แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Echo
Aku mendorong pintu kayu ek yang berat itu hingga terbuka.

Pemandangan di ruang tamu membuat darahku membeku.

Yovan duduk di sofa, sedangkan Diana meringkuk di sampingnya mengenakan gaun sutraku. Gaun yang dia berikan padaku untuk ulang tahunku tahun lalu.

Tetapi, yang benar-benar membuatku marah adalah kalung safir yang berkilauan di lehernya.

Itu milik ibuku!

“Oh, Tiara,” kata Diana ketika melihatku, dia berdiri dengan senyum malas dan santai, seolah-olah dia bukan selingkuhan suamiku yang sedang berdiri di rumahku. “Kau akhirnya kembali. Rumahku sangat berisik, jadi Yovan bilang aku bisa tinggal di sini sementara. Kau nggak keberatan, kan?”

“Kenapa kau belum menangani informasi soal orang Irlanda itu?” Suara Yovan sedingin es. “Sebagai istri Bos, apa kau nggak bisa menangani hal kecil seperti itu? Atau kau berencana untuk mengabaikan aturan keluarga? Kau tahu konsekuensinya ....”

“Aturan?” Aku memotong perkataannya, lalu perlahan mengangkat kepalaku. Senyum sinis terukir di wajahku. “Yovan, kau mau bicara soal aturan denganku?”

“Bulan lalu, Diana mabuk di sebuah klub dan memberi tahu Keluarga Rusasi lokasi gudang senjata kita. Kita disergap.”

“Itu kesalahan yang nggak disengaja ....” Yovan mulai menyela sambil mengerutkan kening.

“Kau membawa empat orang terbaikmu dan mengeluarkannya lebih dulu,” lanjutku dengan suara datar. “Kau meninggalkanku.”

Ruangan itu menjadi hening.

“Aku terkena dua peluru di lengan, Yovan. Aku nggak sadarkan diri selama tiga hari.” Aku mengangkat lengan kiriku, menunjukkan kepadanya dua bekas luka yang jelek dan berkerut di sana. “Ketika aku sadar, aku bertanya padamu mengapa. Apa kau ingat jawabanmu saat itu?”

Rahang Yovan menegang.

“Kau bilang Diana perlu dilindungi karena dia nggak sekuat diriku.” Saat aku mengulangi, kata-kata itu terasa seperti abu di mulutku. “Lalu kau malah menyalahkanku. Katamu istri Bos seharusnya nggak boleh terlalu picik.”

Pada saat dia mengucapkan kata-kata itu, saat itulah pernikahan kami hancur.

“Tiara, jangan ungkit masa lalu ....”

“Tiga bulan, Yovan.” Aku menyela dengan suara bergetar karena amarah yang tertahan. “Kau mengabaikanku selama tiga bulan setelah kejadian itu. Dan sekarang, kau membiarkan selingkuhanmu berdiri di sini, di rumahku, mengenakan gaunku, mengenakan kalung mendiang ibuku, dan kau masih berani bertanya mengapa aku belum melakukan pekerjaanku?”

Diana menggigit bibirnya, sorot matanya menyala dengan kebencian yang tak dia sembunyikan.

“Tiara ....” Yovan melangkah maju, hendak mengatakan sesuatu.

“Yovan, biarkan saja,” kata Diana. Dia menarik lengan Yovan, menahan air mata penuh sandiwara menyedihkan untuk mendapatkan simpati. “Aku mengerti, Tiara sedang merasa nggak senang. Kalau nggak, mana mungkin dia membekukan rekeningmu .…”

Kata-katanya seperti mengembalikan kepercayaan diri Yovan. Dia kembali merasa benar sendiri. “Apa pun yang terjadi di masa lalu, faktanya kau membekukan rekening kita dan mempermalukan kami berdua. Untuk menebusnya, Diana akan tinggal di kamarmu untuk sementara waktu ....”

“Sayang sekali,” kataku sambil tersenyum santai dan mengangkat bahu. “Aku sudah menjual rumah ini.”

Mereka berdua menatapku dengan tercengang.

“Menjualnya?” Yovan mengulangi, lalu ekspresi pemahaman yang keliru muncul di wajahnya. “Maksudmu … untuk mengumpulkan uang guna memperbaiki kekacauan dengan orang Irlanda itu? Tiara, kau cerdas. Langkah yang bagus. Dan, untuk memperbaiki hubunganmu dengan Diana, kurasa kau tahu apa yang harus dilakukan. Kau masih memiliki perhiasan ibumu yang lain.”

Sorot mata Diana berbinar. Dia mencengkeram lengan Yovan dengan gembira. “Maksudmu zamrud yang indah itu? Apa aku benar-benar boleh memilikinya?”

Yovan mengangguk kaku. “Kalau kau bersedia menyerahkannya, aku akan berhenti membahas soal perceraian.”

Aku menatap mereka berdua, yang satu tampak angkuh, sedangkan yang lain berpura-pura murah hati, seolah-olah mereka sedang menunggu aku bersujud di kaki mereka, bersyukur atas pengampunan mereka.

Aku mengeluarkan sebuah berkas dari tas.

“Kurasa kau salah paham.”

Aku menyerahkan berkas itu kepada Yovan, dan berkata perlahan dan jelas, “Maksudku, kita sudah bercerai. Dan, akulah yang mengajukan gugatannya.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 9

    Secercah harapan muncul di mata Yovan. Dia mencengkeram pergelangan tanganku lebih erat.“Tiara .…” Suaranya bergetar. “Kau ingat, itu artinya kau masih peduli.”Dia pikir aku memaafkannya.Dia pikir aku akan kembali.Sampai aku membuka kerah mantelku sendiri.Di tulang selangkaku, tempat seharusnya ada tato yang sama dengan miliknya, yang tersisa hanya kulit halus dan bersih serta bekas luka samar dan pucat, yang hampir tak terlihat di bawah cahaya lampu jalanan yang redup.Mata Yovan melebar karena ngeri.Wajahnya memucat. Dia tergagap, “Kau …. Kapan …. Kapan kau ....”Aku kemudian merapikan kembali kerah mantelku.“Pertama kali,” kataku dengan tenang, suaraku tanpa emosi. “Pertama kali kau membawa Diana ke rumah kita. Hatiku sudah mengambil keputusan saat itu.”“Keesokan harinya, aku pergi untuk menghapusnya.”“Menghapus tato dengan laser itu sangat menyakitkan, kau tahu?” kataku sambil menatap matanya yang hancur. “Tapi dibandingkan dengan rasa sakit saat melihatmu bersama wanita l

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 8

    Sudut Pandang Orang Ketiga.Ruang pertemuan Keluarga Murdaya dipenuhi asap rokok dan aura ketakutan. Para tetua dan pemimpin cabang duduk mengelilingi sebuah meja mahoni panjang, wajah mereka tampak muram.Yovan berdiri di ujung meja, dia tampak sepuluh tahun lebih tua daripada penampilannya sebulan yang lalu.“Batas waktu terakhir dari orang Irlanda itu adalah besok,” kata Marco, suaranya terdengar hampa. “Kita nggak punya cukup uang tunai untuk membayar mereka.”“Kecuali ....” Dia berhenti sejenak, dan menatap Yovan. “Kecuali kita menggunakan aset inti keluarga. Dana cadangan kita.”“Nggak boleh,” kata Yovan datar. “Kalau dana itu sampai habis, pondasi keluarga kita akan hilang. Kita akan tamat.”“Lalu apa rencananya, Yovan?” tanya salah satu pemimpin tertua dengan suaranya yang serak.Yovan terdiam selama beberapa detik.“Aku akan cari solusi.”“Solusi apa?” desak tetua lainnya sambil membanting tangannya di atas meja. “Saat ini, semua kelompok di Naeros sedang menertawakan kita. Me

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 7

    Yovan menggertakkan gigi, otaknya berupaya mencari jalan keluar. “Kapan aku pernah mengatakan itu?”Suaranya dipenuhi kepanikan yang tampak jelas.“Mustahil,” lanjutnya, penyangkalannya semakin membabi buta. “Mengundurkan diri dari keluarga adalah keputusan besar. Kenapa aku nggak dilibatkan?”“Pasti ada orang bodoh yang bertindak sendiri!” teriaknya pada Marco, suaranya bergetar. “Temukan bajingan yang memproses ini dan masukkan dia ke penjara! Siapa yang memberinya wewenang? Aku ingin dia dihukum! Keluarkan orang itu dari Keluarga Murdaya!”Aku memperhatikannya mengamuk, tahu bahwa itu semua hanyalah sandiwara putus asa, sebuah cara untuk mengalihkan kesalahan dan menggambarkan dirinya sebagai pihak yang dirugikan.Lalu dia menatapku, dengan tatapan penuh harap dan memohon di sorot matanya. “Tiara. Lihat? Aku akan membereskan bajingan itu.”“Itu salahnya. Dia nggak bisa menjelaskan situasinya kepadaku dengan benar.”“Bagaimana mungkin aku sampai nggak ingin tahu apa yang terjadi pada

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 6

    “Pengiriman itu baik-baik saja,” kata Yovan sembari menggelengkan kepala tak percaya. “Diana mengurusnya. Dia bilang semuanya berjalan sesuai rencana ....”Dia berhenti di tengah kalimat.Dia teringat.Selama lima tahun terakhir, aku telah menangani setiap transaksi penting, setiap detail dari awal hingga akhir. Diana hanyalah wajah, pembawa pesan, pengalih perhatian yang cantik.Orang yang memastikan tidak akan ada kesalahan sekecil apa pun … adalah aku.Dia menoleh kepadaku, matanya menuntut. “Bukannya kau sudah memeriksa ulang detail pengiriman ini?”Nada suaranya benar-benar datar, seolah-olah itu masih menjadi tugas dan tanggung jawabku. Sama seperti yang selalu terjadi selama lima tahun terakhir.Aku menatapnya dengan tatapan jijik. “Kenapa aku harus melakukan itu? Itu tugasnya Diana, bukan tugasku.”Aku menatap matanya lurus-lurus. “Apa kau lupa kata-katamu sendiri waktu kau memaksaku menyerahkan tugas itu padanya? Kau bilang dia lebih cocok untuk itu. Kau juga bilang kalau aku

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 5

    Dada Yovan naik turun. Dia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, menyadari bahwa dia telah kehilangan ketenangan di hadapanku.“Diana,” katanya, suaranya kini lebih tenang namun berbahaya. “Ini urusan keluarga. Bukan hakmu untuk bicara di sini, jadi sebaiknya kau pergi.”“Tapi Yovan ....” Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar. “Kau tahu aku nggak punya tempat lain untuk pergi ....”“Cari hotel,” kata Yovan, kesabarannya benar-benar habis.“Tapi ....”“Aku akan minta seseorang memesankan kamar untukmu,” kata Yovan sambil memberi tatapan halus, hampir tak terlihat.Namun, aku melihatnya. Tentu saja, aku melihatnya.Diana mengerti. Dia menahan isak tangis, lalu berjalan ke gantungan mantel, dan mengambil mantelnya. Kemudian dengan berani merogoh saku mantel Yovan dan mengeluarkan sebuah kunci.Betapa menyedihkan. Bahkan sekarang pun, Yovan masih memastikan kekasihnya memiliki tempat yang nyaman untuk beristirahat.Saat Diana berjalan ke arah pintu, aku berbicara.“Tunggu,” kataku den

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 4

    Senyum di wajah Yovan menghilang.Dia merebut berkas itu, wajahnya menunjukkan ketidakpercayaan.“Apa-apaan ini?” tanyanya, suaranya meninggi karena amarah. “Kau memutuskan hubungan denganku? Tiara, kau sadar apa yang kau katakan?”“Aku sadar,” kataku dengan tenang.“Ya Tuhan!” Diana tersentak, menutup mulutnya, meskipun sorot matanya bersinar memancarkan kegembiraan yang tak bisa disembunyikannya. “Tiara, apa yang sudah kau lakukan? Yovan hanya sedang kesal. Bagaimana kau bisa begitu kekanak-kanakan? Bos sangat menyayangimu, bagaimana mungkin kau ....”“Aku nggak setuju!” bentak Yovan memotong perkataannya. Dia membanting berkas itu di atas meja kecil.“Aliansi antara Keluarga Murdaya dan Keluarga Himawa lebih besar dari kita berdua. Itu dibangun di atas puluhan tahun kepentingan bersama,” kata Yovan dengan nada suara yang berubah menjadi sekeras baja. “Rute senjata di Tokures, pembagian keuntungan kasino di Vergasi .… Apa kau pikir perceraian hanya sekadar menandatangani selembar ker

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 2

    Lima tahun yang lalu. Tiga bulan setelah pernikahan kami.Yovan meletakkan kartu bank prioritas yang elegan di atas meja di depanku.“Ini rekening bersama kita,” katanya sambil menggenggam tanganku. Ibu jarinya menyentuh cincin pernikahan kami. “Semua yang dimiliki Keluarga Murdaya, mulai hari ini,

  • Tato Pengkhianatan Itu Sudah Kuhapus   Bab 1

    Yovan melanggar janji lagi, dia membatalkan bulan madu kami demi selingkuhannya, Diana. Dia justru sedang mengajak Diana berlibur dengan berbohong bahwa itu adalah urusan keluarga. Dia bahkan berani berjanji padaku, “Saat aku kembali, aku akan memberimu bulan madu yang lebih bagus.”Dia tidak tahu b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status