MasukLangit Jakarta diselimuti awan kelabu hari itu.
Gerimis tipis turun sejak pagi, membasahi jalanan menuju tempat peristirahatan terakhir Wisnutama Natamanggala. Payung-payung hitam memenuhi area pemakaman, sementara puluhan pelayat berdiri mengelilingi liang lahat dengan wajah muram. Suara doa bergema lirih. Tak seorang pun berbicara lebih keras dari bisikan. Hari itu, bukan hanya keluarga Natamanggala yang kehilangan seorang ayah. Dunia bisnis Indonesia pun kehilangan salah satu pengusaha paling disegani. Di barisan depan, Vimala berdiri mematung. Gaun hitam panjang yang dikenakannya mulai basah terkena rintik hujan. Rambut panjangnya yang biasanya selalu tertata rapi kini dibiarkan tergerai berantakan dan lepek. Tatapannya tak pernah lepas dari peti jenazah sang ayah. Seolah selama ia terus memandanginya, pria itu belum benar-benar pergi. Di sampingnya, Tina berdiri sambil terus menggenggam bahu gadis itu. Wanita paruh baya yang telah menjadi bagian dari keluarga Natamanggala selama lebih dari dua puluh lima tahun. Sejak Nyonya Rinayu meninggal beberapa bulan setelah melahirkan Vimala, Tinalah yang mengambil alih hampir seluruh peran seorang ibu. Dialah yang menyuapi Vimala saat kecil. Mengantar ke sekolah. Menungguinya ketika demam. Menemani tidur setiap kali Wisnutama harus pulang larut malam karena pekerjaan. Bagi Vimala, Tina bukan sekadar kepala asisten rumah tangga. Ia adalah rumah kedua setelah ayahnya. “Non…” suara Tina bergetar. “Papa pasti enggak ingin Non terus menangis begini.” Belum sempat Vimala menjawab, petugas mulai menurunkan peti jenazah ke dalam liang lahat. Suara tali yang bergesekan terdengar begitu jelas di tengah keheningan. Dan saat itulah, benteng terakhir dalam diri Vimala runtuh. “Papa…!” Tangisnya pecah. Ia berusaha maju hendak loncat ke liang lahat, namun Tina segera memeluknya dari samping. “Papa… jangan tinggalin Mala….” “Non….” “Papa bilang bulan depan kita mau ke Paris….” “Mala belum sempat ngajak Papa makan malam….” “Mala belum bikin Papa bangga….” Setiap kalimat yang keluar dari bibirnya terdengar seperti pisau yang mengiris hati para pelayat. Tak sedikit yang diam-diam mengusap sudut mata. Tak jauh dari sana, Burhan memperhatikan semuanya dengan wajah sendu. Namun sorot matanya sesekali berpindah kepada putranya yang berdiri tepat di sampingnya. Robi sejak tadi hanya memandang Vimala tanpa berkedip. Burhan menyenggol pelan lengan putranya. Robi menoleh. Dengan sangat halus, Burhan memberi isyarat menggunakan dagunya. Dekati dia. Robi mengangguk kecil. Perlahan ia melangkah menghampiri. “Mala….” Suara lembut itu membuat Vimala mengangkat wajahnya sekilas. Mata sembabnya bertemu dengan mata Robi. “Aku di sini.” Robi mengulurkan kedua tangannya, berniat memeluk gadis itu. Namun sebelum pelukan itu terjadi Vimala justru berbalik dan memeluk Tina semakin erat. Tangisnya kembali pecah di bahu wanita paruh baya itu. “Bibi….” “Aku enggak punya siapa-siapa lagi….” Tina mengusap rambutnya penuh kasih. “Masih ada Bibi….” “Masih ada Bibi yang akan jagain Non.” Robi menarik kembali kedua tangannya perlahan. Senyum tipis dipaksakannya tetap terpasang. Meski dadanya terasa sesak. Vimala mengenal Robi sejak belasan tahun lalu. Putra Burhan itu beberapa tahun lebih tua darinya. Karena Burhan merupakan tangan kanan Wisnutama, Robi pun sering berada di sekitar keluarga Natamanggala. Saat Wisnutama sibuk bekerja, Robi kerap diminta mengantar Vimala ke tempat kursus. Menjemputnya sepulang kuliah. Bahkan sesekali menemani ketika sang ayah tak sempat memenuhi permintaannya. Vimala tahu kalau Robi menyukainya. Semua orang bisa melihat itu. Hanya saja Vimala tak pernah memikirkan hubungan asmara. Baginya, selama sang ayah masih ada, hidupnya sudah terasa lengkap. Ia tak membutuhkan seorang laki-laki lain untuk mengisi kekosongan yang bahkan belum pernah ia rasakan. Lagi pula di matanya, Robi hanyalah seorang kakak. Hujan perlahan berubah semakin deras. Satu per satu pelayat mulai meninggalkan area pemakaman. Namun Vimala masih berlutut di depan pusara yang baru saja ditimbun tanah merah. Gaun hitamnya kini dipenuhi cipratan lumpur. Ia tak peduli. Tatapannya terus tertuju pada nisan yang masih basah. “Papa….” Suara itu hampir tenggelam oleh suara hujan. “Mala pulang ke mana sekarang…?” Dadanya kembali berguncang. Anindya berjongkok di sampingnya. “Vim….” Tak ada jawaban. Keisha ikut mendekat sambil memayungi kepala sahabatnya. “Ayo pulang.” Vimala menggeleng pelan. “Enggak.” Marvelle ikut membujuk. “Hujannya makin deras. Papa enggak mungkin mau lihat kamu sakit.” Vimala tetap diam. Tangannya justru menyentuh tanah makam yang masih basah. Seolah ingin memastikan ayahnya benar-benar berada di sana. “Vim…,” panggil Keisha. “Tolong…. Jangan suruh aku pulang… Papa masih di sini….” Kalimat itu membuat ketiga sahabatnya saling berpandangan. Tak ada satu pun dari mereka yang mampu memaksa. Beberapa menit berlalu. Hujan semakin deras. Angin mulai bertiup kencang. Tina sendiri sudah menggigil. Robi akhirnya melangkah maju. “Maaf.” Tanpa menunggu persetujuan siapa pun, ia membungkukkan badan. Satu tangan menyelip di bawah lutut Vimala. Satu lagi menopang punggungnya. Lalu mengangkat gadis itu dalam gendongan. Vimala sama sekali tidak melawan. Tubuhnya terlalu lemah. Kepalanya hanya bersandar di dada Robi sambil terus menangis tanpa suara. Tina segera membuka payung lebih lebar. Keisha berlari membukakan pintu mobil. Marvelle membantu memasukkan kaki Vimala ke dalam kendaraan. Sedangkan Anindya hanya bisa menggenggam tangan sahabatnya erat. Sepanjang perjalanan, tak seorang pun berbicara. Begitu mobil berhenti di halaman rumah, Vimala langsung berjalan masuk tanpa mengatakan sepatah kata pun. Rumah megah yang biasanya terasa hangat mendadak berubah asing. Sepatu pantofel ayahnya masih tersusun rapi di dekat tangga. Jas favoritnya masih tergantung di ruang kerja. Cangkir kopi yang biasa digunakan setiap pagi masih berada di rak. Semuanya tetap sama. Kecuali, pemiliknya tak akan pernah kembali. Air mata Vimala kembali jatuh. Ia menaiki anak tangga satu demi satu diikuti Tina juga ketiga sahabat dan Robi. Lalu masuk ke kamarnya. Brak. Pintu ditutup. “Tolong….” Suaranya terdengar dari balik pintu. “Aku mau sendiri.” Tina mengusap air matanya. “Iya, Non.” Ketiga sahabat Vimala ikut berdiri di depan pintu beberapa saat. Anindya mengembuskan napas panjang. “Kita kasih dia waktu.” Keisha mengangguk. “Iya.” Marvelle memeluk Tina sebelum akhirnya berpamitan. Satu per satu mereka meninggalkan rumah itu. Di teras depan, Keisha berhenti di depan Robi. “Mas Robi juga pulang ya.” Robi mengangguk pelan. “Iya.” “Kami titip Vimala.” Keisha berpesan. “Tentu.” Robi tersenyum tipis. Ketiganya pun masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian kendaraan mereka menghilang di balik gerbang utama. Suasana rumah kembali sunyi. Tina mengira Robi benar-benar akan pulang. Namun beberapa menit kemudian, pria itu justru melangkah kembali ke dalam rumah. Perlahan ia menaiki tangga menuju lantai dua. Berhenti tepat di depan kamar Vimala. Tok. Tok. Tak ada jawaban. Robi memutar gagang pintu yang ternyata tidak dikunci. Ia membuka pintu perlahan. Di atas ranjang, Vimala berbaring membelakanginya. Tubuh gadis itu tertutup selimut hingga bahu. “Aku enggak akan ganggu.” Suara Robi terdengar pelan. “Aku cuma mau bilang… Aku akan tetap tinggal.” Tak ada jawaban. Robi mengira Vimala telah tertidur. Padahal, di balik kelopak mata yang terpejam rapat, air mata kembali mengalir membasahi bantal. Vimala tidak tidur. Ia hanya tidak ingin berbicara. Bukan dengan Robi. Bukan dengan Tina. Bahkan bukan dengan dirinya sendiri. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar sendirian di dunia ini.Di sisi lain…Tawa Ratu pecah bersama tiga orang temannya.“Bagas! Kamu curang!”“Lho, aku yang curang?” Bagas tertawa sambil melepaskan papan skinya. “Yang jatuh tiga kali siapa?”“Aku sengaja,” bela Ratu sambil menjulurkan lidah.“Alasan saja ah kamu.”Mereka baru saja menyelesaikan lintasan terakhir sore itu.Langit mulai berubah jingga.Sinar matahari yang condong ke barat memantul di hamparan salju, membuat seluruh lereng tampak berkilau seperti ditaburi ribuan kristal.Ratu mengembuskan napas panjang.“Capek….”“Tapi puas, kan?” tanya salah satu teman perempuan mereka bernama Lilian.Ratu mengangguk. “Puas banget, makasih ya kalian sudah maksa aku ke sini.”Teman-temannya tersenyum bahagia.Sudah hampir tiga tahun ia tinggal di New York.Beberapa kali mencoba bermain ski.Namun baru kali ini ia benar-benar menikmatinya.“Mungkin karena enggak mikirin tesis lagi,” ujar Bagas.Ratu terkekeh
Cahaya matahari pagi menyelinap melalui celah tirai besar kamar chalet.Pantulan sinarnya jatuh tepat di wajah Zyandru.Pria itu perlahan membuka mata.Beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar.Kepalanya terasa berat.Semalaman ia hampir tidak benar-benar tidur.Bayangan Ratu dan Vimala bergantian memenuhi pikirannya, membuat setiap kali ia memejamkan mata, dadanya justru semakin sesak.Zyandru mengusap wajahnya kasar.“Lelah banget….”Suara itu hanya terdengar di dalam hati.Ia menoleh ke samping.Vimala masih tertidur pulas dengan pipi sedikit memerah karena hangatnya ruangan.Rambut panjangnya berantakan menutupi sebagian wajah.Perempuan itu tampak begitu damai.Zyandru tersenyum tipis.Entah bagaimana caranya, setiap kali melihat Vimala tertidur, pikirannya selalu sedikit lebih tenang.Ia mengingat ocehan istrinya semalam.“Aku mau main ski….”“Aku juga mau cokelat panas….”Sudut bibirnya kembali terangkat. “Bisa-bisanya dia ngelindur.”Pelan-pelan
Pelayan segera datang membawa makanan. Zyandru memesan salmon panggang, sayuran kukus, sup hangat, dan kentang rebus untuk Vimala. Sedangkan untuk dirinya sendiri, ia memilih menu yang sama. “Kamu enggak bosan makan sehat?” Vimala mengerutkan wajahnya, “Enggak apa-apa, nemenin kamu.” Vimala tersenyum. “Nanti pulang Indonesia aku balas.” “Balas apa?” “Aku masakin.” Zyandru tertawa. “Memang kamu bisa?” “Enggak. Masak mi instan.” “Malaaa….” Zyandru tertawa lebih lepas. Sementara Vimala sudah sibuk membuka galeri foto. “Ini bagus….” “Yang ini juga.” “Yang ini lucu.” Ia terus memperlihatkan satu per satu hasil jepretan Zyandru. “Eh.” “Apa?” “Yang ini bagus banget.” Itu foto mereka berdua. Diambil menggunakan tripod otomatis. Saat itu Zyandru baru ingat membawa tripod setelah mereka berulang kali selfie. Foto itu sangat bagus, berlatar Pegunungan Jungfrau yang berdiri megah. Vimala memandang foto itu cukup lama. “Zyan.” “Hm?” “Boleh enggak
Ketika siang tiba, mereka turun kembali.Sebuah restoran bergaya chalet yang menghadap danau menjadi tujuan berikutnya.Begitu duduk, pelayan menyerahkan buku menu.“Aku ke toilet dulu ya.”Zyandru mengangguk. “Ayo aku temenin.”“Enggak usah, aku tahu letak toiletnya.” Vimala menolak.“Di mana memang?” “Tuuuh … di sana tulisannya segede gaban.” Vimala menunjuk ke sudut ruangan.“Aku anter saja deh, aku takut kamu tiba-tiba pingsan ….” Zyandru memaksa.Vimala menggeleng sambil tersenyum.“Pak Suami….”“Iya istriku?”“Istrimu yang cantik ini cuma ke toilet.”“Sungguh … aku tahu, tapi aku ingin selalu memastikan istriku yang cantik ini aman ….”Vimala terkekeh.“Aku enggak kenapa-kenapa, di sini aman.”Zyandru akhirnya mengangguk. “Ya udah… kalau ada apa-apa kabarin ya?”“Memangnya apa yang akan terjadi? Aku Cuma ke toilet.” Vimala mengesah.“Misalnya kamu pup trus air di tangki toiletnya abis sementara yang mau ke toilet antri, bagaimana?” “Iya juga sih ….” Vimala t
Pagi itu, Interlaken menyambut mereka dengan langit biru tanpa awan hitam.Udara pegunungan masih menyisakan kesejukan khas musim gugur. Embun tipis menyelimuti padang rumput yang luas, sementara sinar matahari perlahan merambat menuruni lereng Alpen, menciptakan warna keemasan yang memantul di permukaan Danau Brienz.Begitu membuka tirai kamar, Vimala langsung terpaku.“Ya Tuhan… indahnya ciptaanMu.”Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru melihat dunia untuk pertama kali.Kabut tipis masih menari di atas danau. Burung-burung camar melintas rendah, sementara beberapa perahu kecil bergerak perlahan membelah air yang sebening kaca.Zyandru yang baru keluar dari kamar mandi mengikuti arah pandang istrinya.“Aku enggak salah ‘kan bawa kamu ke sini?”Vimala mengangguk berkali-kali.“Enggak….”Zyandru mengangkat sebelah alis.“Kamu tepat sekali bawa aku ke sini, pemandanganny cantik … kaya aku.” Vimala memang kadang narsis.Senyum kecil terbit di bibir pria itu. Zyandru t
Restoran resort mulai lengang ketika mereka menyelesaikan makan malam.Sesuai janjinya, Zyandru tidak membiarkan Vimala makan sembarangan.Semangkuk Bircher Muesli menjadi menu pembuka. Campuran oat yang telah direndam semalaman, yoghurt segar, apel parut, irisan stroberi, blueberry, kacang almond, dan sedikit madu tersaji cantik dalam mangkuk keramik putih.Awalnya Vimala memandangnya dengan wajah skeptis.“Ini makanan orang sakit?”“Bukan.”“Terus?”“Makanan orang yang pengin panjang umur.”Vimala mendengkus.“Ternyata rasanya enak juga.”“Makanya.”“Hm… masih enakan nasi padang.”Zyandru terkekeh. “Ya enggak usah dibandingin.”Setelah itu, mereka menikmati ikan trout panggang khas danau Alpen dengan kentang rebus dan sayuran kukus.Tidak terlalu berbumbu.Tidak pedas.Namun justru terasa hangat di perut.Dan sebagai penutup, Zyandru benar-benar memenuhi janjinya.Empat buah Luxemburgerli mun







