MasukMendengar perdebatan seputar undian malam pertama di depan altar, Tuan dan Nyonya Besar Toretto hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka benar-benar tidak menyangka kalau ketiga putra kebanggaan Toretto yang biasanya dingin, kaku, dan disegani di luar sana, bisa menjadi begitu tidak waras dan kekanak-kanakan hanya demi memperebutkan satu wanita."Mommy benar-benar tidak habis pikir dengan kalian bertiga," ucap Nyonya Toretto sembari tertawa kecil, melangkah mendekat untuk merangkul pundak Rosella dengan penuh kasih sayang. "Tapi melihat kalian sekompak ini demi menjaga Rosella, Mommy ikhlas. Mulai hari ini, kamu adalah putri kesayangan Mommy, Rose. Jika ketiga pria ini macam-macam, adukan saja pada Mommy.""Daddy juga akan memastikan tidak ada yang berani membuatmu menangis lagi di mansion ini, Rose," timpal Tuan Besar Toretto dengan senyuman hangat, sebuah pemandangan langka yang membuat Leon, Adrian, dan Lucas tersenyum lega. Rosella kini benar-benar disayang oleh seluruh anggota k
Pekikan itu membuat pelukan erat di depan altar seketika terlepas. Rosella, trio Toretto, serta keluarga Anderson serentak menoleh ke arah pintu kapel. Di sana, Tuan dan Nyonya Besar Toretto berdiri tegap, menatap lurus ke arah altar dengan gurat penyesalan yang tersirat jelas di wajah mereka yang biasanya angkuh.Melihat kehadiran kedua orang tuanya, Leon langsung menggeser tubuhnya, berdiri pasang badan paling depan guna melindungi Rosella di balik punggung tegapnya. Sorot mata sang CEO seketika berubah sedingin es, mengingat bagaimana masa lalu kedua orang tuanya yang menentang keras hubungan mereka hanya karena status sosial Rosella yang saat itu merupakan pelayan di mansion ini."Mau apa lagi Daddy dan Mommy ke sini?" tanya Leon dengan nada suara rendah yang sarat akan peringatan. "Jika kalian datang untuk mengacaukan pernikahan ini seperti dulu, silakan angkat kaki dari wilayahku."Adrian membenarkan letak kacamatanya dengan dingin, sementara Lucas melangkah maju, ikut mengun
"Lalu bagaimana ini?" tanya Robin dengan nada frustrasi, menatap ruang kerja yang mendadak diselimuti keheningan berat.Leon mengetukkan jarinya di atas meja, matanya berkilat tajam sebelum akhirnya dia menyeringai tipis. "Jika kalian semua bingung, maka biar aku yang mengambil jalan tengah. Kita tidak akan mengorbankan perasaan dua orang di antara kami demi selembar kertas legalitas."Tuan Anderson mengernyitkan alis. "Maksud Anda, Tuan Leon?""Secara hukum negara ini, namaku yang akan tertulis di buku nikah sebagai kepala keluarga demi meredam rumor publik dan mengamankan status anak kami," ucap Leon. "Namun, di hadapan hukum Tuhan dan keluarga Anderson maupun Toretto, Adrian dan Lucas memiliki hak yang sama denganku. Kami bertiga akan tetap mengucapkan janji suci di hadapan kalian secara privat."Adrian dan Lucas saling pandang, lalu mengangguk setuju. Itu adalah satu-satunya cara agar tidak ada yang merasa tersisih."Gila... kalian benar-benar di luar nalar," gumam Robin, wa
Hari-hari berikutnya di mansion Toretto berubah menjadi ajang pembuktian tak kasatmata. Tuan dan Nyonya Anderson, serta Robin yang awalnya menaruh curiga luar biasa, kini hanya bisa tertegun menyaksikan bagaimana putri mereka diperlakukan. Rosella tidak sekadar dirawat, dia diagungkan layaknya seorang putri kerajaan.Sebagai seorang dokter, Lucas mengambil alih penuh dapur mansion. Setiap pagi, dia sendiri yang memeriksa kalori, vitamin, dan memastikan gizi Rosella terpenuhi tanpa cela. Tidak boleh ada bahan pengawet, dan semua makanan harus organik.Sementara itu, Adrian yang biasanya kaku, mendadak memenuhi kamar Rosella dengan puluhan buku referensi terbaik seputar kehamilan dan pola asuh anak. Setiap malam sebelum tidur, dengan suara baritonnya yang tenang, sang dosen akan membacakan artikel-artikel penting itu di samping Rosella yang mendengarkan dengan patuh.Namun yang paling membuat keluarga Anderson tercengang adalah Leon. Sang CEO menjadi pria super over-protektif. Karen
Kata-kata mutlak dari Leon mengunci perdebatan internal mereka. Adrian dan Lucas terdiam, memendam ego masing-masing demi kesepakatan bahwa anak itu adalah darah Toretto.Namun, keheningan di kamar mewah itu tidak bertahan lama. Di sudut ruangan, Ibu Rosella yang sejak tadi menahan tangis akhirnya melangkah maju dengan tubuh gemetar, didampingi oleh Tuan Anderson dan Robin yang wajahnya sudah merah padam menahan amarah."Tiga ayah?!" Robin mendesis, suaranya naik satu oktav karena tidak bisa lagi membendung rasa muak. Dia menunjuk Leon, Adrian, dan Lucas bergantian. "Kalian benar-benar sakit! Adikku bukan mainan yang bisa kalian gilir dan kalian klaim anaknya sesuka hati!"Tuan Anderson pun ikut melangkah maju, wibawa seorang kepala keluarga Anderson memancar kuat. "Tuan Leon, kami menghormati posisi Anda sebagai kepala keluarga Toretto. Tapi ini sudah di luar batas! Rosella adalah putri kami. Kehamilannya justru membuktikan bahwa berada di sini tidak aman untuk masa depannya. Kam
Kepanikan yang mencekam seketika meledak di ruangan itu. Saat Rosella masih terisak pasrah di tengah kepungan dua keluarga, tiba-tiba pandangannya menggelap dan tubuh mungilnya langsung limbung."Rose!" teriak mereka semua gempar.Sebelum tubuh Rosella menghantam lantai marmer yang dingin, Leon dengan gerakan secepat kilat langsung menyambar dan mendekap tubuh lemas wanitanya. Wajah pucat Rosella dengan mata yang tertutup rapat membuat napas Leon seketika tercekat. Tanpa menunggu sedetik pun, Leon langsung menggendong Rosella dengan protektif, membawanya berlari menaiki tangga menuju kamar utama di lantai atas.Adrian, Lucas, dan keluarga Anderson yang dilanda kepanikan luar biasa langsung bergegas mengikuti dari belakang. Begitu tubuh Rosella dibaringkan di atas ranjang king size, suasana kamar berubah menjadi sangat tegang.Lucas yang biasanya selalu tenang dan profesional, kini malah mondar mandir tanpa memeriksa Rosella. "Lucas! Kamu kan dokter! Kenapa malah bengong begitu c







