Chapter: Jantung HitamDarah segar menetes dari sudut bibir Kandaka saat ia menelan mentah-mentah jantung Arga. Sontak, gelombang energi hitam pekat yang luar biasa besar meledak keluar dari tubuh sang pilar kabut, memantulkan gelombang kejut ke segala arah dan membuat lantai batu gua bergetar hebat. Arum dan barisan pasukan batu terdorong mundur beberapa langkah akibat terjangan angin hitam tersebut. Sementara Jaka, yang masih berada di bawah pengaruh esensi sang Dewi, merapatkan kuda-kudanya, menatap tajam ke arah Kandaka yang kini tubuhnya diselimuti aura kegelapan yang jauh lebih pekat dan mematikan dari sebelumnya. "Bodoh..." desis Jaka dingin, suaranya bergeming ganda. "Ia mengira dirinya bisa memperalat kegelapan, padahal kegelapan tidak pernah mengenal kata setia.” Namun kematian Arga yang mengenakan tersebut memancing kemurkaan Sang Dewi. Bagaimana pun juga, walau Arga telah berkhianat, namun sang Dewi benar-benar menyayangi keturunannya. “Bajingan kau Kandaka…” Suara Jaka menghilang, tid
Last Updated: 2026-11-07
Chapter: Kandaka Begitu LicikKandaka mendengus murka, suaranya menggelegar bagai guntur di dalam rongga bumi. Kepulan kabut hitam yang pekat mendadak melesat dari kedua telapak tangannya, membentuk bilah-bilah bayangan tajam yang menghujam ke arah Jaka tanpa ampun. "Jangan sombong, wadah lemah!" teriak Kandaka penuh kebencian. Namun, Jaka tidak bergeming sedikit pun. Dengan tumbangnya Arga, kini fokusnya dan sang Dewi sepenuhnya pada Kandaka. Bahkan, Arum dan puluhan pasukan batu langsung merapat, berdiri di belakang Jaka—siap menghadapi puluhan bayangan di balik kabut milik Kandaka. Beno yang masih berada di sudut ruangan hanya dapat membelalak tidak percaya. Dia tidak pernah melihat Jaka seperti itu. Bahkan, Sekar yang masih meringis kesakitan pun takjub. Saat terakhir dia melihat Jaka bertarung, Jaka baru memiliki dua pusaka. Namun kali, ini Jaka benar-benar berbeda. “Di-dia… di-dia benar-benar kuat,” gumamnya lirih sambil terus berusaha merangkul Sari yang tidak sadarkan diri. Namun… di sisi lain, Arga
Last Updated: 2026-11-07
Chapter: Jaka dan Sang Dewi BeraksiJaka menyeringai tipis, meski sekujur tubuhnya masih menyisakan robekan luka menganga dan bilur darah segar. Namun, berkat esensi suci sang Dewi yang merasuki setiap jengkal nadinya, pria itu kini berdiri dengan tegap tanpa keraguan. Aura hangat keemasan berpadu dengan cahaya putih bersih memancar lembut dari kulitnya, menepis segala rasa sakit. Di seberang ruangan, Arga masih terpaku sejenak, syok atas perubahan drastis yang terjadi di hadapannya. Kendati demikian, egonya yang setinggi langit dengan cepat menepis ketakutan itu, digantikan oleh kobaran benci yang kian membakar. “Jaka… kawanmu aku!” teriak Arga lantang, mencoba menegaskan kembali posisinya. Jaka menoleh perlahan, menyeringai dingin sambil menggelengkan kepala. Suaranya kini menggema dalam dua lapisan—suara aslinya yang tegas berpadu dengan gema lembut nan agung milik sang Dewi. “Sayang sekali, Arga. Kau bahkan tidak tahu jika selama ini kau hanya dimanfaatkan sebagai bidak catur yang bodoh.” Gema suara berlap
Last Updated: 2026-11-07
Chapter: Cahaya dan KegelapanPendar cahaya keemasan yang menyilaukan tiba-tiba meledak keluar dari tiga garis pusaka di sekujur lengan Jaka. Suhu udara di dalam gua mendadak berubah drastis—dari yang tadinya dingin menusuk tulang akibat kabut Kandaka, kini berbalik menjadi panas menyengat, membuat butiran keringat seketika menguap dari kulit siapa saja yang berada di dekatnya.Jaka perlahan mengangkat tubuhnya yang babak belur. Tidak ada lagi erangan kesakitan dari bibirnya. Gerakannya kini tampak kaku, teratur, namun memancarkan kekuatan yang melampaui batas fisik manusia biasa. Manik matanya yang sepenuhnya memutih memancarkan kilau yang membuat pasukan bayangan Kandaka mendadak mundur beberapa langkah karena gentar.Arga yang tadinya tersenyum meremehkan kini menelan ludah dengan kasar. Jantungnya berdegup kencang, mendadak diliputi rasa ngeri yang belum pernah ia rasakan sebelumnya."A-ada apa ini..." gumam Arga terbata-bata, mencengkeram erat golok di tangannya. "Bagaimana mungkin dia masih bisa bangkit d
Last Updated: 2026-11-06
Chapter: Jaka Belum Kalah“Hiyaattt… mati kau bajingan!” teriak Beno melengking. Jaka membelalak melihat Beno menyerang Arga. Dia tahu Beno bukanlah tandingannya. “Beno!!!” teriak Jaka sambil berusaha bangkit. Namun telat, Beno terlanjur menyerang dan Arga langsung menyongsong serangannya. “Kau yang akan mati bocah bodoh!” teriak Arga sambil menyeringai buas. Wush! “Hah?!” Jaka membelalak saat ia melihat sesuatu melesat dan menyambar tubuh Beno. “Sekar?!” Betapa terkejutnya Jaka saat menyadari Sekar akhirnya mampu kembali bangkit dan langsung melompat menyambar tubuh Beno demi menyelamatkannya. Bugh! “Akkhhh!” Mereka berdua jatuh berguling di lantai, membuat Arga mendengus kesal karena serangannya meleset akibat Sekar. “Beno, jangan bodoh! Kau hanya akan mati!” lirih Sekar sambil menahan sakit di seluruh tubuhnya. Bahkan selangkangannya masih berdarah akibat keguguran paksa yang ia alami. “Se-Sekar… ka-kamu…” Beno membelalak ngeri melihat tubuh Sekar yang bersimbah darah dan pucat menahan sakit.
Last Updated: 2026-11-06
Chapter: Bayang di Balik Kabut VS Pasukan BatuJaka menggeram tertahan di dalam hati. Ia menyadari keunggulan mengerikan yang dimiliki pengkhianat di hadapannya itu. Setiap luka yang ia berikan pada Arga akan menutup dalam waktu singkat, sementara tenaganya sendiri semakin terkuras habis tanpa sisa.“Tidak boleh... aku tidak boleh jatuh di sini,” batin Jaka sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat, memaksa aliran tenaga dalam di lengannya untuk bangkit sekali lagi.Di sisi lain altar batu, pertempuran yang jauh lebih masif pecah tanpa ampun. Kandaka meraung nyaring, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar untuk memanggil badai kabut hitam dari kedalaman gua. Udara mendadak mendingin drastis, menurunkan jarak pandang hingga hanya menyisakan beberapa jengkal saja."Habisi mereka! Hancurkan patung-patung batu terkutuk itu!" bentak Kandaka memerintahkan puluhan pasukan bayangan bermata merah yang berdiri di belakangnya.Siluet-siluet hitam bersenjata golok dan tombak menerjang beringas ke arah barisan pasukan batu. Suara benturan
Last Updated: 2026-11-05
Chapter: Bab 148 — Akhir KisahMatahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bias warna oranye kemasan yang memantul di deretan pohon pinus Desa Gunung Jati. Udara sore itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang mekar di kejauhan. Bagas berdiri di teras rumah kayunya, menyandarkan tubuh pada tiang penyangga yang kokoh. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang penuh dengan rasa syukur dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun hidup di hiruk-pikuk kota.Di depannya, hamparan kebun yang ia rawat sendiri kini mulai membuahkan hasil. Sayur-mayur tumbuh subur, dan beberapa pohon buah yang ia tanam setahun lalu mulai menampakkan kuncupnya. Namun, bukan kebun itu yang menjadi sumber kebahagiaan utamanya.Suara tawa renyah terdengar dari dalam rumah. Bagas menoleh dan melihat pemandangan yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Mayra, dengan perut yang kini sudah membulat besar di usia tujuh bulan, duduk di sofa panjang sambil melipat pakaian bayi yang baru
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: Bab 147 — Obsesi SarahHari-hari yang mereka lalui kini begitu hangat, perut Mayra semakin buncit, kehamilan Tania semakin baik. Bagas merasa hidupnya begitu lengkap dengan kehadiran dua wanita yang sama-sama sedang mengandung benihnya ini.Bahkan kini Bagas sudah lebih terbuka dan bergaul dengan warga desa. Mantan psikolog itu benar-benar telah berdamai dengan hidupnya. Bagas benar-benar telah melupakan kehidupan gelapnya di kota.Kini, umur kandungan Mayra sudah jalan 7 bulan. Perut wanita itu semakin Buncit, dan kehamilan Tania mulai berjalan empat bulan, perutnya juga mulai tampak membesar walau tidak sebesar Mayra.Para warga yang terkadang datang hanya untuk menyapa benar-benar kagum kepada Bagas. Bagaimana tidak, Bagas memiliki dua orang istri yang sama-sama hamil tetapi bisa hidup dengan rukun.Sore itu, Sarah yang kini sudah sangat dekat dengan keluarga Bagas terlihat datang bertamu. Resepsionis puskesmas itu datang membawa buah di tangannya.“Hai, Mas Bagas,” sapanya lembut saat melihat Bagas seda
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 146 — Malam PanasMalam itu, hujan turun dengan sangat deras di lereng Gunung Jati, seolah alam pun tahu bahwa ada api yang siap berkobar di dalam rumah kayu itu. Suasana di dalam kamar utama terasa begitu pekat dengan aroma terapi cendana dan hawa dingin yang justru memicu adrenalin.Tania berdiri di tepi ranjang, mengenakan daster tipis transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini lebih berisi. Kabar dari bidan tadi siang benar-benar membakar mentalnya. Di sisi lain, Mayra sudah bersandar di bantal, menatap Bagas dengan tatapan yang seolah berkata bahwa malam ini adalah pesta untuk mereka bertiga.Bagas mendekat, ia melepaskan kemejanya, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang mengeras karena kerja keras di kebun. Ia menarik Tania ke dalam pelukannya, melumat bibir wanita itu dengan sangat lapar—sebuah ciuman penebusan atas puasa sebulan penuh.Bagas merebahkan Tania di tengah ranjang, diapit oleh dirinya dan Mayra. Tidak ada lagi kecanggungan. Mayra mulai membantu melepaskan pakaian
Last Updated: 2026-02-19
Chapter: Bab 145 — Tania LegaTidak terasa, waktu satu bulan berlalu. Hari ini, jadwal Bagas membawa dua wanitanya untuk kembali ke puskesmas. Ia ingin memastikan kandungan dua wanitanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.Bagas menuntun Mayra masuk ke dalam mobil. Perut gadis itu kini sudah semakin membesar di usia kandungannya yang jalan empat bulan. Tania ikut berjalan di belakang mereka, keadaan fisik Tania cukup baik akhir-akhir ini, tapi tidak dengan mentalnya. Wanita itu begitu rindu sentuhan Bagas. Cukup sesak rasanya memendam rasa di saat pria yang ia cintai bersenggama dengan Mayra tepat di sebelahnya. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa apa-apa.Tania masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum kepada Mayra. Ia sangat berharap hari ini ada kabar baik dari bidan. Semoga hari ini adalah akhir dari puasanya akan sentuhan Bagas.Mobil sedan putih milik Bagas perlahan memasuki area parkir Puskesmas Gunung Jati. Udara pagi itu cukup cerah, namun suasana di dalam mobil terasa sedikit tegang karena harapan besar yan
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab 144 — Kenikmatan Yang BerbedaKeesokan paginya, Bagas beraktivitas seperti biasanya di kebunnya. Ia sibuk merawat tanamannya yang mulai tumbuh.Sementara di dalam, Mayra sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Tania juga ikut membantu, walau Mayra sudah melarangnya berulang kali.“Enggak apa-apa, May, cuma cuci piring, kok,” ujarnya lembut.“Tapi kan kata bidan kamu harus bedrest total, Tan,” sela Mayra sambil memasukkan baju ke dalam mesin cuci.“Ya kalau cumi tidur mulu yang ada tambah stres nanti aku, bosan May.” Tania masih bersikeras sambil terus membilas piring di wastafel.“Ya udah, deh. Tapi nanti kalau Bagas marah, aku enggak tanggung jawab, ya?”Tania mengulum senyum. “Emang Bagas bisa marah sama kita, May?” Tania menoleh sambil tersenyum tipis.“Hehe, iya sih. Mana mungkin dia bisa marah sama kita, ya?”Dua wanita yang sama-sama mencintai Bagas itupun tertawa bersama. Hidup mereka cukup rukun walau sebenarnya hingga kini tidak ada ikatan pernikahan resmi di antara mereka.“May, buatin kopi
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 143 — Rumah SarahJam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan mulai reda menyisakan gerimis yang masih membawa udara sejuk di malam hari.“Mbak Sarah mau pulang sekarang?” tanya Bagas setelah memeriksa keluar jika hujan sudah mulai reda.Sarah mengangguk pelan. “Boleh, Mas,” katanya.“Ya sudah, sebentar ya, saya ambil payung dulu.” Bagas langsung ke belakang untuk mengambil payung yang tadi ia simpan. Tidak lama kemudian Bagas kembali dan melihat Sarah sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.“Sayang, kamu hati-hati, ya?” ujar Mayra sambil mendekat ke arah Bagas. Tania pun sama, ia memegang lengan Bagas sambil tersenyum. “Nanti langsung balik ya?” katanya.Sarah hanya berdiri diam melihat kehangatan keluarga itu. Tidak pernah terbayang di dalam benaknya jika ada pria beristri dua, namun kedua istrinya tampak akur dan rukun. Ini anomali, semua kasus yang pernah di lihat Sarah pasti akan ada pertengkaran apabila seorang lelaki memiliki dua wanita.Pipi Sarah merona merah saat ia tidak sengaja membaya
Last Updated: 2026-02-12