author-banner
Dark_Pen
Dark_Pen
Author

Novels by Dark_Pen

Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!

Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!

(21+) Sebagai pemulung miskin, aku menemukan gelang warisan Ayah yang memaksaku menjalin kedekatan paling intim dengan para wanita—setiap “penyatuan” dengan mereka memicu mimpi yang mengungkap jalan menuju kekayaan.
Read
Chapter: Di Ranjang yang Sama
Jaka yang sedang dilanda gairah hebat dan ingin segera ke menu utama, tentu sangat terkejut saat tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuk.Celananya yang hampir melorot langsung ia tarik kembali. Marni yang terengah di atas ranjang langsung panik dan segera bangun.Tok Tok!“Jaka… kamu di dalam?”Deg!“Bu Lilis?” gumam Jaka sambil menatap Marni dengan panik.Janda kembang yang sedang dilanda gairah tersebut juga ikut panik. Tanpa disuruh ia segera memungut daster dan celana dalamnya yang berserakan di lantai kamar.“Ngapain Bu Lilis malam-malam ke sini?” bisik Marni dengan suara bergetar ketakutan.Jaka menelan ludah, ia sendiri juga tidak menyangka jika istri Pak Kades itu akan mendatangi rumahnya malam ini.“Apa jangan-jangan… Bu Lilis mau lanjut permainan semalam, ya?” batinnya bertanya-tanya. Namun apapun itu, yang jelas saat ini Jaka begitu panik.“Mbak, Mbak Marni keluar dari belakang aja, kata Jaka sambil membelai kembali kaosnya.Marni yang baru saja selesai memakai pakaiann
Last Updated: 2026-03-22
Chapter: Dua Wanita di Malam yang Sama
Ranjang seketika berderit saat Jaka berangkat ke atasnya. Marni masih menutup wajahnya dengan tangan. Entah mengapa ia sangat malu, namun juga ingin.“Kenapa Mbak? Kok ditutup begitu mukanya?” tanya Jaka sambil memindahkan tangan Marni dengan lembut.Jaka tersenyum melihat pipi janda muda itu yang merona merah.Marni tidak menjawab apa-apa. Pipinya benar-benar merona, namun tatapannya penuh gairah kepada Jaka.Jaka tersenyum tipis, menyentuh bibir janda itu dengan lembut. Jantung Marni semakin berdebar hebat, hasratnya sudah di ubun-ubun. Marni tidak tahan lagi.Tanpa pikir panjang, ia langsung menarik kepala Jaka lalu melumat bibirnya dengan liar.“Eumh!”Jaka yang sudah terangsang sedari tadi pun tidak tinggal diam, ia segera membalas ciuman tersebut tidak kalah liarnya. Jaka melumat dan menghisap bibir ranum janda tersebut.Marni tersentak, tidak menyangka jika Jaka cukup mahir dalam memainkan bibir dan lidahnya. Ia melepas sejenak ciumannya, lalu menatap Jaka dengan penuh tanya.“
Last Updated: 2026-03-21
Chapter: Cumbuan Panas
Malam harinya, Jaka baru selesai mandi, sore tadi ia baru saja pulang dari gudang Koh Ahong. Dari hasil menjual barang bekasnya hari ini, Jaka mendapatkan 150 ribu, dan itu cukup lumayan. Asep duduk di atas dipan di depan rumahnya, ia hanya memakai baju kaos dan celana pendek. Sambil menghisap sebatang rokok, Jaka duduk tenang dengan wajah yang sumringah. Selama ia memakai gelang aneh peninggalan ayahnya, banyak keberuntungan yang ia dapatkan. Walau tidak seberapa, tetapi setidaknya kehidupannya perlahan mulai berubah. Namun satu hal yang paling membuat Jaka tertarik, yaitu kemampuan gelang yang dapat memikat wanita. Dan malam ini adalah pembuktian. Entah mengapa, Jaka sangat yakin jika Marni akan datang ke sini sebentar lagi. Dan ternyata benar, tepat seperti dugaan. Tidak berselang lama, terlihat seorang wanita berjalan menunduk dan sedikit terburu-buru menuju ke rumahnya. Jaka yang sedang duduk di depan rumah langsung sumringah. Dengan kata lain, jika Marni datang malam ini be
Last Updated: 2026-03-19
Chapter: Janda Kembang Kesepian
“Anu… ya udah kalau gitu, masuk aja dulu,” kata Marni sambil menahan debar di dada.Marni sempat melirik ke arah karung rongsokan yang di bawa Jaka, pakaiannya juga tampak lusuh seperti biasa. Namun yang anehnya, Marni yang biasanya akan acuh malah mencibir Jaka, kali ini berbeda. Marni bahkan heran dengan perasaanya sendiri yang tiba-tiba berdebar hebat saat melihat Jaka.Jaka masuk mengikuti janda kembang itu dari belakang. Gairahnya yang belum padam akibat insiden bersama Bu Susi, membuat matanya begitu nakal menatap dan menikmati goyangan pinggul Marni saat berjalan.Marni membawa Jaka ke ruang tengah, di sana ada sofa sederhana dan sebuah meja kecil.“Duduk dulu,” katanya ragu.Jaka tersenyum tipis. Ia semakin yakin dengan kemampuan gelang peninggalan ayahnya. Marni yang biasanya bersikap acuh dan tak jarang merendahkannya, kali ini tampak menurut dan membiarkan Jaka masuk begitu saja ke dalam rumahnya.Jaka duduk tepat di hadapan Marni, posisi ini membuatnya bisa menikmati kulit
Last Updated: 2026-03-18
Chapter: Gairah yang Tertunda
Jaka benar-benar panik. Bu Susi langsung bangkit dan merapikan tali dress-nya yang sudah melorot.“Bagaimana ini, Bu?” bisik Jaka sambil terburu-buru menarik celananya. Deru napasnya belum stabil, ditambah derap langkah Rendi yang semakin mendekat membuat nyalinya ciut.“Ma…?”“I-iya sayang, Mama di belakang!” jawab Bu Susi dengan suara yang dipaksakan stabil meski terdengar sedikit bergetar.Langkah kaki kecil itu akhirnya tiba di dapur. Rendi, yang matanya masih terlihat mengantuk, menatap bingung. Ia melihat rambut ibunya yang sedikit acak-acakan dan sosok lelaki asing yang tampak salah tingkah di ambang pintu.Jantung Jaka berdegup kencang. Saking paniknya, ia bahkan lupa menarik kembali resleting celananya. Ia hanya bisa berdiri kaku, tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana.“Eh, Rendi… Mbok Minah ke mana?” Bu Susi segera menghampiri dan berlutut di depan putranya, mencoba menutupi kegugupannya.“Rendi lapar, Ma… Mama udah masak?” tanya bocah itu sambil mengucek mata.“Hehe
Last Updated: 2026-03-17
Chapter: Guru Cantik yang Kesepian
Setelah karungnya penuh sesak, Jaka mengikat ujungnya kuat-kuat lalu memanggulnya ke pundak. Gerakan itu membuat otot lengannya menegang dan kaos lusuhnya tersingkap, memperlihatkan sekilas perut ratanya yang keras. Bu Susi yang masih bersandar di pintu belakang tampak menahan napas, matanya tak lepas dari pemandangan itu.Jaka berjalan mendekat. “Makasih banyak ya, Bu,” ucapnya tulus sambil tersenyum.Bu Susi mengerjap, buru-buru merapikan dress-nya yang sedikit tersingkap. “Loh, udah?” tanyanya seolah tak rela sesi menontonnya berakhir. Ia melirik sisa rongsokan di bawah pohon. “Itu masih ada, Jaka.”“Hehe, iya Bu. Karungnya udah enggak muat lagi,” jawab Jaka sambil menurunkan beban di pundaknya sejenak.“Oh.” Bu Susi mengangguk, otaknya berputar mencari alasan agar Jaka kembali. “Berarti besok datang lagi ke sini, ambil sisanya.”“Emang besok Ibu ada di rumah?”“Enggak apa-apa. Kalau besok saya enggak ada, kamu masuk aja dari samping,” sahut guru cantik itu mantap. “Pokoknya, itu h
Last Updated: 2026-03-16
Terapi Hasrat Dokter Bagas

Terapi Hasrat Dokter Bagas

“Hanya segitu kemampuanmu, dr. Bagas?!” desah wanita itu terengah, jemarinya mencengkeram seprai. “Ta–tapi ini salah, Nyonya… aku seharusnya tidak—” Dipecat karena tuduhan malpraktik dan dihancurkan oleh pengkhianatan tunangannya, dr. Bagaskara kehilangan segalanya dalam semalam. Saat hidupnya berada di titik terendah, sebuah tawaran misterius datang: menjadi terapis di klinik khusus wanita milik Madame Renata—tempat yang konon mampu menyembuhkan luka… dengan cara yang tak lazim. Namun, dari balik aroma terapi dan cahaya temaram ruang perawatan, Bagas justru terseret dalam dunia yang menggoda dan berbahaya. Setiap sentuhan menjadi ujian, setiap pasien menyimpan rahasia, dan setiap sesi terapi bisa saja membuatnya kehilangan kendali—baik sebagai dokter, maupun sebagai pria.
Read
Chapter: Bab 148 — Akhir Kisah
Matahari mulai condong ke arah barat, menciptakan bias warna oranye kemasan yang memantul di deretan pohon pinus Desa Gunung Jati. Udara sore itu terasa sejuk, membawa aroma tanah basah dan wangi bunga kopi yang mekar di kejauhan. Bagas berdiri di teras rumah kayunya, menyandarkan tubuh pada tiang penyangga yang kokoh. Ia menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang penuh dengan rasa syukur dan kedamaian yang belum pernah ia rasakan selama puluhan tahun hidup di hiruk-pikuk kota.Di depannya, hamparan kebun yang ia rawat sendiri kini mulai membuahkan hasil. Sayur-mayur tumbuh subur, dan beberapa pohon buah yang ia tanam setahun lalu mulai menampakkan kuncupnya. Namun, bukan kebun itu yang menjadi sumber kebahagiaan utamanya.Suara tawa renyah terdengar dari dalam rumah. Bagas menoleh dan melihat pemandangan yang selalu berhasil menghangatkan hatinya. Mayra, dengan perut yang kini sudah membulat besar di usia tujuh bulan, duduk di sofa panjang sambil melipat pakaian bayi yang baru
Last Updated: 2026-03-01
Chapter: Bab 147 — Obsesi Sarah
Hari-hari yang mereka lalui kini begitu hangat, perut Mayra semakin buncit, kehamilan Tania semakin baik. Bagas merasa hidupnya begitu lengkap dengan kehadiran dua wanita yang sama-sama sedang mengandung benihnya ini.Bahkan kini Bagas sudah lebih terbuka dan bergaul dengan warga desa. Mantan psikolog itu benar-benar telah berdamai dengan hidupnya. Bagas benar-benar telah melupakan kehidupan gelapnya di kota.Kini, umur kandungan Mayra sudah jalan 7 bulan. Perut wanita itu semakin Buncit, dan kehamilan Tania mulai berjalan empat bulan, perutnya juga mulai tampak membesar walau tidak sebesar Mayra.Para warga yang terkadang datang hanya untuk menyapa benar-benar kagum kepada Bagas. Bagaimana tidak, Bagas memiliki dua orang istri yang sama-sama hamil tetapi bisa hidup dengan rukun.Sore itu, Sarah yang kini sudah sangat dekat dengan keluarga Bagas terlihat datang bertamu. Resepsionis puskesmas itu datang membawa buah di tangannya.“Hai, Mas Bagas,” sapanya lembut saat melihat Bagas seda
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 146 — Malam Panas
Malam itu, hujan turun dengan sangat deras di lereng Gunung Jati, seolah alam pun tahu bahwa ada api yang siap berkobar di dalam rumah kayu itu. Suasana di dalam kamar utama terasa begitu pekat dengan aroma terapi cendana dan hawa dingin yang justru memicu adrenalin.Tania berdiri di tepi ranjang, mengenakan daster tipis transparan yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang kini lebih berisi. Kabar dari bidan tadi siang benar-benar membakar mentalnya. Di sisi lain, Mayra sudah bersandar di bantal, menatap Bagas dengan tatapan yang seolah berkata bahwa malam ini adalah pesta untuk mereka bertiga.Bagas mendekat, ia melepaskan kemejanya, memamerkan dada bidang dan otot perutnya yang mengeras karena kerja keras di kebun. Ia menarik Tania ke dalam pelukannya, melumat bibir wanita itu dengan sangat lapar—sebuah ciuman penebusan atas puasa sebulan penuh.Bagas merebahkan Tania di tengah ranjang, diapit oleh dirinya dan Mayra. Tidak ada lagi kecanggungan. Mayra mulai membantu melepaskan pakaian
Last Updated: 2026-02-19
Chapter: Bab 145 — Tania Lega
Tidak terasa, waktu satu bulan berlalu. Hari ini, jadwal Bagas membawa dua wanitanya untuk kembali ke puskesmas. Ia ingin memastikan kandungan dua wanitanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.Bagas menuntun Mayra masuk ke dalam mobil. Perut gadis itu kini sudah semakin membesar di usia kandungannya yang jalan empat bulan. Tania ikut berjalan di belakang mereka, keadaan fisik Tania cukup baik akhir-akhir ini, tapi tidak dengan mentalnya. Wanita itu begitu rindu sentuhan Bagas. Cukup sesak rasanya memendam rasa di saat pria yang ia cintai bersenggama dengan Mayra tepat di sebelahnya. Namun apa boleh buat, ia tidak bisa apa-apa.Tania masuk ke dalam mobil. Ia tersenyum kepada Mayra. Ia sangat berharap hari ini ada kabar baik dari bidan. Semoga hari ini adalah akhir dari puasanya akan sentuhan Bagas.Mobil sedan putih milik Bagas perlahan memasuki area parkir Puskesmas Gunung Jati. Udara pagi itu cukup cerah, namun suasana di dalam mobil terasa sedikit tegang karena harapan besar yan
Last Updated: 2026-02-16
Chapter: Bab 144 — Kenikmatan Yang Berbeda
Keesokan paginya, Bagas beraktivitas seperti biasanya di kebunnya. Ia sibuk merawat tanamannya yang mulai tumbuh.Sementara di dalam, Mayra sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang ringan-ringan. Tania juga ikut membantu, walau Mayra sudah melarangnya berulang kali.“Enggak apa-apa, May, cuma cuci piring, kok,” ujarnya lembut.“Tapi kan kata bidan kamu harus bedrest total, Tan,” sela Mayra sambil memasukkan baju ke dalam mesin cuci.“Ya kalau cumi tidur mulu yang ada tambah stres nanti aku, bosan May.” Tania masih bersikeras sambil terus membilas piring di wastafel.“Ya udah, deh. Tapi nanti kalau Bagas marah, aku enggak tanggung jawab, ya?”Tania mengulum senyum. “Emang Bagas bisa marah sama kita, May?” Tania menoleh sambil tersenyum tipis.“Hehe, iya sih. Mana mungkin dia bisa marah sama kita, ya?”Dua wanita yang sama-sama mencintai Bagas itupun tertawa bersama. Hidup mereka cukup rukun walau sebenarnya hingga kini tidak ada ikatan pernikahan resmi di antara mereka.“May, buatin kopi
Last Updated: 2026-02-15
Chapter: Bab 143 — Rumah Sarah
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Hujan mulai reda menyisakan gerimis yang masih membawa udara sejuk di malam hari.“Mbak Sarah mau pulang sekarang?” tanya Bagas setelah memeriksa keluar jika hujan sudah mulai reda.Sarah mengangguk pelan. “Boleh, Mas,” katanya.“Ya sudah, sebentar ya, saya ambil payung dulu.” Bagas langsung ke belakang untuk mengambil payung yang tadi ia simpan. Tidak lama kemudian Bagas kembali dan melihat Sarah sudah berdiri dan bersiap-siap untuk pulang.“Sayang, kamu hati-hati, ya?” ujar Mayra sambil mendekat ke arah Bagas. Tania pun sama, ia memegang lengan Bagas sambil tersenyum. “Nanti langsung balik ya?” katanya.Sarah hanya berdiri diam melihat kehangatan keluarga itu. Tidak pernah terbayang di dalam benaknya jika ada pria beristri dua, namun kedua istrinya tampak akur dan rukun. Ini anomali, semua kasus yang pernah di lihat Sarah pasti akan ada pertengkaran apabila seorang lelaki memiliki dua wanita.Pipi Sarah merona merah saat ia tidak sengaja membaya
Last Updated: 2026-02-12
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status