Share

Bab 2

Author: Echo
Lima tahun yang lalu. Tiga bulan setelah pernikahan kami.

Yovan meletakkan kartu bank prioritas yang elegan di atas meja di depanku.

“Ini rekening bersama kita,” katanya sambil menggenggam tanganku. Ibu jarinya menyentuh cincin pernikahan kami. “Semua yang dimiliki Keluarga Murdaya, mulai hari ini, juga menjadi milikmu. Aku nggak ingin kau seperti istri-istri bos lainnya ... hanya sebagai pajangan atau pembuat bayi saja.”

Sorot matanya begitu tulus, penuh dengan janji manis.

“Kau itu ratuku, Tiara. Setiap inci kerajaan yang kubangun ini, semua untukmu.”

Aku ingat betapa terharunya aku saat itu sampai harus menahan air mata.

Sejak hari itu, setiap receh yang kuperoleh sendiri masuk ke rekening itu.

Kupikir kami sedang membangun masa depan bersama.

Sampai aku menemukan Yovan menggunakannya untuk menghujani Diana dengan hadiah.

Mulai dari gelang seharga delapan ratus juta hingga rumah mewah bernilai miliaran.

Aku pernah menegurnya sekali. Dia hanya menjawab dengan dingin, “Itu masih lebih sedikit dari yang kau habiskan di satu acara lelang. Kenapa kau pelit sekali?”

Lalu, terjadilah aksi diam sampai aku tak tahan lagi dengan sikap dinginnya dan menyerah.

Aku yakin delapan miliar itu juga untuk Diana.

Aku menarik napas dalam-dalam dan menelepon Yovan.

Tidak ada jawaban. Dia mungkin sedang bermesraan dengan Diana.

Aku tak mau membuang waktu sedetik pun. Aku pun segera menelepon pihak bank dan meminta mereka membekukan rekening tersebut.

Yovan jelas lupa bahwa aku juga adalah pemilik bersama kartu itu, dengan wewenang yang sama.

Kurang dari sepuluh menit kemudian, Yovan menelepon kembali.

“Tiara!” Suaranya tegang karena marah. “Apa yang kau lakukan?”

Dia sangat marah. “Aku baru saja melihat kau menelepon. Aku tadi sedang di balai lelang. Pembayaranku ditolak. Apa kau membekukan rekeningnya?”

“Iya,” kataku dengan tenang.

Ada jeda selama dua detik yang dipenuhi dengan rasa ketidakpercayaan.

“Kenapa?” Suaranya merendah, berat dan berbahaya. “Kau tahu betapa malunya aku? Seluruh orang di ruangan memperhatikan!”

“Aku berhak melakukan apa pun yang aku mau dengan hartaku,” kataku. Tawa dingin keluar dari bibirku. “Dan setidaknya, aku nggak akan menghabiskannya untuk orang-orang yang kubenci.”

“Tiara, apa kau sedang merajuk? Kau sungguh kekanakan!” bentaknya, suaranya meninggi sebelum dia tampak mengendalikan diri. “Dengar, aku tahu aku agak menjauh belakangan ini,” katanya. Suaranya melembut menjadi nada membujuk yang sudah terlatih. “Bagaimana kalau begini, setelah perjalanan ini, aku akan mengosongkan jadwalku, dan kita akan pergi ke Mayaferso? Hanya kita berdua. Bagaimana?”

Dia terdengar seperti sedang menenangkan anak kecil.

“Hanya kita berdua,” ulangnya, suaranya kembali tegas. “Jadi, buka blokirnya sekarang juga.”

“Bagaimana kalau aku menolak?”

Keheningan yang berat kembali menyelimuti udara.

Kemudian, suaranya berubah menjadi sedingin es. “Kalau begitu, kita akan bercerai.”

Perceraian.

Dia memainkan kartu andalannya lagi.

Selama bertahun-tahun, setiap kali kami bertengkar, setiap kali aku berani membela diri, dia akan melemparkan kata itu ke wajahku.

“Kalau terus begini, kita akan bercerai!”

“Kalau kau nggak patuh, aku akan menceraikanmu.”

Dan setiap kali, akulah yang mengalah.

Karena aku mencintainya.

Tetapi sekarang, aku sudah sadar. “Oke. Sesuai keinginanmu saja.”

Aku pun menutup telepon.

Aku punya hal yang lebih penting untuk dilakukan, yaitu menjalankan rencanaku.

Sebulan yang lalu, aku menyelipkan surat cerai ke dalam tumpukan tebal perjanjian pengalihan aset untuk ditandatangani Yovan.

Ironisnya, setelah lima tahun pengabdianku yang tak tergoyahkan, dia sangat memercayaiku dalam urusan administrasi sehingga dia akan menandatangani apa pun yang kuberikan tanpa ragu.

Sekarang, saatnya tiba.

“Meskipun Tuan Yovan sudah menandatanganinya ....” Pengacaraku menjelaskan, “Kita masih butuh konfirmasi lisan yang jelas dan terekam dari kedua belah pihak bahwa pernikahan ini sudah nggak dapat diperbaiki lagi. Pada dasarnya, Anda perlu membuatnya mengatakan bahwa dia ingin bercerai melalui telepon.”

Jadi, aku menelepon Yovan lagi. Dia mengangkat telepon pada dering pertama.

“Tiara, kau berani menutup teleponku?”

“Yovan,” kataku langsung ke intinya. “Tentang pernikahan kita ....”

“Apa kau tahu kalau kau sudah membuat Diana sangat kesal?” geramnya, memotong perkataanku. “Kalau kau nggak meminta maaf padanya sekarang juga, demi Tuhan, aku akan segera menceraikanmu.”

Aku bisa mendengar suara Diana yang penuh kepura-puraan dan seakan tersakiti sebagai latar belakang. “Yovan, nggak apa-apa …. Aku nggak keberatan asalkan Tiara nggak marah lagi .…”

Kemudian dia kembali berbicara, suaranya penuh dengan kesombongan. “Kau dengar itu? Diana bersedia mengalah, tapi kau harus minta maaf. Itu tawaran terakhirku.”

“Aku dengar,” kataku. “Terima kasih, Yovan.”

“Terima kasih untuk apa?” Dia terdengar bingung.

“Terima kasih karena telah mengucapkan kata ‘perceraian’.” Aku langsung menutup telepon.

Di hadapanku, pengacara mengangguk tajam. “Selesai. Dokumennya sudah lengkap. Mulai saat ini, perceraianmu sah secara hukum.”

Setelah menyelesaikan perceraian, aku melakukan satu hal terakhir, yaitu menjual rumah mewah yang telah kutinggali bersama Yovan selama lima tahun.

Untungnya, rumah itu atas namaku sehingga aku tidak perlu izinnya.

Setelah beberapa hari yang sibuk, akhirnya aku pulang untuk mengemasi beberapa barang terakhir, namun justru menemukan sesuatu yang bukan milikku di balik pintu.

Sepasang sepatu mewah. Sepatu hak tinggi hitam, solnya berwarna seperti darah segar.

Itu milik Diana.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 9

    Secercah harapan muncul di mata Yovan. Dia mencengkeram pergelangan tanganku lebih erat.“Tiara .…” Suaranya bergetar. “Kau ingat, itu artinya kau masih peduli.”Dia pikir aku memaafkannya.Dia pikir aku akan kembali.Sampai aku membuka kerah mantelku sendiri.Di tulang selangkaku, tempat seharusnya ada tato yang sama dengan miliknya, yang tersisa hanya kulit halus dan bersih serta bekas luka samar dan pucat, yang hampir tak terlihat di bawah cahaya lampu jalanan yang redup.Mata Yovan melebar karena ngeri.Wajahnya memucat. Dia tergagap, “Kau …. Kapan …. Kapan kau ....”Aku kemudian merapikan kembali kerah mantelku.“Pertama kali,” kataku dengan tenang, suaraku tanpa emosi. “Pertama kali kau membawa Diana ke rumah kita. Hatiku sudah mengambil keputusan saat itu.”“Keesokan harinya, aku pergi untuk menghapusnya.”“Menghapus tato dengan laser itu sangat menyakitkan, kau tahu?” kataku sambil menatap matanya yang hancur. “Tapi dibandingkan dengan rasa sakit saat melihatmu bersama wanita l

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 8

    Sudut Pandang Orang Ketiga.Ruang pertemuan Keluarga Murdaya dipenuhi asap rokok dan aura ketakutan. Para tetua dan pemimpin cabang duduk mengelilingi sebuah meja mahoni panjang, wajah mereka tampak muram.Yovan berdiri di ujung meja, dia tampak sepuluh tahun lebih tua daripada penampilannya sebulan yang lalu.“Batas waktu terakhir dari orang Irlanda itu adalah besok,” kata Marco, suaranya terdengar hampa. “Kita nggak punya cukup uang tunai untuk membayar mereka.”“Kecuali ....” Dia berhenti sejenak, dan menatap Yovan. “Kecuali kita menggunakan aset inti keluarga. Dana cadangan kita.”“Nggak boleh,” kata Yovan datar. “Kalau dana itu sampai habis, pondasi keluarga kita akan hilang. Kita akan tamat.”“Lalu apa rencananya, Yovan?” tanya salah satu pemimpin tertua dengan suaranya yang serak.Yovan terdiam selama beberapa detik.“Aku akan cari solusi.”“Solusi apa?” desak tetua lainnya sambil membanting tangannya di atas meja. “Saat ini, semua kelompok di Naeros sedang menertawakan kita. Me

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 7

    Yovan menggertakkan gigi, otaknya berupaya mencari jalan keluar. “Kapan aku pernah mengatakan itu?”Suaranya dipenuhi kepanikan yang tampak jelas.“Mustahil,” lanjutnya, penyangkalannya semakin membabi buta. “Mengundurkan diri dari keluarga adalah keputusan besar. Kenapa aku nggak dilibatkan?”“Pasti ada orang bodoh yang bertindak sendiri!” teriaknya pada Marco, suaranya bergetar. “Temukan bajingan yang memproses ini dan masukkan dia ke penjara! Siapa yang memberinya wewenang? Aku ingin dia dihukum! Keluarkan orang itu dari Keluarga Murdaya!”Aku memperhatikannya mengamuk, tahu bahwa itu semua hanyalah sandiwara putus asa, sebuah cara untuk mengalihkan kesalahan dan menggambarkan dirinya sebagai pihak yang dirugikan.Lalu dia menatapku, dengan tatapan penuh harap dan memohon di sorot matanya. “Tiara. Lihat? Aku akan membereskan bajingan itu.”“Itu salahnya. Dia nggak bisa menjelaskan situasinya kepadaku dengan benar.”“Bagaimana mungkin aku sampai nggak ingin tahu apa yang terjadi pada

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 6

    “Pengiriman itu baik-baik saja,” kata Yovan sembari menggelengkan kepala tak percaya. “Diana mengurusnya. Dia bilang semuanya berjalan sesuai rencana ....”Dia berhenti di tengah kalimat.Dia teringat.Selama lima tahun terakhir, aku telah menangani setiap transaksi penting, setiap detail dari awal hingga akhir. Diana hanyalah wajah, pembawa pesan, pengalih perhatian yang cantik.Orang yang memastikan tidak akan ada kesalahan sekecil apa pun … adalah aku.Dia menoleh kepadaku, matanya menuntut. “Bukannya kau sudah memeriksa ulang detail pengiriman ini?”Nada suaranya benar-benar datar, seolah-olah itu masih menjadi tugas dan tanggung jawabku. Sama seperti yang selalu terjadi selama lima tahun terakhir.Aku menatapnya dengan tatapan jijik. “Kenapa aku harus melakukan itu? Itu tugasnya Diana, bukan tugasku.”Aku menatap matanya lurus-lurus. “Apa kau lupa kata-katamu sendiri waktu kau memaksaku menyerahkan tugas itu padanya? Kau bilang dia lebih cocok untuk itu. Kau juga bilang kalau aku

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 5

    Dada Yovan naik turun. Dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, menyadari bahwa dia telah kehilangan ketenangan di hadapanku.“Diana,” katanya, suaranya kini lebih tenang namun berbahaya. “Ini urusan keluarga. Bukan hakmu untuk bicara di sini, jadi sebaiknya kau pergi.”“Tapi Yovan ....” Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar. “Kau tahu aku nggak punya tempat lain untuk pergi ....”“Cari hotel,” kata Yovan, kesabarannya benar-benar habis.“Tapi ....”“Aku akan minta seseorang memesankan kamar untukmu,” kata Yovan sambil memberi tatapan halus, hampir tak terlihat.Namun, aku melihatnya. Tentu saja, aku melihatnya.Diana mengerti. Dia menahan isak tangis, lalu berjalan ke gantungan mantel, dan mengambil mantelnya. Kemudian dengan berani merogoh saku mantel Yovan dan mengeluarkan sebuah kunci.Betapa menyedihkan. Bahkan sekarang pun, Yovan masih memastikan kekasihnya memiliki tempat yang nyaman untuk beristirahat.Saat Diana berjalan ke arah pintu, aku berbicara.“Tunggu,” kataku den

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 4

    Senyum di wajah Yovan menghilang.Dia merebut berkas itu, wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.“Apa-apaan ini?” tanyanya, suaranya meninggi karena amarah. “Kau memutuskan hubungan denganku? Tiara, kau sadar apa yang kau katakan?”“Aku sadar,” kataku dengan tenang.“Ya Tuhan!” Diana tersentak, menutup mulutnya, meskipun sorot matanya bersinar memancarkan kegembiraan yang tak bisa disembunyikannya. “Tiara, apa yang sudah kau lakukan? Yovan hanya sedang kesal. Bagaimana kau bisa begitu kekanak-kanakan? Bos sangat menyayangimu, bagaimana mungkin kau ....”“Aku nggak setuju!” bentak Yovan memotong perkataannya. Dia membanting berkas itu di atas meja kecil.“Aliansi antara Keluarga Murdaya dan Keluarga Himawa lebih besar dari kita berdua. Itu dibangun di atas puluhan tahun kepentingan bersama,” kata Yovan dengan nada suara yang berubah menjadi sekeras baja. “Rute senjata di Tokures, pembagian keuntungan kasino di Vergasi .… Apa kau pikir perceraian hanya sekadar menandatangani selembar ker

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status