LOGINMalam yang dingin hadir menyelimuti kota. Namun di lantai tiga gedung klinik, suasana terasa begitu hangat. Mayra baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi. Rambutnya masih lembab, ia hanya mengenakan jubah mandi putih untuk menutupi semua aset berharga dari tubuhnya. Sore tadi ia bersama Bagas telah mengambil barang-barang pribadi miliknya di kontrakan.Mayra berdiri di depan cermin, menatap tubuhnya sendiri yang terbalut jubah mandi halus yang begitu nyaman di kulit. Ia tersenyum lembut, rasa senang menyeruak memenuhi dirinya. Bayangan Bagas satu-satunya yang ingatan yang terlintas dalam pikirannya saat ini.Tangannya meraih hairdryer dan mulai mengeringkan rambutnya. Aroma shampo menguar menyapa penciumannya. Begitu tenang. Hangat.Suara putaran hairdryer yang memenuhi ruangan perlahan mereda saat Mayra menekan tombol off. Keheningan menyelimuti kamar studio itu, hanya menyisakan detak jantung Mayra yang masih belum stabil sejak ia menginjakkan kaki di lantai tiga ini. Ia
Bagas melepaskan pautan bibir mereka dengan perlahan, membiarkan napas Renata yang tersenggal memburu di depan wajahnya. Ia mengusap bibir bawah Renata yang sedikit basah dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang seolah menjanjikan surga sekaligus neraka di gedung barunya nanti."Aku tidak pernah membandingkanmu dengan siapa pun, Renata," bisik Bagas serak, memberikan kepastian palsu yang sangat dibutuhkan oleh ego wanita itu. "Tapi profesionalisme dan kesenangan pribadi adalah dua hal yang berbeda. Mayra adalah efisiensi, sedangkan kamu... kamu adalah candu."Renata tersenyum puas, harga dirinya yang sempat terusik kini kembali pulih karena sanjungan maut Bagas. "Pastikan saja kamu menepati janjimu tentang 'Kunci Malam Jumat' itu, Bagas. Karena jika tidak, kamu tahu seberapa jauh tanganku bisa menjangkaumu.""Aku pria yang menepati janji," sahut Bagas sambil berdiri tegak kembali, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. “Lagi pula kau pemilik saham terbesar di klinik batuku, mana m
Satu bulan berlalu. Bagas sudah selesai mendesain sebuah gedung yang ia beli melalui agen properti kenalan Renata. Gedung tiga lantai yang terletak tidak jauh dari pusat kota. Secara tempat dan letak, bangunan ini benar-benar sangat strategis dan sesuai keinginan Bagas.Ia sudah mempersiapkan semuanya. Gedung itu siap pakai, tinggal Bagas mengisi beberapa staf untuk membantu dirinya di sana.Orang pertama yang terlintas di pikiran Bagas adalah Suster Mayra. Ia ingin suster cantik itu kembali menjadi asisten pribadinya namun kini di kliniknya sendiri.Bagas keluar dari bangunan tersebut, berdiri di depan menatap tempat yang sebentar lagi akan menjadi istana baru baginya untuk ‘menyembuhkan’ luka para wanita yang kesepian. Ia tersenyum tipis, menarik napas dalam-dalam seolah sedang mengumpulkan energi dan semangat baru.Siang itu, Bagas langsung berangkat menuju ke klinik Re:Vive—klinik yang telah membuat sisi gelap dirinya terbuka dan ia cukup menikmatinya.Klinik itu masih terlihat se
Bagas tersenyum tipis, dan ia langsung naik ke ranjang dan mulai menindih tubuh Renata. “Aahhh!” Renata mengerang, merasakan kejantanan Bagas menghimpit perutnya. Bagas mulai menjelajahi tubuh Renata dengan ciuman-ciuman panas dan gigitan kecil yang membuat Renata menjerit nikmat. Ia sengaja bermain di area-area yang ia tahu merupakan titik lemah wanita matang itu. Setiap kali Renata mencoba mengambil alih kendali dengan tangannya, Bagas mengunci tangan itu ke atas bantal, memaksanya untuk hanya bisa menerima. Bagas mulai mengeluarkan kejantanannya, melepas celana dalam dan menghempaskan ke sembarang arah. Ia membuka kaki Renata lebar, lalu mulai menggesekkan miliknya di area paling sensitif milik wanita itu. "Sshhh! Bagas! Kamu... Ahhh, kamu gila!" rintih Renata saat merasakan kejantanan Bagas yang sudah menegang sempurna mulai menekan area kewanitaannya yang sudah sangat basah. "Aku memang gila, Renata. Dan kamu yang membuatku seperti ini," balas Bagas. Tanpa basa-ba
Ciuman Renata terasa seperti tuntutan mutlak, sebuah klaim kepemilikan yang tidak menerima penolakan. Bagas bisa merasakan lidah Renata yang menyapu rongga mulutnya dengan rakus, seolah wanita itu sedang menyedot seluruh energi dan keberadaannya. Namun, Bagas bukalan pria yang bisa ditaklukkan begitu saja, ia tahu di mana titik lemah wanita itu.Bagas tidak membalas dengan kelembutan. Ia justru mencengkeram rahang Renata, memaksa wanita itu sedikit mendongak sementara ia membalas lumatan itu dengan lebih beringas. Tangan Bagas yang lain melingkar di pinggang ramping Renata, menarik tubuh berbalut gaun beludru itu hingga menempel kasar pada tubuhnya."Ahhh... Bagas," desah Renata di sela cumbuan mereka. Ia bisa merasakan perubahan energi pada diri pria ini. Bagas tidak lagi sekedar patuh, ia mulai melawan, dan itu justru membuat Renata semakin bergairah.Bagas melepaskan pautan bibir mereka, namun tetap menjaga jarak yang sangat intim. Napas mereka yang memburu bersahutan di ruang tamu
Beberapa hari telah berlalu. Nama dr. Bagaskara telah dipulihkan kembali oleh pihak rumah sakit. Izin prakteknya dikembalikan.“Terima kasih, dr. Bagas atas keluasan hatinya. Kami juga mohon maaf atas semua kesalahpahaman yang berlarut ini.”Bagas bangkit, menjabat tangan ketua dewan komite.“Terima kasih banyak, Pak. Saya rasa tidak ada yang perlu dimaafkan. Lagi pula semua kebenarannya telah terungkap.”Bagas tersenyum ramah, wibawanya di rumah sakit ini telah kembali seutuhnya.“Jadi atas tawaran kami pihak rumah sakit, harap Dokter pertimbangkan kembali. Kami sangat membutuhkan sosok psikolog muda berbakat seperti anda, Dok.”Direktur rumah sakit tersebut tersenyum hangat, ia menawarkan jabatan menjanjikan kepada Bagas. Bagas ditawarkan untuk menjadi kepala departemen psikologi yang akan membawahi semua psikolog klinis biasa di rumah sakit.“Terima kasih, Pak, atas tawarannya. Namun beri saya waktu,” jawab Bagas pelan.“Baik, Dok, tidak masalah.”Pertemuan singkat itu berjalan han







