LOGINSementara di dalam ruang praktik, Helena baru saja masuk dan melihat Tania duduk di depan meja kerja Bagas.Namun sebelum ke sana, ia terlebih dahulu melihat ke sekeliling tempat terapi ini. Sama seperti Madame Renata waktu itu, Helena juga kagum dengan desain ruangan itu yang menempatkan sekat pemisah untuk area terapi hingga terlihat lebih privat.Helena tersenyum tipis lalu berjalan menghampiri Bagas yang sedang duduk di balik meja kerjanya.“Ruangan ini bagus, tampak sempurna dengan metode terapi kamu, sayang,” ujar Helena dan langsung melingkarkan tangannya di leher Bagas. Ia melirik ke arah Tania sejenak sebelum akhirnya memberi kecupan lembut pada bibir dokter tampan itu.Bagas tersenyum, ia merespon dengan memegang pinggang Helena erat.Sementara Tania, ia hanya duduk membeku, menekuk wajahnya. Ia belum sempat mengatakan apa-apa kepada Bagas dan Helena sudah masuk ke dalam.“Sayang, kita duduk di sana saja. Biar lebih nyaman,” ujar Helena kembali.“Baiklah,” sahut Bagas. Ia ba
Bagas melangkah keluar dari lift lantai dua. Ia melihat Mayra sedang sibuk menyusun jadwal di meja resepsionis. Gadis itu menatapnya dengan binar mata yang biasa, tanpa tahu bahwa beberapa jam lagi, tempat kerjanya akan menjadi saksi sebuah kegilaan baru.Mayra bangkit menyambut Bagas dengan senyum hangat.“Dok?” sapanya pelan.Bagas mendekat, mendekap lalu mengecup bibirnya dengan lembut. Mayra langsung tersipu malu.Ia langsung melingkarkan tangannya di leher Bagas. “Kenapa tadi pagi begitu buru-buru?” tanya Mayra dengan wajah manja.Bagas mengusap lembut pipi wanita manis itu. “Aku tadi buru-buru. Ada rapat di rumah sakit.”Mayra kembali tersenyum. Ia mengeluarkan secarik kertas yang tadi pagi ditinggalkan Bagas. Ia membuka kertas tersebut lalu kembali menatap Bagas. “I love you to, Dokter Bagas,” katanya lembut sambil tersenyum genit.Bagas langsung memegang wajah Mayra dan melumat bibirnya dengan lembut dan cukup dalam. Mayra tersentak, ia meremas secarik kertas di tangannya. Bag
Setelah rapat selesai. Terlihat Bagas dan Helena duduk sambil menikmati segelas kopi di pantry rumah sakit.“Kapan kamu bertemu dengan Tania?” tanya Bagas penasaran. Kata-kata Helena sebelum rapat tadi terus menghantui pikirannya.“Semalam, aku tidak sengaja bertemu dengan dia di pusat perbelanjaan di kota,” jawab Helena sambil menyesap kopi hangat di tangannya. Lalu ia kembali meletakkan cangkir dengan lembut.“Tania ingin ketemu kamu, Bagas,” katanya lagi.“Untuk apa?” tanya Bagas tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk mengaduk kopi di atas meja.Helena mengangkat bahunya sebagai respon. “Tidak ada yang tahu, dia mau minta maaf maybe, atau kemungkinan lainnya… dia ingin menjadi bagian hidupmu lagi.”Tangan Bagas terhenti, ia langsung menoleh ke arah Helena.“Jangan bercanda Helena, itu sama sekali tidak mungkin.”“Tidak ada yang tidak mungkin Bagas. Perempuan itu jenis makhluk yang paling kompleks, kadang perasaan dapat mengalahkan rasionalitasnya. Mungkin saja Tania menyesal, atau… d
Esok harinya, Bagas terjaga. Ia membuka matanya sambil menguap pelan. Pandangannya langsung jatuh pada tubuh Mayra yang masih terlelap dalam dekapannya di balik selimut. Setelah permainan yang begitu luar semalam, akhirnya mereka berdua terkapar dan terlelap sambil berpelukan.Bagas sedikit menarik tubuhnya, tidak langsung bangun. Ia bertumpu dengan siku sambil satu tangannya membelai rambut Mayra. Gadis itu begitu cantik, wajahnya sangat manis.Bagas menarik diri pelan-pelan, tidak ingin membangunkan Mayra yang masih terlelap. Ia menyibak selimut dan tersenyum tipis saat melihat kondisi mereka berdua ternyata masih telanjang bulat. Bahkan sisa kenikmatan semalam masih terlihat di kejantanan dan pangkal perut Mayra.Kejantanan Bagas kembali berdenyut saat ia melihat tubuh polos Mayra yang masih meringkuk di atas tempat tidur. Tapi ia segera turun dan mengalihkan pikirannya. Hari ini ia harus berangkat lebih awal ke rumah sakit. Jadi, Bagas tidak boleh menghabiskan staminanya pagi ini
Bagas mendekat, langkahnya pelan dan tenang. Mata Bagas langsung tertuju pada interkom di atas meja Mayra yang masih menyala.“Ah! Jadi itu masalahnya,” gumam Bagas menyadari penyebab yang membuat Mayra merasa sedih.“May,” sapa Bagas lembut, ia berdiri tepat di sebelah Suster tersebut. Tangannya memutar kursi Mayra hingga menghadap ke arahnya.Sementara Mayra ia masih menekuk wajahnya, ia tidak sanggup menatap Bagas. Jika ia melihat Dokter muda itu sekarang, pasti tangisnya akan tumpah.Bagas menghela napas berat, ia akhirnya berlutut di depan Mayra.“May,” katanya lembut. Tangan Bagas mendarat di atas paha Mayra.“Clara itu hanya sebatas pasien, tidak lebih.” Tangan Bagas terangkat pelan dan memegang lembut pipi Mayra. Ia mengusapnya dengan ibu jari.“Dan Renata, dia itu hanya sebatas atasan dan pemegang saham, May,” tambah Bagas.Ia mulai memegang kedua tangan Mayra dan menciumnya lembut.“Sedangkan kamu… kamu wanita yang akan selalu bersamaku, May. Hanya kamu.”Mayra akhirnya meng
Sementara di dalam Bagas sedang memberikan ‘terapi’ kepada Clara, di balik pintu ketegangan mulai terjadi.Madame Renata masih di lobi lantai dua. Ia melihat Mayra yang masih berdiri kaku di balik meja kerja, matanya terpaku pada pintu yang baru saja tertutup.Renata berjalan mendekat ke arah meja Mayra, lalu bersandar di sana dengan santai."Dia sudah mulai," bisik Renata pelan, cukup untuk membuat Mayra merinding. "Clara baru saja membawa kabar besar. Sepertinya Dokter kesayanganmu itu akan punya banyak waktu untuk 'menghibur' janda kaya yang baru saja lahir itu."Mayra menatap Renata dengan tatapan nanar. "Janda? Maksud Madame... Bu Clara sudah bercerai?"Renata terkekeh, ia mengambil sebuah pulpen di meja Mayra dan memainkannya. "Benar. Dan kamu tahu apa artinya itu bagi pria seperti Bagas? Clara tidak lagi punya batasan. Dia akan menyerahkan segalanya—hatinya, uangnya, dan tubuhnya—hanya untuk merasa diinginkan kembali."Renata menatap ke arah pintu ruang praktik yang tertutup ra







