Chapter: Benar-Benar Gila“Kanjeng Ratu!” Rini menyusul Rina melesat mendekat, tangannya dengan cepat memotong tali-tali tebal yang mengikat tubuh sang Ratu menggunakan pisau kecil.Ratu Isara terhuyung lemas begitu ikatan itu terlepas. Rina dan Rini dengan sigap menahan tubuh Ratu Isara agar tidak jatuh tersungkur ke lantai batu yang dingin. Wajah sang Ratu tampak pucat, dengan lebam merah yang masih berdenyut di pipinya, namun binar keanggunannya sama sekali tidak pudar.“Kenapa kalian kembali? Tempat ini sangat berbahaya!” bisik Ratu Isara parau, dadanya naik turun mengatur napas yang tersendak.“Kami tidak kembali sendirian, Kanjeng Ratu,” sahut Rina lembut sembari mengarahkan pandangan sang Ratu ke arah pria yang berdiri memegang golok berdarah di depan pintu.Mata Ratu Isara perlahan beralih menatap Jaka. Begitu pandangan mereka beradu, tatapan Ratu Isara mendadak terkunci. Pandangannya turun ke arah pergelangan tangan dan leher Jaka, di mana tanda garis hitam tipis yang melingkar samar.Deg!Jaka juga m
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: Ras GagakJaka tersentak kaget. Suara-suara benturan dan bentakan dari balik pintu besi itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdebar kencang. Ia tahu betul, siapa pun di dalam sana yang sedang menyekap sang Ratu bukanlah lawan sembarangan. “Apa kita bisa mendobrak pintu itu?” bisik Jaka cemas, kekhawatirannya meluap membayangkan keselamatan Kanjeng Ratu. “Jangan!” tahan Rina cepat lewat bisikan. “Kalau kita menerobos asal-asalan, gerak-gerik kita langsung ketahuan. Seluruh istana sudah dikuasai musuh. Nekat menerobos tanpa perhitungan sama saja menyerahkan nyawa, dan posisi Kanjeng Ratu malah makin terancam.” Jaka membisu, menimbang perkataan Rina dalam ketegangan. “Ta-tapi… bagaimana kalau mereka sampai membunuhnya?” bisik Jaka lagi. Ada dorongan batin yang begitu kuat menggejolak di dadanya, mendesaknya untuk segera menyelamatkan wanita yang bahkan belum pernah ia temui secara langsung di dunia nyata itu. “Tenang dulu,” sahut Rina mencoba menenangkan meski napasnya sendiri memburu. “K
Last Updated: 2026-08-08
Chapter: Menjemput Kanjeng RatuDi tengah gelak kecil dan rona merah di pipi Rina yang mencairkan ketegangan, Mangkubumi berdehem keras, mengembalikan perhatian semua orang pada situasi kritis yang menyelimuti mereka . “Ehem!” Mangkubumi merapikan posisi tombaknya, menatap Jaka dengan raut wajah yang kembali serius. “Mengingat tekad kalian sudah bulat untuk menerobos istana, kita tidak bisa membuang waktu lagi. Sisa-sisa pasukan pemberontak pasti sedang menyisir setiap sudut untuk memastikan tidak ada celah perlawanan.” Jaka mengangguk cepat, menyapu pandangan ke sekeliling. “Paman Mangkubumi, bagaimana rencana terbaik untuk masuk? Apakah lewat jalur air terjun yang dikatakan Rina tadi?” “Benar, Tuan Jaka,” sahut Mangkubumi seraya menunjuk ke arah tebing tinggi di balik pepohonan keemasan. “Gerbang utama istana pasti dijaga ketat oleh pasukan pemberontak. Jika kita memaksa lewat sana, kita akan langsung dikepung pertempuran terbuka. Tapi jalur air terjun adalah rahasia kuno yang hanya diketahui lingkaran dal
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: Rencana JakaMangkubumi terbelalak menatap Jaka dengan raut tak percaya. “Kau gila?! Istana saat ini sudah dikepung rapat! Pergi ke sana sama saja menyerahkan nyawamu secara cuma-cuma!” “Aku tidak gila, Paman,” sahut Jaka tenang, namun nada suaranya begitu dingin dan penuh penekanan. “Jika Ratu kalian memang ditangkap hidup-hidup, artinya mereka memiliki tujuan tertentu dan belum mengeksekusinya. Itu kesempatan kita. Semakin lama kita menunda, semakin berbahaya posisi Kanjeng Ratu.” “Tapi ini soal kudeta! Konflik dua kubu yang pecah hingga pertumpahan darah tak terelakkan!” tegas Mangkubumi lagi, berusaha menyadarkan pemuda di hadapannya. Arum menggenggam erat tangan Jaka, menatap suaminya dengan pancaran keyakinan mutlak. “Di mana pun kamu berada, Jaka, aku akan selalu mendampingimu.” Beno menyengir tipis sembari menepuk-nepuk golok di pinggangnya, berusaha mengusir rasa gugup yang menyelusup. “Lagipula, kita sudah terlanjur melangkah sejauh ini. Kepalang tanggung kalau harus balik kanan
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: MangkubumiJaka tersentak kaget. Dari balik lebatnya belantara, mendadak menyeruak puluhan prajurit berwujud manusia setengah kuda. Tubuh mereka luar biasa tegap dan kekar, menggenggam tombak serta pedang telanjang yang berkilat menakutkan. “Mereka?!” teriak Rina tercengang. Tanpa pikir panjang, ia melangkah maju menghampiri gerombolan tersebut. “Eh, Rina!” Jaka panik. Ia belum bisa memastikan apakah rombongan itu sekutu atau musuh seperti kawanan serigala tadi. Sialnya, Rini ikut melesat menyusul kakaknya, membuat dada Jaka kian berdebar kencang. Namun, rasa waswas itu perlahan luntur saat melihat sosok setengah kuda yang berdiri paling depan menyunggingkan senyuman hangat begitu Rina dan Rini mendekat. “Rina, Rini! Kalian selamat?!” “Hah?” Jaka mengernyit. Ternyata rombongan itu mengenali Rina dan Rini. “Iya, Paman, kami selamat!” sahut Rina dengan napas terengah. “Benar, Paman! Kami sempat terlempar ke dunia manusia. Beruntung sekali kami bertemu pemuda yang sanggup membebaskan segel
Last Updated: 2026-08-07
Chapter: Ratu Isara“Biarkan saja! Habisi dulu yang di depan kita!” teriak Jaka menahan langkah Rini agar tidak nekat mengejar sendirian ke dalam belantara yang asing. Sisa prajurit serigala yang terkepung bertindak makin kalap. Mengetahui nyawa mereka tak akan tertolong lagi, mereka mengamuk secara nekat demi mengulur waktu bagi sang pemimpin barisan. Dengan raungan buas, tiga serigala tersisa menerjang serentak tanpa mempedulikan pertahanan. Wush! Salah satu serigala mengayunkan pedang bergerigi lurus ke arah dada Jaka. Namun, Jaka yang sudah membaca keputusasaan musuh tidak melangkah mundur. Ia memiringkan badannya tipis, membiarkan bilah tajam itu lewat menembus angin tepat di samping rusuknya, lalu dengan gerakan secepat kilat ia memutar gagang goloknya dan menghantamkan mata pisau ke celah leher lawan. Crassh! Serigala itu roboh berdarah. Di saat bersamaan, Arum meluncur rendah menyapu dua sisa serigala lainnya. Gerakan memutar tombaknya menembus dada musuh kedua, sementara tebasan presisi dar
Last Updated: 2026-08-06
Terapi Hasrat Dokter Bagas
“Hanya segitu kemampuanmu, dr. Bagas?!” desah wanita itu terengah, jemarinya mencengkeram seprai.
“Ta–tapi ini salah, Nyonya… aku seharusnya tidak—”
Dipecat karena tuduhan malpraktik dan dihancurkan oleh pengkhianatan tunangannya, dr. Bagaskara kehilangan segalanya dalam semalam. Saat hidupnya berada di titik terendah, sebuah tawaran misterius datang: menjadi terapis di klinik khusus wanita milik Madame Renata—tempat yang konon mampu menyembuhkan luka… dengan cara yang tak lazim.
Namun, dari balik aroma terapi dan cahaya temaram ruang perawatan, Bagas justru terseret dalam dunia yang menggoda dan berbahaya. Setiap sentuhan menjadi ujian, setiap pasien menyimpan rahasia, dan setiap sesi terapi bisa saja membuatnya kehilangan kendali—baik sebagai dokter, maupun sebagai pria.
Read
Chapter: Bab 148 — Akhir KisahMatahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bias warna oranye kemasan yang memantul di deretan pohon pinus Desa Gunung Jati. Udara sore itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang mekar di kejauhan. Bagas berdiri di teras rumah kayunya, menyandarkan tubuh pada tiang penyangga yang kokoh. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang penuh dengan rasa syukur dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun hidup di hiruk-pikuk kota.Di depannya, hamparan kebun yang ia rawat sendiri kini mulai membuahkan hasil. Sayur-mayur tumbuh subur, dan beberapa pohon buah yang ia tanam setahun lalu mulai menampakkan kuncupnya. Namun, bukan kebun itu yang menjadi sumber kebahagiaan utamanya.Suara tawa renyah terdengar dari dalam rumah. Bagas menoleh dan melihat pemandangan yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Mayra, dengan perut yang kini sudah membulat besar di usia tujuh bulan, duduk di sofa panjang sambil melipat pakaian bayi yang baru
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: Bab 147 — Obsesi SarahHari-hari yang mereka lalui kini begitu hangat, perut Mayra semakin buncit, kehamilan Tania semakin baik. Bagas merasa hidupnya begitu lengkap dengan kehadiran dua wanita yang sama-sama sedang mengandung benihnya ini.Bahkan kini Bagas sudah lebih terbuka dan bergaul dengan warga desa. Mantan psikolog itu benar-benar telah berdamai dengan hidupnya. Bagas benar-benar telah melupakan kehidupan gelapnya di kota.Kini, umur kandungan Mayra sudah jalan 7 bulan. Perut wanita itu semakin Buncit, dan kehamilan Tania mulai berjalan empat bulan, perutnya juga mulai tampak membesar walau tidak sebesar Mayra.Para warga yang terkadang datang hanya untuk menyapa benar-benar kagum kepada Bagas. Bagaimana tidak, Bagas memiliki dua orang istri yang sama-sama hamil tetapi bisa hidup dengan rukun.Sore itu, Sarah yang kini sudah sangat dekat dengan keluarga Bagas terlihat datang bertamu. Resepsionis puskesmas itu datang membawa buah di tangannya.“Hai, Mas Bagas,” sapanya lembut saat melihat Bagas seda
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 146 — Malam PanasMalam itu, hujan turun dengan sangat deras di lereng Gunung Jati, seolah alam pun tahu bahwa ada api yang siap berkobar di dalam rumah kayu itu. Suasana di dalam kamar utama terasa begitu pekat dengan aroma terapi cendana dan hawa dingin yang justru memicu adrenalin.Tania berdiri di tepi ranjang, mengenakan daster tipis transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini lebih berisi. Kabar dari bidan tadi siang benar-benar membakar mentalnya. Di sisi lain, Mayra sudah bersandar di bantal, menatap Bagas dengan tatapan yang seolah berkata bahwa malam ini adalah pesta untuk mereka bertiga.Bagas mendekat, ia melepaskan kemejanya, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang mengeras karena kerja keras di kebun. Ia menarik Tania ke dalam pelukannya, melumat bibir wanita itu dengan sangat lapar—sebuah ciuman penebusan atas puasa sebulan penuh.Bagas merebahkan Tania di tengah ranjang, diapit oleh dirinya dan Mayra. Tidak ada lagi kecanggungan. Mayra mulai membantu melepaskan pakaian
Last Updated: 2026-02-19
Chapter: Bab 145 — Tania LegaTidak terasa, waktu satu bulan berlalu. Hari ini, jadwal Bagas membawa dua wanitanya untuk kembali ke puskesmas. Ia ingin memastikan kandungan dua wanitanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.Bagas menuntun Mayra masuk ke dalam mobil. Perut gadis itu kini sudah semakin membesar di usia kandungannya yang jalan empat bulan. Tania ikut berjalan di belakang mereka, keadaan fisik Tania cukup baik akhir-akhir ini, tapi tidak dengan mentalnya. Wanita itu begitu rindu sentuhan Bagas. Cukup sesak rasanya memendam rasa di saat pria yang ia cintai bersenggama dengan Mayra tepat di sebelahnya. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa apa-apa.Tania masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum kepada Mayra. Ia sangat berharap hari ini ada kabar baik dari bidan. Semoga hari ini adalah akhir dari puasanya akan sentuhan Bagas.Mobil sedan putih milik Bagas perlahan memasuki area parkir Puskesmas Gunung Jati. Udara pagi itu cukup cerah, namun suasana di dalam mobil terasa sedikit tegang karena harapan besar yan
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab 144 — Kenikmatan Yang BerbedaKeesokan paginya, Bagas beraktivitas seperti biasanya di kebunnya. Ia sibuk merawat tanamannya yang mulai tumbuh.Sementara di dalam, Mayra sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Tania juga ikut membantu, walau Mayra sudah melarangnya berulang kali.“Enggak apa-apa, May, cuma cuci piring, kok,” ujarnya lembut.“Tapi kan kata bidan kamu harus bedrest total, Tan,” sela Mayra sambil memasukkan baju ke dalam mesin cuci.“Ya kalau cumi tidur mulu yang ada tambah stres nanti aku, bosan May.” Tania masih bersikeras sambil terus membilas piring di wastafel.“Ya udah, deh. Tapi nanti kalau Bagas marah, aku enggak tanggung jawab, ya?”Tania mengulum senyum. “Emang Bagas bisa marah sama kita, May?” Tania menoleh sambil tersenyum tipis.“Hehe, iya sih. Mana mungkin dia bisa marah sama kita, ya?”Dua wanita yang sama-sama mencintai Bagas itupun tertawa bersama. Hidup mereka cukup rukun walau sebenarnya hingga kini tidak ada ikatan pernikahan resmi di antara mereka.“May, buatin kopi
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 143 — Rumah SarahJam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan mulai reda menyisakan gerimis yang masih membawa udara sejuk di malam hari.“Mbak Sarah mau pulang sekarang?” tanya Bagas setelah memeriksa keluar jika hujan sudah mulai reda.Sarah mengangguk pelan. “Boleh, Mas,” katanya.“Ya sudah, sebentar ya, saya ambil payung dulu.” Bagas langsung ke belakang untuk mengambil payung yang tadi ia simpan. Tidak lama kemudian Bagas kembali dan melihat Sarah sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.“Sayang, kamu hati-hati, ya?” ujar Mayra sambil mendekat ke arah Bagas. Tania pun sama, ia memegang lengan Bagas sambil tersenyum. “Nanti langsung balik ya?” katanya.Sarah hanya berdiri diam melihat kehangatan keluarga itu. Tidak pernah terbayang di dalam benaknya jika ada pria beristri dua, namun kedua istrinya tampak akur dan rukun. Ini anomali, semua kasus yang pernah di lihat Sarah pasti akan ada pertengkaran apabila seorang lelaki memiliki dua wanita.Pipi Sarah merona merah saat ia tidak sengaja membaya
Last Updated: 2026-02-12