MasukPintu kamar Vimala menutup pelan.
Robi menuruni anak tangga dengan langkah ringan. Senyum tipis yang sedari tadi ia tahan akhirnya mengembang begitu sampai di lantai dasar. “Tina,” panggilnya. Wanita paruh baya itu menoleh dari ruang makan. “Kalau Non butuh apa-apa, langsung telepon saya.” “Iya, Mas Robi.” Robi mengangguk singkat sebelum meninggalkan rumah keluarga Natamanggala. *** MG Group. Burhan tengah berdiri di depan jendela ruang kerjanya yang menghadap hamparan gedung-gedung pencakar langit Jakarta. Sejak Wisnutama meninggal, ruangan itu terasa jauh berbeda. Tidak ada lagi suara tegas yang biasa memanggil namanya. Tidak ada lagi tumpukan pekerjaan yang harus segera mendapat persetujuan sang direktur utama. Kini kursi kebesaran itu kosong. Tok. Tok. “Masuk.” Robi membuka pintu. “Ayah.” Burhan langsung menoleh. “Ada apa?” Senyum Robi melebar. “Berhasil.” “Apanya yang berhasil?” Burhan mengernyit bingung. “Tadi pengacara Yudha datang ke rumah dan bilang kalau besok wasiat akan dibacakan di depan komisaris dan seluruh direksi.” Burhan mengepalkan kedua tangannya. “Lalu?” “Aku berhasil membujuk Mala untuk datang besok.” “Bagus…. Bagus sekali.” Pria paruh baya itu tertawa pelan. “Akhirnya.” Robi ikut tersenyum. “Kalau benar semua warisan jatuh ke tangan Vimala….” Burhan menatap putranya lurus-lurus. “…kamu harus menikahinya.” Robi sama sekali tidak tampak terkejut. “Ayah tenang saja.” “Tidak.” Burhan menggeleng. “Dengarkan Ayah. Jangan beri kesempatan siapa pun mengambil dia. Lakukan apa pun sampai Vimala bersedia menikah denganmu.” Robi menyeringai. “Ayah pikir aku akan menyerah? Tentu Tidak. Meski perempuan itu keras kepala.” Robi tertawa kecil. “Justru karena itu membuat semua ini jadi menarik.” Burhan menyipitkan mata. “Kamu sudah punya rencana?” “Tentu.” Robi bersandar santai di sofa. “Vimala suka dugem.” Burhan mendengarkan tanpa menyela. “Dia juga gampang percaya sama orang yang sudah dikenalnya.” Senyum licik mulai terbentuk di wajah Robi. “Kalau nanti dia mulai keluar rumah lagi … aku tinggal membuatnya percaya kalau hanya aku yang selalu ada untuknya. Setelah itu….” Robi mengangkat kedua bahunya santai. “Dia pasti akan bergantung padaku.” Burhan mengangguk pelan. “Itu jauh lebih baik dan jangan gegabah. Buat dia menyerahkan hidupnya kepadamu dengan sukarela.” Robi mengacungkan jempol. “Serahkan padaku.” Kedua pria itu saling bertukar senyum. Tak seorang pun menyadari kalau takdir telah menyiapkan rencana yang sama sekali berbeda. Keesokan paginya. Untuk pertama kalinya sejak pemakaman sang ayah, pintu kamar Vimala terbuka lebih awal. Tina hampir menitikkan air mata saat melihat gadis itu telah selesai bersiap. Vimala mengenakan gaun hitam selutut dengan potongan feminin. Sebuah pita kecil menghiasi rambutnya yang dibiarkan terurai. Meski sedang berkabung dan mengenakan warna yang paling tidak ia sukai, sisi girly dalam dirinya tetap tidak bisa disembunyikan. Namun wajah cantik itu kehilangan satu hal. Cahayanya. “Non….” Tina merapikan kerah gaun Vimala. “Papa pasti bangga melihat Non kuat.” Vimala hanya mengangguk pelan. Tak lama kemudian bel rumah berbunyi. Robi datang tepat waktu. Begitu melihat Vimala turun dari tangga, ia sempat terpaku beberapa detik. Cantik. Meski wajahnya pucat. Meski matanya sembab. Vimala tetap terlihat cantik. “Ayo,” katanya mengulurkan tangan. Vimala berjalan pelan menuju mobil tanpa banyak bicara tanpa menerima uluran tangan Robi. Perjalanan menuju MG Group berlangsung nyaris tanpa suara. Jakarta sudah kembali sibuk. Kemacetan mulai memenuhi jalanan. Namun di dalam mobil keheningan justru terasa semakin pekat. Robi melirik Vimala yang terus memandang keluar jendela. “Mala.” Robi memanggil pelan. Tak ada jawaban. Pelan-pelan ia menggenggam tangan gadis itu. “Kamu enggak sendirian.” Vimala tidak bereaksi. “Ada aku. Ada ayahku. Kami akan sayang sama kamu seperti pak Wisnu menyayangi kamu.” Tatapan Vimala tetap lurus ke luar jendela. Gedung-gedung tinggi berlalu begitu saja di hadapan matanya. Tak satu pun kata keluar dari bibirnya. Entah ia mendengar atau memang tak lagi memiliki tenaga untuk menanggapi. Robi akhirnya melepaskan genggaman itu sambil mengembuskan napas pelan. Begitu mobil memasuki halaman parkir MG Group, puluhan pasang mata langsung tertuju pada Vimala. Para karyawan yang sedang berjalan menuju lobi spontan berhenti. Mereka menundukkan kepala saat berpapasan dengan Vimala. “Selamat pagi, Non Vimala.” “Turut berduka cita, Non.” “Semoga Non diberi kekuatan.” Ucapan itu terdengar dari berbagai arah. Vimala hanya membalas dengan anggukan kecil. Di balik tatapan penuh simpati itu, tersimpan kegelisahan yang sama. Semua mengenal Vimala. Mereka tahu gadis itu baik. Ramah. Tidak sombong. Namun tak seorang pun pernah melihatnya terlibat dalam urusan perusahaan. Ia lebih sering muncul di majalah gaya hidup dibanding majalah bisnis. Kalau benar Vimala menjadi Direktur Utama, akankah MG Group mampu bertahan? Pertanyaan itu memenuhi benak hampir seluruh karyawan. Ruang rapat utama telah dipenuhi para komisaris dan direksi. Begitu pintu terbuka, seluruh orang berdiri menyambut Vimala. Di ujung ruangan, seorang pria berjas hitam segera melangkah menghampiri. “Non.” Suara itu membuat Vimala mengangkat wajah. “Om Yudha….” Tanpa mampu menahan diri lagi, ia langsung memeluk pria itu erat. Tangis yang selama perjalanan ia tahan kembali pecah. Yudha mengusap pelan kepala Vimala. “Om langsung berangkat dari Australia begitu mendengar kabar buruk tentang pak Wisnu.” Vimala hanya menangis. Tak sanggup berkata apa-apa. Yudha membiarkannya beberapa saat. Hingga akhirnya tangis itu perlahan mereda. “Sudah… jangan terus bersedih, banyak hal yang harus kita kerjakan.” Yudha mengusap kepala Vimala lembut. Vimala mengusap air matanya. Yudha mengangguk pelan. “Kalau begitu….” Ia mengambil sebuah map cokelat yang sejak tadi berada di atas meja. “Atas permintaan almarhum bapak Wisnutama Natamanggala…hari ini saya akan membacakan surat wasiat beliau.” Seluruh ruangan langsung hening. Bahkan suara pendingin ruangan terdengar begitu jelas. Yudha membuka map itu perlahan. “Lembar pertama berisi pembagian aset.” “Lembar kedua berisi ketentuan pewarisan.” “Lembar ketiga….” Ia berhenti sejenak. Tatapannya beralih kepada Vimala. “…berisi syarat mutlak agar seluruh harta warisan dapat diwariskan.” Semua orang mulai saling berpandangan. Yudha menarik napas. Lalu mulai membaca. “Saya, Wisnutama Natamanggala, dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari pihak mana pun, menyatakan bahwa seluruh harta, aset, saham, dan kepemilikan saya akan diwariskan kepada putri tunggal saya, Vimala Rinayu Amadhea….” Senyum kecil mulai muncul di wajah Burhan. Robi ikut mengembuskan napas lega. Namun… Kalimat berikutnya membuat seluruh ruangan membeku. “Dengan syarat, Vimala Rinayu Amadhea harus menikah secara sah dengan salah satu anggota keluarga Gunadhya.” Hening. Tak ada suara. Tak ada yang bergerak. Yudha kembali melanjutkan. “Apabila dalam waktu paling lambat tujuh hari sejak surat wasiat ini dibacakan tidak terdapat bukti pernikahan yang sah, maka seluruh harta, saham, aset pribadi, dan kepemilikan saya akan dilepas sesuai ketentuan hukum untuk kemudian disumbangkan kepada seribu dua ratus delapan puluh yayasan panti asuhan dan panti jompo yang tersebar di seluruh Indonesia.” Brak! Seorang komisaris berdiri begitu saja. “Apa?” “Itu tidak mungkin!” Direktur keuangan ikut membelalak. “Kalau begitu….” “Perusahaan akan….” “….dilelang.” Ruangan langsung ricuh. Semua berbicara bersamaan. Burhan membeku. Wajahnya perlahan memucat. Robi menatap ayahnya dengan ekspresi tak percaya. Selama ini mereka yakin bahwa kekayaan Wisnutama akan menjadi milik Vimala tanpa syarat. Nyatanya, Wisnutama telah menyiapkan permainan terakhir. Sementara itu Vimala masih duduk mematung. Bibirnya bergerak pelan. “Gunadhya…?” “M-Mustahil….” “Itu musuh Papa….” Dunia di sekelilingnya terasa berputar. Wajahnya kehilangan warna. Pandangannya mulai kabur. “Papa….” Tubuh gadis itu limbung. Bruk! “Non Vimala!” Yudha sigap menangkap tubuh Vimala sebelum kepalanya membentur lantai. Ruangan kembali gaduh. “Dokter!” “Air putih!” “Non Vimala pingsan!” Yudha mengangkat tubuh Vimala ke dalam gendongannya. Sebelum keluar dari ruang rapat, ia menoleh kepada seluruh peserta. “Saya harap…. Bapak-Ibu semua berdoa.” Tatapannya menyapu satu per satu wajah yang masih dipenuhi keterkejutan. “Karena kalau Non Vimala tidak menikah dengan salah satu keluarga Gunadhya…bukan hanya beliau yang kehilangan seluruh warisan. MG Group juga akan kehilangan masa depannya.” Tak ada lagi yang mampu membantah. Yudha membawa Vimala keluar, dibantu beberapa staf menuju ruang kerja terakhir Wisnutama. Beberapa menit kemudian… Vimala perlahan membuka mata. Ruangan itu begitu dikenalnya. Meja kerja ayahnya. Rak buku favorit ayahnya. Kursi kulit yang biasa diduduki ayahnya. Semuanya masih sama. “Om….” Yudha menuangkan segelas air putih. “Minum dulu.” Vimala menepis gelas itu. “Papa enggak mungkin bikin wasiat seperti itu!” “Itu bohong!” “Om bohong!” Suara Vimala meninggi meski tekanan darahnya semakin rendah. Yudha tetap tenang. Ia membuka map cokelat itu sekali lagi. Mengeluarkan satu lembar fotokopi yang telah dilegalisasi. “Baca sendiri.” Vimala meraih lembar itu dengan tangan gemetar. Di bagian bawah tertera tanda tangan Wisnutama Natamanggala. Asli. Air matanya kembali jatuh. “Kenapa…?” “Kenapa Papa melakukan ini?” “Gunadhya itu musuh kita….” Yudha menghela napas panjang. “Musuh dalam bisnis. Bukan musuh dalam kehidupan.” Vimala mengangkat wajah. “Selama bertahun-tahun saya menjadi pengacara pak Wisnu. Saya tahu bagaimana beliau memandang keluarga Gunadhya. Beliau selalu mengakui satu hal.” “Apa?” kejar Vimala penasaran. “Bahwa keluarga Gunadhya adalah keluarga konglomerat yang paling stabil di Asia. Mereka bersaing dengan cara yang bersih. Tidak pernah bermain curang. Tidak pernah menjatuhkan lawan dengan cara licik. Dan keluarga konglomerat yang jauh dari skandal. Mungkin….” Yudha menatap keluar jendela, ke arah gedung-gedung tinggi yang memenuhi cakrawala. “…Pak Wisnu ingin memastikan MG Group berada di tangan yang tepat.” Vimala kembali terdiam. Matanya mengikuti arah pandang Yudha. Gedung-gedung tinggi itu tetap berdiri megah. Tetapi ia merasa seluruh dunia sedang runtuh. Dengan suara nyaris tak terdengar, ia berbisik, “…aku enggak mau jatuh miskin.” Yudha tersenyum tipis. “Kalau begitu…Menikahlah dengan salah satu Gunadhya. Setahu saya, semua putra keluarga itu tampan.” Vimala menoleh pelan. “Om!” tegur Vimala. Dia kemudian diam, lama. Sebelum akhirnya kembali bersuara. “Apakah wasiat ini bisa diakali?” “Apakah masih ada pilihan lain?” Yudha menggeleng perlahan. “Semuanya sudah dinotarialkan. Dan hanya ada satu syarat.” Ia menunjuk salinan surat wasiat di tangan Vimala. “Seluruh harta itu akan menjadi milikmu…setelah ada sebuah buku nikah yang mencantumkan nama Gunadhya sebagai suamimu.”Mobil sport berwarna hitam itu melaju mulus membelah jalanan Kota Jakarta yang mulai dipenuhi cahaya lampu.Vimala beberapa kali mencuri pandang ke arah Zyandru yang sedang fokus menyetir.“Kamu sering makan di restoran yang akan kita datangi ini?” tanya Zyandru.Vimala mengangguk. “Sering.”“Sama siapa?” Zyandru mengerutkan kening.“Sama papa… kami sering ngedate berdua, bisa seminggu sekali atau sebulan sekali atau enam bulan sekali kalau papa sibuk banget… kalau enggak sempet ngedate, papa selalu beliin aku bunga sama ice cream… meski sebenarnya sekretaris junior yang beliin.” Tatapan Vimala menerawang merindukan sang papa.“Kalau dulu waktu masih ada Mama….” Kalimat Vimala menggantung.Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar. “Aku lupa….” Vimala menatap kedua tangannya yang bertaut di atas pangkuan.Vimala lupa, entah karena waktu itu dia masih terlalu kecil ketika sang mama berpulang atau karena memang ingin melupakan sakit hati atas kepergian sang mama.Zyandru meliri
Jam dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit.Zyandru yang sejak berjam-jam lalu sudah terbangun menutup laptopnya.Selama Vimala tertidur, ia memilih menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda. Sesekali pandangannya beralih ke sosok gadis yang masih terlelap di sampingnya.Napasnya teratur, wajahnya jauh lebih tenang sekarang.Pelan-pelan Zyandru menggeser anak rambut yang menutupi pipi Vimala.“Mala….”Tak ada jawaban.“Mala….”“Hmmm….” Vimala hanya menggeliat kecil lalu membalikan badan membelakangi Zyandru.Zyandru tersenyum geli. “Bangun.”“Hm … masih ngantuk ….”“Udah sore tahu.”“Mau tidur lagi….”“Enggak boleh.”“Kenapa iiiih, kamu ikut campur aja ….” Vimala menggerutu.“Oh tentu, aku suami kamu … aku akan selalu ikut campur hidup kamu.”“Eeeemmm ….” Vimala mengerang.“Ayo bangun, kita makan malam.”Kelopak mata Vimala terbuka sedikit. “Aku enggak laper.”“Aku sudah booking restoran.”Butuh beberapa detik sampai otak Vimala benar-ben
Suasana makan siang perlahan mulai lengang.Piring-piring utama sudah digantikan dengan dessert dan secangkir kopi hangat.Obrolan yang semula serius kini berubah ringan.Namun di tengah suasana itu, Vimala justru beberapa kali menguap sambil menutupi mulutnya.“Hoaam….”Marvelle yang duduk tak jauh darinya langsung melirik.“Buset… pengantin baru kok ngantuk?”“Aku juga enggak tahu, tadi malam aku susah tidur ….” Vimala mengucek pelan salah satu matanya. “Sekarang ngantuk banget.”Keisha memperhatikan wajah sahabatnya beberapa detik. “Loh… muka lo pucat.”“Iya ya….” Anindya ikut mengangguk.“Vim, lo sakit?”Vimala menggeleng pelan. “Enggak tahu….” “Tapi badan aku kok rasanya enggak enak.” “Terus….” Tangannya perlahan berpindah memegang perut. “Perut aku juga enggak nyaman.”Ucapan itu langsung membuat tante Zara A dan Zyandru saling pandang detik berikutnya Zyandru menoleh menatap Vimala. “Perut?”“Iya, perut aku engg
Menjelang siang, seluruh rombongan meninggalkan Kantor Urusan Agama.Sebuah restoran fine dining yang telah dipesan khusus oleh Yudha menjadi tujuan berikutnya.Suasana restoran cukup tenang karena satu area memang sengaja ditutup untuk acara keluarga.Meja panjang telah ditata rapi.Di bagian tengah duduk Zyandru dan Vimala sebagai pengantin baru.Di sisi kanan mereka ada ayah Kama dan bunda Arshavina.Sedangkan Davanka, Zevanya, Kanaya, Ryley, Kaluna, Satria, Arkana, Zara, Bi Tina, pak Yudha, Burhan, dan Robi menempati kursi lainnya.Di sisi lain ada ketiga sahabat Vimala.Hanya satu orang yang tidak ikut.Ghazanvar.“Aduh… aku ada meeting sama investor jam satu. Kalau enggak datang, nanti bisa dipecat sama kakek,” kata pria itu sebelum memisahkan diri.“Tapi nanti kita ketemu lagi ya Bang!” serunya sebelum benar-benar berpamitan.“Kamu itu kerjanya sedikit, alasannya banyak,” sahut tante Zara.“Mami… tolong jangan b
Suasana kembali hangat dan penuh tawa serta siulan.Satu per satu keluarga mulai mengucapkan selamat.Fotografer resmi KUA segera mengatur posisi.“Pengantin dulu.”Cekrek.“Pegang buku nikah.”Cekrek.“Saling pandang.”Cekrek.Tapi Vimala malah menjulurkan lidahnya dan Zyandru tertawa, momen itu diabadikan begitu natural dan sempurna.“Senyum sedikit, Kak.”Vimala berusaha tersenyum.Namun senyum itu tak pernah benar-benar sampai ke matanya.Sesekali pandangannya kosong.Mungkin kembali mengingat Wisnutama.Mengingat mendiang mamanya.Zyandru menangkap perubahan kecil itu.Tanpa berkata apa-apa, ia menggenggam tangan Vimala lebih erat.Membuat Vimala kembali menoleh kepada Zyandru, sorot matanya tidak marah seperti tadi, lebih lembut, lebih teduh.Zyandru tersenyum, tatapannya seolah berkata, “Aku di sini.”“Foto keluarga Natamanggala,” kata sang photographer.Pak Yudha berdiri di samping Vimala.Bi Tina ikut bergabung.Burhan segera melangkah. “Ayo Robi.”“Iy
Tangis Vimala perlahan mulai mereda.Meski begitu, kedua matanya masih sembab.Zyandru belum langsung melepaskan pelukannya.Ia membiarkan istrinya mengatur napas lebih dulu.Zyandru memang begitu, hatinya lembut.Terlepas cinta atau tidak dan pernikahan ini untuk sementara atau selamanya, dia merasa prihatin dengan kondisi Vimala yang menikah tanpa dihadiri kedua orang tuanya.Barulah setelah Vimala mengangguk pelan, pria itu mengusap lembut sudut mata istrinya menggunakan ibu jari. “Sudah nangisnya?”Vimala mengangguk kecil. “Iya….” Kepalanya menunduk.“Yakiiin?”“Iyaaaa.”“Tadi nangisnya jelek.” Zyandru menggoda Vimala.Refleks Vimala mendelik. “Apa sih, orang lagi sedih jugaaa….”“Nah gini donk.” Zyandru tersenyum tipis. “Baru aku percaya kalau kamu beneran sudah baikan.”Beberapa orang di sekitar mereka ikut tersenyum melihat tingkah pasangan pengantin baru itu.Penghulu kemudian kembali membuka suara.“Kalau begitu kita lanjutkan prosesi penyematan cincin.”Ghaza







