LOGINBagas mendekat, langkahnya pelan dan tenang. Mata Bagas langsung tertuju pada interkom di atas meja Mayra yang masih menyala.“Ah! Jadi itu masalahnya,” gumam Bagas menyadari penyebab yang membuat Mayra merasa sedih.“May,” sapa Bagas lembut, ia berdiri tepat di sebelah Suster tersebut. Tangannya memutar kursi Mayra hingga menghadap ke arahnya.Sementara Mayra ia masih menekuk wajahnya, ia tidak sanggup menatap Bagas. Jika ia melihat Dokter muda itu sekarang, pasti tangisnya akan tumpah.Bagas menghela napas berat, ia akhirnya berlutut di depan Mayra.“May,” katanya lembut. Tangan Bagas mendarat di atas paha Mayra.“Clara itu hanya sebatas pasien, tidak lebih.” Tangan Bagas terangkat pelan dan memegang lembut pipi Mayra. Ia mengusapnya dengan ibu jari.“Dan Renata, dia itu hanya sebatas atasan dan pemegang saham, May,” tambah Bagas.Ia mulai memegang kedua tangan Mayra dan menciumnya lembut.“Sedangkan kamu… kamu wanita yang akan selalu bersamaku, May. Hanya kamu.”Mayra akhirnya meng
Sementara di dalam Bagas sedang memberikan ‘terapi’ kepada Clara, di balik pintu ketegangan mulai terjadi.Madame Renata masih di lobi lantai dua. Ia melihat Mayra yang masih berdiri kaku di balik meja kerja, matanya terpaku pada pintu yang baru saja tertutup.Renata berjalan mendekat ke arah meja Mayra, lalu bersandar di sana dengan santai."Dia sudah mulai," bisik Renata pelan, cukup untuk membuat Mayra merinding. "Clara baru saja membawa kabar besar. Sepertinya Dokter kesayanganmu itu akan punya banyak waktu untuk 'menghibur' janda kaya yang baru saja lahir itu."Mayra menatap Renata dengan tatapan nanar. "Janda? Maksud Madame... Bu Clara sudah bercerai?"Renata terkekeh, ia mengambil sebuah pulpen di meja Mayra dan memainkannya. "Benar. Dan kamu tahu apa artinya itu bagi pria seperti Bagas? Clara tidak lagi punya batasan. Dia akan menyerahkan segalanya—hatinya, uangnya, dan tubuhnya—hanya untuk merasa diinginkan kembali."Renata menatap ke arah pintu ruang praktik yang tertutup ra
Saat Renata masuk, Clara sudah duduk di depan meja Bagas dengan wajah yang ditekuk. Terdengar Isak tangis samar di sana. Renata terdiam sejenak melihat desain ruang terapi yang begitu elegan. Meja kerja Bagas dan ruang konseling dipisah oleh sekat yang berupa partisi seperti rak buku. Dari pintu masuk, ruang terapinya tidak terlihat karena terhalang oleh sekat pemisah. Renata tersenyum tipis, “Ruangan yang menarik,” gumamnya. Lalu ia segera menuju meja kerja Bagas yang terletak beberapa meter di depannya. Langkahnya tenang, menatap Bagas yang sedang duduk di hadapan Clara yang sedang menekuk wajahnya. Sementara Bagas, melihat Renata ikut masuk ke dalam membuatnya segera bangkit. Namun suara dingin Renata segera menghentikan gerakannya. “Tenang saja, Dokter,” katanya pelan. “Saya ke sini hanya untuk mengantar Bu Clara.” Renata berhenti tepat di belakang Clara yang sedang menunduk. Tangannya tera
Tepat jam tiga menjelang sore, Bagas akhirnya tiba di kliniknya. Klinik dengan nama Psych-Devine, yang akan menjadi istana baru baginya untuk mengikat para ratu-ratu yang berkuasa di kota.Di lobi, ia langsung disambut oleh Santi. “Selamat datang, Dok,” sapa wanita itu sedikit canggung namun berusaha sopan dan profesional.Bagas tersenyum tipis sambil mengangguk—gestur yang lagi-lagi membuat Santi meleleh dan semakin mengagumi sosok psikolog berbakat itu.Bagas merapat ke arah meja kerjanya. “Bagaimana, Santi. Semuanya berjalan normal bukan?”“Tentu saja, Dok. Semuanya berjalan normal. Seperti yang tertera di skedul, dr. Elina hanya bertugas sampai jam empat sore.”Bagas mengangguk-angguk pelan. “Belum ada pasien yang rujuk ke atas kan?”“Belum ada, Dok. Sejauh ini, para pasien tampak cukup puas dan lega dengan terapi yang di berikan dr. Elina.”“Baguslah. Dokter Elina memang berbakat,” kaga Bagas sambil melonggarkan dasinya.“Oh ya, Santi. Sebentar lagi, Madame Renata akan datang. Di
Sementara di sisi lain kota. Klinik Re:Vive terlihat tidak seperti biasanya. Setelah Bagas resign dari sana, klinik ini seolah kehilangan jiwanya.Lobi yang biasanya ada Suster Mayra kini tampak gambar dengan wajah baru yang berdiri di balik meja tersebut. Lantai dua yang dulu menjadi tempat ‘terapi’ Dokter Bagas, kini menjadi lebih sepi.Klinik yang dulunya spesial karena kehadiran Bagas kini tak ubah layaknya klinik psikologi biasa. Tidak ada yang spesial.Di ujung lobi lantai satu, ruangan wanita yang dulu sering menjadi tempat pelampiasan hasratnya bersama Bagas, kini juga juga terlihat hampa. Renata duduk mematung di balik meja kerjanya. Tangannya sibuk membolak-balik berkas di atas meja, namun pikirannya tidak di sana.“Hmm!” Ia menghela napas berat. “Mungkin klinik ini harus beralih fungsi,” gumamnya.Ia merebahkan punggungnya di sandaran kursi. “Tanpa Bagas, klinik ini kehilangan pesonanya.”Renata sedikit menyesal karena melepaskan Bagas dari sini. Namun mengingat janji Bagas
Setelah malam peresmian yang melelahkan, keesokan paginya adalah ujian pertama bagi fungsi klinik ini. Sinar matahari pagi menyinari lobi lantai satu yang kini sudah tampak sangat profesional. Santi sudah duduk di balik meja resepsionis dengan seragam barunya, sementara Mirna mulai melakukan tugasnya di pantry. Di ruang praktik satu, dr. Elina baru saja tiba dan sangat bersemangat untuk menjalani kerja hari pertamanya di klinik ini. Bagaimana tidak, berkat nama dr. Bagas yang kembali dipulihkan di rumah sakit, dan juga jabatan barunya—tentu saja banyak pasien yang memilih datang ke klinik pribadi dokter itu. Alasannya hanya untuk lebih eksklusif dan privat. Namun, bagi mereka yang menderita masalah mental biasa akan ditangani oleh dr. Elina. Bagas hanya menangani pasien-pasien spesial saja. Beberapa janji temu sudah tercatat di komputer Santi, mereka adalah pasien-pasien biasa yang akan ditangani oleh dr. Elina. Di lantai dua, Mayra sudah duduk di meja kerjanya. Matanya sedikit s







