Share

Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari
Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari
Author: Starry Sky

Bab 1

Author: Starry Sky
"Jenny, apa Jeremy bikin kamu marah lagi?"

"Tenang, nanti dia pulang, pasti Ibu bantu kasih dia pelajaran!"

Meski berkata begitu, Ibu Tiana sama sekali tidak menganggapnya serius.

Bagaimanapun, aku sudah mengandung anak Jeremy. Kalau tidak menikah dengannya, siapa lagi yang mau?

Wanita ini sudah lama tahu soal Jeremy dan Wanda.

Diam-diam, Wanda bahkan sudah memanggilnya Ibu.

Bahkan lebih dulu daripada aku yang tunangan resmi.

Ibu Tiana merasa tidak ada yang salah. Pria mana sih yang tidak selingkuh?

Bisa dicintai dua wanita sekaligus, itu tandanya anaknya punya pesona.

Aku menggeleng pelan. "Nggak perlu, Bu. Dia dan Wanda itu cinta sejati, aku relakan mereka."

Ibu Tiana sama sekali tidak panik meski aku sudah tahu hubungan gelap Jeremy dan Wanda.

Dia tetap tersenyum dengan tenang padaku, mengira aku hanya sedang marah dan mencari sandaran.

"Jenny, kalau Jeremy lagi urusan kerja di luar, wajar kok kadang dia sekadar basa-basi."

"Kamu harusnya ngertiin kerja kerasnya. Jangan gara-gara hal kecil begini jadi ribut."

"Nggak lama lagi kamu jadi istri Jeremy. Posisi kamu nggak bakal tergoyahkan."

"Lagian, sekarang kamu sudah hamil. Kalau bukan sama dia, siapa lagi yang mau sama kamu?"

Ibu Tiara melirik perutku dengan mata menyipit, penuh ejekan.

Dia ingin menggunakan anak itu untuk mengancamku, tetapi dia tidak tahu anak itu sudah kugugurkan.

Sampai larut malam, aku masih sulit terlelap.

Setelah menghilang seminggu, Jeremy akhirnya kembali.

Seperti biasa, dia memelukku dengan lembut.

Detik berikutnya, jari manisku terasa dingin. "Ini cincin pernikahan yang khusus kupilih buat kamu. Suka?"

Cincin itu sangat indah, dengan berlian biru satu karat sebagai sentuhan akhir. Aku tahu harganya 560 juta.

Kalau aku tidak lebih dulu melihatnya di postingan Wanda, mungkin aku akan suka.

Di toko perhiasan mewah, Wanda mengenakan cincin di semua jarinya, lalu mengunggah fotonya untuk voting.

Cincin ini adalah yang paling sedikit mendapat suara.

Sedangkan cincin dengan voting terbanyak, seharga 20 miliar, adalah yang dipakaikan Jeremy sambil berlutut di depan Wanda.

Tanpa berkata apa-apa, aku melepas cincin itu dan melemparkannya ke samping.

"Yang Wanda aja nggak mau, malah kamu kasih ke aku. Baik banget ya."

Tubuh Jeremy menegang, nadanya langsung dingin.

"Ngapain sih kamu cemburu sama dia? Aku sama dia itu cuma akting aja."

Aku sontak mencibir. "Kamu kebanyakan mikir. Kalian mau ngapain juga terserah."

Jeremy tiba-tiba mendorongku, dan berkata dengan kesal, "Jenny, kamu perlu banget ya cari masalah sebelum kita nikah? Percaya nggak, aku batalin nih pernikahannya?"

Sebelum aku hamil, dia selalu menenangkanku dan menyayangiku, tidak pernah bicara padaku sekeras ini.

Namun, sejak aku hamil, dia jadi makin berani.

Dia sama saja seperti ibunya. Mereka pikir setelah aku punya anak, aku tidak akan bisa ke mana-mana, jadi mereka mulai mengancamku dengan pembatalan pernikahan.
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 8

    Aku terkejut. "Dia dulu suka marah-marah ya?"Rekan-rekan kerjaku langsung mengangguk cepat.Sepertinya reputasinya yang dingin dan menakutkan itu memang bukan tanpa alasan.Sepertinya sejak awal dia sudah punya niat terhadapku.Pada malam pertunangan itu, dia menyentuhku seolah-olah memperlakukan harta yang sangat berharga.Kami berdua larut dalam keintiman cukup lama.Pada akhirnya, aku lemas dalam pelukannya.Dia mencium keningku. "Untung aku menemukanmu, untung belum terlambat."Aku membalas ciumannya.Di sisinya, aku merasakan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Dengan hatinya yang hangat, dia perlahan mencairkan hatiku yang dulu dingin.Di dalam hati, aku juga berpikir, 'Untung belum terlambat.'Jeremy hanyalah sebuah kekacauan dalam hidupku.Sedangkan Candra perlahan memperbaiki diriku yang hancur akibat kekacauan itu.Jalan hidupku perlahan kembali ke arah yang benar.…Pada hari pernikahanku dengan Candra, Jeremy muncul.Dengan mata merah, dia langsung memaki Ca

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 7

    Jeremy pergi dengan gusar.Kurasa dia tidak akan datang lagi.Setelah Jeremy pergi, aku masih terkulai lemas di pelukan Candra.Tatapan Candra dalam, ada sesuatu yang tertahan di matanya. "Jenny, kamu harus tanggung jawab sama aku."Wajahku sudah memerah seperti terbakar.Mendengar kata-katanya, aku sempat tidak mengerti."Apa?"Candra melanjutkan, "Apa sih yang kurang dariku dibanding Jeremy?""Aku nggak setampan dia?"Aku menatap wajahnya yang tampan bak karya seni, lalu menggeleng."Apa aku nggak sekaya dia?"Asetnya mencapai ratusan triliun, jelas jauh lebih kaya dari Jeremy.Aku menggeleng cepat seperti mainan."Terus, kenapa kamu nggak suka sama aku?"Kepalaku yang tadi menggeleng kuat mendadak berhenti.Aku terpaku di tempat. Apa yang barusan dia katakan?Suka? Dia tanya kenapa aku tidak menyukainya?Belum sempat aku membuka mulut, Candra melanjutkan, "Aku lebih setia dari Jeremy, lebih tahu cara memperlakukan pasangan."Dia berhenti sejenak, lalu menatapku dengan serius. "Aku s

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 6

    Singkatnya, bosku sebenarnya orang yang cukup baik.Setidaknya, dia termasuk salah satu atasan langka yang tahu memperhatikan kesehatan fisik dan mental karyawan.Hanya saja, dia tidak terlalu suka tersenyum.Sampai ....Hari itu, aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia memarahi seorang karyawan habis-habisan di kantor.Yah .…Kupikir, pasti karyawan itu melakukan sesuatu yang benar-benar tidak bisa dimaafkan.Tanpa kusadari, aku sudah menjadi tulang punggung andal yang mampu berdiri sendiri.Karierku berkembang pesat, dan aku tidak pernah lagi memikirkan Jeremy.Seolah-olah masa kelam itu tidak pernah ada.Sampai suatu hari, entah dari mana Jeremy mendapatkan kabarku.Dia bahkan datang ke perusahaan."Jenny, selama tiga tahun ini kamu ke mana? Aku terus cari kamu.""Aku sudah berubah. Aku sudah usir Wanda.""Ibu juga kangen banget sama kamu. Ikut aku pulang, kita mulai lagi dari awal, ya?"Rekan-rekan kerja yang tidak tahu apa-apa langsung berkumpul menonton.Melihat oran

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 5

    "Apa?"Jeremy langsung tertegun, wajahnya tampak sangat tidak percaya.Dengan suara gemetar dia bertanya, "Jenny, kamu bohong, 'kan?""Anak kita masih baik-baik aja, 'kan?"Dia mendekat dengan panik, ingin menarik tanganku untuk memastikan.Tanpa ragu, aku mundur selangkah. "Aku nggak bohong.""Kamu harusnya paham, sejak kamu punya wanita lain di luar, hubungan kita sudah selesai."Setelah mendengar ucapanku, mata Wanda berkilat senang.Anakku sudah tidak ada, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya menikah dengan Jeremy.Aku tidak ingin terus terlibat dengan mereka berdua, jadi aku berbalik dan hendak pergi.Namun, Jeremy tiba-tiba menarik tanganku dari belakang, matanya memerah, seolah-olah menahan amarah."Jenny, kamu begini, apa ada gunanya?""Pakai keguguran buat bikin aku kasihan?""Hari ini kalau kamu nggak minta maaf ke Wanda, jangan harap bisa pergi."Aku mencibir. Pria ini benar-benar membela kesayangannya!Aku mengeluarkan lembar hasil operasi dan melemparkannya ke wajah pri

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 4

    Jeremy merasa heran, kali ini dia tidak bisa lagi mempengaruhiku.Dia mulai panik, memutar tubuhku, lalu menciumku dengan kasar.Aku mendorongnya kuat-kuat, lalu berkata dengan dingin, "Jeremy, barusan mesra dengan Wanda, masih sempat ganggu aku? Kamu benar-benar memuakkan."Kebohongannya terbongkar, Jeremy langsung marah. "Jenny, aku sudah mau bujuk kamu, jangan nggak tahu diri!""Kamu itu istriku, ya harus lakukan kewajiban sebagai istri!"Dia menindihku, lalu dengan kasar merobek pakaianku.Perut bagian bawahku terasa sakit menusuk, aku melawan sekuat tenaga, tapi Jeremy malah menamparku dengan keras.Sakit di wajahku bahkan tidak sebanding dengan nyeri di perutku.Aku gemetar kesakitan, tubuhku meringkuk.Melihatku berkeringat dingin karena sakit, Jeremy langsung tersadar.Ekspresinya rumit, berubah beberapa kali, lalu akhirnya dia meninggalkanku begitu saja.Aku menahan sakit sendirian sepanjang malam. Jeremy tidak kembali menengokku sama sekali.Hatiku benar-benar mati, bahkan se

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 3

    Kalau aku pergi mencarinya untuk ribut, dia jadi punya alasan untuk membujukku.Masalah ini pun dianggap selesai.Tapi sekarang, dikelilingi gosip, hatiku sama sekali tidak terusik.Aku diam-diam mengetik "surat pengunduran diri" di komputer.Kali ini, karena aku mengambil cuti, seluruh rekan satu departemen ikut kehilangan jatah libur.Atasan memang sudah tidak suka padaku. Jadi, setelah aku menyerahkan surat pengunduran diri, dia langsung menandatanganinya tanpa ragu.Setelah urusan selesai, aku membereskan barang-barang dan bersiap meninggalkan perusahaan.Namun, baru saja sampai di pintu, aku mendengar resepsionis dengan bersemangat menelepon keluarganya."Pak Jeremy di perusahaan kami lusa mau bikin pesta ulang tahun buat Bu Wanda, penyiar itu. Semua karyawan diliburkan!"Langkahku langsung terhenti.Hari itu adalah tanggal pernikahan yang dulu kami tentukan....Malam harinya, saat aku baru saja berbaring di tempat tidur.Jeremy pulang. Tubuhnya penuh bau alkohol, dan dalam peluk

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status