LOGINHoney alias Jewel Belgenza berjalan pelan ke arah dua makam yang dimakamkan bersama. Semilir angin musim semi yang hangat membuat perasaan sendu itu muncul dari hati. Jantung Jewel berdetak lebih kencang saat ia mendekat dan mulai melihat batu nisan kedua orang tuanya. Mereka dimakamkan di lahan yang cukup lapang dengan makam lain yang terlihat agak jauh.
Air mata Jewel jatuh begitu saja. Keheningan dan ketenangan dari taman pemakaman itu makin membuat Jewel jadi nelangsa. Ia bahkan tak bisa hadir di pemakaman kedua orang tuanya 14 tahun yang lalu. Waktu itu ia hanya bisa menangis tanpa bisa mendekat.
Seluruh sahabat ayah dan ibunya datang dan melaksanakan upacara pemakaman. Salah satunya yang terlihat adalah Arjoona Harristian yang baru ia temui beberapa saat lalu.
Jewel lantas berlutut dan meletakkan bunga yang ia bawa di depan pusara kedua ayah dan ibunya. Ia semakin terisak dan tak bisa lagi menahan perasaannya.
Dari kejauhan, Dion Juliandra keluar da
Travis Lancey dan Charlotte Harper diterima oleh Dalton Curt di apartemen mewahnya di Manhattan. Saat Travis datang dan menawarkan sesuatu, Dalton awalnya tak tertarik. Tapi ia meyakinkan Dalton bahwa yang sedang ia bawa dapat membuat Dalton bisa menyingkirkan Rei Harristian dengan mudah. Sementara Charlotte masih di antara bimbang atau tidak dengan apa yang sedang dilakukannya.“Jadi apa yang ingin kamu katakan?” tanya Dalton dengan sikap dingin dan sangat tak bersahabat pada Charlotte. Charlotte menelan ludahnya dan sedikit menunduk. Ia jadi ragu akan bicara. Travis lantas menepuk pelan lengannya agar Charlotte mau bicara.“Aku tidak punya waktu untuk menunggumu seharian!” tambah Dalton pagi makin ketus. Charlotte agak sedikit gelagapan karena hal itu.“Uhm … aku …” Charlotte menoleh sekilas pada Travis lalu kembali pada Dalton. Pria itu mulai jengah dengan sikap Charlotte yang tak jelas. Travis jadi agak sedik
Rei tiba di depan pintu apartemen Honey dengan sekotak coklat dan sebuket bunga. Entah apa yang dipikirkannya sampai ia datang seperti seorang kekasih. Rasanya Rei seperti tak sadar dan tak peduli jika Honey akan terlihat seperti wanita jika Rei mengunjunginya di rumah seperti itu. Setelah mengetuk dan menunggu, pintu pun dibuka.“Apa yang kamu lakukan di sini?” Axel terkesiap melihat Rei sudah ada di depan pintu kala ia membukanya.‘Tentu aja dia yang akan membuka pintunya. Dasar sial!’ rutuk Rei dalam hatinya. Tapi ia harus bersikap ramah. Itu sebabnya Rei langsung memasang lengkungan senyuman lebar pada Axel. Namun Axel memang tak nyaman sama sekali. Ia terus mendelik pada Rei.“Aku datang kemari untuk mengunjungi H ... Axel. Maksudku Axel!” ujar Rei nyaris kelepasan. Axel mengernyitkan keningnya makin dalam. Rei Harristian memang manusia yang tebal muka. Ia tak peduli jika sudah ratusan kali diusir oleh Axel yang asli.
“Apa yang kau lakukan di sini?” geram Rei Harristian menghardik Josh Hartlin. Josh pun memasang tampang marah yang sama. Ia menggeram kesal dan marah pada Rei.“Apa urusanmu! Memangnya siapa kamu?” hardik Josh balik menyalak pada Rei. Rei mendorong Josh yang juga melawan dengan kekuatan yang sama. Jika hari ini mereka harus berkelahi maka itu juga yang akan mereka lakukan. Keduanya seperti banteng yang siap untuk saling menyerang satu sama lain.“Huh! Kamu benar-benar tidak tahu diri ya!” Rei mengejek tanpa filter sama sekali. Baginya kini Josh adalah saingan terberatnya. Ia langsung emosi begitu melihat Josh bisa datang menemui Honey tanpa ada halangan.“Aku tidak ada urusannya denganmu!”“Oh ya! Yang kamu sedang tengah kejar itu adalah kekasihku!” potong Rei sudah sangat kesal dan marah. Josh terdiam dan mengernyitkan keningnya. Siapa yang ia maksudkan? Axel atau Honey? Bukankah dia tidak tahu
Rei Harristian tak akan bisa tenang jika ia belum memastikan jika Honey Clarkson tiba di rumahnya dengan selamat. Lebih dari itu ia ingin melihat dan bertemu dengan Honey. Sudah lebih dari 18 jam semenjak terakhir kali ia melihat Honey. Dan hari ini saat ia diusir keluar dari kamar perawatan Honey, hal itu membuatnya jadi makin kesal dan tak tenang.Jadi Rei menyusun rencananya sendiri. Ia pura-pura pergi dari rumah sakit agar ketiga temannya yang lain juga ikut pergi dan meninggalkannya. Setelah Ares, Jupiter dan Aldrich pergi meninggalkan rumah sakit, Rei kembali lagi ke tempat itu. Ia bahkan sudah membeli bunga dan coklat.Rei belum tahu apa kesukaan Honey sama sekali. Jadi ia membawa apa yang biasa diminum oleh Honey yaitu coklat dengan berbagai bentuk layaknya seorang kekasih.Sayangnya begitu Rei sampai ke rumah sakit, ternyata Honey sudah diantarkan pulang oleh Nathan Giandra. Tak putus asa, Rei yang mengetahui tempat tinggal Honey memilih untuk dat
“Syukurlah kamu baik-baik saja, Sayang!” ujar Josh dengan serta merta memeluk Honey yang terpaku di depan pintu. Ia kaget sekaligus tak mengerti dengan yang terjadi.Sementara Axel yang menyaksikan kakaknya tiba-tiba dipeluk oleh Josh langsung melerai. Ia menarik bahu Josh sehingga ia jadi menjauh dari Honey.“Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu bisa tahu jika kami tinggal di sini?” sahut Axel separuh menghardik. Ia mengernyit hebat pada Josh yang tanpa ijin langsung memeluk. Terlebih ia tahu tentang identitas Honey.“Maaf Axel. Aku sangat senang bisa melihat Honey …” Josh langsung beralih pada Honey dan tersenyum manis padanya.“Apa kamu baik-baik saja? Bagaimana kejadiannya? Apa kamu terluka?” tanya Josh dengan nada kekhawatiran yang terlihat jelas. Axel jadi mendengus kesal mendengar Josh dan ia masih mendelik agar Josh mengerti.“Aku baik-baik saja, Josh!” jawab Honey dengan lemb
Suara Rei langsung membuat tiga orang yang berada di dekat Honey jadi menoleh ke belakang. Mereka adalah satu dokter spesialis kandungan, spesialis gizi dan nutris serta Nathan Giandra sebagai kepala rumah sakit. Dokter kandungan bahkan tengah memeriksa kandungan Honey dengan portable USG.Mata Honey langsung terbelalak dan seketika ia panik. Nathan lantas berjalan ke arah Rei dan menghalangi pandangannya pada Honey yang tengah diperiksa.“Kenapa kamu masuk tiba-tiba seperti ini?” tegur Nathan pada Rei dengan kening mengernyit. Rei tidak begitu memedulikan Nathan dan mencoba mengintip ke arah belakang Nathan ingin tahu apa yang terjadi pada Honey. Tapi Nathan dengan sigap menghalangi.“Kamu mau apa?” tanya Nathan separuh menghardik. Rei kembali berbalik menoleh pada Nathan dengan kening mengernyit heran dan berbagai pertanyaan di kepalanya.“Mereka sedang apa, Om?” selidik Rei jadi curiga. Nathan langsung merangkul Rei







