Compartir

Kepikiran Devan

Autor: CitraAurora
last update Fecha de publicación: 2026-09-28 20:48:20

H-1 menjelang hari pernikahan Dewa dan Alya, proses penyerahan tanggung jawab telah usai sepenuhnya. Devan secara resmi memasrahkan operasional harian perusahaan kepada dewan direksi dan jajarannya untuk 3 hari ke depan.

​Usai menyelesaikan urusan terakhir di kantor, Devan langsung meluncur menuju kediaman Dewa untuk menjemput Fira. Mobil sedan hitam mewah itu berhenti mulus di depan pelataran rumah. Tak lama kemudian, Fira keluar sambil menarik sebuah koper.

​"Nona Fira, apa sudah siap?" tan
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Terapi Gila Atasanku   Menjodohkan Fira Dan Devan

    Ponsel Devan yang tergeletak di atas meja kamar resort mendadak berdering nyaring. Nama "Pak Dewa" tertera di layarnya. Dengan sigap, Devan menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.​"Devan, apa kamu sudah sampai?" tanya Dewa dari sambungan telepon.​"Sudah, Pak Dewa," jawab Devan lugas.​"Bagus. Kalau begitu, kamu langsung susul aku ke restoran resort ya. Sekalian kita makan malam bersama," perintah Dewa. Pria itu menambahkan sebelum memutuskan sambungan, "Jangan lupa Fira bawa sekalian."​Tut... tut... tut.​Panggilan pun terputus. Devan melihat jam di tangannya. Tiga puluh menit kemudian, Devan sudah rapi dengan kemeja kasual yang santai namun tetap elegan. Ia melangkah keluar dan berdiri di depan pintu kamar resort Fira.​Setelah beberapa kali ketukan pintu, barulah engsel pintu berputar dan Fira memunculkan kepalanya dari dalam. Rambutnya masih sedikit berantakan, namun wajah alaminya tetap terlihat sangat manis.​"Ada apa, Mas?" tanya Fira menyapa lembut.

  • Terapi Gila Atasanku   Kepikiran Devan

    H-1 menjelang hari pernikahan Dewa dan Alya, proses penyerahan tanggung jawab telah usai sepenuhnya. Devan secara resmi memasrahkan operasional harian perusahaan kepada dewan direksi dan jajarannya untuk 3 hari ke depan. ​Usai menyelesaikan urusan terakhir di kantor, Devan langsung meluncur menuju kediaman Dewa untuk menjemput Fira. Mobil sedan hitam mewah itu berhenti mulus di depan pelataran rumah. Tak lama kemudian, Fira keluar sambil menarik sebuah koper. ​"Nona Fira, apa sudah siap?" tanya Devan sopan seraya melangkah mendekat.​"Sudah, Pak Devan," jawab Fira ramah.​Tanpa membuang waktu, Devan langsung mengambil alih koper dari genggaman Fira dan menyeretnya menuju bagasi mobil.​"Terima kasih," bisik Fira tulus.​"Sama-sama, Nona. Silakan masuk," ujar Devan sembari membukakan pintu penumpang.​Fira pun masuk dan duduk nyaman di dalam mobil. Sepanjang perjalanan menuju bandara, keheningan di antara mereka perlahan mencair. Fira dan Devan mulai mengobrol santai mengenai banyak

  • Terapi Gila Atasanku   Malu

    Tiga hari menjelang hari pernikahan, suasana sibuk namun penuh kebahagiaan menyelimuti Dewa dan Alya. Segalanya sudah tertata rapi, dan kini tiba waktunya bagi mereka untuk berangkat ke Pulau Dewata.​"Mas, kalau aku baru berangkat H-1 sebelum pernikahan kalian, enggak apa-apa kan?" tanya Fira via telepon.​"Enggak apa-apa," sahut Dewa santai. "Nanti kamu berangkat ke sana bareng Devan saja. Kebetulan H-1 aku juga menyuruh Devan standby penuh di Bali."​"Lalu bagaimana dengan urusan kantor, Mas?" tanya Fira lagi.​"Biar di-handle sama direksi yang lain dulu. Kamu tenang saja," jawab Dewa mantap.​Entah mengapa, saat mendengar nama Devan disebut dan tahu pria itu akan menemaninya sepanjang perjalanan, ada desiran hangat dan rasa senang yang membuncah di dada Fira. Setidaknya, penerbangan menuju Pulau Dewata nanti tak akan terasa sepi karena ada seseorang yang istimewa di sisinya.​Singkat cerita, sore itu rombongan utama telah tiba di bandara privat. Dewa dan Alya berjalan berdampingan

  • Terapi Gila Atasanku   Puaskan Aku

    Dewa malah terkekeh pelan melihat ekspresi Alya yang cemburu setengah mati. Pria itu menyandarkan kedua tangannya di atas meja kerja Alya, memangkas jarak di antara wajah mereka.​"Kamu tuh seharusnya senang, Sayang. Itu tandanya calon suamimu ini banyak dikagumi wanita," goda Dewa seraya mengedipkan sebelah matanya.​"Senang apanya?!" sahut Alya kesal seraya memalingkan wajahnya. "Yang ada itu sebel tahu, Mas! Karyawan-karyawan itu centil banget!"​Dewa tersenyum makin lebar. Ia meraih dagu Alya dengan lembut, memaksa mata bening wanita itu menatap lurus ke dalam matanya.​"Dengar ya, Sayang... Mau sebanyak apa pun wanita yang kagum di luar sana, hatiku cuma ada kamu seorang," bisik Dewa dengan suara berat dan tulus.​Seketika kekesalan di wajah Alya meluluh. Sorot matanya berubah menjadi nanar menatap Dewa. "Kamu enggak akan berubah kan, Mas? Kamu bakal selalu bersamaku sampai maut memisahkan kita, kan?"​Dewa menggenggam erat kedua tangan Alya, mencium punggung tangannya berulang k

  • Terapi Gila Atasanku   Akuisisi Berhasil

    Pagi itu, suasana di ruang rapat utama perusahaan Rehan terasa begitu tegang. Seluruh jajaran dewan direksi dan para petinggi perusahaan sudah duduk melingkar di meja rapat yang panjang, menunggu kedatangan sosok pemilik baru perusahaan mereka.​Pintu ruang rapat akhirnya terbuka lebar. Dewa melangkah masuk dengan wibawa yang memancar kuat, didampingi Devan yang sigap membawa tumpukan dokumen legalitas di tangannya.​"Selamat sore, Pak Dewa," sambut beberapa direktur yang refleks bangkit berdiri dari kursi mereka dengan raut wajah penuh hormat.​Dewa mengangguk pelan tanpa mengikis kesan dinginnya. "Selamat sore. Silakan duduk kembali."​Setelah semua orang kembali duduk, Rehan yang berdiri di ujung meja dengan wajah pucat pasi mulai membuka suara. Suaranya bergetar menahan kepedihan yang luar biasa.​"Selamat sore, semuanya," ujar Rehan pelan, membasahi bibirnya yang kering. "Hari ini... saya ingin mengumumkan keputusan penting terkait kelangsungan perusahaan kita. Mulai hari perusah

  • Terapi Gila Atasanku   Akuisisi Perusahaan Rehan

    "Pak Dewa, perusahaan Rehan benar-benar sudah dinyatakan pailit. Apa langkah kita selanjutnya?" tanya Devan sopan saat memberikan berkas dokumen keuangan terkini kepada atasannya.​Dewa yang sedang menatap layar laptopnya hanya mengulas senyum sinis. Tanpa ragu, ia menutup laptop mewahnya dengan gerakan tenang namun tegas.​"Batalkan seluruh kontrak kerja samanya," ujar Dewa singkat.​"Baik, Pak. Saya urus surat pembatalannya sekarang," sahut Devan membungkuk hormat, lalu pamit keluar dari ruang CEO tersebut.​Sementara itu, di ruang kerjanga Rehan duduk termangu dengan kepala tertunduk dalam. Pikirannya benar-benar kalut dan pusing luar biasa. Satu per satu penanam modal menarik dananya secara mendadak. Banyak kontrak kerja sama dengan mitra bisnis utama yang dibatalkan secara sepihak. Kas perusahaannya kini benar-benar kosong melompong.​Di tengah keputusasaan yang mencekik leher itu, layar ponsel Rehan menyala menampilkan panggilan masuk dari Devan. ​Dengan napas memburu dan secer

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status