เข้าสู่ระบบSudah tiga hari berlalu sejak pemakaman Wisnutama Natamanggala.
Namun suasana rumah besar itu masih diselimuti kesunyian. Karangan bunga ucapan belasungkawa memenuhi halaman depan. Sebagian mulai layu, tetapi belum ada seorang pun yang tega menyingkirkannya. Di lantai dua, pintu kamar Vimala hampir tak pernah terbuka. Hanya Tina yang masuk membawa makanan namun selalu kembali utuh karena tidak Vimala sentuh. *** Suara bel rumah berbunyi. Tina yang baru saja turun dari kamar Vimala segera melangkah menuju pintu utama. Begitu daun pintu terbuka, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun berdiri dengan setelan jas abu-abu yang rapi. “Selamat siang.” “Selamat siang Pak Yudha.” Tina membalas sopan. “Silahkan masuk.” Pria itu mengangguk dan bisa melihat raut sendu di wajah Tina. Mereka duduk di ruang tamu. “Saya ikut berduka cita atas kematian pak Wisnu.” Tina hanya menganggukan kepala. Tatapannya kosong ke arah meja. Tidak lama pelayan muda datang membawakan minum. “Silakan diminum, Pak.” Yudha meraih cangkir kopi yang masih mengepul di depannya kemudian menyeruput pelan. “Saya ingin bertemu Non Vimala.” Ekspresi Tina berubah sendu. “Maaf, Pak.” “Non Mala belum mau menemui siapa pun.” Mata Tina tampak berkaca-kaca. “Bahkan saya tidak bisa membujuknya untuk makan.” “Kasian dia?” Yudha merasa iba. Tina mengangguk pelan. “Non Mala juga belum mau menemui sahabat-sahabatnya lagi.” Yudha terdiam beberapa saat. Tatapannya beralih ke arah tangga menuju lantai dua. “Lalu… bagaimana kondisinya?” “Masih sering menangis tapi tidak mau bicara.” Jawaban itu membuat Yudha mengembuskan napas panjang. “Kalau begitu saya kembali lain waktu.” Ia bangkit. “Kalau non Mala sudah bersedia bertemu, mohon kabari saya.” “Tentu.” *** Keesokan harinya… Mobil yang sama kembali berhenti di halaman rumah keluarga Natamanggala. Kali ini bukan Tina yang membuka pintu. Melainkan Robi. “Pak Yudha.” Dia langsung menyapa. “Selamat siang.” Yudha balas menyapa dengan kening mengkerut bingung. “Siang … silakan masuk, Pak.” Robi membuka pintu lebar. Setelah duduk di kursi yang sama seperti tempo hari, dia pun bertanya, “Engga kerja, Robi?” “Saya ambil cuti sehari, Pak … saya harus menjaga Mala.” Dia beralasan. Yudha tersenyum tipis. Setelahnya sang pengacara menyampaikan maksud kedatangan ke sini. “Saya ingin bertemu Vimala.” Robi menggeleng. “Sepertinya belum bisa. Dia masih mengurung diri.” “Kalau begitu .…” Yudha kembali tersenyum tipis. “…sampaikan saja bahwa saya datang untuk membacakan wasiat almarhum.” Kalimat itu membuat tubuh Robi sempat menegang. “Wasiat?” tanyanya kemudian. “Iya.” Yudha menjawab lugas. Sorot mata Robi berubah berbinar. “Pak Wisnu meninggalkan surat wasiat?” “Tentu.” Yudha menyandarkan punggungnya ke sofa. “Dan isi wasiat itu harus dibacakan di hadapan seluruh komisaris, jajaran direksi, serta ahli waris.” Robi berusaha tetap terlihat tenang. “Kenapa harus di depan mereka semua?” “Karena pembacaan itu juga akan menentukan siapa yang berhak mengambil alih kepemimpinan MG Group.” Jantung Robi berdegup lebih cepat. Selama ini ia dan Burhan hanya bisa menebak-nebak kalau seluruh harta warisan Wisnutama akan jatuh kepada Vimala, maka langkah berikutnya akan jauh lebih mudah. “Kalau begitu…” Robi tersenyum. “Saya akan membujuk Vimala agar hadir di hari pembacaan wasiat.” Yudha bangkit dari sofa. “Saya tunggu besok pukul sembilan pagi di ruang rapat utama MG Group.” Ia melangkah menuju pintu. Sebelum benar-benar keluar, pria itu berhenti sejenak. Tatapannya singkat menyapu wajah Robi. Lalu sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya. Senyum yang sulit diartikan. Tanpa mengatakan apa pun lagi, ia masuk ke mobil dan meninggalkan rumah itu. Robi memandang mobil tersebut hingga menghilang di balik gerbang. Entah mengapa, Robi merasa Yudha mencurigai sesuatu. Namun pikiran itu segera ia singkirkan. Yang lebih penting sekarang adalah memastikan Vimala datang. Robi mengambil nampan berisi semangkuk sup hangat, nasi, serta segelas jus dari dapur. Lalu menaiki tangga menuju lantai dua. Tok. Tok. “Mala.” Tak ada jawaban. “Aku masuk ya.” Perlahan ia membuka pintu. Vimala sedang duduk di dekat jendela. Tatapannya kosong menembus halaman belakang. Lingkar hitam mulai terlihat jelas di bawah matanya. Wajah cantiknya tampak jauh lebih tirus dibanding beberapa hari lalu. Robi meletakkan nampan di meja kecil. “Kamu harus makan.” “Aku enggak lapar.” Vimala melirih. “Kalau terus begini kamu bisa sakit.” Robi duduk di samping Vimala. Tak ada jawaban. Robi menyisir rambut panjang Vimala menggunakan jarinya. “Di perusahaan sedang kacau.” Kalimat itu akhirnya membuat Vimala menoleh. “Kenapa?” Keningnya mengernyit. Dia tampak cemas. “Semua karyawan gelisah.mMereka khawatir dengan masa depan perusahaan.” Direksi juga mulai saling berbeda pendapat. Mereka meminta secepatnya ada pengganti pak Wisnu.” Tatapan Vimala kembali meredup. “Kalau begitu om Burhan saja.” Robi menatap Vimala lama. “Papa selalu percaya sama om Burhan, om Burhan juga tahu semua tentang perusahaan. Om Burhan saja yang gantikan Papa.” Vimala mengulang. Tatapannya kembali kosong ke luar jendela. Di balik wajah tenangnya, senyum Robi hampir mengembang. Untung saja Vimala tidak melihat itu sehingga ia tak menyadarinya. “Kalau itu memang keputusanmu… besok kamu harus hadir dan mengatakan itu kepada pengacara.” Vimala mengangkat wajah. “Hadir?” Robi menganggukan kepala. “Tadi pengacara pak Wisnu datang dan mengatakan ada wasit yang harus dibacakan di depan komisaris dan seluruh direksi.” Vimala mengerjap pelan, mata sendunya menatap Robi sedang mencerna ucapan pria itu. “Di sana nanti… kamu bisa langsung menunjuk ayahku sebagai pengganti pak Wisnu.” Vimala menundukan kepala. “Harus besok?” “Iya.” Robi mengusap kepala Vimala. “Apa enggak bisa ditunda?” Suaranya terdengar begitu pelan. “Aku…masih belum siap bertemu orang banyak.” Robi menggeleng perlahan. “Perusahaan enggak bisa menunggu terlalu lama. Banyak keputusan penting yang harus ditandatangani Direktur Utama. Semakin lama dibiarkan maka semakin besar ketidakpastian.” Vimala menggigit bibirnya, ia tahu Robi benar. Perusahaan itu adalah hasil kerja keras ayahnya selama puluhan tahun. Meski tak memahami dunia bisnis tapi ia juga tak ingin melihat MG Group berantakan. Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Vimala mengangguk pelan. “Ya sudah, aku akan datang.” Robi tersenyum lega. “Terima kasih, besok aku jemput kamu ya… sekarang kamu makan dulu.” Ia bangkit sambil merapikan jasnya. Namun begitu keluar dari kamar, senyum itu perlahan berubah menjadi seringai tipis yang tak terlihat oleh siapa pun. “Sedikit lagi… Sebentar lagi semua ini akan menjadi milik kami.” Dia membatin. Di lantai bawah, langkah Robi terdengar semakin ringan. Sementara di dalam kamar, Vimala kembali menatap foto sang ayah yang berada di atas nakas. Tanpa pernah menyadari keputusan kecil yang baru saja ia ambil akan mengubah seluruh jalan hidupnya.Dia tatap wajah istrinya, wanita yang begitu dicintainya.“I love you,” bisik Bagas sebelum akhirnya mulai menggerakan bokong maju mundur, menghentak Ratu yang pasrah menerima kenikmatan di bawahnya.Malam itu, ketika suara desah menggema memenuhi seantero suite dan peluh menjadi saksi betapa Bagas menginginkan Ratu juga sebaliknya—mereka menikmati keintiman pertama sebagai suami istri dengan kelembutan, kesabaran, dan cinta yang selama ini mereka bangun bersama.Tidak ada yang perlu dikejar.Tidak ada yang perlu dibuktikan.Malam itu adalah milik mereka berdua.Ketika mereka sudah sampai pada puncak kenikmatan dunia, desahan Ratu berubah menjadi jeritan panjang.Dan geraman seksi suara berat Bagas membuat tubuh Ratu merinding dua kali lipat.Seakan Bagas tidak ingin sedetikpun kehilangan kenikmatannya, dia terus menghentak hingga tetes terakhir benih cintanya.Bagas menarik salah satu bathrobe yang bisa dia gapai kemudian menutupinya ke tubuh mereka berdua.Ratu berbaring d
Bagas pergi ke kamar mandi lebih dulu, memastikan suhu air terasa nyaman.Ratu masih terlihat malu-malu.Beberapa kali ia merapikan kain yang membalut tubuhnya.Bagas memperhatikannya tanpa komentar yang membuatnya semakin canggung."Airnya nyaman?" tanyanya.Ratu mencelupkan ujung jari."Hangat.""Kalau terlalu panas bilang ya.""Iya."Bagas mengulurkan tangan.Ratu menyambutnya.Perlahan ia masuk ke dalam jacuzzi setelah membuka bathrobe.Air hangat menyentuh kulitnya.Ratu mengembuskan napas panjang."Ah… enak banget."Bagas tersenyum."Kan."Ratu menyandarkan punggung.Bahu dan lehernya yang sejak pagi terasa tegang perlahan mulai lebih rileks.Beberapa saat kemudian Bagas ikut masuk dan duduk di dekatnya.Tubuh Ratu seketika menegang.Bagas mengangkat alis."Loh… kenapa?""Enggak apa-apa." Ratu tampak pucat."Yakiiiin?" Nada suara menggoda itu lagi.Ratu mengangguk kaku, kepalanya menunduk.Dan kini wajahnya semakin merah ketika laki-laki itu duduk cukup
Lift hotel bergerak perlahan menuju lantai tempat bridal suite mereka berada.Hanya ada Ratu dan Bagas di dalamnya.Untuk pertama kalinya sejak pagi, mereka benar-benar berdua.Tidak ada fotografer.Tidak ada wedding organizer.Tidak ada keluarga atau tamu yang silih berganti mengajak berfoto.Hanya suara lembut mesin lift.Dan pantulan dua orang pengantin pada dinding cermin.Ratu menyandarkan sedikit bobot tubuhnya sambil memegang buket kecil yang dibawanya dari ballroom.Bagas memperhatikannya melalui cermin."Sayang.""Hm?""Kok diam?"Ratu menggeleng. “Enggak apa-apa."Bagas tersenyum."Capek ya?""Iya.""Atau gugup?" Nada suaranya mulai menggoda.Ratu menoleh dramatis."Apa sih, Gas!"Bagas tertawa. "Aku cuma nanya."Ratu memalingkan wajah.Namun Bagas bisa melihat pipinya memerah melalui cermin.Laki-laki itu menggenggam tangan istrinya.Kemudian mengangkatnya dan mengecup punggung tangan tersebut.Ratu meliriknya. "Kenapa?"Bagas tersenyum. "Enggak ap
Malam semakin larut ketika rangkaian resepsi pernikahan Ratu dan Bagas akhirnya mendekati penghujung acara.Alunan musik yang sejak sore memenuhi ballroom Hotel Indigo Dago Pakar perlahan berganti menjadi instrumental lembut.Sebagian besar tamu undangan telah meninggalkan ruangan.Petugas hotel mulai merapikan beberapa meja, sementara tim wedding organizer memastikan seluruh barang pribadi keluarga pengantin telah dikumpulkan.Di atas pelaminan, Ratu akhirnya mengembuskan napas panjang.Kedua kakinya mulai terasa pegal.Siger yang sejak sore menghiasi kepalanya pun terasa semakin berat.Namun senyum tidak pernah benar-benar meninggalkan wajahnya.Bagas yang berdiri di sebelahnya memperhatikan perubahan ekspresi sang istri."Capek ya, Sayang?"Ratu menoleh."Banget."Bagas tertawa kecil."Masih kuat berdiri?"Ratu mengangguk."Masih.""Yakin?" Mata Bagas menyipit."Kalau enggak kuat, kamu mau gendong aku?"Bagas tersenyum. “Boleh."Ratu membulatkan mata. “Dari sini?
Setelah berfoto bersama pengantin, Zyandru menggandeng Vimala turun dari pelaminan.Namun baru beberapa langkah, Vimala berhenti."Zyan.""Ya sayang?""Aku mau bilang sesuatu."Zyandru menoleh."Bilang apa sayang?"Vimala menatap pelaminan.Ratu sedang tertawa mendengarkan sesuatu yang dibisikkan salah satu tamu.Kedua pengantin itu terlihat begitu bahagia.Vimala tersenyum."Aku bahagia lihat mereka."Zyandru mengikuti arah pandang istrinya.Kemudian mengangguk."Aku juga."Vimala menoleh."Kamu benar-benar sudah enggak punya perasaan apa-apa sama Ratu?"Zyandru terdiam sebentar.Memang sudah tidak ada perasaan yang masih disembunyikan.Tapi ia memahami pertanyaan istrinya.Ia tidak ingin memberikan jawaban yang terdengar manis tetapi menghapus kenyataan bahwa Ratu pernah menjadi bagian penting hidupnya.Zyandru menggenggam tangan Vimala."Ratu pernah jadi orang yang pentin
Sore menjelang malam.Resepsi pernikahan dimulai.Ballroom Hotel Indigo telah mengalami perubahan tata ruang.Area akad yang sebelumnya dibuat khidmat kini disulap menjadi ruang pesta megah.Pencahayaan hangat membingkai pelaminan.Lampu gantung kristal berkilau di antara rangkaian bunga yang menjuntai.Sebuah panggung musik ditempatkan di sisi ballroom, tempat para musisi membawakan lagu-lagu romantis dengan aransemen elegan.Para tamu mulai berdatangan.Sejumlah keluarga besar.Sahabat.Rekan kerja Ratu.Rekan kerja Bagas.Serta tamu undangan dari kalangan bisnis keluarga Gunadhya.Ayah Kama dan bunda Arshavina hadir bersama keluarga.Davanka datang bersama Zevanya dan ketiga anak mereka.Kanaya hadir bersama Ryley dan ketiga anak mereka.Sementara Satria dan Kaluna sejak pagi sudah sibuk menerima dan menyambut para tamu sebagai keluarga pengantin perempuan.Ratu dan Bagas kini mengenakan busana r







