MasukDua sedan mewah berhenti di depan. Mayra menarik napas panjang, ia sudah tahu siapa pemilik dua mobil tersebut.Pintu mobil terbuka. Madame Renata turun dengan anggun. Ia mengenakan gaun sutra berwarna hitam yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, memberikan kesan wanita matang yang mempesona. Di belakangnya, Helena turun dengan gaya yang lebih santai namun elegan, mengenakan setelan blazer yang memperlihatkan kelasnya sebagai psikolog yang mampu mengimbangi intelektual Bagas.Mereka berdua masuk ke lobi. Aroma parfum mawar yang berat dari Renata segera bertabrakan dengan aroma musk yang tajam dari Helena, menciptakan atmosfer yang menyesakkan di ruangan yang tadinya tenang.“Apa acaranya sudah selesai?” tanya Renata dengan senyum penuh arti.“Sudah, Madame,” jawab Bagas sambil menyibak sedikit jasnya.“Ah, jadi kami telat ya?”Bagas tersenyum, ia tahu Renata sedang memancing.“Tentu saja tidak, Madame. Kalian berdua tidak telat. Acara tadi hanya diperuntukkan untuk tamu-tamu biasa,” u
Dua hari berlalu dengan kesibukan yang luar biasa. Mayra menjalankan tugasnya dengan sempurna; ia mengawasi Santi dalam mengatur sistem janji temu, memastikan dr. Elina memiliki semua instrumen tes yang dibutuhkan, dan mengarahkan Mirna untuk menjaga kebersihan lobi agar tetap mengkilap. Di lantai dua, Mayra juga mulai terbiasa dengan meja kerja barunya yang elegan, tempat di mana ia merasa seperti seorang ratu kecil yang menjaga pintu masuk ke dunia Bagas.Sesuai instruksi Bagas, acara peresmian sore itu dibuat sangat terbatas dan eksklusif.Pukul lima sore, lobi lantai satu sudah disulap menjadi ruang resepsi yang mewah. Aroma bunga lili putih dan melati menyatu dengan wangi parfum-parfum kelas atas. Beberapa kolega dokter dari rumah sakit Bagas sudah hadir, berbincang mengenai prospek klinik baru ini. Santi dan Mirna tampak sibuk melayani tamu dengan minuman, sementara dr. Elina berbincang santai dengan beberapa tamu sejawat.“Selamat Dokter Bagas, saya ikut senang dengan peresmian
Pagi harinya, Mayra terjaga. Badannya terasa pegal, selangkangannya masih sedikit nyeri akibat ukuran milik Bagas yang menghujam nya dengan sangat ganas semalam.Ia berbalik namun tangannya hanya menyentuh ruang kosong. Mayra langsung sadar jika Bagas tidak ada lagi di sana.Dengan mata yang masih sayu, Mayra berusaha bangkit. Tubuh polosnya masih tersembunyi di balik selimut.“Bagas?!” panggilnya lembut. “Kamu di mana?”“Mayra, kamu sudah bangun?”Bagas muncul dari arah balkon, ia memegang secangkir kopi hangat di tangannya. Sepertinya dokter itu baru selesai mandi, terlihat dari jubah mandi yang masih membalut tubuhnya.Bagas langsung mendekat, meletakkan cangkir kopinya di atas nakas.Ia menunduk, menatap Mayra yang masih duduk sambil memegang selimut menutupi tubuhnya.Mayra juga ikut tersenyum, saat satu kecupan lembut mendarat di keningnya.“Mandi dulu,” kata Bagas pelan. “Ada beberapa staf yang akan datang nanti. Mereka akan mengisi beberapa posisi di klinik ini.”Mayra mengang
Mayra mencoba menguasai rasa gugupnya. Dengan bimbingan tangan Bagas yang memegangi kepalanya, ia mulai menggerakkan kepalanya maju mundur, mencoba mengakomodasi ukuran kejantanan Bagas yang luar biasa. Lidahnya yang lembut mulai mengeksplorasi setiap jengkal tekstur kejantanan pria itu, membuat Bagas mengerang rendah sambil memejamkan mata."Nghhh... May, seperti itu... ahh, bagus sekali," desah Bagas dengan suara parau.Dorongan Bagas di dalam mulut Mayra menjadi semakin dalam dan berirama. Mayra masih canggung. Gerakan mulut dan lidahnya masih kaku. Ini kali pertama baginya.“Ugh!”Hampir saja Mayra tersedak saat Bagas mendorong miliknya masuk hingga menyentuh kerongkongannya.“Ah! Sayang, pelan-pelan. Aku belum biasa,” rengek Mayra dengan liur yang mulai membasahi bibirnya.Bagas tersenyum. “Maaf sayang, aku terlalu bersemangat.”Ia kembali, mengarahkan kejantanannya ke dalam mulut Mayra. Gadis itu kembali membuka mulutnya dan menyambut benda asing itu ke dalam hangat kulumannya.
Malam yang dingin hadir menyelimuti kota. Namun di lantai tiga gedung klinik, suasana terasa begitu hangat. Mayra baru saja selesai membersihkan diri di kamar mandi. Rambutnya masih lembab, ia hanya mengenakan jubah mandi putih untuk menutupi semua aset berharga dari tubuhnya. Sore tadi ia bersama Bagas telah mengambil barang-barang pribadi miliknya di kontrakan.Mayra berdiri di depan cermin, menatap tubuhnya sendiri yang terbalut jubah mandi halus yang begitu nyaman di kulit. Ia tersenyum lembut, rasa senang menyeruak memenuhi dirinya. Bayangan Bagas satu-satunya yang ingatan yang terlintas dalam pikirannya saat ini.Tangannya meraih hairdryer dan mulai mengeringkan rambutnya. Aroma shampo menguar menyapa penciumannya. Begitu tenang. Hangat.Suara putaran hairdryer yang memenuhi ruangan perlahan mereda saat Mayra menekan tombol off. Keheningan menyelimuti kamar studio itu, hanya menyisakan detak jantung Mayra yang masih belum stabil sejak ia menginjakkan kaki di lantai tiga ini. Ia
Bagas melepaskan pautan bibir mereka dengan perlahan, membiarkan napas Renata yang tersenggal memburu di depan wajahnya. Ia mengusap bibir bawah Renata yang sedikit basah dengan ibu jarinya, memberikan tatapan yang seolah menjanjikan surga sekaligus neraka di gedung barunya nanti."Aku tidak pernah membandingkanmu dengan siapa pun, Renata," bisik Bagas serak, memberikan kepastian palsu yang sangat dibutuhkan oleh ego wanita itu. "Tapi profesionalisme dan kesenangan pribadi adalah dua hal yang berbeda. Mayra adalah efisiensi, sedangkan kamu... kamu adalah candu."Renata tersenyum puas, harga dirinya yang sempat terusik kini kembali pulih karena sanjungan maut Bagas. "Pastikan saja kamu menepati janjimu tentang 'Kunci Malam Jumat' itu, Bagas. Karena jika tidak, kamu tahu seberapa jauh tanganku bisa menjangkaumu.""Aku pria yang menepati janji," sahut Bagas sambil berdiri tegak kembali, merapikan kemejanya yang sedikit kusut. “Lagi pula kau pemilik saham terbesar di klinik batuku, mana m







