LOGINAdrian Varro Nata terpaksa menjadi tukang kebun keluarga Baron. Dia melarikan diri karena nyawanya terancam. Sampai suatu hari, Adrian dipaksa menikah dengan putri majikannya menggantikan calon suaminya yang kabur, demi menyelamatkan nama baik keluarga mereka. Tapi mertuanya itu memberi syarat hanya dua tahun, setelah itu dia harus bercerai. Selama menikah Adrian selalu dihina, dianggap suami tak berguna. Adrian berusaha mempertahankan Clara Bellova - istrinya karena tulus mencintainya. Sampai suatu hari Asisten pribadinya menemukannya dan memintanya kembali menjalankan perusahaan mobil mewah miliknya.
View More"Mulai detik ini, kamu bukan istriku lagi, Kanaya. Aku talak kamu sekarang!"
Kanaya, wanita berusia 25 tahun itu hanya bisa meneteskan air mata mendengar kata talak keluar dari mulut Hendra sang suami. Pernikahan yang sudah mereka jalankan selama tiga tahun ini, harus berakhir setelah kata terlarang itu keluar dari mulut sang suami. "Kenapa kamu mengatakan ini, Mas? Apa salahku padamu?" Kanaya berderai air mata. Raga yang masih lelah karena baru saja pulang bekerja dari kebun teh, kini bertambah sakit dengan kenyataan pahit jika dirinya dijatuhi talak oleh Hendra. "Aku sudah muak denganmu, Naya. Aku tidak bisa hidup miskin terus-terusan dengan istri tak berguna seperti dirimu." Hendra sudah memikirkan keputusan ini matang-matang. Menjalani rumah tangga dengan Kanaya selama tiga tahun, Hendra sama sekali tak merasakan kebahagiaan. Keluarganya dibelit kemiskinan yang tak ada akhirnya. Hendra hanya buruh bangunan dan Kanaya bekerja di perkebunan teh, membuat hidup mereka serba kekurangan. Namun, bagi Kanaya, dia sudah berusaha maksimal. Suaminya bekerja serabutan, tapi gajinya pergi entah ke mana. Setiap harinya, Kanaya menderita karena desas-desus tetangga bahwa Hendra suka bermain wanita dan berjudi di dekat terminal. Kanaya yang bekerja sembari mengasuh putri semata wayangnya, harus susah-payah menghidupi suami seperti Hendra. Bahkan, Kanaya hanya mendapat jatah 500 ribu untuk rumah tangga dan mengurus kebutuhan Zahra. Sisanya? Hendra mengambil semua. Pernah suatu waktu, Kanaya menyimpan gaji bulanannya yang hanya 1.2 juta untuk kebutuhan sang anak. Hendra tiba-tiba datang mengambil uang itu dan mengancam untuk bercerai jika Kanaya tidak memberikannya. Kanaya yang tidak mau anaknya besar tanpa sosok ayah, memilih bertahan, hingga tiba-tiba ucapan itu keluar dari mulut suaminya sendiri. Beberapa kali dia coba mengingatkan suaminya, tapi hasilnya sama. Yang terjadi, malah Kanaya semakin tertekan secara mental. Di satu sisi, dia harus membesarkan putri mereka yang baru berusia dua tahun, ditambah lagi dengan mengurus nenek Kanaya yang sudah sangat renta dan penyakitan. Kebutuhan hidup yang serba mahal membuat Kanaya harus berhutang pada bank untuk mencukupi kebutuhan. Hendra tak tahan dengan kemiskinan yang menimpanya dan dengan mengakhiri pernikahannya, mungkin penderitaan Hendra akan berkurang. Itu pikir Kanaya. "Mas, jangan talak aku. Kita bisa bicarakan masalah rumah tangga kita dengan baik. Kamu pasti hanya terbawa emosi sesaat." Kanaya merangkul suaminya sambil menangis. Pulang kerja, dia ingin berbincang masalah ini dengan suaminya, tapi Hendra malah mengeluarkan kata-kata yang sangat menusuk. "Naya, mau sampai kapan kita mau hidup dalam jurang kemiskinan? Aku ingin lepas dari semua hutang ini. Terus, kamu mau bicarakan baik-baik? Baik-baik apanya?!” Kanaya hanya bisa diam mendengar perkataan Hendra yang menyakiti hatinya. "Tega sekali kamu, mas. Selama ini, aku juga bantu kamu bekerja. Aku tidak diam saja dan berpangku tangan di rumah. Tapi, bisa-bisanya kamu berucap seperti itu pada istrimu sendiri!" Emosi Kanaya meluap-luap. “Justru kamu yang selama tiga tahun ini tidak berguna jadi suami!” Hendra menggeram marah. "Apa katamu? Aku tidak berguna? Aku mengerjakan semua tugas rumah tangga. Cuci baju, mengasuh anak kita, mendengarkan keluh kesahmu tiap malam. Dasar istri durhaka!" “Mas…” "Jangan egois, Mas! Bagaimana dengan Zahra? Apa kamu tega dengan putrimu sendiri?" Hendra memalingkan wajahnya. Ayah mana yang tidak menyayangi anaknya sendiri. Tapi, Hendra juga tidak bisa menampik jika dirinya sudah tidak tahan hidup menderita seperti ini. "Tenang saja. Aku akan tetap memberikan nafkah tiap bulan kepada Zahra." Perubahan sikap Hendra menunjukkan ada sesuatu yang disembunyikan. Setega inikah Hendra dengan Zahra yang bahkan masih sangat kecil itu! "Alasanmu ingin bercerai dariku terlalu klise mas. Masalah ekonomi seperti ini tak hanya dialami oleh keluarga kita saja.” Sekali lagi, Kanaya memohon, bahkan sambil berlutut di hadapan Hendra. “Saat aku berjuang membantumu untuk lepas dari jerat kemiskinan, kamu malah menyerah. Kita bisa berjuang bersama-sama, mas." Hendra menjambak rambutnya sendiri setelah mendengar Kanaya yang mencoba mempertahankan pernikahan mereka. "Jangan coba-coba untuk mempengaruhiku, Naya. Keputusanku sudah bulat dan aku tetap akan talak kamu sekarang,” ucapnya, lantas meninggalkan Kanaya seorang diri di kamar. Kanaya semakin terisak. Dadanya terasa penuh hingga membuatnya sesak sekali. Hendra benar-benar serius dengan ucapannya. Esok dia harus kerja dan tidak bisa larut dalam masalah ini. Dia masih ingin berjuang menghidupi Zahra. Sembari terisak, malam itu Kanaya coba tidur. Sampai tengah malam, hatinya masih sakit, air matanya terus menetes, tapi matanya tak mau terpejam. Hatinya terlalu penuh untuk sekedar bisa bernapas dengan tenang. *** Pagi hari saat dia sudah siap berangkat kerja, dia melihat Hendra tidur. Padahal, saat tadi dia memasak, Hendra masih tertawa terbahak-bahak di depan ponselnya. Entah pura-pura atau sengaja tidak peduli dengan Kanaya. Tapi, Kanaya memilih abai dan pergi bekerja karena harus sampai di kebun teh sebelum jam 9 pagi. Belum ada lima belas menit memetik daun teh, pekerjaannya berhenti saat ada duri yang menancap di telunjuknya. Diperhatikan duri yang menancap itu dan langsung dia cabut. “Sakit, tapi masih sakit ucapan Mas Hendra kemarin malam.” Kanaya melanjutkan pekerjaannya. Tiba-tiba saja, dia melihat seseorang berlari dari kejauhan. Tamu tak diundang, datang tergopoh-gopoh sambil meneriakkan namanya. “Naya... Naya…” Kanaya sedikit mengangkat topi caping yang ia kenakan untuk meluaskan pandangannya. Ternyata yang datang itu sepupunya, Rini. Ada yang aneh. Rini berlari seperti orang kesetanan menghampirinya di perkebunan teh yang ia garap. “Mbak Rini, ada apa?” Rini tak langsung menjawab. Ia mencoba untuk mengontrol nafasnya yang ngos-ngosan. Berlari dari bawah hingga mencapai ke atas sangat menguras tenaganya. Kanaya meletakkan keranjang yang digendongnya di punggung. Ia ulurkan sebotol air minum yang memang selalu ia bawa untuk persediannya. “Minum dulu, Mbak.” Rini tak menolak. Ia meneguk sisa air dalam botol itu hingga habis. “Nggak ada waktu buat minum, Nay. Ini gawat.” Rini menatap Kanaya serius. Tatapan itu membuat Kanaya curiga, apa yang sebenarnya terjadi. Dengan kening yang mengkerut, Kanaya mengajak Rini duduk sebentar dan bertanya, “Gawat kenapa, Mbak?” “Hendra... Suamimu.” “Mas Hendra kenapa?” Rini mencoba menarik napas sedalam mungkin. Suaranya seperti tercekat ditenggorokan hingga sulit untuk dikeluarkan. “Mas Hendra kenapa, Mbak?” Tanya Kanaya mengulang. “Suamimu di grebek warga.” “Hah! Apa maksud Mbak Rini ngomong gitu? Mbak Rini jangan ngada-ngada, ya! Suamiku tadi pagi masih tidur, nggak mungkin dia tiba-tiba digrebek warga.” Kanaya melepas topinya dan menunjukkan wajah kesal. “Suamimu tertangkap basah berselingkuh dengan Susi. Mereka di grebek oleh warga saat sedang melakukan hubungan intim.” Rini menggoyang-goyangkan tubuh Kanaya sangat kuat. “Aku berani sumpah. Selama ini, apa aku pernah membohongimu, Nay?” Tubuh Kanaya seketika melemas. Lututnya seperti jelly hingga tak bisa menopang tubuhnya untuk berdiri tegak. Air mata Kanaya mengalir begitu saja tanpa perintah. “Ya Allah, Mas Hendra.” Kanaya tekan dadanya yang terasa sesak sekali. “Nay, kamu harus datang ke rumah Pak RT. Suamimu dan Susi dibawa kesana sambil diarak warga. Aku nggak tega, sumpah. Kamu harus lihat sendiri, Nay!”Adrian menatap lekat lembaran foto di tangannya secara bergantian.Sorot matanya yang tajam meneliti setiap detail petunjuk yang ada.Raut wajahnya penuh tanda tanya. “Siapa pria ini, Jo? Lalu apa yang dia lakukan dengan Pamanku?” Joseph pun duduk dan terlihat antusias sekali.“Aku yakin pria ini adalah orang penting sampai mereka harus bertemu di tempat tersembunyi, Tuan!” ungkapnya bersemangat.Kening Adrian berkerut mendengar itu. Masih tetap tidak puas dengan penjelasan Asistennya.“Tapi, kenapa kau memberikan foto ini padaku? Memangnya apa yang menarik dari dia?” ucapnya kesal dan melempar asal ke meja.Dia sudah pusing dengan masalah perusahaan dan sekarang harus mengurusi orang asing pula!“Nah itu dia, Tuan! Apa Tuan tidak penasaran siapa dia sebenarnya? Tapi, tenang saja karena aku sudah mencari tahu siapa pria itu!” ucap Joseph dengan senyuman misterius.Dia pun membuka Tab miliknya dan mendekatkan lay
Pria paruh baya itu memberikan tatapan menusuk.Sementara pemuda lajang di seberang sana tampak duduk dengan gelisah, susah payah menyembunyikan raut wajah kesal karena kembali mendengar kata-kata yang sangat ia benci.‘Huh! Lagi-lagi cuma bisa menyalahkanku!’ hanya berani menggerutu dalam hati.Tangan kanannya mengambil gelas whisky, menghabiskan sisa minuman itu hingga tandas dan meletakkannya kembali ke atas meja kaca.Butuh sesuatu yang menantang untuk berbicara dengan pria itu.“Aku sudah mengatur semuanya, Bos! Dia gadis yang bodoh. Bahkan tidak memberitahuku kalau si cecunguk itu punya rekaman videonya!” jelasnya berkelit.Yup!Sandy dan Bastian bertemu diam-diam hari ini.Tentu untuk membahas situasi yang makin rumit karena rencana pemuda itu yang hanya ampuh di awal dan menguap begitu saja setelah Adrian berhasil memutar balikkan keadaan.Sandy menyenderkan punggungnya ke sofa.Senyuman miring pun terbit di sudut bibirnya, “Hahaha! Kalian berdua itu sama-sama bodoh! Kau itu s
“A-apa? Ti-tidak mungkin!” ucapnya dengan bibir bergetar. “Kalian pasti salah orang!”[“Tidak, Pak. Kami sudah memeriksa di dalam selnya dan memastikan informasi ini dengan dokter terkait,” jelasnya lagi.]Tangan Bryan lemas dan ponselnya pun jatuh ke lantai.Pria di seberang sana masih bicara, tetapi pria paruh baya itu sudah tidak peduli.“Ti-tidak! Putraku tidak mungkin mati! Ronald … tidak mungkin! Tidaakkkkk!!!”Suaranya menggema di ruangan kerjanya.“Tidak mungkin! Hu-hu-huaaaaa!” Tangis pria itu akhirnya pecah.Kedua bahunya berguncang karena terisak pilu.Setelah semua kejadian yang dialaminya, dia selalu berusaha untuk kuat.Namun, sekarang adalah puncaknya.Putra satu-satunya dan kebanggaan baginya sudah pergi untuk selamanya.Dan dalam beberapa jam saja, berita kematian Ronald langsung laris manis mengisi stasiun televisi.Semua orang pun membicarakan berita itu dengan berbag
Sementara itu…Seorang pria paruh baya baru saja ingin merebahkan badan karena lelah seharian bekerja.Namun atensinya teralihkan saat mendengar bunyi ponsel yang ada di samping ranjang.Saat melihat nama yang ada di layar, raut wajahnya langsung berubah menjadi masam.“Halo! Untuk apalagi kau menelponku?” jawabnya ketus.Pria di seberang sana mencoba bersabar walaupun juga sama kesalnya.[“Tidak usah ketus begitu, Baron! Aku hanya ingin minta keringanan hukuman untuk Ronald! Kau bisa kan bicara pada polisi?” ucapnya sedikit memaksa.]Ya, Bryan menghubungi Baron untuk minta potongan masa tahanan putranya dan mereka tidak tahu sama sekali soal kedatangan Adrian dan rencana licik Ronald yang terbongkar.Belum ada yang memberitahu kedua pria ambisius itu.Jadi, apapun akan dia lakukan meskipun mengemis pada Adik satu-satunya.Baron merasa sangat emosi mendengarnya tetapi berusaha tetap tenang demi kesehatannya
Klik!Panggilan telepon itu dimatikan sepihak oleh Bastian.“Ha-halo! Hei, aku belum selesai bicara!” teriaknya kencang.Nayla menatap layar ponselnya dengan nanar. Tanpa basa-basi lagi dia pun langsung membantingnya ke lantai.“Aarrgghhhh!!! Aku benci kalian semua! Dasar brengsek!”Tubuh gadis itu mero
"Baik, Tuan!" jawab Joseph patuh. Adrian membuka jasnya dengan cepat dan memberi perintah lagi, “Hapus berita murahan itu sekarang!”Pria itu pun mengangguk dan segera ke luar dari sana sebelum Tuannya semakin murka. Adrian pun mendudukkan tubuhnya di kursi dengan kasar. Dia pun memegang kepalanya ya
Adrian sampai kembali bangkit dari tempat duduknya. “Apa itu, Jo? Kenapa kau tidak memberitahuku dari awal? Cepat katakan padaku!” pintanya tidak sabar. Joseph pun tersenyum miring. “Tenang saja, Tuan. Aku menyimpannya di apartemenku. Sebenarnya aku ingin memberikan itu pada polisi, tapi sepertinya
‘Ada apa ini?’Adrian pun beralih menatap Joseph dan pria itu bergantian. Joseph awalnya juga terkejut tapi sedetik kemudian ia pun kembali memasang wajah datarnya seperti biasa dan tidak terpengaruh sama sekali. “Paman Sandy? Ada apa datang kemari tiba-tiba? Kenapa t






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews