LOGINSelama delapan tahun pernikahan, Ratna tak pernah sekali pun menghianati suaminya. Sampai suatu ketika, sang suami terang-terangan selingkuh, bahkan menggunakan uang tabungan Ratna sendiri yang dia kumpulkan dari kos miliknya. Saat Ratna sudah bulat ingin bercerai, sang suami memohon kembali. Saat Ratna sudah tidak sudi kembali, sang suami tetap menolak, bahkan memberi ancaman. Dan saat ancaman itu datang, tiba-tiba lima penghuni kos yang semuanya adalah pria tampan, berdiri di hadapannya seraya berkata, "Jika ingin menyakiti Tante Ratna, maka kalahkan dulu kita semua!"
View MoreBima hanya menyunggingkan senyum tipisnya, senyum tipis yang amat jarang muncul di wajah tenangnya.Sementara matanya tetap tertuju pada jalanan malam yang mulai meremang."Tante nggak perlu pusing memikirkan alasan saya," ujar Bima. "Fokus kita malam ini cuma satu. Bukti."Ratna menyandarkan punggungnya di kursi penumpang, jantungnya berdebar kencang oleh pertanyaan yang masih bergulung di kepala.Namun, penjelasan Bima berikutnya menahan niat Ratna untuk bertanya lebih jauh."Kalau semua tuduhan dan penyelewengan Hendra terbukti secara hukum," lanjut Bima sambil mengendalikan kemudi dengan satu tangan.“Mudah buat Tante untuk melapor balik atas dugaan penggelapan dan penipuan. Tante nggak perlu takut kehilangan kosan, dan Tante nggak wajib membayar sepeser pun utang tiga ratus juta yang dia pakai buat bersenang-senang sama cewek itu."Ratna mengembuskan napas panjang. "Tapi apa foto dari dalam mobil ini sudah cukup, Bima?"Bima melirik spion samping, lalu memperlambat laju mobilnya
Sebelum Bima sempat menjawab, pintu ruang tamu terdorong lebih lebar.Jo dan Leo yang menyelinap masuk sejak tadi langsung menyerobot bicara tanpa dosa, memecah atmosfer berat di ruangan tersebut."Syarat dari saya simpel, Tante!" seru Leo dengan cengiran lebar, lalu memajukan badannya di sebelah Dimas."Mulai besok Tante harus masakin ayam bumbu balado seminggu tiga kali! Bosen saya makan mi instan terus tiap malam.""Dih, dasar perut karet!" pangkas Jo tidak mau kalah sambil menyenggol bahu Leo dan mengacungkan jarinya tinggi-tinggi."Kalau saya beda lagi, Tante. Diskon uang kosan sepuluh persen bulan depan kalau masalah ini beres! Lumayan buat tambahan beli kuota."Arka yang berdiri bersandarkan tembok dekat pintu hanya menggelengkan kepala, menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah dua penghuni paling muda itu.Ratna tertegun. Ketegangan yang mencekat dadanya mendadak mengendur.Ia menatap dua anak muda itu dengan rasa tak percaya, lalu menghela napas panjang saat menyadari beta
Siang merambat menjadi sore, tetapi ketegangan di ruang tamu kosan sama sekali belum reda.Meja kayu di tengah ruangan kini tertutup oleh lembaran berkas fotokopi, catatan mutasi rekening, dan lembar tagihan Rp 300 juta yang diletakkan Bima di bawah lampu meja yang menyala terang.Bima duduk tenang dengan kacamata baca hinggap di pangkal hidungnya, meneliti lembar demi lembar berkas yang berhasil ia kumpulkan dari sisa dokumen di kamar kerja Hendra.Di seberangnya, Ratna duduk dengan jemari yang saling bertaut rapat di pangkuan."Surat kuasa yang Tante tanda tangani memang memberikan hak penjaminan sertifikat," Bima membuka suara, memecah hening sambil menunjuk sebuah frasa di halaman kedua dokumen."Tetapi ada celah hukum yang sangat fatal di sini. Penanggalan surat kuasa ini dimajukan dua bulan sebelum akad pinjaman diproses. Ini bentuk cacat administrasi."Ratna mendongak, matanya memancarkan sedikit titik terang. "Artinya surat itu bisa dibatalkan?""Bisa," jawab Bima lugas."Sela
Baru pukul delapan lewat empat puluh lima menit, tetapi dua mobil sudah terparkir berderet di depan pagar besi yang terbuka separuh.Hendra turun dari mobil depan dengan setelan kemeja rapi, melangkah penuh percaya diri.Di sampingnya, berjalan seorang pria berbadan tambun berpakaian necis yang memegang map tebal, Pak Darto, penagih pinjaman swasta, diikuti oleh dua pria bertubuh kekar dengan tato menjalar di lengan yang berdiri sigap di belakang mereka.Suara langkah kaki dan nada bicara yang keras mengundang perhatian para penghuni kos.Dari balkon lantai dua, Jo dan Leo mengintip dengan wajah cemas, sambil saling berbisik dengan raut tegang yang tak lagi diwarnai keusilan."Jo, itu Om Hendra bawa orang-orang gede banget," bisik Leo tegang, tangannya meremas cengkeraman pagar balkon. "Mau ada penggusuran apa gimana?""Diem dulu, Leo. Jangan kenceng-kenceng," balas Jo panik seraya menarik lengan kaos temannya itu.Sementara itu di dekat tangga bawah, Arka berdiri kaku dalam seragam k






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.