Share

Wasiat Terakhir

Author: Erna Azura
last update publish date: 2026-07-03 16:44:40

Pintu kamar Vimala menutup pelan.

Robi menuruni anak tangga dengan langkah ringan. Senyum tipis yang sedari tadi ia tahan akhirnya mengembang begitu sampai di lantai dasar.

“Tina,” panggilnya.

Wanita paruh baya itu menoleh dari ruang makan.

“Kalau Non butuh apa-apa, langsung telepon saya.”

“Iya, Mas Robi.”

Robi mengangguk singkat sebelum meninggalkan rumah keluarga Natamanggala.

***

MG Group.

Burhan tengah berdiri di depan jendela ruang kerjanya yang menghadap hamparan gedung-gedung pencakar langit Jakarta.

Sejak Wisnutama meninggal, ruangan itu terasa jauh berbeda.

Tidak ada lagi suara tegas yang biasa memanggil namanya.

Tidak ada lagi tumpukan pekerjaan yang harus segera mendapat persetujuan sang direktur utama.

Kini kursi kebesaran itu kosong.

Tok.

Tok.

“Masuk.”

Robi membuka pintu. “Ayah.”

Burhan langsung menoleh. “Ada apa?”

Senyum Robi melebar. “Berhasil.”

“Apanya yang berhasil?” Burhan mengernyit bingung.

“Tadi pengacara Yudha datang ke rumah dan bilang kalau besok wasiat akan dibacakan di depan komisaris dan seluruh direksi.”

Burhan mengepalkan kedua tangannya. “Lalu?”

“Aku berhasil membujuk Mala untuk datang besok.”

“Bagus…. Bagus sekali.” Pria paruh baya itu tertawa pelan. “Akhirnya.”

Robi ikut tersenyum.

“Kalau benar semua warisan jatuh ke tangan Vimala….” Burhan menatap putranya lurus-lurus. “…kamu harus menikahinya.”

Robi sama sekali tidak tampak terkejut. “Ayah tenang saja.”

“Tidak.” Burhan menggeleng. “Dengarkan Ayah. Jangan beri kesempatan siapa pun mengambil dia. Lakukan apa pun sampai Vimala bersedia menikah denganmu.”

Robi menyeringai. “Ayah pikir aku akan menyerah? Tentu Tidak. Meski perempuan itu keras kepala.” Robi tertawa kecil. “Justru karena itu membuat semua ini jadi menarik.”

Burhan menyipitkan mata. “Kamu sudah punya rencana?”

“Tentu.” Robi bersandar santai di sofa.

“Vimala suka dugem.”

Burhan mendengarkan tanpa menyela.

“Dia juga gampang percaya sama orang yang sudah dikenalnya.” Senyum licik mulai terbentuk di wajah Robi.

“Kalau nanti dia mulai keluar rumah lagi … aku tinggal membuatnya percaya kalau hanya aku yang selalu ada untuknya. Setelah itu….” Robi mengangkat kedua bahunya santai. “Dia pasti akan bergantung padaku.”

Burhan mengangguk pelan. “Itu jauh lebih baik dan jangan gegabah. Buat dia menyerahkan hidupnya kepadamu dengan sukarela.”

Robi mengacungkan jempol. “Serahkan padaku.”

Kedua pria itu saling bertukar senyum.

Tak seorang pun menyadari kalau takdir telah menyiapkan rencana yang sama sekali berbeda.

Keesokan paginya.

Untuk pertama kalinya sejak pemakaman sang ayah, pintu kamar Vimala terbuka lebih awal.

Tina hampir menitikkan air mata saat melihat gadis itu telah selesai bersiap.

Vimala mengenakan gaun hitam selutut dengan potongan feminin.

Sebuah pita kecil menghiasi rambutnya yang dibiarkan terurai.

Meski sedang berkabung dan mengenakan warna yang paling tidak ia sukai, sisi girly dalam dirinya tetap tidak bisa disembunyikan.

Namun wajah cantik itu kehilangan satu hal.

Cahayanya.

“Non….” Tina merapikan kerah gaun Vimala. “Papa pasti bangga melihat Non kuat.”

Vimala hanya mengangguk pelan.

Tak lama kemudian bel rumah berbunyi.

Robi datang tepat waktu.

Begitu melihat Vimala turun dari tangga, ia sempat terpaku beberapa detik.

Cantik.

Meski wajahnya pucat.

Meski matanya sembab.

Vimala tetap terlihat cantik.

“Ayo,” katanya mengulurkan tangan.

Vimala berjalan pelan menuju mobil tanpa banyak bicara tanpa menerima uluran tangan Robi.

Perjalanan menuju MG Group berlangsung nyaris tanpa suara.

Jakarta sudah kembali sibuk.

Kemacetan mulai memenuhi jalanan.

Namun di dalam mobil keheningan justru terasa semakin pekat.

Robi melirik Vimala yang terus memandang keluar jendela.

“Mala.” Robi memanggil pelan.

Tak ada jawaban.

Pelan-pelan ia menggenggam tangan gadis itu.

“Kamu enggak sendirian.”

Vimala tidak bereaksi.

“Ada aku. Ada ayahku. Kami akan sayang sama kamu seperti pak Wisnu menyayangi kamu.”

Tatapan Vimala tetap lurus ke luar jendela.

Gedung-gedung tinggi berlalu begitu saja di hadapan matanya.

Tak satu pun kata keluar dari bibirnya.

Entah ia mendengar atau memang tak lagi memiliki tenaga untuk menanggapi.

Robi akhirnya melepaskan genggaman itu sambil mengembuskan napas pelan.

Begitu mobil memasuki halaman parkir MG Group, puluhan pasang mata langsung tertuju pada Vimala.

Para karyawan yang sedang berjalan menuju lobi spontan berhenti.

Mereka menundukkan kepala saat berpapasan dengan Vimala.

“Selamat pagi, Non Vimala.”

“Turut berduka cita, Non.”

“Semoga Non diberi kekuatan.”

Ucapan itu terdengar dari berbagai arah.

Vimala hanya membalas dengan anggukan kecil.

Di balik tatapan penuh simpati itu, tersimpan kegelisahan yang sama.

Semua mengenal Vimala.

Mereka tahu gadis itu baik.

Ramah.

Tidak sombong.

Namun tak seorang pun pernah melihatnya terlibat dalam urusan perusahaan.

Ia lebih sering muncul di majalah gaya hidup dibanding majalah bisnis.

Kalau benar Vimala menjadi Direktur Utama, akankah MG Group mampu bertahan?

Pertanyaan itu memenuhi benak hampir seluruh karyawan.

Ruang rapat utama telah dipenuhi para komisaris dan direksi.

Begitu pintu terbuka, seluruh orang berdiri menyambut Vimala.

Di ujung ruangan, seorang pria berjas hitam segera melangkah menghampiri.

“Non.”

Suara itu membuat Vimala mengangkat wajah.

“Om Yudha….”

Tanpa mampu menahan diri lagi, ia langsung memeluk pria itu erat.

Tangis yang selama perjalanan ia tahan kembali pecah.

Yudha mengusap pelan kepala Vimala.

“Om langsung berangkat dari Australia begitu mendengar kabar buruk tentang pak Wisnu.”

Vimala hanya menangis.

Tak sanggup berkata apa-apa.

Yudha membiarkannya beberapa saat.

Hingga akhirnya tangis itu perlahan mereda.

“Sudah… jangan terus bersedih, banyak hal yang harus kita kerjakan.” Yudha mengusap kepala Vimala lembut.

Vimala mengusap air matanya.

Yudha mengangguk pelan. “Kalau begitu….”

Ia mengambil sebuah map cokelat yang sejak tadi berada di atas meja.

“Atas permintaan almarhum bapak Wisnutama Natamanggala…hari ini saya akan membacakan surat wasiat beliau.”

Seluruh ruangan langsung hening.

Bahkan suara pendingin ruangan terdengar begitu jelas.

Yudha membuka map itu perlahan.

“Lembar pertama berisi pembagian aset.”

“Lembar kedua berisi ketentuan pewarisan.”

“Lembar ketiga….”

Ia berhenti sejenak.

Tatapannya beralih kepada Vimala. “…berisi syarat mutlak agar seluruh harta warisan dapat diwariskan.”

Semua orang mulai saling berpandangan.

Yudha menarik napas.

Lalu mulai membaca.

“Saya, Wisnutama Natamanggala, dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun, menyatakan bahwa seluruh harta, aset, saham, dan kepemilikan saya akan diwariskan kepada putri tunggal saya, Vimala Rinayu Amadhea….”

Senyum kecil mulai muncul di wajah Burhan.

Robi ikut mengembuskan napas lega.

Namun…

Kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan membeku.

“Dengan syarat, Vimala Rinayu Amadhea harus menikah secara sah dengan salah satu anggota keluarga Gunadhya.”

Hening.

Tak ada suara.

Tak ada yang bergerak.

Yudha kembali melanjutkan.

“Apabila dalam waktu paling lambat tujuh hari sejak surat wasiat ini dibacakan tidak terdapat bukti pernikahan yang sah, maka seluruh harta, saham, aset pribadi, dan kepemilikan saya akan dilepas sesuai ketentuan hukum untuk kemudian disumbangkan kepada seribu dua ratus delapan puluh yayasan panti asuhan dan panti jompo yang tersebar di seluruh Indonesia.”

Brak!

Seorang komisaris berdiri begitu saja.

“Apa?”

“Itu tidak mungkin!”

Direktur keuangan ikut membelalak.

“Kalau begitu….”

“Perusahaan akan….”

“….dilelang.”

Ruangan langsung ricuh.

Semua berbicara bersamaan.

Burhan membeku.

Wajahnya perlahan memucat.

Robi menatap ayahnya dengan ekspresi tak percaya.

Selama ini mereka yakin bahwa kekayaan Wisnutama akan menjadi milik Vimala tanpa syarat.

Nyatanya, Wisnutama telah menyiapkan permainan terakhir.

Sementara itu Vimala masih duduk mematung.

Bibirnya bergerak pelan.

“Gunadhya…?”

“M-Mustahil….”

“Itu musuh Papa….”

Dunia di sekelilingnya terasa berputar.

Wajahnya kehilangan warna.

Pandangannya mulai kabur.

“Papa….”

Tubuh gadis itu limbung.

Bruk!

“Non Vimala!”

Yudha sigap menangkap tubuh Vimala sebelum kepalanya membentur lantai.

Ruangan kembali gaduh.

“Dokter!”

“Air putih!”

“Non Vimala pingsan!”

Yudha mengangkat tubuh Vimala ke dalam gendongannya.

Sebelum keluar dari ruang rapat, ia menoleh kepada seluruh peserta.

“Saya harap…. Bapak-Ibu semua berdoa.”

Tatapannya menyapu satu per satu wajah yang masih dipenuhi keterkejutan. “Karena kalau Non Vimala tidak menikah dengan salah satu keluarga Gunadhya…bukan hanya beliau yang kehilangan seluruh warisan. MG Group juga akan kehilangan masa depannya.”

Tak ada lagi yang mampu membantah.

Yudha membawa Vimala keluar, dibantu beberapa staf menuju ruang kerja terakhir Wisnutama.

Beberapa menit kemudian…

Vimala perlahan membuka mata.

Ruangan itu begitu dikenalnya.

Meja kerja ayahnya.

Rak buku favorit ayahnya.

Kursi kulit yang biasa diduduki ayahnya.

Semuanya masih sama.

“Om….”

Yudha menuangkan segelas air putih.

“Minum dulu.”

Vimala menepis gelas itu.

“Papa enggak mungkin bikin wasiat seperti itu!”

“Itu bohong!”

“Om bohong!”

Suara Vimala meninggi meski tekanan darahnya semakin rendah.

Yudha tetap tenang.

Ia membuka map cokelat itu sekali lagi.

Mengeluarkan satu lembar fotokopi yang telah dilegalisasi.

“Baca sendiri.”

Vimala meraih lembar itu dengan tangan gemetar.

Di bagian bawah tertera tanda tangan Wisnutama Natamanggala.

Asli.

Air matanya kembali jatuh.

“Kenapa…?”

“Kenapa Papa melakukan ini?”

“Gunadhya itu musuh kita….”

Yudha menghela napas panjang. “Musuh dalam bisnis. Bukan musuh dalam kehidupan.”

Vimala mengangkat wajah.

“Selama bertahun-tahun saya menjadi pengacara pak Wisnu. Saya tahu bagaimana beliau memandang keluarga Gunadhya. Beliau selalu mengakui satu hal.”

“Apa?” kejar Vimala penasaran.

“Bahwa keluarga Gunadhya adalah keluarga konglomerat yang paling stabil di Asia. Mereka bersaing dengan cara yang bersih. Tidak pernah bermain curang. Tidak pernah menjatuhkan lawan dengan cara licik. Dan keluarga konglomerat yang jauh dari skandal. Mungkin….”

Yudha menatap keluar jendela, ke arah gedung-gedung tinggi yang memenuhi cakrawala.

“…Pak Wisnu ingin memastikan MG Group berada di tangan yang tepat.”

Vimala kembali terdiam.

Matanya mengikuti arah pandang Yudha.

Gedung-gedung tinggi itu tetap berdiri megah.

Tetapi ia merasa seluruh dunia sedang runtuh.

Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berbisik,

“…aku enggak mau jatuh miskin.”

Yudha tersenyum tipis.

“Kalau begitu…Menikahlah dengan salah satu Gunadhya. Setahu saya, semua putra keluarga itu tampan.”

Vimala menoleh pelan.

“Om!” tegur Vimala.

Dia kemudian diam, lama. Sebelum akhirnya kembali bersuara.

“Apakah wasiat ini bisa diakali?”

“Apakah masih ada pilihan lain?”

Yudha menggeleng perlahan.

“Semuanya sudah dinotarialkan. Dan hanya ada satu syarat.” Ia menunjuk salinan surat wasiat di tangan Vimala. “Seluruh harta itu akan menjadi milikmu…setelah ada sebuah buku nikah yang mencantumkan nama Gunadhya sebagai suamimu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Fadilah
kalau untuk karyawan perusahaan memanggil anak pemilik perusahaan dengan sebutan non itu agak aneh ya kecuali asisten rt...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Capek

    Menjelang sore, keadaan tidak membaik.Makanan yang dicoba masuk kembali keluar.Air pun hanya bisa diminum sedikit demi sedikit.Mual datang berulang.Tubuh Vimala semakin lemah.Tekanan psikologis yang berat bukan penyebab penyakit Crohn’s-nya, tetapi pada kondisi tubuh yang belum benar-benar pulih, stres, kurang makan, dan muntah berulang membuat keadaannya jauh lebih sulit.Perawat beberapa kali berkomunikasi dengan tante Zara.Setelah penilaian kondisi, instruksi medis, dan memastikan tanda-tanda yang harus segera dirujuk ke rumah sakit, cairan intravena akhirnya diberikan karena Vimala kesulitan mempertahankan asupan oral.Jarum masuk ke pembuluh darah tangannya.Vimala memalingkan wajah.Bi Tina duduk di samping ranjang.“Non…”“Aku capek, Bi.”“Tidur saja.”Vimala menutup mata.Namun pikirannya tidak ikut beristirahat.Ada terlalu banyak suara di dalam kepalanya.Ucapan Ratu.Penjelasan

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Perhatian Menjadi Penolakan

    Ratu menarik napas.“Masih ada satu hal.”Davin nyaris ingin tertawa.Sepertinya hari-hari belakangan selalu dipenuhi kalimat masih ada satu hal yang kemudian membuka masalah baru.Zyandru menatap Ratu. “Apa?”Ratu tampak ragu sejenak. “Beasiswa aku.”Ekspresi Zyandru seketika berubah.Davin mengerutkan kening.Ratu tersenyum tipis. “Vimala cerita.”Zyandru mengerjap dengan sering.“Katanya dia pernah dengar pembicaraan kamu sama Ryley di Lembang.”Zyandru menunduk.“Jadi benar?”“Iya.”Ratu mengembuskan napas perlahan.“Kenapa?”“Karena kamu pantas mendapatkan itu.”“Terima kasih.” Dua kata itu terdengar sederhana.Namun membawa bertahun-tahun perjalanan di belakangnya.Zyandru tidak segera menjawab.“Tapi .…” Ratu belum selesai.Zyandru hampir tersenyum. “Tentu ada tapinya.”Ratu mengangkat dagu.“Aku tetap mau kamu tahu kalau aku bukan lulus karena kamu.”“Iya…

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Tentang Beasiswa

    Ratu memang sudah berada di proyek ketika Zyandru tiba.Helm keselamatan putih menutupi sebagian rambutnya yang diikat rendah.Kemeja berwarna biru muda dipadukan dengan celana bahan gelap dan safety vest.Di tangannya terdapat tablet berisi beberapa catatan teknis.Tidak ada kecanggungan berlebihan ketika pandangan mereka bertemu.“Pagi, Pak Zyandru.”“Pagi, Bu Ratu.”Davin yang berjalan di samping Zyandru menahan senyum kecil.Mereka memang selalu proesional,Seolah-olah tidak pernah ada urusan hati yang belum selesai. Pertemuan pagi berlangsung di ruang koordinasi proyek.Pak Arief hadir bersama tim construction management, project control, perwakilan MEP, serta dua orang dari perusahaan Ratu.Tidak ada pembahasan personal maupun tatapan yang terlalu lama.Mereka membicarakan progres pekerjaan, penyelesaian discrepancy utility relocation, revisi sequencing, dan beberapa pekerjaan yang harus dikunci sebelum fase berikutnya berjalan.Zyandru bahkan beberapa kali menyer

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Pagi yang Hampa

    Pagi itu terasa hampa bagi Zyandru.Tidak ada percakapan yang menyelesaikan pertengkaran semalam.Tidak ada pelukan hangat.Tidak ada pula jawaban atas pertanyaan terakhir Vimala.Ketika cahaya matahari menyusup melalui celah tirai, Zyandru sudah terjaga sejak beberapa menit lalu.Ia berbaring telentang dengan satu tangan di bawah kepala, menatap langit-langit kamar.Di sampingnya, Vimala berbaring membelakangi.Napasnya teratur.Terlalu teratur.Zyandru tahu istrinya sudah bangun.Sama seperti Vimala yang tahu kalau Zyandru belum benar-benar bisa tidur lelap semalaman.Namun mereka sama-sama tidak mengatakan apa-apa.Semangkuk bubur di atas nakas hanya berkurang beberapa sendok. Obat yang semalam diletakkannya di sana memang sudah diminum, tetapi makanan yang masuk ke tubuh Vimala tetap jauh dari cukup.Zyandru memiringkan tubuh.Menatap punggung perempuan itu.“Mala.”Tidak ada jawaban.“Sayang?”Sang istri masih tidak sudi menyahut. Zyandru mengembuskan napas pe

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Percaya

    “Investasi mantan kamu salah sasaran, Sayang.” Ratu kembali tertawa. Bagas mengangkat kedua tangan. “Aku cuma berharap kalau nanti kita nikah, dia enggak minta pengembalian dana CSR.” “Kalau diminta gimana?” “Aku cicil deh.” “Berapa lama?” “Seumur hidup. Bunganya aku bayar pakai kesetiaan.” Ratu terdiam sejenak. Kemudian senyumnya berubah lembut. “Gombal.” “Engineering Manager juga boleh gombal dooonk.” Bagas menyenggol bahunya. “Tapi serius….” “Hm?” “Kamu percaya cerita Vimala?” Ratu menatap kotak makanan di hadapannya. “Aku enggak tahu juga ya.” “Kenapa?” “Karena dia bilang dengar sendiri percakapan Zyan sama Ryley waktu ulang tahun kak Luna di Lembang.” Bagas mengangguk pelan. “Berarti ada dasar ceritanya.” “Iya.” Ratu mengusap ujung sendok. “Aku cuma…”

  • Takdir Tidak Pernah Keliru   Investasi Zyandru

    Di sebuah apartemen kawasan Jakarta Selatan, Ratu sedang duduk bersila di sofa ketika Bagas datang membawa dua kantong makanan.“Permisi. Layanan pengantaran makanan khusus perempuan galak.”Ratu mengangkat wajah.“Siapa yang galak?”“Yang hari ini bikin satu gedung kantor heboh.”Ratu membeku.Bagas berhenti tersenyum. “Eh.”Ia meletakkan kantong makanan di meja.“Berarti bener?”Ratu memejamkan mata.“Kamu udah dengar?”“Hanya sebagian. Tadi sekuriti loby kasih tahu aku katanya gini, ‘Mas … tadi ceweknya dilabrak istri orang.” “Oh ya?” Ratu tergelak merasa lucu.Bagas duduk di sampingnya.“Ayo cerita.”Ratu mengembuskan napas berat.“Vimala datang ke kantor tadi pagi.”“Waw… seru ini.”Ratu tersenyum kecut. “Dia ada di lobi waktu kebetulan aku lagi ada urusan di sana, terus langsung nuduh aku pelakor.”Wajah Bagas berubah. “Di depan banyak orang?”Ratu mengangguk. “Aku ajak bicara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status