Share

Bab 3

Author: Starry Sky
Kalau aku pergi mencarinya untuk ribut, dia jadi punya alasan untuk membujukku.

Masalah ini pun dianggap selesai.

Tapi sekarang, dikelilingi gosip, hatiku sama sekali tidak terusik.

Aku diam-diam mengetik "surat pengunduran diri" di komputer.

Kali ini, karena aku mengambil cuti, seluruh rekan satu departemen ikut kehilangan jatah libur.

Atasan memang sudah tidak suka padaku. Jadi, setelah aku menyerahkan surat pengunduran diri, dia langsung menandatanganinya tanpa ragu.

Setelah urusan selesai, aku membereskan barang-barang dan bersiap meninggalkan perusahaan.

Namun, baru saja sampai di pintu, aku mendengar resepsionis dengan bersemangat menelepon keluarganya.

"Pak Jeremy di perusahaan kami lusa mau bikin pesta ulang tahun buat Bu Wanda, penyiar itu. Semua karyawan diliburkan!"

Langkahku langsung terhenti.

Hari itu adalah tanggal pernikahan yang dulu kami tentukan.

...

Malam harinya, saat aku baru saja berbaring di tempat tidur.

Jeremy pulang. Tubuhnya penuh bau alkohol, dan dalam pelukannya ada Wanda yang berpakaian seksi.

"Keluar! Malam ini, Wanda mau tidur di sini."

Suara Jeremy dingin, seperti sedang memerintah seorang pembantu.

Wanda bersandar di pelukannya, menatapku dengan penuh tantangan.

"Jeremy, ini 'kan ranjang pernikahan kalian, masa gara-gara aku Nona Jenny jadi diusir?"

"Atau, biarin Nona Jenny tetap di sini aja. Kalau aku ada kurangnya, bisa sekalian belajar sama dia."

Jeremy mengangkat alis dan tersenyum licik, tangannya meremas pinggul Wanda dengan kasar.

"Dia membosankan banget di ranjang, kayak kayu. Nggak seperti kamu, selembut air. Buat apa belajar dari dia?"

Aku berdiri dengan marah, tubuhku gemetar tak terkendali.

Di hadapanku, Jeremy terasa begitu asing hingga membuatku muak.

Namun, dia justru menatapku dengan penuh minat, seolah-olah menantikan reaksiku.

Wanda mengejekku, "Nona Jenny, sebagai perempuan, kamu nggak bisa memuaskan cowok kamu sendiri. Jangan salahkan kalau dia nyari orang lain buat senang-senang."

Dia melirik piamaku, lalu mengerutkan kening dengan wajah jijik.

"Selera pakaianmu aja kuno banget, nggak ada pesona wanita sama sekali. Pantas aja Jeremy jijik sama kamu."

Itu adalah piama hamil yang dulu dibelikan Jeremy karena takut pakaian tidurku menekan bayi.

Jeremy tersenyum, mencubit dagu Wanda, lalu menunduk menciumnya dengan penuh sayang.

"Sudah, mulutmu kok tajam banget sih?"

"Yang jelas, Jenny lagi hamil anakku."

"Nanti kulihat bagaimana aku 'mengurusmu'."

Keduanya seperti api dan kayu kering, yang sekali bersentuhan langsung menyala. Tanpa peduli, mereka melakukan adegan memalukan di depanku.

Perutku langsung mual, dan aku segera pindah ke kamar tamu.

Terpisah satu dinding, suara napas mereka terdengar naik turun tanpa henti ….

Dengan gelisah, aku menutup telinga, dan tanpa sadar tertidur.

Tengah malam, saat aku masih terlelap, Jeremy tiba-tiba memelukku dari belakang.

"Jenny, aku sama wanita lain, kamu masih bisa tidur? Kamu nggak cemburu?"

Nada suaranya bahkan terdengar agak kecewa.

Aku melepaskan diri dari pelukannya, merasa geli dan jijik.

Jeremy segera membujukku, "Jenny, kita jangan bertengkar lagi, ya?"

"Orang yang kucintai itu selalu kamu."

"Akhir-akhir ini kamu terus abaikan aku. Aku nggak punya pilihan, dan cuma bisa pakai Wanda buat bikin kamu cemburu."

"Aku kangen banget sama kamu .…"

Jeremy berbisik di telingaku, kata-kata manis mengalir, tangannya perlahan merambat di tubuhku, dengan lihai mencoba membangkitkan gairahku.

Dulu, dia selalu bisa menenangkanku dengan kelembutan seperti ini. Kali ini pun, dia yakin akan berhasil.

Namun saat ini, rasa kosong dan nyeri di perut bagian bawahku mengingatkan aku.

Semua kelembutannya hanyalah kepalsuan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 8

    Aku terkejut. "Dia dulu suka marah-marah ya?"Rekan-rekan kerjaku langsung mengangguk cepat.Sepertinya reputasinya yang dingin dan menakutkan itu memang bukan tanpa alasan.Sepertinya sejak awal dia sudah punya niat terhadapku.Pada malam pertunangan itu, dia menyentuhku seolah-olah memperlakukan harta yang sangat berharga.Kami berdua larut dalam keintiman cukup lama.Pada akhirnya, aku lemas dalam pelukannya.Dia mencium keningku. "Untung aku menemukanmu, untung belum terlambat."Aku membalas ciumannya.Di sisinya, aku merasakan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Dengan hatinya yang hangat, dia perlahan mencairkan hatiku yang dulu dingin.Di dalam hati, aku juga berpikir, 'Untung belum terlambat.'Jeremy hanyalah sebuah kekacauan dalam hidupku.Sedangkan Candra perlahan memperbaiki diriku yang hancur akibat kekacauan itu.Jalan hidupku perlahan kembali ke arah yang benar.…Pada hari pernikahanku dengan Candra, Jeremy muncul.Dengan mata merah, dia langsung memaki Ca

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 7

    Jeremy pergi dengan gusar.Kurasa dia tidak akan datang lagi.Setelah Jeremy pergi, aku masih terkulai lemas di pelukan Candra.Tatapan Candra dalam, ada sesuatu yang tertahan di matanya. "Jenny, kamu harus tanggung jawab sama aku."Wajahku sudah memerah seperti terbakar.Mendengar kata-katanya, aku sempat tidak mengerti."Apa?"Candra melanjutkan, "Apa sih yang kurang dariku dibanding Jeremy?""Aku nggak setampan dia?"Aku menatap wajahnya yang tampan bak karya seni, lalu menggeleng."Apa aku nggak sekaya dia?"Asetnya mencapai ratusan triliun, jelas jauh lebih kaya dari Jeremy.Aku menggeleng cepat seperti mainan."Terus, kenapa kamu nggak suka sama aku?"Kepalaku yang tadi menggeleng kuat mendadak berhenti.Aku terpaku di tempat. Apa yang barusan dia katakan?Suka? Dia tanya kenapa aku tidak menyukainya?Belum sempat aku membuka mulut, Candra melanjutkan, "Aku lebih setia dari Jeremy, lebih tahu cara memperlakukan pasangan."Dia berhenti sejenak, lalu menatapku dengan serius. "Aku s

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 6

    Singkatnya, bosku sebenarnya orang yang cukup baik.Setidaknya, dia termasuk salah satu atasan langka yang tahu memperhatikan kesehatan fisik dan mental karyawan.Hanya saja, dia tidak terlalu suka tersenyum.Sampai ....Hari itu, aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia memarahi seorang karyawan habis-habisan di kantor.Yah .…Kupikir, pasti karyawan itu melakukan sesuatu yang benar-benar tidak bisa dimaafkan.Tanpa kusadari, aku sudah menjadi tulang punggung andal yang mampu berdiri sendiri.Karierku berkembang pesat, dan aku tidak pernah lagi memikirkan Jeremy.Seolah-olah masa kelam itu tidak pernah ada.Sampai suatu hari, entah dari mana Jeremy mendapatkan kabarku.Dia bahkan datang ke perusahaan."Jenny, selama tiga tahun ini kamu ke mana? Aku terus cari kamu.""Aku sudah berubah. Aku sudah usir Wanda.""Ibu juga kangen banget sama kamu. Ikut aku pulang, kita mulai lagi dari awal, ya?"Rekan-rekan kerja yang tidak tahu apa-apa langsung berkumpul menonton.Melihat oran

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 5

    "Apa?"Jeremy langsung tertegun, wajahnya tampak sangat tidak percaya.Dengan suara gemetar dia bertanya, "Jenny, kamu bohong, 'kan?""Anak kita masih baik-baik aja, 'kan?"Dia mendekat dengan panik, ingin menarik tanganku untuk memastikan.Tanpa ragu, aku mundur selangkah. "Aku nggak bohong.""Kamu harusnya paham, sejak kamu punya wanita lain di luar, hubungan kita sudah selesai."Setelah mendengar ucapanku, mata Wanda berkilat senang.Anakku sudah tidak ada, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya menikah dengan Jeremy.Aku tidak ingin terus terlibat dengan mereka berdua, jadi aku berbalik dan hendak pergi.Namun, Jeremy tiba-tiba menarik tanganku dari belakang, matanya memerah, seolah-olah menahan amarah."Jenny, kamu begini, apa ada gunanya?""Pakai keguguran buat bikin aku kasihan?""Hari ini kalau kamu nggak minta maaf ke Wanda, jangan harap bisa pergi."Aku mencibir. Pria ini benar-benar membela kesayangannya!Aku mengeluarkan lembar hasil operasi dan melemparkannya ke wajah pri

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 4

    Jeremy merasa heran, kali ini dia tidak bisa lagi mempengaruhiku.Dia mulai panik, memutar tubuhku, lalu menciumku dengan kasar.Aku mendorongnya kuat-kuat, lalu berkata dengan dingin, "Jeremy, barusan mesra dengan Wanda, masih sempat ganggu aku? Kamu benar-benar memuakkan."Kebohongannya terbongkar, Jeremy langsung marah. "Jenny, aku sudah mau bujuk kamu, jangan nggak tahu diri!""Kamu itu istriku, ya harus lakukan kewajiban sebagai istri!"Dia menindihku, lalu dengan kasar merobek pakaianku.Perut bagian bawahku terasa sakit menusuk, aku melawan sekuat tenaga, tapi Jeremy malah menamparku dengan keras.Sakit di wajahku bahkan tidak sebanding dengan nyeri di perutku.Aku gemetar kesakitan, tubuhku meringkuk.Melihatku berkeringat dingin karena sakit, Jeremy langsung tersadar.Ekspresinya rumit, berubah beberapa kali, lalu akhirnya dia meninggalkanku begitu saja.Aku menahan sakit sendirian sepanjang malam. Jeremy tidak kembali menengokku sama sekali.Hatiku benar-benar mati, bahkan se

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 3

    Kalau aku pergi mencarinya untuk ribut, dia jadi punya alasan untuk membujukku.Masalah ini pun dianggap selesai.Tapi sekarang, dikelilingi gosip, hatiku sama sekali tidak terusik.Aku diam-diam mengetik "surat pengunduran diri" di komputer.Kali ini, karena aku mengambil cuti, seluruh rekan satu departemen ikut kehilangan jatah libur.Atasan memang sudah tidak suka padaku. Jadi, setelah aku menyerahkan surat pengunduran diri, dia langsung menandatanganinya tanpa ragu.Setelah urusan selesai, aku membereskan barang-barang dan bersiap meninggalkan perusahaan.Namun, baru saja sampai di pintu, aku mendengar resepsionis dengan bersemangat menelepon keluarganya."Pak Jeremy di perusahaan kami lusa mau bikin pesta ulang tahun buat Bu Wanda, penyiar itu. Semua karyawan diliburkan!"Langkahku langsung terhenti.Hari itu adalah tanggal pernikahan yang dulu kami tentukan....Malam harinya, saat aku baru saja berbaring di tempat tidur.Jeremy pulang. Tubuhnya penuh bau alkohol, dan dalam peluk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status