author-banner
Dark_Pen
Dark_Pen
Author

Novels by Dark_Pen

Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!

Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!

(21+) Sebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan.
Read
Chapter: Beno Tertangkap
Ternyata, di antara tiga pasukan Merak yang dikirim ke dalam hutan, hanya kelompok Sekar yang belum kembali hingga matahari mulai meninggi. “Maaf, Tuan. Kami tadi berada di jalur yang berbeda, jadi kami tidak tahu pasti di mana kelompok Sekar sekarang. Perkiraan kami, mereka sedang menyusuri area tebing,” lapor salah satu anggota Merak yang baru tiba. Sigrid terdiam sejenak. Sebagai kepala suku yang sudah puluhan tahun memimpin desa, instingnya langsung menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Namun, alih-alih merespons laporan itu, tatapan tajam Sigrid langsung beralih menembus mata Jaka. “Jaka!” panggil Sigrid berat. Jaka sedikit tersentak, lalu segera berdiri tegak. “Iya, Tuan!” “Cepat kembali ke rumah!” perintah Sigrid tegas, tanpa ragu. “Hah?” Jaka kaget bukan main. Awalnya ia mengira Sigrid akan memerintahkannya untuk ikut mencari Sekar atau menyusun rencana penyerangan, tetapi dugaan itu meleset jauh. “Tapi, Tuan—” “Jangan membantah,” potong Sigrid, nadanya mutlak dan tak
Last Updated: 2026-06-23
Chapter: Sekar dan Pasukan Merak
Lima lelaki itu tersentak kaget, tidak menyangka jika ternyata ada orang lain di sekitar tempat ini.“Jadi kalian sumber kekacauan ini?” tanya orang yang memegang pedang itu.“Eh!” Beno mengernyit, itu suara wanita. Dan setelah Beno memperhatikan lebih seksama, barulah dia sadar jika orang yang baru saja menyelamatkannya itu adalah sosok seorang wanita, terlihat dari tubuhnya yang ramping dan sambut di sanggul ke atas di balut dengan tudung kain yang sudah tersibak.“Nona Sekar, hati-hati!” kata beberapa pemanah di belakang. “Kata Tuan Sigrid, mereka bukan orang sembarangan.”Wanita yang ternyata bernama Sekar itu memicing, menatap tajam ke arah lima pria yang berdiri di depannya.“Siapa mereka?” batin Sekar saat melihat raut wajah lima pria itu seolah tidak menyiratkan ketakutan sama sekali.“Oh, ternyata kau seorang wanita, aku benar-benar terkejut,” kata salah satu pria itu. “Aku tidak menyangka ada wanita di desa ini yang suka memainkan pedang,” katanya lagi dengan tatapan mesum.
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Pasukan Penyelamat
Beno penasaran, suara terdengar seperti desahan seorang wanita. Ia bangkit, mengendap-endap ke arah sumber suara pelan-pelan.“Anjir, masa iya ada yang begituan di hutan begini!” gumam Beno sedikit berdebar. “Anjir, jangan-jangan setan lagi?!”Beno menelan ludah, mulai bergidik ngeri karena pikirannya sendiri yang melayang entah ke mana-mana. Namun rasa penasarannya lebih besar membuat pria itu tetap melangkah pelan menuju sumber suara.“Ahh! Enak, terus… keluarin semuanya di dalam!”Deg!Beno membeku, suara itu semakin jelas. “Anying! Bener sih ini,” gumamnya.Ia mengintip dari balik pohon, dan benar saja di depan sana di balik semak-semak, terlihat pemandangan yang membuat Beno terkejut bukan main.“Gi-gila!!”Di balik semak itu, terlihat satu orang wanita telanjang bulat dengan tato di di dada dan tangannya sedang di garap bergantian oleh lima pemuda tinggi besar.Glek!Beno menelan ludah, ia merinding bukan main. Di depan pemandangannya benar mengerikan, bahkan liang depan belakan
Last Updated: 2026-06-22
Chapter: Suara Aneh di Dalam Hutan
Bu Lilis juga ikut terkejut saat melihat Beno tiba-tiba ada di sana. “Beno, kok kamu ada di sini?” tanya Bu Lilis, ia yang sedang duduk di teras bangkit menghampiri Beno yang berada di halaman rumah. Bu Lasmi yang berada di dalam pun ikut keluar saat mendengar suara di depan. Dan dia juga ikut terkejut saat melihat Beno sudah ada di depan rumah dengan ransel di punggungnya. “Mas Beno?!” Beno langsung sumringah, melihat Bu Lasmi, wanita yang cukup baik padanya dulu sewaktu dia tinggal di sini. “Bu Lasmi!” balasnya dengan senyum ramah. Wanita paruh itu langsung berlari kecil ke halaman, menghampiri Beno dengan wajah begitu senang. “Ya ampun Mas Beno, ibu kira cuma Mas Jaka yang datang ke sini kemarin, ternyata kamu juga nyusul hari ini.” Bu Lilis yang mendengar hal itu sempat bingung karena melihat Beno tampak cukup meneh al Bu Lasmi. “Bu Lasmi kenal juga sama Beno?” tanya Bu Lilis penasaran. “Iya dong, Bu. Saya kenal. Dulu Mas Jaka sama Mas Beno yang nyelamatin si Bagas,
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Kedatangan Beno
Pagi itu desa langsung di landa kepanikan. Penemuan jasad empat penjaga yang dikuliti di dalam hutan menjadi momok menakutkan bagi warga bahkan bagi penjaga itu sendiri. Pasalnya, benar-benar tidak ada yang sadar, seolah musuh bekerja sangat cepat dan juga rapi.Sigrid sudah berada alun-alun desa, dia mulai mengumpulkan penjaga dan memberi pesan agar warga tetap tenang dan jangan ada yang keluar dari desa hari ini.Jaka yang baru terjaga juga sempat mendengar sayup-sayup keributan di luar. Ia bangkit dan terkejut bukan main saat melihat Arum tidak ada lagi di sebelahnya.“Arum?!” teriak Jaka.Ia buru-buru bangkit, masuk ke dalam kamar Sari. “Eh?!” Dia juga tidak menemukan istri pertamanya di sana.“Arum, Sari?!” Jaka benar-benar panik, ia buru-buru ke belakang dan langkahnya terhenti.Deg!“Apa sih Sayang, teriak-teriak pagi-pagi?”Jaka membeku, dia melihat Arum dan juga Sari sedang sarapan di sana. Dua gadis itu tampak begitu akur, bahkan kini Arum sudah memakai kebaya Sari, hingga m
Last Updated: 2026-06-21
Chapter: Teror Dimulai
Sari ambruk dalam pelukan Jaka, napasnya tersengal. Jaka buru-buru membalikkan tubuh Sari membaringkan istrinya dengan posisi yang nyaman.Wanita itu tersenyum, menatap Jaka yang sedang mengusap lembut pipinya.“Capek!” rengek Sari sambil memeluk Asep yang berbaring di sebelahnya.“Ya udah, istirahat ya sayang,” bisik Jaka.“Kamu mau ke mana?” tanya Sari.Jaka tersenyum lembut sambil mengusap keringat di kening istrinya. “Enggak, aku enggak ke mana-mana kok,” jawabnya.Jaka akhirnya ikut berbaring, menemani Sari yang sedang istirahat kelelahan.Namun… malam yang seharusnya hangat, malam yang seharusnya damai, tiba-tiba berubah saat beberapa penjaga sedang berpatroli di sekitar desa melihat dua sosok yang melintas cukup cepat.“Siapa itu?!” bentak mereka saat melihat dua bayangan orang berlari dan kembali menghilang di dalam gelapnya hutan.Dua penjaga itu langsung berjalan memeriksa, tombak di tangan mereka tergenggam erat, waspada, berjaga-jaga jika saja ada sesuatu yang tidak di ing
Last Updated: 2026-06-20
Terapi Hasrat Dokter Bagas

Terapi Hasrat Dokter Bagas

“Hanya segitu kemampuanmu, dr. Bagas?!” desah wanita itu terengah, jemarinya mencengkeram seprai. “Ta–tapi ini salah, Nyonya… aku seharusnya tidak—” Dipecat karena tuduhan malpraktik dan dihancurkan oleh pengkhianatan tunangannya, dr. Bagaskara kehilangan segalanya dalam semalam. Saat hidupnya berada di titik terendah, sebuah tawaran misterius datang: menjadi terapis di klinik khusus wanita milik Madame Renata—tempat yang konon mampu menyembuhkan luka… dengan cara yang tak lazim. Namun, dari balik aroma terapi dan cahaya temaram ruang perawatan, Bagas justru terseret dalam dunia yang menggoda dan berbahaya. Setiap sentuhan menjadi ujian, setiap pasien menyimpan rahasia, dan setiap sesi terapi bisa saja membuatnya kehilangan kendali—baik sebagai dokter, maupun sebagai pria.
Read
Chapter: Bab 148 — Akhir Kisah
Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bias warna oranye kemasan yang memantul di deretan pohon pinus Desa Gunung Jati. Udara sore itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang mekar di kejauhan. Bagas berdiri di teras rumah kayunya, menyandarkan tubuh pada tiang penyangga yang kokoh. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang penuh dengan rasa syukur dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun hidup di hiruk-pikuk kota.Di depannya, hamparan kebun yang ia rawat sendiri kini mulai membuahkan hasil. Sayur-mayur tumbuh subur, dan beberapa pohon buah yang ia tanam setahun lalu mulai menampakkan kuncupnya. Namun, bukan kebun itu yang menjadi sumber kebahagiaan utamanya.Suara tawa renyah terdengar dari dalam rumah. Bagas menoleh dan melihat pemandangan yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Mayra, dengan perut yang kini sudah membulat besar di usia tujuh bulan, duduk di sofa panjang sambil melipat pakaian bayi yang baru
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: Bab 147 — Obsesi Sarah
Hari-hari yang mereka lalui kini begitu hangat, perut Mayra semakin buncit, kehamilan Tania semakin baik. Bagas merasa hidupnya begitu lengkap dengan kehadiran dua wanita yang sama-sama sedang mengandung benihnya ini.Bahkan kini Bagas sudah lebih terbuka dan bergaul dengan warga desa. Mantan psikolog itu benar-benar telah berdamai dengan hidupnya. Bagas benar-benar telah melupakan kehidupan gelapnya di kota.Kini, umur kandungan Mayra sudah jalan 7 bulan. Perut wanita itu semakin Buncit, dan kehamilan Tania mulai berjalan empat bulan, perutnya juga mulai tampak membesar walau tidak sebesar Mayra.Para warga yang terkadang datang hanya untuk menyapa benar-benar kagum kepada Bagas. Bagaimana tidak, Bagas memiliki dua orang istri yang sama-sama hamil tetapi bisa hidup dengan rukun.Sore itu, Sarah yang kini sudah sangat dekat dengan keluarga Bagas terlihat datang bertamu. Resepsionis puskesmas itu datang membawa buah di tangannya.“Hai, Mas Bagas,” sapanya lembut saat melihat Bagas seda
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 146 — Malam Panas
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras di lereng Gunung Jati, seolah alam pun tahu bahwa ada api yang siap berkobar di dalam rumah kayu itu. Suasana di dalam kamar utama terasa begitu pekat dengan aroma terapi cendana dan hawa dingin yang justru memicu adrenalin.Tania berdiri di tepi ranjang, mengenakan daster tipis transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini lebih berisi. Kabar dari bidan tadi siang benar-benar membakar mentalnya. Di sisi lain, Mayra sudah bersandar di bantal, menatap Bagas dengan tatapan yang seolah berkata bahwa malam ini adalah pesta untuk mereka bertiga.Bagas mendekat, ia melepaskan kemejanya, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang mengeras karena kerja keras di kebun. Ia menarik Tania ke dalam pelukannya, melumat bibir wanita itu dengan sangat lapar—sebuah ciuman penebusan atas puasa sebulan penuh.Bagas merebahkan Tania di tengah ranjang, diapit oleh dirinya dan Mayra. Tidak ada lagi kecanggungan. Mayra mulai membantu melepaskan pakaian
Last Updated: 2026-02-19
Chapter: Bab 145 — Tania Lega
Tidak terasa, waktu satu bulan berlalu. Hari ini, jadwal Bagas membawa dua wanitanya untuk kembali ke puskesmas. Ia ingin memastikan kandungan dua wanitanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.Bagas menuntun Mayra masuk ke dalam mobil. Perut gadis itu kini sudah semakin membesar di usia kandungannya yang jalan empat bulan. Tania ikut berjalan di belakang mereka, keadaan fisik Tania cukup baik akhir-akhir ini, tapi tidak dengan mentalnya. Wanita itu begitu rindu sentuhan Bagas. Cukup sesak rasanya memendam rasa di saat pria yang ia cintai bersenggama dengan Mayra tepat di sebelahnya. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa apa-apa.Tania masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum kepada Mayra. Ia sangat berharap hari ini ada kabar baik dari bidan. Semoga hari ini adalah akhir dari puasanya akan sentuhan Bagas.Mobil sedan putih milik Bagas perlahan memasuki area parkir Puskesmas Gunung Jati. Udara pagi itu cukup cerah, namun suasana di dalam mobil terasa sedikit tegang karena harapan besar yan
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab 144 — Kenikmatan Yang Berbeda
Keesokan paginya, Bagas beraktivitas seperti biasanya di kebunnya. Ia sibuk merawat tanamannya yang mulai tumbuh.Sementara di dalam, Mayra sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Tania juga ikut membantu, walau Mayra sudah melarangnya berulang kali.“Enggak apa-apa, May, cuma cuci piring, kok,” ujarnya lembut.“Tapi kan kata bidan kamu harus bedrest total, Tan,” sela Mayra sambil memasukkan baju ke dalam mesin cuci.“Ya kalau cumi tidur mulu yang ada tambah stres nanti aku, bosan May.” Tania masih bersikeras sambil terus membilas piring di wastafel.“Ya udah, deh. Tapi nanti kalau Bagas marah, aku enggak tanggung jawab, ya?”Tania mengulum senyum. “Emang Bagas bisa marah sama kita, May?” Tania menoleh sambil tersenyum tipis.“Hehe, iya sih. Mana mungkin dia bisa marah sama kita, ya?”Dua wanita yang sama-sama mencintai Bagas itupun tertawa bersama. Hidup mereka cukup rukun walau sebenarnya hingga kini tidak ada ikatan pernikahan resmi di antara mereka.“May, buatin kopi
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 143 — Rumah Sarah
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan mulai reda menyisakan gerimis yang masih membawa udara sejuk di malam hari.“Mbak Sarah mau pulang sekarang?” tanya Bagas setelah memeriksa keluar jika hujan sudah mulai reda.Sarah mengangguk pelan. “Boleh, Mas,” katanya.“Ya sudah, sebentar ya, saya ambil payung dulu.” Bagas langsung ke belakang untuk mengambil payung yang tadi ia simpan. Tidak lama kemudian Bagas kembali dan melihat Sarah sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.“Sayang, kamu hati-hati, ya?” ujar Mayra sambil mendekat ke arah Bagas. Tania pun sama, ia memegang lengan Bagas sambil tersenyum. “Nanti langsung balik ya?” katanya.Sarah hanya berdiri diam melihat kehangatan keluarga itu. Tidak pernah terbayang di dalam benaknya jika ada pria beristri dua, namun kedua istrinya tampak akur dan rukun. Ini anomali, semua kasus yang pernah di lihat Sarah pasti akan ada pertengkaran apabila seorang lelaki memiliki dua wanita.Pipi Sarah merona merah saat ia tidak sengaja membaya
Last Updated: 2026-02-12
You may also like
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status