INICIAR SESIÓNFira melangkah makin mendekat ke meja kerja Alya dengan dahi berkerut curiga. Pandangannya mengarah tepat ke sela-sela bawah meja yang tertutup rapat oleh panel kayu depan."Mbak Alya beneran enggak apa-apa? Suaranya aneh banget, kayak ada orang di bawah..." ujar Fira seraya membungkukkan tubuhnya, hendak mengintip ke kolong meja.Jantung Alya serasa berhenti berdetak saat itu juga. Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Di bawah sana, Dewa sengaja menghentikan pergerakan jarinya, namun pria itu justru sengaja mengecup pangkal paha dalam Alya, membuat tubuh Alya gemetar hebat menahan sensasi yang membakar.Dengan sisa keberanian dan kepanikan yang membumbung tinggi, Alya sengaja menyenggol tumpukan berkas dan wadah pulpen di tepi mejanya hingga jatuh berserakan ke lantai.Berbagai alat tulis dan kertas bertebaran tepat di depan kaki Fira, menghentikan niat gadis itu untuk mengintip."Aduh! Maaf, Fira... tanganku lemas banget, pusing," potong Alya cepat dengan suara bergetar.
Telepon di ruang kerja Direktur Keuangan perusahaan Rehan berdering keras. Rehan, yang masih terduduk lemas di sofa rumahnya, terpaksa menelepon sang Direktur keuangan untuk mengabarkan situasi darurat."Uang gaji karyawan... dibawa kabur sama Sinta, Pak," kata Rehan dengan suara bergetar.Di ujung telepon, sang manajer keuangan mendengus keras. "Pak Rehan, saya enggak mau tahu! Pihak perusahaan dan seluruh karyawan tidak akan peduli dengan masalah rumah tangga Bapak! Kalau hari ini gaji tidak cair, karyawan bakal mogok dan terus menuntut perusahaan. Kantor bisa hancur, Pak!""Tolong beri saya waktu," bisik Rehan pasrah sebelum menutup telepon. Kepala Rehan serasa mau pecah.Dalam kondisi bingung setengah mati, ia mulai menghubungi satu per satu kolega bisnisnya untuk meminjam uang. Namun, respons yang diterimanya sungguh menyakitkan. Sebagian besar menolak secara halus, sementara beberapa yang bersedia meminjamkan hanya mampu memberi angka kecil yang jauh dari kata cukup.Sebaga
Rehan berlari keluar kamar dengan napas memburu, langkah kakinya bergelut deras menyusuri lorong rumah hingga menemukan mamanya yang sedang duduk di ruang tamu."Ma! Apa Mama yang mengambil semua cek dan tabungan tunai di brankas Rehan?!" tanya Rehan histeris, matanya membelalak penuh kecemasan.Sang Mama terperanjat kaget mendengarnya. "Enggak! Mama enggak pernah menyentuh brankas kamu! Lagian, ngapain Mama masuk-masuk ke kamar kamu tanpa izin, Rehan?!"Rehan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Jika bukan mamanya, maka tidak ada orang lain lagi di rumah ini yang tahu kode brankas tersebut selain satu orang.Sinta.Dengan dada bergemuruh menahan amarah yang membakar, Rehan merogoh saku, mencengkeram ponselnya, dan langsung mendial nomor istrinya."Sinta! Kamu kan yang menguras habis semua uang dan cek di brankas aku?!" cercar Rehan tanpa basa-basi begitu suara di ujung telepon menyapa."Apaan sih, Mas? menelpon langsung tuduh!" sangkal Sinta santai dari balik telepon."Jangan boh
Rehan yang panik seketika menggendong Shinta dan melarikan wanita itu ke rumah sakit. Namun, setibanya di sana dan dilakukan pemeriksaan intensif, dokter menyampaikan kabar duka: Shinta mengalami keguguran dan janin di dalam kandungannya tidak bisa diselamatkan.Mendengar hal itu, histeris Shinta seketika pecah di ruang perawatan. Ia menunjuk wajah Rehan dengan mata memerah dan penuh amarah."Ini semua gara-gara kamu, Mas! Kalau kamu enggak dorong aku tadi, anak kita enggak akan mati! Kamu pembunuh!" teriak Shinta penuh emosi.Rehan yang panik dan enggan disalahkan sepenuhnya langsung berkilah membela diri. "Aku dorong kamu cuma pelan, Sin! Dorongan pelan kayak gitu enggak mungkin sampai bikin kamu keguguran! Jangan melimpahkan semua kesalahan ke aku!"Melihat perdebatan panas yang makin tak terkendali, dokter melangkah maju untuk menenangkan situasi."Harap tenang Bapak, Ibu," potong dokter tegas. "Perlu saya jelaskan, kondisi keguguran ini bukan semata-mata karena dorongan terse
Rehan pulang ke rumah malam itu dengan kepala yang serasa mau pecah. Tanpa menunda waktu, ia langsung menghubungi seluruh pihak terkait dan petinggi perusahaannya. Ia memerintahkan agar proyek bersama Dewa segera diaktifkan kembali. Semua dana cadangan yang tersisa ia kucurkan habis-habisan demi menyelamatkan proyek tersebut."Pak, kalau semua dana dicurahkan ke sini, arus kas perusahaan kita akan macet total. Kita bahkan bakal kesulitan membayar gaji karyawan bulan depan," peringat salah satu petinggi perusahaan melalui telepon."Tenang saja, aku masih punya dana darurat. Yang penting proyek ini jalan dulu!" tegas Rehan nekat.Ketika Rehan menyudahi rapat daringnya, Shinta rupanya masih belum tidur. Wanita itu menghampirinya tanpa rasa bersalah, lalu meminta sejumlah uang."Mas, aku minta uang dong buat belanja. Aku sudah lama enggak belanja, bosan di rumah terus. Aku juga ingin pergi liburan," ujar Shinta santai.Rehan menatap Shinta dengan rahang mengeras. Di saat kepalanya ma
Shinta menghendaki sebuah pernikahan yang mewah dan megah. Namun, Rehan enggan mengabulkannya karena pernikahan semacam itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. "Kita sudah hidup bersama. Ngapain sih nikah harus megah-megah? Mending uangnya kita tabung buat biaya kelahiran anak kita nanti," sanggah Rehan mencoba rasional. "Kamu kenapa sih, Mas? Pelit sekali!" protes Shinta tak terima. "Uang dp investasi dari Pak Dewa kan masih banyak. Kita ambil sedikit buat biaya pernikahan saja, Mas. Masa kamu enggak mau?" "Enggak! Enggak bisa!" tegas Rehan menguatkan suara. "Kalau sampai ketahuan Pak Dewa, dia bisa membatalkan kerja samanya! Lebih baik kita nikah di KUA saja. Yang penting sah secara hukum dan anak ini pas lahir punya status yang jelas." Shinta pun menghentak-hentakkan kakinya di lantai dengan gusar. Di matanya, Rehan kini sangat berbeda dan tak lagi royal seperti dulu. Awalnya Shinta beranggapan hidupnya akan bergelimang kemewahan setelah berhasil menggeser posisi Alya,







