Home / Urban / Terapi Hasrat Dokter Bagas / Bab 8 — Gairah Bagas

Share

Bab 8 — Gairah Bagas

Author: Dark_Pen
last update Last Updated: 2025-11-03 15:54:21
“Ugh!”

Lenguhan dan desahan mulai keluar dari bibir Clara saat batas moral di dalam diri Bagas mulai kabur. Lelaki itu menjadi liar, ia mengecup, mencumbu dan memainkan dua bukit cinta dengan begitu bergairah.

“Ahh! Dok!”

Clara menjambak lembut rambut Bagas, menahan kepala Bagas ke bawah hingga dokter muda itu hampir sesak dengan dua bukit yang kini menghimpitnya.

“Shh! Terus Dok!”

Tangan Clara mulai bermain—melepas satu persatu kancing kemeja biru muda yang Bagas kenakan. Tangannya yang lembut mulai menelusup kedalam, membelai bulu halus yang tumbuh di sepanjang dada lelaki itu yang bidang.

Bahkan dua ujung kecil dada Bagas tidak luput dari sentuhan Clara. Ia membelai, bahkan sesekali mendekatkan wajahnya dan memainkan lidah mungilnya di sana.

Bagas benar-benar sudah tidak tahan lagi. Batas moral yang sedari tadi mulai menipis akhirnya hilang sepenuhnya.

Clara tersentak saat Bagas mengangkat dan mendekap tubuhnya. Lalu akhirnya dia tersenyum — kini, Bagas mulai menggendong dir
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Keyy
Gaskeun thor
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 108 — Suara di Interkom

    Sementara di dalam Bagas sedang memberikan ‘terapi’ kepada Clara, di balik pintu ketegangan mulai terjadi.Madame Renata masih di lobi lantai dua. Ia melihat Mayra yang masih berdiri kaku di balik meja kerja, matanya terpaku pada pintu yang baru saja tertutup.Renata berjalan mendekat ke arah meja Mayra, lalu bersandar di sana dengan santai."Dia sudah mulai," bisik Renata pelan, cukup untuk membuat Mayra merinding. "Clara baru saja membawa kabar besar. Sepertinya Dokter kesayanganmu itu akan punya banyak waktu untuk 'menghibur' janda kaya yang baru saja lahir itu."Mayra menatap Renata dengan tatapan nanar. "Janda? Maksud Madame... Bu Clara sudah bercerai?"Renata terkekeh, ia mengambil sebuah pulpen di meja Mayra dan memainkannya. "Benar. Dan kamu tahu apa artinya itu bagi pria seperti Bagas? Clara tidak lagi punya batasan. Dia akan menyerahkan segalanya—hatinya, uangnya, dan tubuhnya—hanya untuk merasa diinginkan kembali."Renata menatap ke arah pintu ruang praktik yang tertutup ra

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 107 — Clara Bercerai

    Saat Renata masuk, Clara sudah duduk di depan meja Bagas dengan wajah yang ditekuk. Terdengar Isak tangis samar di sana. Renata terdiam sejenak melihat desain ruang terapi yang begitu elegan. Meja kerja Bagas dan ruang konseling dipisah oleh sekat yang berupa partisi seperti rak buku. Dari pintu masuk, ruang terapinya tidak terlihat karena terhalang oleh sekat pemisah. Renata tersenyum tipis, “Ruangan yang menarik,” gumamnya. Lalu ia segera menuju meja kerja Bagas yang terletak beberapa meter di depannya. Langkahnya tenang, menatap Bagas yang sedang duduk di hadapan Clara yang sedang menekuk wajahnya. Sementara Bagas, melihat Renata ikut masuk ke dalam membuatnya segera bangkit. Namun suara dingin Renata segera menghentikan gerakannya. “Tenang saja, Dokter,” katanya pelan. “Saya ke sini hanya untuk mengantar Bu Clara.” Renata berhenti tepat di belakang Clara yang sedang menunduk. Tangannya tera

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 106 — Praktek Pertama

    Tepat jam tiga menjelang sore, Bagas akhirnya tiba di kliniknya. Klinik dengan nama Psych-Devine, yang akan menjadi istana baru baginya untuk mengikat para ratu-ratu yang berkuasa di kota.Di lobi, ia langsung disambut oleh Santi. “Selamat datang, Dok,” sapa wanita itu sedikit canggung namun berusaha sopan dan profesional.Bagas tersenyum tipis sambil mengangguk—gestur yang lagi-lagi membuat Santi meleleh dan semakin mengagumi sosok psikolog berbakat itu.Bagas merapat ke arah meja kerjanya. “Bagaimana, Santi. Semuanya berjalan normal bukan?”“Tentu saja, Dok. Semuanya berjalan normal. Seperti yang tertera di skedul, dr. Elina hanya bertugas sampai jam empat sore.”Bagas mengangguk-angguk pelan. “Belum ada pasien yang rujuk ke atas kan?”“Belum ada, Dok. Sejauh ini, para pasien tampak cukup puas dan lega dengan terapi yang di berikan dr. Elina.”“Baguslah. Dokter Elina memang berbakat,” kaga Bagas sambil melonggarkan dasinya.“Oh ya, Santi. Sebentar lagi, Madame Renata akan datang. Di

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 105 — Clara dan Renata

    Sementara di sisi lain kota. Klinik Re:Vive terlihat tidak seperti biasanya. Setelah Bagas resign dari sana, klinik ini seolah kehilangan jiwanya.Lobi yang biasanya ada Suster Mayra kini tampak gambar dengan wajah baru yang berdiri di balik meja tersebut. Lantai dua yang dulu menjadi tempat ‘terapi’ Dokter Bagas, kini menjadi lebih sepi.Klinik yang dulunya spesial karena kehadiran Bagas kini tak ubah layaknya klinik psikologi biasa. Tidak ada yang spesial.Di ujung lobi lantai satu, ruangan wanita yang dulu sering menjadi tempat pelampiasan hasratnya bersama Bagas, kini juga juga terlihat hampa. Renata duduk mematung di balik meja kerjanya. Tangannya sibuk membolak-balik berkas di atas meja, namun pikirannya tidak di sana.“Hmm!” Ia menghela napas berat. “Mungkin klinik ini harus beralih fungsi,” gumamnya.Ia merebahkan punggungnya di sandaran kursi. “Tanpa Bagas, klinik ini kehilangan pesonanya.”Renata sedikit menyesal karena melepaskan Bagas dari sini. Namun mengingat janji Bagas

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 104 — Hari Pertama

    Setelah malam peresmian yang melelahkan, keesokan paginya adalah ujian pertama bagi fungsi klinik ini. Sinar matahari pagi menyinari lobi lantai satu yang kini sudah tampak sangat profesional. Santi sudah duduk di balik meja resepsionis dengan seragam barunya, sementara Mirna mulai melakukan tugasnya di pantry. Di ruang praktik satu, dr. Elina baru saja tiba dan sangat bersemangat untuk menjalani kerja hari pertamanya di klinik ini. Bagaimana tidak, berkat nama dr. Bagas yang kembali dipulihkan di rumah sakit, dan juga jabatan barunya—tentu saja banyak pasien yang memilih datang ke klinik pribadi dokter itu. Alasannya hanya untuk lebih eksklusif dan privat. Namun, bagi mereka yang menderita masalah mental biasa akan ditangani oleh dr. Elina. Bagas hanya menangani pasien-pasien spesial saja. Beberapa janji temu sudah tercatat di komputer Santi, mereka adalah pasien-pasien biasa yang akan ditangani oleh dr. Elina. Di lantai dua, Mayra sudah duduk di meja kerjanya. Matanya sedikit s

  • Terapi Hasrat Dokter Bagas   Bab 103 — Ketegangan Tiga Wanita

    Dua sedan mewah berhenti di depan. Mayra menarik napas panjang, ia sudah tahu siapa pemilik dua mobil tersebut.Pintu mobil terbuka. Madame Renata turun dengan anggun. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan wanita matang yang mempesona. Di belakangnya, Helena turun dengan gaya yang lebih santai namun elegan, mengenakan setelan blazer yang memperlihatkan kelasnya sebagai psikolog yang mampu mengimbangi intelektual Bagas.Mereka berdua masuk ke lobi. Aroma parfum mawar yang berat dari Renata segera bertabrakan dengan aroma musk yang tajam dari Helena, menciptakan atmosfer yang menyesakkan di ruangan yang tadinya tenang.“Apa acaranya sudah selesai?” tanya Renata dengan senyum penuh arti.“Sudah, Madame,” jawab Bagas sambil menyibak sedikit jasnya.“Ah, jadi kami telat ya?”Bagas tersenyum, ia tahu Renata sedang memancing.“Tentu saja tidak, Madame. Kalian berdua tidak telat. Acara tadi hanya diperuntukkan untuk tamu-tamu biasa,” u

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status