LOGINMenikah dengan mantan sendiri bukan 'wishlist' yang Karuna tulis dalam buku catatannya. Apalagi mantan yang sekarang bicara seperlunya, berekspresi secukupnya, dan entah bagaimana itu terlihat jauh lebih menjengkelkan di matanya. Rajendra menikah seperti menyelesaikan agenda harian, sementara Karuna menikah dengan sisa kewarasan. Mereka sepakat menjaga batas. Tidak mengungkit masa lalu. Tidak terlalu dekat. Tidak memberi ruang untuk perasaan lama kembali hidup. Sayangnya, hidup satu atap tidak sesederhana itu. Mulai dari pertengkaran kecil yang tidak penting, momen canggung yang terlalu intim, sampai perhatian-perhatian kaku yang justru terasa paling berisik—Karuna mulai menyadari satu hal. Mungkin yang berbahaya bukan perjodohan ini. Melainkan fakta bahwa jatuh cinta pada orang yang sama … ternyata bisa terjadi dua kali.
View More“Kamu kapan mau nikah?”
Perasaan Karuna mendadak tidak enak saat Winanto, papinya mengajukan pertanyaan. Meja dan kursi-kursi taman belakang kediaman keluarga Atmaja di kota Bandung bagai membeku.
Untuk mengusir rasa tidak nyaman itu, Karuna mengambil satu keripik kentang dari sebuah toples camilan yang masih terbengkalai sejak tadi.
“Kalau nggak Minggu, ya, Sabtu?” ujarnya terkekeh, berpura-pura santai.
Winanto menatap Karuna lurus. “Kamu bercanda terus–jadi Papi dan Mami yang ambil keputusan.”
Alis Karuna berkerut lebih dalam, matanya memincing.
“Kami sudah menjodohkan kamu.”
Dunia Karuna berhenti bergerak. Ia tertawa pendek, seolah Winanto sedang membual. “Haha. Papi yang bercanda mulu, nih.”
Namun,
“Kita nggak bercanda.” Kini, giliran Mami yang menatapnya.
Kerongkongan gadis itu terasa kering, ia meraih satu gelas air mineral. “Oke,” katanya cepat. “Oke, bentar,” ia mengerjapkan matanya berkali-kali, juga menarik dan menghembuskan napasnya sebanyak empat kali.
“Kita ulang dari awal, ya? Papi sama Mami barusan bilang apa?”
Iya.
Kita ulang.
Siapa tahu Karuna salah mendengar.
Siapa tahu Karuna berhalusinasi.
Saat itu, detak jantungnya jelas berlarian. Menunggu jawaban Winanto terasa jauh lebih menegangkan, dibandingkan dengan persiapan presentasi promosi naiknya jabatan.
“Papi dan Mami sudah menjodohkan kamu.”
Bagi Karuna, kalimat Papinya barusan adalah yang terkonyol sepanjang masa.
Mual mulai mendera organ pencernaannya. “Hok–” Gadis itu buru-buru meraih tisu, hampir memuntahkan kunyahan keripiknya.
Winanto menghela napas, mengernyit ke arah gadisnya yang kini mencondongkan wajah ke arahnya. Ia dorong pelan kening itu dengan telunjuk agar menjauhinya. "Karuna."
“Piiiiii?”
“Tiga bulan lagi, ya?”
“Tiga….bulan?” ulangnya terbata, segalanya semakin tidak masuk akal. “Papi sadar nggak sih, tiga bulan itu artinya apa?”
“Artinya cukup waktu buat kamu adaptasi.” ujar Winanto.
Marlina meraih tangan Karuna. Kali ini wanita paruh baya itu menggenggamnya erat. “Ini bukan keputusan mendadak. Keluarga mereka sudah lama kenal kita dan sebaliknya.”
“Kami lakuin ini karena kami percaya ini yang terbaik.” imbuh Marlina.
“Terbaik versi siapa?” Karuna menarik tangannya pelan, habis sudah energinya untuk bercanda berlama-lama. “Versi Papi dan Mami, atau versi aku?”
tanya Karuna lagi, menatap dua orang itu bergantian. “Kenapa sekarang?”“Karena kesempatan ini nggak datang dua kali.”
Kesempatan.
Kata itu terdengar ironis di telinga Karuna.
Sejak kapan perjodohan jadi buah kesempatan, bukan jebakan?
“Siapa?”
Dua orang itu akhirnya saling pandang.
“Siapa orang yang Papi dan Mami maksud?” ulang Karuna, suaranya lebih rendah sekarang.
Winanto menarik napas dalam-dalam. Tangannya terletak di atas meja, jemarinya saling bertaut. “Kamu kenal, kok, Kak.”
Perut Karuna terasa mengeras, berdecak tidak sabar. “Siapa?"
Winanto mengangguk pelan. “Ya–ya.”
Ia menatap Karuna lurus-lurus, tanpa senyum, tanpa basa-basi.
“Rajendra.”
Hah?
“Rajendra Keenan Witjaksana.”
Benturkan kepala Karuna ke benda keras mana pun yang ada di hadapannya.
Sekarang.
Maksud mereka … Rajendra mantan kekasihnya!?
“Nikah sama Rajendra?! Pi?! Yang bener aja?!”
Yang dituju hanya menghela napas pendek. Winanto melepas kaca mata yang terpasang di tulang hidungnya, melipatnya rapi, lalu meletakkannya di atas meja dengan ketenangan yang mencurigakan.
“Toh, dulu kamu kemana-mana sama Rajendra terus. Sampai kelas berapa itu? Rajendra kelas tiga, kamu kelas satu SMA, ya?” Winanto tersenyum penuh keyakinan. “Laki-laki itu—Rajendra ‘kan baik."
Karuna mual.
Bahkan untuk mengingat apapun yang terjadi dengannya bersama Rajendra di masa lalu, ia sungguh enggan.
Tujuh tahun bukan waktu sebentar untuk pulih dan Karuna sama sekali tidak berniat mengulanginya. Sungguh ia tak mau kembali lagi.
Ah, bagaimana Karuna mengatakannya jika orang tuanya saja tidak pernah tahu hubungannya dengan Rajendra seperti apa?
“Kata siapa dia baik sih?!”
Wanita dua puluh enam tahun itu baru saja pulang kerja. Blazer masih menggantung di lengannya, tas bahkan belum sempat ia letakkan, sementara migrain mulai berdenyut di pelipisnya—hingga sebuah kalimat akhirnya lolos dari bibirnya.
Kalimat yang sekonyong-konyong, tidak ia saring dengan otak juga mulutnya.
“Mereka tawarin apa aja ke Papi sama Mami, huh? Uang? Saham? Atau janji investasi? Karuna janji, Karuna bisa cari yang lebih! Nggak dengan dijodoh-jodohin kayak gini!”
“Karuna,” tegur Marlina, jelas tidak suka.
Akan tetapi bagi Winanto, adalah wajar jika Karuna mengungkap kecewanya. Gadis itu juga ada benarnya, pria tua itu juga tidak mau berbohong dan sembunyi tangan.
“Mungkin kamu masih kerja dengan fasilitas baik di bagian kantor Dago, karirmu bagus, cara kerjamu juga nggak ada masalah. Empat tahun ini, kamu memang banyak bantu, tapi… itu belum cukup, Kak. Kamu tahu, ‘kan, cabang Braga dan Martadinata sedang defisit habis-habisan sekarang? Kebutuhan yang sekarang terlalu mendesak. Berapa pegawai restoran lagi yang harus Papi PHK?”
Kalimat itu jatuh lebih berat dari yang Karuna bayangkan.
Ia bukan anak manja. Ia terbiasa bekerja keras. Tapi mendengar itu langsung dari Winanto, seolah semua usahanya hanya catatan kaki. Rupanya, apa yang ia lakukan tidak pernah cukup. Ia kecewa dan malu.
Mendengar itu, Karuna langsung memicingkan matanya. Rasanya kacau hingga setetes air mata begitu saja turun di pipinya. Ia semakin merasa bahwa pendapatnya di sini sama sekali tidak diperlukan.
“Kenal sama dia nggak menjamin dia orang yang tepat buat jadi suamiku.”
Kalimat itu menggantung di udara, berat dan dingin.
Tak ada yang langsung menjawab.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Karuna angkat kaki dari duduknya. Langkahnya cepat, hampir tergesa, menutup pintu taman belakang kencang.
Rajendra adalah sisi koin paling sempurna, sementara Karuna adalah yang paling cacat, begitukah maksud orang tuanya?
Gedung kantor Witavest Group pagi itu bergerak dengan ritme yang nyaris tidak memberi ruang untuk berhenti. Lobi dipenuhi arus manusia yang datang silih berganti–sepatu formal yang beradu dengan lantai marmer, suara pintu lift yang terbuka-tutup, serta percakapan singkat yang terdengar seperlunya.Langkahnya tidak tergesa, namun pasti. Kemeja abunya rapi tanpa cela, jas gelap melekat, sementara ekspresi wajahnya datar–terkendali, nyaris tak menyisakan jejak dari apa pun yang ia bawa dari rumah tadi pagi. Sapaan datang dari beberapa arah, namun ia hanya membalas dengan anggukan kecil, tanpa benar-benar menghentikan langkahnya.Lift membawanya naik tanpa hambatan. Jeremy sudah menyusul beberapa detik kemudian, berdiri sedikit di belakang dengan tablet di tangan, siap menyampaikan hal-hal yang bahkan belum sempat dibuka sejak tadi pagi.“Tim Singapura sudah konfirmasi ulang, Pak,” ujar Jeremy begitu mereka keluar dari lift. “Dengan catatan mereka meminta presentasi kita nanti lebih detail
Mereka berempat akhirnya duduk di meja makan pagi itu.Marlina dan Winanto belum sempat menyentuh makanan berat sejak berangkat dari Bandung dini hari. Maka hidangan yang tersaji–hangat, mengepul, tertata rapi–terasa seperti penyambut yang menenangkan.Natri sudah menyiapkan semuanya tanpa cela di atas meja makan hunian mewah itu. Cahaya pagi jatuh dari jendela besar di samping, memantul di permukaan meja jati, lembut–disisir embun.Karuna sudah duduk tegak; blouse putih yang ia kenakan jatuh pas di tubuhnya, sederhana, tanpa banyak aksen, dipadukan dengan celana bahan gelap yang membuatnya terlihat lebih dewasa. Rambutnya terurai, halus, sebagian menutupi sisi wajahnya yang dirias tipis–menyembunyikan sisa lelah yang belum sepenuhnya hilang.Di sampingnya, Rajendra tak banyak berbeda.Kemeja abu-abu muda yang ia kenakan licin tanpa lipatan, lengan digulung rapi sampai pergelangan, memperlihatkan kesan santai yang tetap terjaga batasnya. Jam tangan melingkar di tangan kirinya. Tidak me
Karuna duduk di atas ranjang, punggungnya bersandar pada kepala tempat tidur, dengan lampu kamar yang hanya menyala setengah redup–keemasan. Ponselnya ada di genggaman, namun sejak beberapa menit lalu layar itu hanya menampilkan halaman kosong–tanpa benar-benar ia perhatikan.Pikirannya melayang, jauh, pada alasan-alasan yang coba ia bantah.Dan semuanya, berujung pada titik yang sama.Hingga–dering.Karuna sedikit tersentak.Satu nama penelepon muncul di layar–dengan emoji hati setelahnya.Mami.Sepersekian detik, ia hanya menatapnya. Ada jeda kecil–seakan ia harus memastikan dulu bahwa ‘suaranya’ nanti akan terdengar normal. Baru setelah itu, ia menggeser tombol jawab.“Mi…”“Karuna?” suara itu langsung menyapa dari seberang, hangat seperti biasa. “Lagi apa, Kak?”Karuna menelan ludahnya pelan, menegakkan duduknya sedikit, seolah itu bisa membantu merapikan apa yang ada di benaknya. “Nggak… lagi di kamar aja.”“Udah makan malam?”“Iya.”Padahal ia bahkan tidak benar-benar ingat apa
Perut Karuna sebenarnya tidak benar-benar lapar–seperti hanya meminta sesuatu yang ringan, untuk sekadar pengganjal. Setelah merapikan beberapa hal di kamar, ia turun ke dapur dengan niat sederhana; memanggang roti dan mengolesinya dengan sesuatu yang manis.Namun, begitu ia sampai, pilihannya terbatas. Di atas meja hanya ada selai cokelat, kacang, dan srikaya–ia tidak terlalu menginginkannya. Gadis itu mengerutkan kening, lalu mulai membuka laci satu per satu sampai pandangannya berhenti pada rak kaca paling atas.Selai stroberi, kalengan yang masih baru.Matanya sedikit berbinar.“Tinggi banget, sih…” keluhnya pelan, menengadah.Lantas ujung matanya menangkap bangku kecil di dekat kulkas. Tanpa pikir panjang, ia menariknya, meletakkannya di depan kabinet, lalu naik dengan hati-hati. Ujung jarinya berusaha meraih, tetapi, tetaplah kurang. Ia berjinjit, bahkan melompat kecil beberapa kali, tubuhnya terangkat turun dengan gerakan yang mulai tidak stabil.Tanpa Karuna sadari, ada seseora
Perjalanan dari Bali ke Jakarta memang tidak memakan waktu lama–namun jarak di antara mereka justru terasa memanjang setelahnya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang, hari itu terasa seperti ruang transit yang dingin tanpa kata. Rajendra berakhir di ruang kerja, pintu tertutup rapat.Duniany
Karuna masuk ke dalam kamar hotel dengan raga yang sudah kehilangan arah–seluruh tenaganya seperti habis tertelan di luar sana. Ia menutup pintu dengan bantingan yang masih penuh emosi, lalu melempar tasnya begitu saja ke arah sofa tanpa benar-benar melihat ke mana jatuhnya. Ia hanya melepas sepatu
Malam itu mereka tiba di Sanur tepat saat langit berubah menjadi gelap. Mentari sudah berganti bulan. Lampu-lampu kecil bergelantungan di sepanjang jalan menuju bibir pantai, bercampur dengan cahaya dari stan-stan makanan.Aroma sate lilit, jagung bakar, dan kelapa muda bercampur dengan desir laut y
Pagi itu, Rajendra terbangun dalam keadaan yang tidak sepenuhnya tenang.Semalam, ia dan Karuna sepakat untuk Rajendra kembali mengambil tempat di sofa. Refleks pertamanya adalah menoleh ke arah ranjang. Kosong.Sprei masih rapi di satu sisi, hanya sedikit kusut di bagian tempat Karuna berbaring se






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews