Home / Romansa / Takdir Tidak Pernah Keliru / Langit Ikut Berduka

Share

Langit Ikut Berduka

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-07-03 15:05:45

Langit Jakarta diselimuti awan kelabu hari itu.

Gerimis tipis turun sejak pagi, membasahi jalanan menuju tempat peristirahatan terakhir Wisnutama Natamanggala. Payung-payung hitam memenuhi area pemakaman, sementara puluhan pelayat berdiri mengelilingi liang lahat dengan wajah muram.

Suara doa bergema lirih.

Tak seorang pun berbicara lebih keras dari bisikan.

Hari itu, bukan hanya keluarga Natamanggala yang kehilangan seorang ayah. Dunia bisnis Indonesia pun kehilangan salah satu pengusaha paling disegani.

Di barisan depan, Vimala berdiri mematung.

Gaun hitam panjang yang dikenakannya mulai basah terkena rintik hujan. Rambut panjangnya yang biasanya selalu tertata rapi kini dibiarkan tergerai berantakan dan lepek.

Tatapannya tak pernah lepas dari peti jenazah sang ayah.

Seolah selama ia terus memandanginya, pria itu belum benar-benar pergi.

Di sampingnya, Tina berdiri sambil terus menggenggam bahu gadis itu.

Wanita paruh baya yang telah menjadi bagian dari keluarga Natamanggala selama lebih dari dua puluh lima tahun.

Sejak Nyonya Rinayu meninggal beberapa bulan setelah melahirkan Vimala, Tinalah yang mengambil alih hampir seluruh peran seorang ibu.

Dialah yang menyuapi Vimala saat kecil.

Mengantar ke sekolah.

Menungguinya ketika demam.

Menemani tidur setiap kali Wisnutama harus pulang larut malam karena pekerjaan.

Bagi Vimala, Tina bukan sekadar kepala asisten rumah tangga.

Ia adalah rumah kedua setelah ayahnya.

“Non…” suara Tina bergetar. “Papa pasti enggak ingin Non terus menangis begini.”

Belum sempat Vimala menjawab, petugas mulai menurunkan peti jenazah ke dalam liang lahat.

Suara tali yang bergesekan terdengar begitu jelas di tengah keheningan.

Dan saat itulah, benteng terakhir dalam diri Vimala runtuh.

“Papa…!”

Tangisnya pecah.

Ia berusaha maju hendak loncat ke liang lahat, namun Tina segera memeluknya dari samping.

“Papa… jangan tinggalin Mala….”

“Non….”

“Papa bilang bulan depan kita mau ke Paris….”

“Mala belum sempat ngajak Papa makan malam….”

“Mala belum bikin Papa bangga….”

Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar seperti pisau yang mengiris hati para pelayat.

Tak sedikit yang diam-diam mengusap sudut mata.

Tak jauh dari sana, Burhan memperhatikan semuanya dengan wajah sendu.

Namun sorot matanya sesekali berpindah kepada putranya yang berdiri tepat di sampingnya.

Robi sejak tadi hanya memandang Vimala tanpa berkedip.

Burhan menyenggol pelan lengan putranya.

Robi menoleh.

Dengan sangat halus, Burhan memberi isyarat menggunakan dagunya.

Dekati dia.

Robi mengangguk kecil.

Perlahan ia melangkah menghampiri.

“Mala….”

Suara lembut itu membuat Vimala mengangkat wajahnya sekilas.

Mata sembabnya bertemu dengan mata Robi.

“Aku di sini.”

Robi mengulurkan kedua tangannya, berniat memeluk gadis itu.

Namun sebelum pelukan itu terjadi Vimala justru berbalik dan memeluk Tina semakin erat.

Tangisnya kembali pecah di bahu wanita paruh baya itu.

“Bibi….”

“Aku enggak punya siapa-siapa lagi….”

Tina mengusap rambutnya penuh kasih.

“Masih ada Bibi….”

“Masih ada Bibi yang akan jagain Non.”

Robi menarik kembali kedua tangannya perlahan.

Senyum tipis dipaksakannya tetap terpasang.

Meski dadanya terasa sesak.

Vimala mengenal Robi sejak belasan tahun lalu.

Putra Burhan itu beberapa tahun lebih tua darinya.

Karena Burhan merupakan tangan kanan Wisnutama, Robi pun sering berada di sekitar keluarga Natamanggala.

Saat Wisnutama sibuk bekerja, Robi kerap diminta mengantar Vimala ke tempat kursus.

Menjemputnya sepulang kuliah.

Bahkan sesekali menemani ketika sang ayah tak sempat memenuhi permintaannya.

Vimala tahu kalau Robi menyukainya.

Semua orang bisa melihat itu.

Hanya saja Vimala tak pernah memikirkan hubungan asmara.

Baginya, selama sang ayah masih ada, hidupnya sudah terasa lengkap.

Ia tak membutuhkan seorang laki-laki lain untuk mengisi kekosongan yang bahkan belum pernah ia rasakan.

Lagi pula di matanya, Robi hanyalah seorang kakak.

Hujan perlahan berubah semakin deras.

Satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman.

Namun Vimala masih berlutut di depan pusara yang baru saja ditimbun tanah merah.

Gaun hitamnya kini dipenuhi cipratan lumpur.

Ia tak peduli.

Tatapannya terus tertuju pada nisan yang masih basah.

“Papa….”

Suara itu hampir tenggelam oleh suara hujan.

“Mala pulang ke mana sekarang…?”

Dadanya kembali berguncang.

Anindya berjongkok di sampingnya.

“Vim….”

Tak ada jawaban.

Keisha ikut mendekat sambil memayungi kepala sahabatnya.

“Ayo pulang.”

Vimala menggeleng pelan.

“Enggak.”

Marvelle ikut membujuk.

“Hujannya makin deras. Papa enggak mungkin mau lihat kamu sakit.”

Vimala tetap diam.

Tangannya justru menyentuh tanah makam yang masih basah.

Seolah ingin memastikan ayahnya benar-benar berada di sana.

“Vim…,” panggil Keisha.

“Tolong…. Jangan suruh aku pulang… Papa masih di sini….”

Kalimat itu membuat ketiga sahabatnya saling berpandangan.

Tak ada satu pun dari mereka yang mampu memaksa.

Beberapa menit berlalu.

Hujan semakin deras.

Angin mulai bertiup kencang.

Tina sendiri sudah menggigil.

Robi akhirnya melangkah maju.

“Maaf.”

Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, ia membungkukkan badan.

Satu tangan menyelip di bawah lutut Vimala.

Satu lagi menopang punggungnya.

Lalu mengangkat gadis itu dalam gendongan.

Vimala sama sekali tidak melawan.

Tubuhnya terlalu lemah.

Kepalanya hanya bersandar di dada Robi sambil terus menangis tanpa suara.

Tina segera membuka payung lebih lebar.

Keisha berlari membukakan pintu mobil.

Marvelle membantu memasukkan kaki Vimala ke dalam kendaraan.

Sedangkan Anindya hanya bisa menggenggam tangan sahabatnya erat.

Sepanjang perjalanan, tak seorang pun berbicara.

Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Vimala langsung berjalan masuk tanpa mengatakan sepatah kata pun.

Rumah megah yang biasanya terasa hangat mendadak berubah asing.

Sepatu pantofel ayahnya masih tersusun rapi di dekat tangga.

Jas favoritnya masih tergantung di ruang kerja.

Cangkir kopi yang biasa digunakan setiap pagi masih berada di rak.

Semuanya tetap sama.

Kecuali, pemiliknya tak akan pernah kembali.

Air mata Vimala kembali jatuh.

Ia menaiki anak tangga satu demi satu diikuti Tina juga ketiga sahabat dan Robi.

Lalu masuk ke kamarnya.

Brak.

Pintu ditutup.

“Tolong….” Suaranya terdengar dari balik pintu. “Aku mau sendiri.”

Tina mengusap air matanya. “Iya, Non.”

Ketiga sahabat Vimala ikut berdiri di depan pintu beberapa saat.

Anindya mengembuskan napas panjang. “Kita kasih dia waktu.”

Keisha mengangguk. “Iya.”

Marvelle memeluk Tina sebelum akhirnya berpamitan.

Satu per satu mereka meninggalkan rumah itu.

Di teras depan, Keisha berhenti di depan Robi.

“Mas Robi juga pulang ya.”

Robi mengangguk pelan. “Iya.”

“Kami titip Vimala.” Keisha berpesan.

“Tentu.” Robi tersenyum tipis.

Ketiganya pun masuk ke dalam mobil.

Tak lama kemudian kendaraan mereka menghilang di balik gerbang utama.

Suasana rumah kembali sunyi.

Tina mengira Robi benar-benar akan pulang.

Namun beberapa menit kemudian, pria itu justru melangkah kembali ke dalam rumah.

Perlahan ia menaiki tangga menuju lantai dua.

Berhenti tepat di depan kamar Vimala.

Tok.

Tok.

Tak ada jawaban.

Robi memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci.

Ia membuka pintu perlahan.

Di atas ranjang, Vimala berbaring membelakanginya.

Tubuh gadis itu tertutup selimut hingga bahu.

“Aku enggak akan ganggu.” Suara Robi terdengar pelan. “Aku cuma mau bilang… Aku akan tetap tinggal.”

Tak ada jawaban.

Robi mengira Vimala telah tertidur.

Padahal, di balik kelopak mata yang terpejam rapat, air mata kembali mengalir membasahi bantal.

Vimala tidak tidur.

Ia hanya tidak ingin berbicara.

Bukan dengan Robi.

Bukan dengan Tina.

Bahkan bukan dengan dirinya sendiri.

Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar sendirian di dunia ini.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Capek

    Menjelang sore, keadaan tidak membaik.Makanan yang dicoba masuk kembali keluar.Air pun hanya bisa diminum sedikit demi sedikit.Mual datang berulang.Tubuh Vimala semakin lemah.Tekanan psikologis yang berat bukan penyebab penyakit Crohn’s-nya, tetapi pada kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih, stres, kurang makan, dan muntah berulang membuat keadaannya jauh lebih sulit.Perawat beberapa kali berkomunikasi dengan tante Zara.Setelah penilaian kondisi, instruksi medis, dan memastikan tanda-tanda yang harus segera dirujuk ke rumah sakit, cairan intravena akhirnya diberikan karena Vimala kesulitan mempertahankan asupan oral.Jarum masuk ke pembuluh darah tangannya.Vimala memalingkan wajah.Bi Tina duduk di samping ranjang.“Non…”“Aku capek, Bi.”“Tidur saja.”Vimala menutup mata.Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.Ada terlalu banyak suara di dalam kepalanya.Ucapan Ratu.Penjelasan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Perhatian Menjadi Penolakan

    Ratu menarik napas.“Masih ada satu hal.”Davin nyaris ingin tertawa.Sepertinya hari-hari belakangan selalu dipenuhi kalimat masih ada satu hal yang kemudian membuka masalah baru.Zyandru menatap Ratu. “Apa?”Ratu tampak ragu sejenak. “Beasiswa aku.”Ekspresi Zyandru seketika berubah.Davin mengerutkan kening.Ratu tersenyum tipis. “Vimala cerita.”Zyandru mengerjap dengan sering.“Katanya dia pernah dengar pembicaraan kamu sama Ryley di Lembang.”Zyandru menunduk.“Jadi benar?”“Iya.”Ratu mengembuskan napas perlahan.“Kenapa?”“Karena kamu pantas mendapatkan itu.”“Terima kasih.” Dua kata itu terdengar sederhana.Namun membawa bertahun-tahun perjalanan di belakangnya.Zyandru tidak segera menjawab.“Tapi .…” Ratu belum selesai.Zyandru hampir tersenyum. “Tentu ada tapinya.”Ratu mengangkat dagu.“Aku tetap mau kamu tahu kalau aku bukan lulus karena kamu.”“Iya…

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Tentang Beasiswa

    Ratu memang sudah berada di proyek ketika Zyandru tiba.Helm keselamatan putih menutupi sebagian rambutnya yang diikat rendah.Kemeja berwarna biru muda dipadukan dengan celana bahan gelap dan safety vest.Di tangannya terdapat tablet berisi beberapa catatan teknis.Tidak ada kecanggungan berlebihan ketika pandangan mereka bertemu.“Pagi, Pak Zyandru.”“Pagi, Bu Ratu.”Davin yang berjalan di samping Zyandru menahan senyum kecil.Mereka memang selalu proesional,Seolah-olah tidak pernah ada urusan hati yang belum selesai. Pertemuan pagi berlangsung di ruang koordinasi proyek.Pak Arief hadir bersama tim construction management, project control, perwakilan MEP, serta dua orang dari perusahaan Ratu.Tidak ada pembahasan personal maupun tatapan yang terlalu lama.Mereka membicarakan progres pekerjaan, penyelesaian discrepancy utility relocation, revisi sequencing, dan beberapa pekerjaan yang harus dikunci sebelum fase berikutnya berjalan.Zyandru bahkan beberapa kali menyer

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pagi yang Hampa

    Pagi itu terasa hampa bagi Zyandru.Tidak ada percakapan yang menyelesaikan pertengkaran semalam.Tidak ada pelukan hangat.Tidak ada pula jawaban atas pertanyaan terakhir Vimala.Ketika cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, Zyandru sudah terjaga sejak beberapa menit lalu.Ia berbaring telentang dengan satu tangan di bawah kepala, menatap langit-langit kamar.Di sampingnya, Vimala berbaring membelakangi.Napasnya teratur.Terlalu teratur.Zyandru tahu istrinya sudah bangun.Sama seperti Vimala yang tahu kalau Zyandru belum benar-benar bisa tidur lelap semalaman.Namun mereka sama-sama tidak mengatakan apa-apa.Semangkuk bubur di atas nakas hanya berkurang beberapa sendok. Obat yang semalam diletakkannya di sana memang sudah diminum, tetapi makanan yang masuk ke tubuh Vimala tetap jauh dari cukup.Zyandru memiringkan tubuh.Menatap punggung perempuan itu.“Mala.”Tidak ada jawaban.“Sayang?”Sang istri masih tidak sudi menyahut. Zyandru mengembuskan napas pe

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Percaya

    “Investasi mantan kamu salah sasaran, Sayang.” Ratu kembali tertawa. Bagas mengangkat kedua tangan. “Aku cuma berharap kalau nanti kita nikah, dia enggak minta pengembalian dana CSR.” “Kalau diminta gimana?” “Aku cicil deh.” “Berapa lama?” “Seumur hidup. Bunganya aku bayar pakai kesetiaan.” Ratu terdiam sejenak. Kemudian senyumnya berubah lembut. “Gombal.” “Engineering Manager juga boleh gombal dooonk.” Bagas menyenggol bahunya. “Tapi serius….” “Hm?” “Kamu percaya cerita Vimala?” Ratu menatap kotak makanan di hadapannya. “Aku enggak tahu juga ya.” “Kenapa?” “Karena dia bilang dengar sendiri percakapan Zyan sama Ryley waktu ulang tahun kak Luna di Lembang.” Bagas mengangguk pelan. “Berarti ada dasar ceritanya.” “Iya.” Ratu mengusap ujung sendok. “Aku cuma…”

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Investasi Zyandru

    Di sebuah apartemen kawasan Jakarta Selatan, Ratu sedang duduk bersila di sofa ketika Bagas datang membawa dua kantong makanan.“Permisi. Layanan pengantaran makanan khusus perempuan galak.”Ratu mengangkat wajah.“Siapa yang galak?”“Yang hari ini bikin satu gedung kantor heboh.”Ratu membeku.Bagas berhenti tersenyum. “Eh.”Ia meletakkan kantong makanan di meja.“Berarti bener?”Ratu memejamkan mata.“Kamu udah dengar?”“Hanya sebagian. Tadi sekuriti loby kasih tahu aku katanya gini, ‘Mas … tadi ceweknya dilabrak istri orang.” “Oh ya?” Ratu tergelak merasa lucu.Bagas duduk di sampingnya.“Ayo cerita.”Ratu mengembuskan napas berat.“Vimala datang ke kantor tadi pagi.”“Waw… seru ini.”Ratu tersenyum kecut. “Dia ada di lobi waktu kebetulan aku lagi ada urusan di sana, terus langsung nuduh aku pelakor.”Wajah Bagas berubah. “Di depan banyak orang?”Ratu mengangguk. “Aku ajak bicara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status