ログインMobil terus melaju, meninggalkan kebisingan kota menuju pinggiran pelabuhan yang sepi. Angin laut yang asin mulai menyusup lewat celah ventilasi, membawa aroma karat dan amis yang pekat.
SUV itu akhirnya berhenti di depan sebuah gudang tua berlantai beton yang sudah retak-retak. Sengnya yang berkarat mengerang ditiup angin, menciptakan suasana mencekam yang seolah menelan cahaya matahari.
Wulan perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa seberat batu, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan.
Sisa-sisa zat kimia dari kain Maya masih meninggalkan rasa pahit di pangkal tenggorokannya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa nyeri menyengat pergelangan tangannya.
Ia tersentak saat menyadari posisinya. Wulan tergantung di tengah ruangan gudang
Matahari merayap naik, memanggang aspal Pantai Indah Kapuk hingga uap panasnya terlihat bergetar di atas permukaan jalan. Di dalam kafe yang sejuk oleh embusan pendingin ruangan, Wulan berdiri terpaku di balik meja kasir.Jemarinya yang lentik menggenggam sebuah gelas kristal, mengelapnya berulang kali dengan kain mikrofiber hingga permukaannya nyaris tanpa noda. Namun, sorot mata almondnya tidak tertuju pada gelas itu; pandangannya kosong, menembus kaca besar kafe ke arah lobi apartemen mewah di seberang sana."Haaaah..."Helaan napas panjang lolos dari bibir merah meronanya. Gelas itu diletakkan dengan sedikit entakan di atas konter."Kenapa? Gelasnya ada salah apa sampai kamu mau pecahkan begitu?"Doni muncul dari balik mesin espreso, memperhatikan wajah Wulan yang cemberut. Gadis itu tidak menyahut, hanya menyandarkan dagunya di telapak tangan, membuat pipinya yang mulus sedikit tertekan.
Matahari pagi baru saja merangkak di antara gedung-gedung PIK, membakar sisa embun yang menempel pada rerumputan taman apartemen. Udara masih terasa sejuk, meski basah oleh aroma asin laut dan polusi kota yang mulai bangun.Wulan melangkah keluar dari lobi, kakinya yang jenjang terbungkus spandex hitam pendek yang berhenti di pertengahan paha, memamerkan kulit putih mulusnya yang kontras dengan bahan elastis yang ketat.Kaos crop top putihnya berpotongan lebar di dada, memperlihatkan tepian sport bra hitam yang menekan payudaranya yang padat hingga membentuk siluet yang jelas.Rambut hitam bergelombangnya diikat tinggi, menonjolkan leher jenjang dan garis rahangnya yang sempurna.Dia mulai berlari pelan, lengannya bergerak ritmis, memantulkan irama kecil di dadanya. Matanya yang sayu, kali ini tidak polos, melainkan tajam dan waspada, menyapu setiap sudut taman, s
Lantai semen gudang itu terasa sedingin es saat menyentuh kulit punggung Wulan yang polos. Keheningan segera menyergap begitu deru mesin mobil Boris menghilang di kejauhan, menyisakan bau apak ruangan dan aroma sisa pergulatan yang masih menggantung di udara yang lembap.Wulan perlahan membuka kelopak matanya, menatap langit-langit berkarat dengan sorot mata yang tak lagi sayu, melainkan tajam dan penuh perhitungan."Dasar kerbau bodoh."Wulan terkekeh lirih, sebuah suara yang terdengar kontras dengan kesunyian gudang. Tubuhnya yang indah, kini penuh dengan jejak kemerahan akibat perlakuan kasar Boris, menggeliat pelan di atas lantai yang kotor.Ia bangkit perlahan, mengabaikan rasa perih di beberapa bagian tubuhnya. Penyamarannya sebagai perempuan simpanan kelas teri telah berhasil total; Boris dan Maya benar-benar percaya bahwa ia hanyalah mangsa yang tak berdaya."Ugh, bau ini benar-benar menjijikkan
Lonceng di atas pintu kafe berdenting nyaring, membelah kebisingan mesin espreso yang tengah meraung. Doni tersentak, hampir saja menjatuhkan portafilter yang tengah ia bersihkan.Matanya langsung tertuju pada sosok yang baru saja melangkah masuk, mengenakan jaket hijau ojek online yang kedodoran dan kotor."Wulan? Itu kamu?"Doni melompat dari balik meja bar, mengabaikan pesanan pelanggan yang baru saja masuk. Ia menerjang maju, mencengkeram kedua bahu Wulan dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya nanar memindai setiap inci wajah gadis itu, mencari jejak luka atau air mata."Mas Doni, tenanglah. Aku tidak apa-apa."Wulan memberikan senyum tipis yang menenangkan, meskipun napasnya masih menyisakan sisa-sisa aroma laut dan debu gudang.Ia melepaskan ritsleting jaket hijau itu dengan perlahan, membiarkan kain tebal itu meluncur jatuh ke lantai kafe yang bersih.Di baliknya, Wulan t
Mobil terus melaju, meninggalkan kebisingan kota menuju pinggiran pelabuhan yang sepi. Angin laut yang asin mulai menyusup lewat celah ventilasi, membawa aroma karat dan amis yang pekat.SUV itu akhirnya berhenti di depan sebuah gudang tua berlantai beton yang sudah retak-retak. Sengnya yang berkarat mengerang ditiup angin, menciptakan suasana mencekam yang seolah menelan cahaya matahari.Wulan perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa seberat batu, seolah-olah ada ribuan jarum yang menusuk otaknya secara bersamaan.Sisa-sisa zat kimia dari kain Maya masih meninggalkan rasa pahit di pangkal tenggorokannya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun rasa nyeri menyengat pergelangan tangannya.Ia tersentak saat menyadari posisinya. Wulan tergantung di tengah ruangan gudang
Mentari pagi di kawasan PIK tidak pernah benar-benar terasa menyegarkan. Udara sudah tercemar aroma aspal panas dan uap laut yang lengket saat Wulan dan Doni melangkah keluar dari lobi apartemen.Wulan mengenakan kaos putih tipis yang memeluk erat setiap lekuk tubuhnya, memamerkan siluet dadanya yang membusung tanpa pelindung bra. Jeans ketatnya membungkus pinggul dengan sempurna, menciptakan irama gerakan yang mematikan setiap kali ia melangkah.Di depan kafe yang masih tertutup, sebuah mobil SUV hitam legam terparkir dengan mesin yang menderu halus. Boris bersandar di pintu kemudi, jaket kulitnya tampak mengilat di bawah cahaya matahari yang terik.Aura hitam yang menguap dari tubuhnya terasa semakin pekat dan busuk, sebuah kontras tajam dengan aroma melati yang menguar dari kulit Wulan.







