共有

Bab 4

作者: Starry Sky
Jeremy merasa heran, kali ini dia tidak bisa lagi mempengaruhiku.

Dia mulai panik, memutar tubuhku, lalu menciumku dengan kasar.

Aku mendorongnya kuat-kuat, lalu berkata dengan dingin, "Jeremy, barusan mesra dengan Wanda, masih sempat ganggu aku? Kamu benar-benar memuakkan."

Kebohongannya terbongkar, Jeremy langsung marah. "Jenny, aku sudah mau bujuk kamu, jangan nggak tahu diri!"

"Kamu itu istriku, ya harus lakukan kewajiban sebagai istri!"

Dia menindihku, lalu dengan kasar merobek pakaianku.

Perut bagian bawahku terasa sakit menusuk, aku melawan sekuat tenaga, tapi Jeremy malah menamparku dengan keras.

Sakit di wajahku bahkan tidak sebanding dengan nyeri di perutku.

Aku gemetar kesakitan, tubuhku meringkuk.

Melihatku berkeringat dingin karena sakit, Jeremy langsung tersadar.

Ekspresinya rumit, berubah beberapa kali, lalu akhirnya dia meninggalkanku begitu saja.

Aku menahan sakit sendirian sepanjang malam. Jeremy tidak kembali menengokku sama sekali.

Hatiku benar-benar mati, bahkan sedikit rasa bersalah karena menggugurkan kandungan pun lenyap.

Aku bersiap pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi. Tiket pun sudah kubeli.

Namun, sebelum pergi, urusanku dengan Jeremy harus diselesaikan.

Aku mengirim lokasi pada Jeremy, yaitu kafe tempat kami pertama kali bertemu.

Dari situ semuanya dimulai, di situ juga semuanya harus berakhir.

Namun, tidak disangka, yang datang bukan Jeremy, Wanda malah muncul tanpa diundang.

Saat dia datang, suara hak tinggi mengentak lantai dengan keras.

Seluruh dirinya memancarkan energi muda.

Sementara aku, karena keguguran, wajahku pucat, seperti tiba-tiba menua belasan tahun.

Tanpa basa-basi, Wanda duduk, menyilangkan kaki, lalu menatapku dengan sinis.

"Jeremy nggak punya waktu buat ngurus kamu, kalau ada apa-apa bilang saja ke aku."

Aku mencibir. "Kamu?"

"Kenapa sama aku?" Wanda sengaja mengangkat tangannya, memperlihatkan cincin berlian pemberian Jeremy. "Sebentar lagi aku bakal gantikan kamu jadi istri Jeremy."

"Sebagai istri, aku harus bantu meringankan bebannya, menyelesaikan hal-hal yang bikin dia kesal, termasuk orang."

Dia mengangkat alis padaku. "Jenny, aku menang."

Kalau begitu, aku juga tidak perlu banyak bicara lagi. Aku berdiri dan tersenyum tipis. "Kalau begitu, semoga kalian bahagia."

Melihat aku sama sekali tidak peduli, wajah Wanda langsung berubah.

Dia meraih kopi di meja dan menyiramkannya ke arahku.

Aku bereaksi cepat dan berhasil menghindar.

Gagal menyiramku, dia mencoba mendorongku, tapi langsung kubalas dengan tamparan.

Tadi dia masih galak ingin menyerangku.

Namun, baru maju dua langkah, dia malah menutupi wajahnya dan mulai menangis.

Tidak lama kemudian, Jeremy muncul dari belakangku.

Pantas saja Wanda tiba-tiba bersikap begitu, ternyata mau berpura-pura lemah.

Wajah Jeremy tampak muram. Dengan hati-hati, dia memeluk Wanda, lalu berkata dengan dingin padaku, "Minta maaf ke Wanda."

"Kenapa?"

"Kalau kamu terus kayak gini, percaya nggak, aku batalkan pernikahan kita!"

"Bagus! Aku memang suruh kamu datang hari ini buat ngomong soal ini! Pernikahan ini batal!"

Jeremy tertegun, lalu mengusap keningnya dengan tidak sabar.

"Kamu lagi ngambek apa?"

"Jangan kira karena kamu hamil anakku, kamu bisa seenaknya. Kesabaranku ada batasnya, aku nggak bakal terus manjain kamu."

Aku mencibir. "Anaknya udah kugugurin. Aku juga nggak butuh kamu manjain lagi."
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 8

    Aku terkejut. "Dia dulu suka marah-marah ya?"Rekan-rekan kerjaku langsung mengangguk cepat.Sepertinya reputasinya yang dingin dan menakutkan itu memang bukan tanpa alasan.Sepertinya sejak awal dia sudah punya niat terhadapku.Pada malam pertunangan itu, dia menyentuhku seolah-olah memperlakukan harta yang sangat berharga.Kami berdua larut dalam keintiman cukup lama.Pada akhirnya, aku lemas dalam pelukannya.Dia mencium keningku. "Untung aku menemukanmu, untung belum terlambat."Aku membalas ciumannya.Di sisinya, aku merasakan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Dengan hatinya yang hangat, dia perlahan mencairkan hatiku yang dulu dingin.Di dalam hati, aku juga berpikir, 'Untung belum terlambat.'Jeremy hanyalah sebuah kekacauan dalam hidupku.Sedangkan Candra perlahan memperbaiki diriku yang hancur akibat kekacauan itu.Jalan hidupku perlahan kembali ke arah yang benar.…Pada hari pernikahanku dengan Candra, Jeremy muncul.Dengan mata merah, dia langsung memaki Ca

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 7

    Jeremy pergi dengan gusar.Kurasa dia tidak akan datang lagi.Setelah Jeremy pergi, aku masih terkulai lemas di pelukan Candra.Tatapan Candra dalam, ada sesuatu yang tertahan di matanya. "Jenny, kamu harus tanggung jawab sama aku."Wajahku sudah memerah seperti terbakar.Mendengar kata-katanya, aku sempat tidak mengerti."Apa?"Candra melanjutkan, "Apa sih yang kurang dariku dibanding Jeremy?""Aku nggak setampan dia?"Aku menatap wajahnya yang tampan bak karya seni, lalu menggeleng."Apa aku nggak sekaya dia?"Asetnya mencapai ratusan triliun, jelas jauh lebih kaya dari Jeremy.Aku menggeleng cepat seperti mainan."Terus, kenapa kamu nggak suka sama aku?"Kepalaku yang tadi menggeleng kuat mendadak berhenti.Aku terpaku di tempat. Apa yang barusan dia katakan?Suka? Dia tanya kenapa aku tidak menyukainya?Belum sempat aku membuka mulut, Candra melanjutkan, "Aku lebih setia dari Jeremy, lebih tahu cara memperlakukan pasangan."Dia berhenti sejenak, lalu menatapku dengan serius. "Aku s

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 6

    Singkatnya, bosku sebenarnya orang yang cukup baik.Setidaknya, dia termasuk salah satu atasan langka yang tahu memperhatikan kesehatan fisik dan mental karyawan.Hanya saja, dia tidak terlalu suka tersenyum.Sampai ....Hari itu, aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia memarahi seorang karyawan habis-habisan di kantor.Yah .…Kupikir, pasti karyawan itu melakukan sesuatu yang benar-benar tidak bisa dimaafkan.Tanpa kusadari, aku sudah menjadi tulang punggung andal yang mampu berdiri sendiri.Karierku berkembang pesat, dan aku tidak pernah lagi memikirkan Jeremy.Seolah-olah masa kelam itu tidak pernah ada.Sampai suatu hari, entah dari mana Jeremy mendapatkan kabarku.Dia bahkan datang ke perusahaan."Jenny, selama tiga tahun ini kamu ke mana? Aku terus cari kamu.""Aku sudah berubah. Aku sudah usir Wanda.""Ibu juga kangen banget sama kamu. Ikut aku pulang, kita mulai lagi dari awal, ya?"Rekan-rekan kerja yang tidak tahu apa-apa langsung berkumpul menonton.Melihat oran

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 5

    "Apa?"Jeremy langsung tertegun, wajahnya tampak sangat tidak percaya.Dengan suara gemetar dia bertanya, "Jenny, kamu bohong, 'kan?""Anak kita masih baik-baik aja, 'kan?"Dia mendekat dengan panik, ingin menarik tanganku untuk memastikan.Tanpa ragu, aku mundur selangkah. "Aku nggak bohong.""Kamu harusnya paham, sejak kamu punya wanita lain di luar, hubungan kita sudah selesai."Setelah mendengar ucapanku, mata Wanda berkilat senang.Anakku sudah tidak ada, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya menikah dengan Jeremy.Aku tidak ingin terus terlibat dengan mereka berdua, jadi aku berbalik dan hendak pergi.Namun, Jeremy tiba-tiba menarik tanganku dari belakang, matanya memerah, seolah-olah menahan amarah."Jenny, kamu begini, apa ada gunanya?""Pakai keguguran buat bikin aku kasihan?""Hari ini kalau kamu nggak minta maaf ke Wanda, jangan harap bisa pergi."Aku mencibir. Pria ini benar-benar membela kesayangannya!Aku mengeluarkan lembar hasil operasi dan melemparkannya ke wajah pri

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 4

    Jeremy merasa heran, kali ini dia tidak bisa lagi mempengaruhiku.Dia mulai panik, memutar tubuhku, lalu menciumku dengan kasar.Aku mendorongnya kuat-kuat, lalu berkata dengan dingin, "Jeremy, barusan mesra dengan Wanda, masih sempat ganggu aku? Kamu benar-benar memuakkan."Kebohongannya terbongkar, Jeremy langsung marah. "Jenny, aku sudah mau bujuk kamu, jangan nggak tahu diri!""Kamu itu istriku, ya harus lakukan kewajiban sebagai istri!"Dia menindihku, lalu dengan kasar merobek pakaianku.Perut bagian bawahku terasa sakit menusuk, aku melawan sekuat tenaga, tapi Jeremy malah menamparku dengan keras.Sakit di wajahku bahkan tidak sebanding dengan nyeri di perutku.Aku gemetar kesakitan, tubuhku meringkuk.Melihatku berkeringat dingin karena sakit, Jeremy langsung tersadar.Ekspresinya rumit, berubah beberapa kali, lalu akhirnya dia meninggalkanku begitu saja.Aku menahan sakit sendirian sepanjang malam. Jeremy tidak kembali menengokku sama sekali.Hatiku benar-benar mati, bahkan se

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 3

    Kalau aku pergi mencarinya untuk ribut, dia jadi punya alasan untuk membujukku.Masalah ini pun dianggap selesai.Tapi sekarang, dikelilingi gosip, hatiku sama sekali tidak terusik.Aku diam-diam mengetik "surat pengunduran diri" di komputer.Kali ini, karena aku mengambil cuti, seluruh rekan satu departemen ikut kehilangan jatah libur.Atasan memang sudah tidak suka padaku. Jadi, setelah aku menyerahkan surat pengunduran diri, dia langsung menandatanganinya tanpa ragu.Setelah urusan selesai, aku membereskan barang-barang dan bersiap meninggalkan perusahaan.Namun, baru saja sampai di pintu, aku mendengar resepsionis dengan bersemangat menelepon keluarganya."Pak Jeremy di perusahaan kami lusa mau bikin pesta ulang tahun buat Bu Wanda, penyiar itu. Semua karyawan diliburkan!"Langkahku langsung terhenti.Hari itu adalah tanggal pernikahan yang dulu kami tentukan....Malam harinya, saat aku baru saja berbaring di tempat tidur.Jeremy pulang. Tubuhnya penuh bau alkohol, dan dalam peluk

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status