LOGINKetika Tara Valmont mengetahui pengkhianatan yang suaminya lakukan, dia mulai menghitung segalanya. Terutama rasa sakit hatinya karena semua yang ia percayai, ternyata menipunya. Dan pengkhianatan paling besar bersalah dari suaminya—Adrian Ashbourne. Tara bertekad, semua orang yang terlibat harus membayar harga yang pantas. Bahkan jika perlu, Tara melakukan dengan cara-cara yang gila. Termasuk mempertimbangkan permintaan ayah dari pria yang dia anggap suaminya—Victor Ashbourne. “Kau tahu posisi yang paling pas untukmu saat ini?” Victor bertanya dengan nada santai di sela pembicaraan bisnis dengan Tara. Tara mengerutkan keningnya. “Apa itu, Dad?” “Jadi istriku.” Victor tersenyum penuh arti. “Bagaimana?”
View More“Eum ... pelan-pelan, Adrian.”
Suara itu membuat langkah Tara menuju ruang kerja suaminya, terhenti. Suara itu juga begitu familier sampai membuat Tara tak memercayai pendengarannya. Mungkinkah dia salah dengar?
“Mana bisa aku pelan-pelan jika berhubungan denganmu.”
Jantung Tara terasa berhenti berdetak saat itu juga. Itu suara ... Adrian?
Tara tidak sadar kapan napasnya berubah menjadi pendek dan terputus-putus. Tangannya segera mencari penopang untuk dirinya. Ujung jarinya menyentuh sisi meja kecil di dekat pintu ruang kerja Adrian, lalu mencengkeramnya kuat—seolah jika ia melepaskan, tubuhnya benar-benar akan runtuh.
Langkahnya nyaris tak bersuara saat ia mendekat, meski setiap inci pergerakan terasa berat. Kakinya gemetar dan kepalanya berdengung. Namun suara di balik pintu itu terlalu jelas untuk diabaikan.
Desahan tertahan terdengar, diikuti tawa pelan yang membuat darah Tara terasa membeku.
“Adrian,” Suara wanita itu terdengar lembut, manja—dan sangat ia kenal. “Kau benar-benar tidak bisa menahan diri, ya.”
Tara memejam sejenak. Tidak. Tidak mungkin.
“Kau pikir aku akan bersikap santai saat bersamamu, Kara-ku Sayang?” Adrian tertawa.
Kara.
Nama itu menghantam Tara tanpa ampun. Genggamannya pada meja semakin menguat. Kukunya menekan permukaan kayu hingga memutih, tapi ia tidak merasakan sakit apa pun. Seluruh tubuhnya sudah mati rasa.
“Kalau Tara tahu.” Kara terkekeh pelan, seolah sedang menikmati sesuatu yang jauh lebih dari sekadar percakapan. “Menurutmu wajahnya akan seperti apa?”
Adrian ikut tertawa, seolah apa yang ia lakukan tanpa beban. “Dia tidak akan tahu. Dia terlalu percaya jika aku sangat mencintainya,” lanjut Adrian ringan. “Dan itu membuat semuanya lebih mudah.”
Dada Tara terasa semakin sesak.
“Terkadang aku heran,” Kara kembali bersuara. “Bagaimana bisa dia tidak menyadari apa pun? Bahkan setelah semua yang kita lakukan?” Wanita itu kembali mengerang pelan.
“Karena dia tidak pernah benar-benar melihat,” jawab Adrian. “Dia hanya menerima dan percaya apa yang kita tunjukkan, Sayang.”
Tara menggigit bibirnya, berusaha menahan suara sekecil apa pun agar tidak keluar. Ia ingin pergi. Ingin lari sejauh mungkin dari tempat ini tapi kakinya tidak bergerak. Seolah meminta tara untuk terus menunggu dan mendengarkan semuanya.
“Ngomong-ngomong,” Kara berkata di sela erangannya. “Lucu juga, ya. Setiap tahun dia merayakan ‘pernikahan’-nya padahal pernikahan tercatat bukan atas namanya.”
Jantung Tara seperti berhenti.
“Aku punya kekhawatiran, kalau suatu hari dia mengecek ke catatan sipil, menurutmu dia akan kaget atau hancur saat tahu nama yang terdaftar itu milikku?”
Tara membeku. Tangannya mencengkeram tepian meja lebih kuat. Pandangannya mulai kabur.
“Dia tidak akan sampai sejauh itu,” jawab Adrian tenang. “Dan kalaupun dia melakukannya, itu sudah tidak penting lagi.”
“Lagi pula,” lanjut Adrian, suaranya kembali dingin, “kita hanya perlu menunggu sampai proyek Neo Group selesai.”
Neo Group. Proyek besar yang sedang Adrian kerjakan dan semua itu, Tara yang mengelola.
“Sebagian besar klien hanya percaya pada Tara,” katanya lagi. “Reputasinya yang menjaga semua klien tetap berjalan. Kita masih butuh dia.”
“Dan setelah itu?” tanya Kara pelan.
“Aku akan menyingkirkannya.”
Kalimat itu diucapkan begitu saja, tanpa emosi, tak ada keraguan di dalamnya. Seolah Tara bukan siapa-siapa.
Seolah lima tahun yang ia jalani tidak pernah berarti apa pun.
Dunia di sekeliling Tara terasa berputar. Genggamannya mulai melemah, tapi ia memaksa dirinya tetap berdiri. Jangan jatuh sekarang, Tara. Kau harus kuat. katanya dalam hati.
“Bagus,” kata Kara. “Aku sudah cukup lelah berpura-pura.” Nada bicaranya terdengar ringan. “Kalau begitu, untuk perayaan ulang tahun pernikahan kita yang kelima nanti, kita buat yang besar, ya. Sesuai dengan status kita yang sebenarnya. Bagaimana menurutmu, Sayang?”
“Tentu saja,” kata Adrian. “Lakukan apa pun yang kau inginkan.”
Namun di luar pintu itu, sesuatu dalam diri Tara runtuh sepenuhnya. Ulang tahun pernikahan yang sebentar lagi akan dirayakan, hubungan pernikahan yang ia pertahankan bersama Adrian, ternyata ... semua bukan miliknya.
Napas Tara bergetar. Perlahan, jemarinya terlepas dari meja. Tubuhnya berusaha berdiri tegak, tapi kosong.
Kantor catatan sipil. Mendadak tempat itu terlintas begitu saja di kepalanya.
“Aku harus ke sana,” gumamnya pelan. “Untuk membuktikan semua kebohongan ini.”
Tak lama, Tara ada di kantor catatan sipil tempat pernikahannya terdaftar.
“Miss Valmont, namamu tidak ada di sistem catatan pernikahan.”
“Tidak mungkin,” sanggah Tara dengan tawa meragukan. “Tolong, tolong cek sekali lagi.”
Si petugas menghela pelan tapi akhirnya tetap melakukan pengecekan.
“Ini sudah ketiga kalinya, Miss Valmont. Tapi nama Anda, Tara Elise Valmont benar-benar tidak terdaftar di akta pernikahan mana pun.”
“Tidak mungkin! Aku sudah menikah dengan Adrian Ashbourne selama lima tahun.” Tara memekik tak terpercaya. Semua kata-kata yang terdengar dari balik pintu ruang kerja Adrian, kembali bergema.
Jadi selama ini ...
“Seperti yang Anda tahu, saya sudah mengeceknya berulang kali,” kata staf administrasi dengan sabar. “Seandainya ada nama dari keluarga Anda. Miss Kara Evangeline Valmont. Beliau menikah dengan Adrian Lucien Ashbourne di tanggal 22 April 2022.”
Dunia Tara semakin runtuh.
Jika bukan karena bantuan salah satu petugas, tubuh Tara sudah jatuh bersimpuh begitu saja di lantai.
“Ini ... ini tak benar, kan?” tanyanya dengan suara gemetar. Air matanya sudah turun membasahi pipi. “Ini semua bohong!”
“Anda ingin salinannya?” tanya si petugas yang tampak bingung karena kehadiran Tara yang sejak tadi bersikeras mengecek namanya, apakah terdaftar dalam pernikahan atau tidak.
“Bisakah aku mendapatkannya?”
Tak lama selembar copian akta pernikahan itu pun ada di tangan Tara. Bersamaan dengan itu, ponselnya berdering.
“Tara, ini aku Victor.”
Si penelepon membuat Tara terdiam sejenak. “Tuan ... Victor?”
“Astaga, Tara,” di ujung sana, si penelepon tertawa. “Apa kau melupakan ayah mertuamu?”
Bagaimana mungkin Tara lupa sosok Victor Ashbourne. Tapi ... kenapa pria itu meneleponnya?
“Ya, Tuan Vic—“
“Daddy, Tara. Kenapa kau terlalu formal padaku? Kau menantuku,” kata Victor tegas.
Tara menelan ludah gugup dan membenahi kata-katanya. “Ya, Daddy. Ada apa?” tanya Tara begitu ia sudah bisa mengendalikan dirinya.
“Jemput aku di bandara 2 jam lagi. Aku dalam perjalanan ke kota Holland. Dan jangan katakan pada Adrian jika aku datang. Bisa, kan?”
Victor hanya mendengarkan. Jemarinya yang semula bertumpu di sandaran kursi perlahan saling bertaut, sementara tatapannya tetap tertuju pada Vivian."Dia mengatakan seluruh dunia sedang salah paham."Vivian berhenti sejenak, seolah masih mengingat dengan jelas setiap kata yang diucapkan wanita itu di lobi hotel."Lalu dia berkata," napasnya terembus pelan, "dia adalah wanita yang sebenarnya menikah dengan Adrian. Bukan Tara."Keheningan segera memenuhi ruang keluarga. Yang terdengar hanya detak halus jam dinding dan suara angin malam yang berembus melewati jendela besar di sisi ruangan.Gilbert tanpa sadar mengalihkan pandangannya kepada Victor. Ia sudah mengenal pria itu selama bertahun-tahun. Bagi orang lain, wajah Victor mungkin terlihat sama seperti biasanya, tetapi Gilbert tahu sorot mata yang perlahan mengeras itu adalah tanda bahwa pikirannya sedang bekerja.Vivian memperhatikan perubahan kecil tersebut. Sudut bibirnya terangkat tipis
“Saya cukup penasaran, siapa tamu yang datang malam ini?” Gilbert berkata sembari melirik ke arah spion tengah.Sejak meninggalkan mansion yang Tara tempati, Victor memilih diam. Seolah menikmati perjalanan tapi dari sorot matanya terlihat jelas jika pria itu tampak berpikir, siapa tamu yang menunggunya di rumah.“Andai aku tahu, Gilbert,” kata Victor pelan. “Aku tak perlu menduga-duga.”Perjalanan menuju tempat Victor tinggal tak terasa hingga akhirnya, mobil pun memasuki area kompleks perumahan mewah. Tak butuh waktu lama, mobil pun berhenti tepat di pintu utama.Victor baru saja melangkah memasuki foyer ketika kepala pelayan menghampirinya."Selamat malam, Tuan."Victor menyerahkan jas yang sejak tadi disampirkan di lengannya. "Apa tamunya masih menungguku?”"Ya, Tuan. Beliau sudah menunggu hampir satu jam."Victor mengernyit tipis. "Siapa dia?”Kepala pelayan belum semp
Liora berlari sekencang yang ia bisa, rambutnya yang diikat dua bergoyang ke sana kemari mengikuti setiap langkah mungilnya. Senyum lebar menghiasi wajah polos itu, seolah seluruh dunia menjadi jauh lebih baik hanya karena melihat Tara akhirnya pulang.Refleks, Tara segera berjongkok.Tubuh kecil itu langsung menabraknya tanpa ragu. Memeluk lehernya erat hingga nyaris membuat keseimbangannya goyah.Tara membalas pelukan itu dengan kedua lengannya, memejamkan mata sejenak. Aroma sampo strawberry kesukaan Liora begitu akrab memenuhi indra penciumannya, sementara pipi Liora yang hangat menempel di bahunya.Entah mengapa ... semua beban yang sejak pagi memenuhi dadanya perlahan terasa sedikit lebih ringan."Aku merindukanmu," gumam Liora lirih.Tara tersenyum, lalu mengecup puncak kepala anak itu berkali-kali. "Aku juga.”Liora mundur sedikit, lalu menatap wajah Tara lekat-lekat. Alis kecilnya perlahan bertaut. “Kau terlihat l
Suara mesin mobil memenuhi keheningan yang sejak tadi menyelimuti perjalanan mereka meninggalkan kompleks pengadilan. Tak seorang pun berniat memulai percakapan. Gilbert yang duduk di kursi depan sesekali memeriksa layar tabletnya, memastikan tak ada perkembangan baru dari tim hukum, sementara Victor duduk di samping Tara.Sesekali Gilbert melaporkan beberapa hal terkait pekerjaan yang mereka tinggalkan selama proses sidang hari ini.Berbeda dengan Tara yang langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Kelopak matanya perlahan terpejam, bukan karena ingin tidur, melainkan karena tubuhnya benar-benar kehabisan tenaga. Sejak pagi ia nyaris tak menyentuh makanan. Sidang yang berlangsung berjam-jam, sorotan media, pertanyaan tanpa henti, hingga konfrontasi dengan Adrian dan keluarganya telah menguras seluruh energi yang ia miliki.Ia menarik napas panjang, berusaha mengendurkan ketegangan yang sejak tadi memenuhi bahu dan tengkuknya.Victor melirik se






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews