Short
Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua

Tak Lagi Menjadi Pilihan Kedua

By:  Anna SmithCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
2.5Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Sehari sebelum Hari Valentine, aku menyerahkan surat permohonan cuti kepada tunangan sekaligus atasanku, Daniel Handoko. Kami seharusnya akan menikah di KUA pada Hari Valentine. Daniel melirik surat itu sebentar, lalu meletakkannya di atas meja kerja tanpa menandatanganinya. "Megan sudah memesan penerbangan ke Metiza dan biaya hotelnya nggak bisa dikembalikan. Aku mau kamu menggantikannya selama beberapa hari. Selain itu, aku juga memang akan pergi ke Metiza untuk menemui beberapa klien. Jadi, aku akan sekalian mengawasinya selama berada di sana." Daniel mendongak ke arahku dan sedikit melunakkan suaranya, seolah-olah sedang berusaha menenangkanku. "Nikahnya bisa tunggu sampai aku kembali. Beberapa hari tambahan nggak akan ada bedanya kok." Nada suara Daniel terdengar santai, seakan-akan dia sedang mengatur sesuatu yang sudah pasti akan kusetujui. Megan Fayeza berdiri di sampingnya sambil menunduk. "Alisa, maaf banget ya. Aku nggak tahu rencanamu ternyata sepenting itu." Segera setelah itu, Megan menambahkan, "Daniel bilang kamu pasti bisa mengerti. Bagaimanapun, selama ini kamu selalu mendahulukan perusahaan." Megan sedikit mendekat ke arah Daniel. Para rekan kerja yang duduk di meja masing-masing menundukkan pandangan ke layar komputer mereka. Tidak ada seorang pun yang melontarkan komentar. Aku menatap ke arah Daniel. Dia sudah sibuk menggulir layar ponselnya sambil memeriksa detail penerbangan. Dia bahkan tidak menoleh lagi kepadaku. Daniel tidak tahu bahwa Hari Valentine yang sudah kami sepakati untuk menikah adalah batas waktu yang ditetapkan oleh Keluarga Desmana. Kalau masih belum menikah sampai akhir Februari, aku harus kembali dan menerima pernikahan yang sudah mereka atur untukku. Aku tidak membantah. Aku melepas kartu identitas kerjaku dan menandatangani surat pengunduran diri. Kemudian, aku mengambil ponsel dan menelepon kakekku, Evan Desmana. "Kakek, aku menyerah. Aku terima pernikahan itu."

View More

Chapter 1

Bab 1

"Baiklah. Aku nggak jadi mengambil cuti. Aku mau mengundurkan diri."

Ruangan itu seketika menjadi begitu sunyi sampai-sampai suara pergerakan udara pun terdengar.

Daniel mengangkat kepalanya. Pena di tangannya berhenti di tengah goresan. Dia meletakkannya, lalu bersandar di kursinya sambil menatapku dengan saksama, seolah-olah akhirnya memastikan sesuatu yang selama ini sudah dia curigai. "Kamu serius?"

Daniel lalu berdiri dan berjalan mengitari meja. Suaranya terdengar rendah, dengan kesabaran letih yang bukannya menenangkan, malah terasa lebih seperti sikap merendahkan. "Alisa, bisakah kamu jelaskan sebenarnya apa kesalahanku?"

"Tiket Megan sudah dipesan sejak beberapa minggu lalu. Tiket itu nggak bisa dikembalikan. Aku kebetulan juga harus pergi ke Metiza untuk bertemu klien. Aku cuma mengajaknya ikut. Lagian, cuma beberapa hari. Kenapa kamu merasa seolah-olah aku lebih memilih dia daripada kamu?"

Daniel tidak marah, bahkan tidak meninggikan suaranya sedikit pun. Dia hanya menyampaikan apa yang menurutnya merupakan sebuah fakta sederhana dengan nada bicara yang benar-benar terdengar bingung.

"Kamu dulu nggak begini. Dulu, kamu selalu menyuruhku pergi saja dan menjamin bahwa dirimu bisa urus semuanya di sini. Kenapa sekarang kamu nggak bisa memahamiku lagi?"

Aku tidak mengatakan apa-apa. Daniel melangkah lebih dekat dan suaranya terdengar makin pelan. "Aku sudah berkali-kali bilang padamu bahwa kamu penting bagiku. Kamu sudah bersamaku sejak awal. Kamu membantuku membangun perusahaan ini dari nol."

Daniel berhenti sejenak. Dia sedang menungguku mengangguk, menyetujui perkataannya, serta menjadi diriku yang selalu memahami dan mendukungnya.

"Bisa kamu memercayaiku sekali lagi?"

Aku berdiri di sana sambil menatap Daniel. Gejolak di dalam diriku perlahan menjadi sangat hening.

Aku terlahir sebagai bagian dari Keluarga Desmana. Setiap hubungan yang pernah kukenal selalu disertai dengan pertukaran dan perhitungan di baliknya. Aku menghabiskan seluruh hidupku berusaha meninggalkan dunia tersebut. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa hidup tanpa pernikahan yang sudah diatur, tanpa marga yang menjadi sandaran hidupku.

Ketika aku bertemu dengan Daniel, dia tidak tahu siapa diriku sebenarnya. Dia tidak tahu beban yang melekat pada margaku. Dia pernah membawakanku kopi pada tengah malam ketika aku masih bekerja. Dia tetap berada di sisiku saat aku sakit. Suatu kali menjelang fajar, dia memberitahuku, "Aku nggak peduli kamu berasal dari mana. Kita akan membangun sesuatu milik kita sendiri."

Aku berpegang pada kata-kata itu selama delapan tahun.

Aku percaya pada Daniel. Aku percaya bahwa dia mencintaiku karena diriku sendiri, bukan karena margaku.

Aku mengangguk dan meletakkan surat pengunduran diri yang sudah kutandatangani di atas meja Daniel, lalu mendorong surat itu ke arahnya.

"Ini bukan ancaman. Aku sudah muak sama hubungan ini."

Daniel terdiam selama beberapa saat. Kemudian, dia mengambil proposal proyek yang kuselesaikan setelah tiga malam penuh mengerjakannya dan menyerahkannya kepada Megan. "Kalau begitu, Megan yang akan ambil alih proyek ini."

Megan menatap Daniel, lalu menoleh ke arahku. Suaranya sangat kecil ketika menimpali, "Daniel, menurutku nggak boleh begini. Alisa sudah bekerja sangat keras untuk proyek ini ...."

"Ambil saja," sela Daniel. "Kamu sudah memahami cara kerja industri ini. Aku percaya padamu."

Setelah mengatakan itu, Daniel menatapku dengan tenang, seolah-olah menunggu untuk melihat bagaimana reaksiku.

Aku tidak lagi mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang dulu selalu kulontarkan kepada Daniel. Aku hanya kembali ke mejaku dan mulai membereskan barang-barangku.

Megan berdiri di belakangku dengan ragu-ragu. "Alisa, aku bisa membantumu ...."

"Nggak perlu," jawabku tanpa mengangkat kepala.

Linda datang dari mejanya dan berdiri di sampingku. "Ini nggak adil. Dia nggak bisa gini padamu."

Aku tersenyum tipis. "Ini bukan soal adil atau nggak. Aku cuma nggak mau kerja di sini lagi."

Aku menutup kotak barangku dan berjalan menuju pintu. Suara Daniel terdengar dari belakangku. "Alisa."

Daniel berucap, "Aku tahu kamu lagi marah sekarang. Istirahat saja seminggu untuk tenangkan dirimu. Posisimu akan tetap ada saat kamu kembali. Proyek itu juga akan kukembalikan padamu. Selain itu ketika kamu sudah siap, kita bisa pergi nikah."

Aku berdiri diam di sana sambil menatap jendela di ujung lorong, lalu menunggu beberapa saat sebelum memberikan respons.

"Daniel, kamu sudah nggak punya hak untuk menawarkan itu lagi padaku."

Delapan tahun. Aku telah memercayainya selama delapan tahun. Selama itu pula aku berusaha membuktikan bahwa aku bisa menjalani hidup seperti orang biasa, bahwa aku bisa menjadi seseorang tanpa bayang-bayang margaku yang menentukan segalanya. Aku pikir dia adalah pintu keluar dari dunia tersebut. Ternyata, aku hanya menemukan jalan buntu yang lain.

Tidak apa-apa. Aku memang telah memilih jalan yang salah, tetapi setidaknya sekarang aku sudah menemukan jalan untuk kembali. Kali ini, aku akan berjalan sendirian.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status