Share

Bab 125

Author: Hisa NK
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-13 19:37:27

SWUUUUSSHH!

Dengan satu pukulan Sentuhan Refleks tingkat rendah di titik saraf leher, Satria memukul mundur gelombang racun di tubuh Komandan Pertama, lalu melempar tubuh pria tua itu menembus pusaran angin yang menghempaskannya jauh ke jalur luar perbatasan.

Satria berdiri tegak kembali di tengah sunyinya jurang kematian. Ia mengusap mantel hitamnya yang sedikit terkena debu, lalu menatap ke arah langit selatan yang perlahan mulai terang oleh kilatan api pertarungan Larasati yang telah usai.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 126

    "Lakukan Penguncian Pasif di seluruh markas cabang sekarang juga, Vanya!"Suara bariton Satria memotong kepanikan yang menyelimuti saluran komunikasi internal. Ia berdiri tegap di tengah halaman Villa Himawan, kemeja gelapnya tersapu angin malam. Manik mata keemasannya berotasi pekat dengan pendar Netrakawaskitan yang menembus batas cakrawala.Pak Baskoro melangkah cepat ke samping menantunya, wibawa kepemimpinan sang Ketua Klan Himawan seketika membakar semangat di sekelilingnya."Vanya, dengar titah Penguasa Utama!" "Perintahkan seluruh pimpinan cabang di lima benua untuk mengaktifkan perisai darurat terdalam! Tutup rapat seluruh gerbang utama, jangan ada satu prajurit pun yang keluar untuk melayani provokasi mereka!"BZZZZZZTTT!"S-siap, Pak Baskoro! Siap, Den Satria!" sahut Vanya tanpa basa basi. Jemarinya menari cepat di konsol siber, memancarkan sinyal perintah tertinggi ke seluruh pelosok bumi. "Sinyal perintah Penguasa Utama berhasil dikirim! Seluruh cabang di lima benua mula

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 125

    SWUUUUSSHH!Dengan satu pukulan Sentuhan Refleks tingkat rendah di titik saraf leher, Satria memukul mundur gelombang racun di tubuh Komandan Pertama, lalu melempar tubuh pria tua itu menembus pusaran angin yang menghempaskannya jauh ke jalur luar perbatasan. Satria berdiri tegak kembali di tengah sunyinya jurang kematian. Ia mengusap mantel hitamnya yang sedikit terkena debu, lalu menatap ke arah langit selatan yang perlahan mulai terang oleh kilatan api pertarungan Larasati yang telah usai.BZZT... CRACKLE..."Den Satria," panggil Pak Hendra melalui saluran internal Villa Himawan. "Pak Baskoro menyampaikan kalau perisai Gajah Putih di villa telah dikunci. Non Liana dan Den Nagendra aman tanpa ada gangguan sedikit pun."Satria menyunggingkan senyum tipis yang lega. "Terima kasih, Pak Hendra. Sampaikan pada Papa... penyusup jalur darat sudah disapu bersih.""Siap, Den Satria!"Satria membalikkan tubuhnya, melangkah pelan kembali menuju arah Villa Himawan. Malam pembantaian senyap tel

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 124

    Malam yang membeku di rimba perbatasan mendadak hening secara mencekam. Dua puluh penyusup elit Sekte Bayangan Merah membeku di tempat, merasakan tekanan hawa membunuh milik Satria Wisesa yang menghimpit dada mereka hingga sulit bernapas. Udara di sekeliling jurang itu mendadak mengendap berat, seolah pepohonan tua dan batu karang di sekitar mereka ikut tunduk pada sang Penguasa Utama Himawan.Komandan Pertama Bayangan Merah meremas erat gagang sepasang belati beracunnya. Keringat dingin merembes di balik topeng tengkorak merah yang ia kenakan. Batin iblis tuanya berteriak panik—skenario terbaik Trah Sangkala telah hancur sejak detik pertama Satria menapakkan kaki di celah jurang ini."J-jangan gentar!" raung Komandan Pertama seraya menggelegarkan aura racun merah dari seluruh pori-pori kulitnya. "Dia cuma datang seorang diri! Kepung dia! Gunakan Ajian Jarum Jiwa Sangkala!"SWUUUUSSHH-BZZZZZZTTT!Atas perintah komandannya, lima belas prajurit penyusup melompat serentak membelah kegela

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 123

    Baskoro menyandarkan punggungnya, menatap peta hologram dengan tatapan tajam nan bijaksana."Vanya," ucap Baskoro. "Berapa estimasi waktu mereka mencapai titik pendaratan pantai selatan?""Kalau kecepatan kapal siluman mereka konstan, mereka akan mendarat di pesisir selatan dalam waktu empat belas jam dari sekarang, Pak Baskoro!" sahut Vanya cepat. "Tepat saat tengah malam!"Hendra menunduk sedikit ke arah Baskoro dan Satria, menyampaikan laporan teknisnya. "Den Satria, Pak Baskoro... seluruh sistem pengamanan Faksi Himawan di wilayah selatan sudah siaga satu. Apa kita perlu mengerahkan armada utama untuk menghadang mereka di pantai?"Baskoro mengangkat sebelah tangannya pelan, seketika membuat suasana kembali hening menantikan keputusan sang Ketua Klan."Mengerahkan seluruh armada utama ke pantai selatan adalah kekeliruan strategi, Hendra," tegas Baskoro lugas. "Trah Sangkala terkenal kelicikannya. Serangan tiga divisi di pantai bisa jadi cuma umpan untuk memancing kekuatan utama kit

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 122

    "Sshhh!"Satria masuk hingga pangkal, lalu berhenti sejenak, membiarkan Liana menyesuaikan. Dahi bersandar di dahi istrinya. “Masih sempit, Li…”Liana membuka mata, menatapnya dengan pupil yang melebar. “Gerak… tolong gerak…”Satria mulai bergerak. Perlahan di awal—hampir keluar sepenuhnya, lalu mendorong kembali hingga dalam. Setiap hentakan terasa basah dan berat. Bunyi kulit bertemu kulit pelan-pelan memenuhi keheningan kamar. Liana memeluk lehernya erat, kuku-kukunya meninggalkan jejak di punggung yang masih penuh memar dari pertempuran.“Enak… ahh… di situ… lagi…”Satria mempercepat sedikit. Satu tangannya turun di antara mereka, jari-jari memutar klitoris Liana seirama hentakannya. Liana semakin basah, semakin terbuka. Cairannya membasahi pangkal kejantanannya setiap kali dia masuk.“Satria… aku mau… ahh… mau keluar…”“Keluarin,” bisik Satria serak di telinganya. “Keluarin di sekeliling aku. Biar aku rasain kamu bergetar.”Liana mencapai puncak dengan tubuh yang menegak. Dinding

  • Tembus Pandang Menjadikanku Kaya Raya   Bab 121

    Malam itu, setelah pertempuran di Kediaman Utama, seluruh kompleks Himawan Tower masih dipenuhi asap dan debu. Tim keamanan dan pemadam kebakaran bekerja tanpa henti, tapi jelas bahwa Penthouse utama tidak bisa lagi dihuni—setidaknya untuk beberapa minggu ke depan.Pak Baskoro sudah mengatur segalanya. Villa cadangan Himawan Group di kawasan Jakarta Selatan disiapkan dalam hitungan jam. Tempat itu lebih kecil dari Penthouse, tapi lebih hangat—sebuah rumah bergaya kolonial dengan halaman luas dan pepohonan rimbun yang menenangkan.Mobil hitam berlapis baja berhenti di depan gerbang villa. Satria turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Liana yang menggendong Nagendra. Bayi itu tertidur pulas setelah seharian penuh dengan ketegangan dan teriakan—seolah-olah dia tahu bahwa dia aman sekarang.“Kita sampai, Li,” kata Satria pelan, tangannya meraih pinggang Liana.Liana menatap rumah di hadapannya. “Akhirnya kita kembali ke sini,” bisiknya. ***Di dalam villa, suasana terasa berbeda. Tid

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status