Share

Bab 2

Penulis: Starry Sky
Aku baru saja hendak berterus terang padanya, tetapi dia malah membanting pintu dan pergi dengan marah.

Keesokan paginya, aroma gurih sup ayam memenuhi seluruh ruangan.

Aku baru tahu setelah turun ke lantai bawah, ternyata Jeremy untuk pertama kalinya memasak sup ayam sendiri.

Ketika melihatku keluar, ada kilatan harap di matanya.

Dulu, setiap kali dia membuatku marah, dia akan melakukan hal kecil untuk membujukku.

Dan setiap kali itu pula aku akan luluh dan memaafkannya.

Hal ini terlalu sering terjadi, hingga dia mengira aku tidak bisa hidup tanpa dirinya.

Namun, kali ini, aku tidak akan luluh lagi.

Melihat aku tidak berkata apa-apa, ekspresi Jeremy agak berubah. Lalu, dia berbalik dan menuangkan sup ayam yang sudah jadi ke dalam kotak makan termos.

Saat melewatiku untuk keluar, dia sengaja berkata, "Wanda nggak suka sarapan. Tapi, dia pasti suka sama sup ayam yang kubuat."

Dia mengira dengan begitu aku akan cemburu dan kehilangan kendali, hingga mau tak mau tunduk padanya.

Di titik ini, bagaimana bisa dia masih mengira aku sedang bersaing memperebutkan perhatiannya?

Aku tiba-tiba merasa semua ini konyol.

Selama bertahun-tahun, aku ternyata bisa begitu terikat pada Jeremy yang seperti ini.

Aku sadar terlalu terlambat.

Namun setidaknya, aku sudah tersadar.

Setelah keguguran, dokter mengatakan aku perlu beristirahat dengan tenang, jadi aku mengambil cuti dari kantor.

Namun, keesokan harinya, atasanku justru menelepon.

"Jenny, sekarang juga kembali ke kantor!"

"Barusan Pak Jeremy datang inspeksi ke departemen kita, dan dia nggak puas karena ada yang absen!"

"Pak Jeremy ngamuk parah sampai cuti seluruh karyawan di departemen kita dibatalin!"

"Kalau kejadian ini terulang lagi, percaya nggak, aku bakal pecat kamu!"

Dulu Jeremy mengatakan ingin bisa melihatku setiap hari, dan memohon agar aku bekerja di perusahaannya.

Aku menyetujuinya.

Dia juga mengatakan hubungan asmara di kantor tidak baik, jadi hubungan kami tidak pernah diumumkan.

Sekarang kupikir-pikir, aku benar-benar bodoh saat itu.

Dia memintaku bekerja di sini agar bisa mengendalikanku dengan lebih mudah.

Tidak mengumumkan hubungan kami agar lebih leluasa mendekati wanita lain.

"Nggak perlu kamu pecat, aku memang sudah berniat mengajukan pengunduran diri."

"Berkasnya nanti kukirim ke kantor. Jangan lupa ditandatangani ya."

Atasanku langsung marah. "Jenny, kamu pikir kamu itu siapa? Berani-beraninya menentang aku."

“Kalau hari ini kamu nggak datang, percaya nggak, urusan pengunduran dirimu bakal aku tahan sampai setahun?"

Tidak ada pilihan, demi bisa segera lepas.

Aku hanya bisa memaksakan diri kembali ke kantor dengan kondisi tubuh yang lemah.

Begitu sampai di kantor, aku langsung diseret oleh atasan dan dimarahi habis-habisan.

Saat keluar, aku mendengar beberapa gadis sedang asyik bergosip tentang Jeremy.

"Kalian sudah dengar belum?"

"Pak Jeremy dan Bu Wanda, penyiar itu, sudah resmi mengumumkan hubungan mereka!"

"Bu Wanda penyiar yang mana?"

"Wanda Jiwanto, yang akhir-akhir ini lagi populer itu!"

"Ah, masa sih?"

"Ini gosip valid!"

"Kalian nggak lihat sih. Kemarin aku lihat sendiri di basement, Pak Jeremy sama Bu Wanda ciuman panas!"

"Setelah mereka masuk mobil, nggak lama mobilnya sampai bergoyang-goyang!"

"Gila! Segitunya?"

"Nggak nyangka Pak Jeremy yang biasanya dingin punya sisi kayak gitu!"

Semua orang pun terkejut.

"Iya, kalian nggak sadar? Belakangan ini, Bu Wanda sering bolak-balik ke kantor Pak Jeremy."

"Selain itu, cincin berlian yang dia pakai itu 'kan hadiah lamaran dari Pak Jeremy."

"Mereka juga pernah gandengan di depan umum. Sepertinya bakal diumumkan resmi."

"Benar, aku juga dengar Pak Jeremy kayaknya mau menikah, jangan-jangan dengan Bu Wanda?”

"Kalau dilihat-lihat, sepertinya hampir pasti!"

"Pantas saja minggu lalu Pak Jeremy khusus ngajak Bu Wanda ke luar negeri untuk perjalanan dinas, kemungkinan besar sekalian bulan madu lebih awal."

"Ih, iri banget!"

……

Gosip di kantor menyebar ke mana-mana. Aku tahu Jeremy sengaja menyuruh atasan memanggilku kembali ke kantor, hanya agar aku mendengar semua ini, lalu merasa cemburu dan marah.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 8

    Aku terkejut. "Dia dulu suka marah-marah ya?"Rekan-rekan kerjaku langsung mengangguk cepat.Sepertinya reputasinya yang dingin dan menakutkan itu memang bukan tanpa alasan.Sepertinya sejak awal dia sudah punya niat terhadapku.Pada malam pertunangan itu, dia menyentuhku seolah-olah memperlakukan harta yang sangat berharga.Kami berdua larut dalam keintiman cukup lama.Pada akhirnya, aku lemas dalam pelukannya.Dia mencium keningku. "Untung aku menemukanmu, untung belum terlambat."Aku membalas ciumannya.Di sisinya, aku merasakan kehangatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya.Dengan hatinya yang hangat, dia perlahan mencairkan hatiku yang dulu dingin.Di dalam hati, aku juga berpikir, 'Untung belum terlambat.'Jeremy hanyalah sebuah kekacauan dalam hidupku.Sedangkan Candra perlahan memperbaiki diriku yang hancur akibat kekacauan itu.Jalan hidupku perlahan kembali ke arah yang benar.…Pada hari pernikahanku dengan Candra, Jeremy muncul.Dengan mata merah, dia langsung memaki Ca

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 7

    Jeremy pergi dengan gusar.Kurasa dia tidak akan datang lagi.Setelah Jeremy pergi, aku masih terkulai lemas di pelukan Candra.Tatapan Candra dalam, ada sesuatu yang tertahan di matanya. "Jenny, kamu harus tanggung jawab sama aku."Wajahku sudah memerah seperti terbakar.Mendengar kata-katanya, aku sempat tidak mengerti."Apa?"Candra melanjutkan, "Apa sih yang kurang dariku dibanding Jeremy?""Aku nggak setampan dia?"Aku menatap wajahnya yang tampan bak karya seni, lalu menggeleng."Apa aku nggak sekaya dia?"Asetnya mencapai ratusan triliun, jelas jauh lebih kaya dari Jeremy.Aku menggeleng cepat seperti mainan."Terus, kenapa kamu nggak suka sama aku?"Kepalaku yang tadi menggeleng kuat mendadak berhenti.Aku terpaku di tempat. Apa yang barusan dia katakan?Suka? Dia tanya kenapa aku tidak menyukainya?Belum sempat aku membuka mulut, Candra melanjutkan, "Aku lebih setia dari Jeremy, lebih tahu cara memperlakukan pasangan."Dia berhenti sejenak, lalu menatapku dengan serius. "Aku s

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 6

    Singkatnya, bosku sebenarnya orang yang cukup baik.Setidaknya, dia termasuk salah satu atasan langka yang tahu memperhatikan kesehatan fisik dan mental karyawan.Hanya saja, dia tidak terlalu suka tersenyum.Sampai ....Hari itu, aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana dia memarahi seorang karyawan habis-habisan di kantor.Yah .…Kupikir, pasti karyawan itu melakukan sesuatu yang benar-benar tidak bisa dimaafkan.Tanpa kusadari, aku sudah menjadi tulang punggung andal yang mampu berdiri sendiri.Karierku berkembang pesat, dan aku tidak pernah lagi memikirkan Jeremy.Seolah-olah masa kelam itu tidak pernah ada.Sampai suatu hari, entah dari mana Jeremy mendapatkan kabarku.Dia bahkan datang ke perusahaan."Jenny, selama tiga tahun ini kamu ke mana? Aku terus cari kamu.""Aku sudah berubah. Aku sudah usir Wanda.""Ibu juga kangen banget sama kamu. Ikut aku pulang, kita mulai lagi dari awal, ya?"Rekan-rekan kerja yang tidak tahu apa-apa langsung berkumpul menonton.Melihat oran

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 5

    "Apa?"Jeremy langsung tertegun, wajahnya tampak sangat tidak percaya.Dengan suara gemetar dia bertanya, "Jenny, kamu bohong, 'kan?""Anak kita masih baik-baik aja, 'kan?"Dia mendekat dengan panik, ingin menarik tanganku untuk memastikan.Tanpa ragu, aku mundur selangkah. "Aku nggak bohong.""Kamu harusnya paham, sejak kamu punya wanita lain di luar, hubungan kita sudah selesai."Setelah mendengar ucapanku, mata Wanda berkilat senang.Anakku sudah tidak ada, tidak ada lagi yang bisa menghalanginya menikah dengan Jeremy.Aku tidak ingin terus terlibat dengan mereka berdua, jadi aku berbalik dan hendak pergi.Namun, Jeremy tiba-tiba menarik tanganku dari belakang, matanya memerah, seolah-olah menahan amarah."Jenny, kamu begini, apa ada gunanya?""Pakai keguguran buat bikin aku kasihan?""Hari ini kalau kamu nggak minta maaf ke Wanda, jangan harap bisa pergi."Aku mencibir. Pria ini benar-benar membela kesayangannya!Aku mengeluarkan lembar hasil operasi dan melemparkannya ke wajah pri

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 4

    Jeremy merasa heran, kali ini dia tidak bisa lagi mempengaruhiku.Dia mulai panik, memutar tubuhku, lalu menciumku dengan kasar.Aku mendorongnya kuat-kuat, lalu berkata dengan dingin, "Jeremy, barusan mesra dengan Wanda, masih sempat ganggu aku? Kamu benar-benar memuakkan."Kebohongannya terbongkar, Jeremy langsung marah. "Jenny, aku sudah mau bujuk kamu, jangan nggak tahu diri!""Kamu itu istriku, ya harus lakukan kewajiban sebagai istri!"Dia menindihku, lalu dengan kasar merobek pakaianku.Perut bagian bawahku terasa sakit menusuk, aku melawan sekuat tenaga, tapi Jeremy malah menamparku dengan keras.Sakit di wajahku bahkan tidak sebanding dengan nyeri di perutku.Aku gemetar kesakitan, tubuhku meringkuk.Melihatku berkeringat dingin karena sakit, Jeremy langsung tersadar.Ekspresinya rumit, berubah beberapa kali, lalu akhirnya dia meninggalkanku begitu saja.Aku menahan sakit sendirian sepanjang malam. Jeremy tidak kembali menengokku sama sekali.Hatiku benar-benar mati, bahkan se

  • Tanpa Riuh Badai, Tanpa Hangat Mentari   Bab 3

    Kalau aku pergi mencarinya untuk ribut, dia jadi punya alasan untuk membujukku.Masalah ini pun dianggap selesai.Tapi sekarang, dikelilingi gosip, hatiku sama sekali tidak terusik.Aku diam-diam mengetik "surat pengunduran diri" di komputer.Kali ini, karena aku mengambil cuti, seluruh rekan satu departemen ikut kehilangan jatah libur.Atasan memang sudah tidak suka padaku. Jadi, setelah aku menyerahkan surat pengunduran diri, dia langsung menandatanganinya tanpa ragu.Setelah urusan selesai, aku membereskan barang-barang dan bersiap meninggalkan perusahaan.Namun, baru saja sampai di pintu, aku mendengar resepsionis dengan bersemangat menelepon keluarganya."Pak Jeremy di perusahaan kami lusa mau bikin pesta ulang tahun buat Bu Wanda, penyiar itu. Semua karyawan diliburkan!"Langkahku langsung terhenti.Hari itu adalah tanggal pernikahan yang dulu kami tentukan....Malam harinya, saat aku baru saja berbaring di tempat tidur.Jeremy pulang. Tubuhnya penuh bau alkohol, dan dalam peluk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status