada saat terapi pertama.

Namun begitu seorang perawat datang membawa perlengkapan infus, jemarinya refleks mencari tangan Zyandru.

Pri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Ria Nur
hu'um,,, bener k
goodnovel comment avatar
Ferinda Yanti
sampai bab ini aku cuma berharap nanti gak ada drama sakit hati dan nyakitin hati,,klw endingnya zyan ma mala semoga cerita ratu gak kalah manis dari cerita mereka,, zyan Lo harus jujur ke ratu biar dia gk ngarep lo terus.... seenggak nya ratu gak rugi apa2 cm hati doank yang sakit...huhuhu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Kembali Ke Tanah Air

    Hari beranjak sore ketika terapi kedua akhirnya selesai.Kondisi Vimala sedikit lebih baik dibanding terapi pertama.Ia masih lemah.Namun tidak terlalu pusing.Begitu perawat melepaskan selang infus, Vimala langsung mengembuskan napas panjang.“Akhirnya.”Profesor Adrian datang beberapa menit kemudian.Ia memeriksa tekanan darah Vimala dan menanyakan beberapa keluhan.“You did better this time.”Vimala tersenyum lega.“Thank God.”Profesor Adrian kemudian menoleh kepada Zyandru.“She still needs rest tonight.”“I understand.”“No heavy activity.”Zyandru mengangguk serius.Vimala langsung menyela.“Professor, please say it louder.”Profesor Adrian tampak bingung.“Sorry?”Vimala menunjuk suaminya. “So he really remembers it.”Zyandru langsung tertawa.Profesor Adrian akhirnya ikut tersenyum.“Yes. No strenuous activity tonight.”Vimala langsung menoleh kepada Zyan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Terlalu Sayang

    Hampir satu jam Vimala tertidur.Zyandru sama sekali tidak bergeser.Lengan kirinya mulai terasa pegal karena terus menjadi tempat bersandar.Namun ia tidak peduli.Sesekali ia melihat layar ponselnya.Beberapa pesan dari Jakarta masuk.Bella mengirim pembaruan mengenai pekerjaan.Ayah Kama menanyakan jadwal kepulangan.Bunda Arshavina bahkan mengirim foto persiapan resepsi di Lembang.Namun semuanya hanya dibalas seperlunya.Perhatian Zyandru tetap kembali kepada sosok yang tertidur di bahunya.Wajah Vimala terlihat pucat.Bibirnya sedikit kehilangan warna.Sesekali alisnya mengernyit seperti sedang merasa tidak nyaman.Zyandru mengusap pelan sisi kepalanya.“Semoga kamu segera stabil ya, Mala….”Kalimat itu keluar hampir seperti doa.Di saat seperti ini, bayangan Ratu yang semalam memenuhi kepalanya seolah menjauh.Bukan hilang.Namun tidak lagi mendominasi.Karena kenyataan yang be

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Theraphy Kedua

    Ruang terapi yang sama kembali menyambut mereka.Kursi reclining berwarna krem berada di dekat jendela besar yang menghadap taman rumah sakit.Vimala perlahan duduk.Zyandru membantu melepaskan mantelnya kemudian menggantungkan pakaian itu di sandaran kursi.“Sudah nyaman duduknya?”Vimala mengangguk. “Lumayan.”Ia sebenarnya sudah jauh lebih tenang daripada saat terapi pertama.Namun begitu seorang perawat datang membawa perlengkapan infus, jemarinya refleks mencari tangan Zyandru.Pria itu langsung memahami.Ia berdiri di sisi kursi dan menyodorkan tangan. “Sini pegang tangan aku.”Vimala menggenggamnya.“Jangan lihat.”“Siapa yang mau lihat?”“Kamu.”“Aku enggak lihat.”Zyandru tersenyum.Vimala mengalihkan wajah ketika jarum mulai mendekati kulitnya.“Aduh….”“Belum ditusuk, Mala.”“Ih, aku ‘kan lagi nyiapin mental.”Zyandru terkekeh.“Ya udah.”Perawat membersihkan kulit Vimala.Kemudian jarum masuk perlahan.Tubuh perempuan itu sedikit menegang.Jemariny

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   No Strenuous Activity

    Dua hari sebelum jadwal kepulangan mereka ke Indonesia, sebuah mobil berwarna hitam kembali berhenti di depan rumah sakit tempat Profesor Adrian Keller berpraktik.Kali ini Vimala tidak seantusias kedatangannya yang pertama.Sejak meninggalkan resort, ia lebih banyak menyandarkan kepala di jok sambil memandangi jalanan dari balik jendela. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku mantel, sementara bibirnya sesekali mengerucut seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan.Zyandru yang duduk di sampingnya sudah tahu apa yang mengganggu pikiran sang istri.“Takut yaaa?” tanyanya santai.Vimala langsung menoleh.“Enggak.”“Enggak usah bohong, wajah kamu mengatakan semuanya.”“Iyaaa… beneran, aku enggak takut.”“Terus kenapa dari tadi diem aja?”Vimala kembali membuang pandangan ke luar jendela.“Lagi menikmati pemandangan.”Zyandru mengangguk-angguk seolah percaya. “Hm… iya deh.”Vimala menoleh lagi. “Kok ‘iya deh’?”“Enggak apa-apa.”“Kamu enggak percaya

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Bagas Tahu Sesuatu

    Di sisi lain…Tawa Ratu pecah bersama tiga orang temannya.“Bagas! Kamu curang!”“Lho, aku yang curang?” Bagas tertawa sambil melepaskan papan skinya. “Yang jatuh tiga kali siapa?”“Aku sengaja,” bela Ratu sambil menjulurkan lidah.“Alasan saja ah kamu.”Mereka baru saja menyelesaikan lintasan terakhir sore itu.Langit mulai berubah jingga.Sinar matahari yang condong ke barat memantul di hamparan salju, membuat seluruh lereng tampak berkilau seperti ditaburi ribuan kristal.Ratu mengembuskan napas panjang.“Capek….”“Tapi puas, kan?” tanya salah satu teman perempuan mereka bernama Lilian.Ratu mengangguk. “Puas banget, makasih ya kalian sudah maksa aku ke sini.”Teman-temannya tersenyum bahagia.Sudah hampir tiga tahun ia tinggal di New York.Beberapa kali mencoba bermain ski.Namun baru kali ini ia benar-benar menikmatinya.“Mungkin karena enggak mikirin tesis lagi,” ujar Bagas.Ratu terkekeh

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Main Salju

    Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai besar kamar chalet.Pantulan sinarnya jatuh tepat di wajah Zyandru.Pria itu perlahan membuka mata.Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.Kepalanya terasa berat.Semalaman ia hampir tidak benar-benar tidur.Bayangan Ratu dan Vimala bergantian memenuhi pikirannya, membuat setiap kali ia memejamkan mata, dadanya justru semakin sesak.Zyandru mengusap wajahnya kasar.“Lelah banget….”Suara itu hanya terdengar di dalam hati.Ia menoleh ke samping.Vimala masih tertidur pulas dengan pipi sedikit memerah karena hangatnya ruangan.Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah.Perempuan itu tampak begitu damai.Zyandru tersenyum tipis.Entah bagaimana caranya, setiap kali melihat Vimala tertidur, pikirannya selalu sedikit lebih tenang.Ia mengingat ocehan istrinya semalam.“Aku mau main ski….”“Aku juga mau cokelat panas….”Sudut bibirnya kembali terangkat. “Bisa-bisanya dia ngelindur.”Pelan-pelan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status