author-banner
Dark_Pen
Dark_Pen
Author

Novels by Dark_Pen

Terapi Hasrat Dokter Bagas

Terapi Hasrat Dokter Bagas

“Hanya segitu kemampuanmu, dr. Bagas?!” desah wanita itu terengah, jemarinya mencengkeram seprai. “Ta–tapi ini salah, Nyonya… aku seharusnya tidak—” Dipecat karena tuduhan malpraktik dan dihancurkan oleh pengkhianatan tunangannya, dr. Bagaskara kehilangan segalanya dalam semalam. Saat hidupnya berada di titik terendah, sebuah tawaran misterius datang: menjadi terapis di klinik khusus wanita milik Madame Renata—tempat yang konon mampu menyembuhkan luka… dengan cara yang tak lazim. Namun, dari balik aroma terapi dan cahaya temaram ruang perawatan, Bagas justru terseret dalam dunia yang menggoda dan berbahaya. Setiap sentuhan menjadi ujian, setiap pasien menyimpan rahasia, dan setiap sesi terapi bisa saja membuatnya kehilangan kendali—baik sebagai dokter, maupun sebagai pria.
Read
Chapter: Bab 139 — Ibu-Ibu Kepo
Sore harinya, terlihat Tania sedang bersandar di tempat tidur sambil membaca buku. Suasana hatinya sudah sangat membaik, apalagi tadi siang Bagas menyuapinya makan dengan lembut dan penuh kasih sayang.Sementara Mayra, sedang melipat pakaian di ruang tengah dan Bagas berada di halaman mengurus kebunnya. Selama di sini, Bagas menghabiskan waktunya dengan berkebun, walau ia tidak memiliki basic sama sekali soal tanaman, namun berkat buku yang sering ia baca, kini Bagas tampak sangat lihai dalam merawat beberapa tanaman tersebut. Kebunnya tidak terlalu luas, namun cukup untuk Bagas mengisi waktu luangnya. Lagi pula, hasil kebun juga bisa di makan dan selebihnya di jual ke pasar. Walau sebenarnya tabungan Bagas masih sangat banyak, namun entah mengapa mantan dokter psikologi tersebut cukup nyaman hidup seperti ini.Saat sedang asik menggarap kebunnya, Bagas terkejut saat melihat beberapa ibu-ibu dan juga wanita-wanita muda memasuki pekarangan rumahnya.Bagas meletakkan cangkulnya. Ia men
Last Updated: 2026-02-05
Chapter: Bab 138 — Wanita Desa
Bidan Lastri melepaskan sarung tangan lateksnya dengan bunyi plak yang kering. Wajahnya yang semula datar kini berubah menjadi serius. Ia tidak segera berbicara, melainkan menuliskan sesuatu di buku KIA milik Tania."Bu Tania, hasil tes urin memang positif kuat, tapi saat saya melakukan perabaan dan melihat gejala yang Ibu sebutkan..." Bidan Lastri menggantung kalimatnya, menatap Bagas dengan tatapan yang sulit diartikan. "Rahim Bu Tania sangat rawan. Ada sedikit flek yang mungkin Ibu tidak sadari, dan posisinya sangat rendah."Tania mendadak pucat. Ia menggenggam tangan Bagas dengan sangat erat, hingga kuku-kukunya memutih. "Maksud Ibu... anak saya dalam bahaya?""Kandungan ini sangat lemah, Bu. Istilah medisnya Abortus Imminens—ancaman keguguran," jelas Bidan Lastri. "Mungkin karena faktor kelelahan, stres, atau memang kondisi rahim yang belum siap sepenuhnya. Ibu harus bedrest total. Tidak boleh bekerja berat, bahkan tidak boleh terlalu banyak berjalan selama dua minggu ke depan."
Last Updated: 2026-02-03
Chapter: Bab 137 — Puskesmas Desa
Sesampainya di puskesmas, Bagas langsung menuntun dua wanitanya masuk ke dalam.“Selamat siang, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” tanya resepsionis di balik meja kerjanya.“Oh, ini Mbak. Saya mau cek kandungan istri saya, Mbak,” jawab Bagas sopan sambil tersenyum.Resepsionis yang belakangan di ketahui bernama Sarah itu menatap Bagas dan dua wanita di sebelahnya.“Yang mana istrinya, Mas? Biar di daftar dulu,” tanya wanita itu lagi.“Dua-duanya, Mbak,” jawab Bagas spontan, tanpa beban sama sekali.“Hah? Dua-duanya?”Tentu saja Sarah terkejut, cukup jarang ia melihat pemandangan seperti ini. Seorang lelaki memiliki dua istri yang tampak akur dan bersahabat.“Dua-duanya istrinya, Mas?” tanya Sarah lagi.“Iya, Mbak. Mereka berdua istri saya.” Bagas tersenyum menatap Sarah tanpa berkedip. “Ada apa ya Mbak? Ada masalah, kah?”“Ah, anu, enggak kok.” Sarah langsung menunduk, wajahnya sedikit merona mendapat tatapan seperti itu dari Bagas.“Ya sudah, Mas, daftar aja dulu, nanti Mas bisa tunggu
Last Updated: 2026-02-02
Chapter: Bab 136 — Kehamilan Tania
Dua bulan berlalu sejak mereka bertiga pindah ke sana. Kehidupan Bagas dan dua wanitanya terasa begitu tenang, Bagas menghabiskan waktu dengan berkebun.Pagi itu, Tania terjaga lebih awal, sementara Bagas dan Mayra masih terlelap. Tania merasa mual hebat, ia langsung menuju kamar mandi.Jantung Tania berdebar, antara senang dan deg-degan. Ia mulai mengingat, jika bulan ini dia belum menstruasi sama sekali.“Jangan-jangan, aku hamil?” batin Tania sambil berdiri di depan wastafel. Ia memegang perutnya sendiri. Memang selama dua bulan di sini, hampir setiap malam Bagas menggaulinya dan juga Mayra, dan selama itu pula rahimnya yang dihangatkan oleh Bagas.Tania menatap pantulan wajahnya di cermin wastafel yang sedikit berembun. Wajahnya yang dulu nampak tirus dan penuh kecemasan, kini terlihat lebih segar, meski pagi ini sedikit pucat karena mual yang melanda. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang kian kencang.Dengan tangan gemetar, ia mengambil sebuah ben
Last Updated: 2026-02-01
Chapter: Bab 135 — Ketenangan Sebelum Badai
Satu Minggu berlalu. Pagi di lereng bukit itu dimulai dengan orkestra alam yang belum pernah Bagas rasakan selama tinggal di kota. Tidak ada suara sirene ambulans yang meraung, tidak ada dering telepon dari Madame Renata dan yang terpenting, tidak ada aroma antiseptik yang menyesakkan paru-paru. Hanya ada aroma tanah basah, embun yang menguap dari pucuk-pucuk pinus, dan suara kicauan burung kutilang yang bersahutan.Bagas berdiri di beranda rumah kayu mereka, menyesap kopi hitam yang kepulannya menari-nari di udara dingin. Ia mengenakan kemeja flanel tebal yang dibiarkan terbuka, menyingkap bekas luka di dadanya yang kini bukan lagi sumber trauma, melainkan medali kebebasan. Dari posisi ini, ia bisa melihat Mayra yang sedang duduk di kursi goyang sambil mengelus perutnya, matanya terpejam menikmati hangatnya matahari pagi yang baru muncul di balik bukit.Tak lama kemudian, Tania keluar membawa sepiring pisang goreng hangat. Ia tidak lagi mengenakan pakaian perawat yang kaku atau riasa
Last Updated: 2026-01-29
Chapter: Bab 134 — Hunian Baru
Malam itu juga, Bagas membawa Mayra dan Tania meninggalkan klinik. Semua pakaian dan barang-barang pribadi mereka sudah masukkan ke dalam koper dan di taruh di bagasi belakang. Mayra dan Tania duduk bersama di belakang, sementara Bagas menyetir di depan. Sebelum berangkat, ia menatap kembali gedung yang akan ia tinggalkan tersebut. Bagas tersenyum pelan, lalu ia menginjak gas dan mulai meninggalkan klinik tersebut. Bagas sudah menyiapkan sebuah hunian jauh-jauh hari. Hunian sederhana yang nyaman untuk mereka tinggali. Jauh dari kota, jauh dari hingar bingar kehidupan kelam yang pernah ia jalani. Bagas menoleh ke belakang, menatap dua wanitanya yang duduk tersenyum sambil berpegangan tangan. “Kalian berdua benar-benar cantik,” puji Bagas sampai membuat dua wanita itu merona. Mobil itu melaju menembus kegelapan malam, meninggalkan gemerlap lampu kota yang perlahan memudar di spion tengah. Bagas sesekali melirik ke arah kaca spion, bukan untuk memastikan apakah ada yang mengikuti,
Last Updated: 2026-01-28
You may also like
Mengapa Kau Membenciku?
Mengapa Kau Membenciku?
Urban · Ekta Naura
10.5K views
PERJAKA MENIKAHI JANDA
PERJAKA MENIKAHI JANDA
Urban · Erwin Fathar
10.3K views
Gadis Misterius
Gadis Misterius
Urban · Nona_Lyanna
9.6K views
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status