MasukMenikah dengan mantan sendiri bukan sesuatu yang pernah Karuna Respadi Atmaja tulis dalam daftar keinginannya. Apalagi jika mantan itu adalah Rajendra Keenan Witjaksana; pria yang tujuh tahun lalu pergi dengan cara paling kejam, lalu kembali dengan wajah terlalu tenang dan satu alasan yang membuat dada Karuna terasa ditikam. “Saya harus menjadi pimpinan Witavest Group.” Karuna nyaris tertawa. Jadi, begitu? Pernikahan mereka hanya jalan lain agar Rajendra berdiri di puncak rantai keluarga Witjaksana? “Pernikahan bukan mainan, Rajendra!” Namun, Rajendra tetap berdiri di sana; dingin, stabil, dengan sorot mata yang jelas membuatnya muak. “Kalaupun kita menikah,” tanyanya, “apa kamu bisa mencintai saya–lagi?” Dua tahun. Satu rumah. Satu pernikahan yang katanya hanya kewajiban. Karuna pernah mencintai Rajendra. Pernah juga membencinya dengan seluruh tenaga yang ia punya. Naasnya, ketika keluarganya nyaris bangkrut, kebencian saja tidak cukup untuk membuatnya menolak pernikahannya. Maka ia harus berbagi hidup pria yang dulu menghancurkannya; terikat oleh kepentingan keluarga, luka lama, dan keintiman yang datang tanpa sempat ia duga. Karena mungkin, ada satu hal yang jauh lebih menakutkan daripada masa lalu mereka. Bukan pernikahan dadakan ini. Melainkan fakta bahwa jatuh cinta pada orang yang sama… bisa terjadi dua kali.
Lihat lebih banyak“Agung adalah satu-satunya orang yang mengundang Ayah datang ke rumahnya untuk bercerita. Tanpa syarat,” lanjutnya dengan emosi yang kian pudar, bagai nyala lilin yang kehabisan sumbu.Suara Hartono tak lagi tegas seperti semula. Ada sesuatu yang luruh di dalamnya, seperti dinding tanah yang lama menahan beban rahasia hingga akhirnya runtuh pelan-pelan. Ia menunduk sejenak, memandangi kedua tangannya yang saling bertaut di atas lutut, seolah di sana tersimpan seluruh dosa yang tak terucap.Sebuah kilatan ingatan melintas, membuat wajahnya melembut, “Di rumahnya, Ayah bertemu dengan Serena,” katanya.Rajendra menatap sang ayah dengan dada naik-turun dengan napas yang tertahan. Nama itu masih terasa asing sekaligus akrab di lidahnya. “Dan kalian merencanakan ini semua?”Hartono menggeleng pelan. “Serena saat itu masih menyelesaikan studi strata pertamanya. Mendengar itu, Ayah langsung teringat kamu–kamu yang juga sedang menempuh pendidikan yang sama. Sementara Serena, anak itu memang se
Rajendra melangkah keluar dari lift di lantai sebelas, tempat di mana udara seolah lebih berat, dingin, dan penuh bayang-bayang masa lalu. Koridor panjang itu, dengan lantai marmer mengkilap yang memantulkan cahaya lampu sorot, terasa seperti buah kenangan yang tak pernah benar-benar pudar.Ini adalah area menuju ruangan utama sang Ayah sekarang.Beberapa karyawan yang berpapasan menyapanya dengan hormat–senyum tipis, anggukan kepala, “Selamat siang, Pak Rajendra”. Namun ia tak membalas. Wajahnya tegang, rahang mengeras, mata hitamnya menatap lurus ke depan seolah membawa beban seluruh nama Witjaksana di pundaknya. Hanya langkah kakinya yang tegas memecah keheningan, pantofel itu bergerak seirama angin yang menyentuh jas formal miliknya.Di ujung koridor, pintu kayu mahoni besar terbuka. Di balik meja kerja yang luas, Hartono Witjaksana duduk di kursi kebesarannya–sebuah singgasana dari kulit hitam dengan penuh kekuasaan.“Kamu benar-benar datang,” kata Hartono.Rajendra tersenyum ti
Sepanjang perjalanan menuju rumah orang tuanya, Karuna lebih banyak menatap keluar jendela. Bukan karena ia ingin mengabaikan Pratama, tetapi karena duduk di kursi depan mobil atasannya membuatnya tak tahu harus berbuat apa. Di hadapannya, jalanan Bandung mulai menggeliat pelan–beberapa toko baru membuka pintu.Pratama mengemudi dengan tenang dengan sesekali melirik kaca spion, mengatur laju mobil, dan membiarkan hening mengisi ruang di antara mereka. Sampai akhirnya Pratama membuka suara.“Jadi, sejak kapan kamu pindah ke Jakarta?”Karuna menoleh padanya, “Ya, Pak?” ulangnya sebab sejak tadi benaknya terbang entah ke mana.“Kalau rumah orang tua kamu di Bandung,” ujar Pratama, masih menatap jalan, “berarti kamu ini asli Bandung?”“Oh.” Karuna mengangguk kecil. “Iya, Pak. Saya lahir dan besar di Bandung,” akunya.“Kemudian pindah ke Jakarta untuk kuliah, begitu?”“Enggak juga,” ujar Karuna tersenyum tipis, menggeleng setelahnya. “Saya belum lama tinggal di Jakarta. Terus karena beberap
Matanya sontak terbuka lebar.Karuna tersentak di ranjang hotel, napasnya tersengal-sengal. Pipinya serta-merta membara hebat, panas hingga menjalar ke telinga. Jantungnya berdegup kencang sekali. Ia buru-buru menekan kedua telapak terbuka ke wajahnya, merasakan betapa panas dan merah kulitnya.Ya Tuhan… itu mimpi…Tubuhnya masih terasa panas dan sensitif, terutama di bagian bawah yang masih berdenyut pelan, tetapi sensasi itu kian pudar begitu ia sadar semuanya hanya khayalan. Malu. Mengapa ia seperti remaja puber yang bermimpi sekotor itu?Beruntung, ia tak sampai rasakan basah di sela kaki. Sebab jika iya, apa yang harus ia katakan pada Rhea yang masih terlelap di sebelahnya dan masih asyik menjelajah alam mimpi?Tanpa menunggu lebih lama, Karuna bergegas turun dari ranjang. Kakinya menapak lantai dingin kamar hotel–ia harus ke kamar mandi, ia butuh air dingin segera. Karuna menyalakan lampu kamar mandi, kemudian menutup pintunya pelan-pelan agar tidak membangunkan Rhea. Di depan






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak