Marni, seorang janda muda telah tertabrak mobil hingga tewas. Sejak saat itu, arwahnya menghantui seluruh orang di desanya. Setiap malam, hantu janda muda itu berkeliaran untuk menakut-nakuti setiap orang yang dia temui. Bahkan tak jarang juga dia sampai masuk ke rumah para warga hanya sekedar untuk menakut-nakuti. Thomas, salah satu remaja di desa tersebut tak bisa tinggal diam. Ia yang awalnya juga takut pada teror itu tiba-tiba berubah menjadi muak dan ingin mengungkap tentang apa yang sebenarnya terjadi. Berbagai cara telah ia coba, tapi kegagalan lah yang ia dapat. Meski begitu, perjuangannya untuk membongkar misteri itu tidak pernah padam. Ia terus mencoba untuk membongkarnya meskipun harus bertaruh nyawa. Entah pada akhirnya ia bisa mengungkap tentang misteri itu atau tidak. Dan entah ia bisa mengakhiri teror hantu janda muda itu atau justru dia yang menyerah karena kalah dengan rasa takutnya.
View MoreI woke up to the sweet smell of flowers. I can't help but smile in the middle of the cold weather. The scent of the flowers was too calming. I couldn't help but to tighten the blanket against my whole body and curled myself like it wasn't time to wake up.
I want to sleep more. Iyong walang klase na iisipin, walang assignment at nakakakabang recitation. But I should accept the fact that at any moment, my grandmother will enter my room clad with her broomstick to remind me of my daily responsibilities. School.
I want to cry. My everyday problem is waking up early. How many times have I wished that time would stop and let me sleep I want to feel the softness of my bed and the warmth of my comforter.
Should I be absent? Even now. It's so cold, it's too lazy to go in.
"Claret..."
I ignored the first call to me.
"Claret..." I grabbed the nearest pillow and covered my ears to avoid the voice.
"Claret..."
But the second my name was called, I became violently aware. A man's voice! Man in my room!
I remained motionless. What is the man doing in my room? where is grandma?
I started to get nervous. My grandfather will surely burn me alive because there is a man in my room!
But what I noticed almost made me stumble. I'm not in my bed! I wasn't inside my room! How did I get here? I can not remember anything. did I drink yesterday
"Come on, Claret, stop that act."
He knows me, and what is he saying act?
I screamed when someone suddenly pulled a thick comforter that was hiding me. I quickly sat up and backed up to the headrest of the bed.
I was completely stunned when my eyes saw where I was.
I was in a strange room with this gorgeous--- no stranger. Who is he? Why am I here? What is happening?
I was sitting on a red bed full of white rose petals. What's with this setting?
I couldn't help but be awestruck when I looked down on myself.
I don't remember having any clothes like this. I was wearing a silk black dress, and I could vividly see the traces of my nipples on it.
Did something happen to us?
My arms spontaneously wrapped around me to hide my body.
"W-who are you?! Y-you molested me!"
The moment our eyes met, I couldn't help but swallow a few times.
I should hate him and curse him to death, but what's wrong with me? I couldn't help but to admire him. He's too beautiful and damn topless.
What am I doing in this room with him? How did I end up here and wake up dressed like this?
He's elegantly sitting in front of me with his crystal glass filled with red wine. His eyes were too intense while staring at me. My heartbeats were getting wilder.
As our eyes battled, an image started to appear inside my mind. He's familiar...
"W-why am I here?" I asked him hesitantly. The last thing I remember was that my grandmother and I were still talking.
I waited for him to answer but the stranger just vanished. I tried to look for him around but I had no trouble. I suddenly felt his warm breath on my right ear.
My heartbeats hammered rapidly while I felt my whole body go numb.
"Open your mouth..."
I didn't want to follow him but my mouth opened spontaneously as if he wanted to follow it.
Did he cast something on me? I can not move.
I could do nothing but watch what he was doing to me. I could feel some of his fingers above my teeth. It was like he was trying to grope my teeth.
Is he a dentist?
My brows furrowed when I saw the uncertainty in his expression. "I didn't turn you..."
Turn me what?
I couldn't scream when he suddenly laid me on the bed. My body couldn't just follow my own command! For you have found a new service.
My damn body was following his orders! I couldn't even utter a single word!
I screamed inside my mind when the stranger tilted my head sideways. I abruptly closed my eyes. I don't want to witness this!
My breathing started to get heavy when I felt his warm breath on my neck. But what made my mind turn upside down was his next move. He sensually dampened my neck using his tongue, until he started licking it with his slow and teasing caress.
I feel the sudden heating of my whole body.
And when his lips tried to move and explore more of my skin, I finally had control of my whole body. I immediately moved my hands and pushed him with all my might.
He didn't even flinch.
"You are really something..." he said filled with amusement.
With his quick movement, he quickly pinned both of my hands above my head.
"This is rapi--" he shook his head at what I had to say.
"This is feeding, baby..."
These were his last words before he bent on my neck again, and all I could do was scream. The pain pierced my skin and overwhelmed my whole system. As his lips ruled my neck, my body started to burn and my strength began to waver.
Am I thinking correctly? Are they really true? Why do I have to?
"You're sweet..."
My eyes were getting blurry. I can no longer see his face. I tried to slap him, but the last thing I saw was his lips with traces of my blood.
"You're a vampire..."
Sendi berusaha untuk mengatur napasnya yang tak beraturan. Bayang-bayang tentang wajah mengerikan dari sang hantu masih terus singgah di kepalanya. Sangat menyeramkan memang.“Dia di sini,” ucap Sendi pelan.Thomas langsung paham dengan apa yang Sendi katakan. Ia tentunya terkejut sekaligus takut. Ia arahkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, tapi tak ada apapun di sana. Ia tahu, hantu itu pasti hanya akan memunculkan diri di depan satu orang. Mungkin setelah ini, giliran dia yang akan didatangi.“Gak ada apa-apa, Sen. Udah, tenanglah!” pinta Thomas.“Dia di sini, Thomas.”Thomas bingung harus berbuat apa. Di satu sisi, ia memang takut. Tapi di sisi lain, ia juga ingin permasalahan ini cepat-cepat selesai. Ia tak mau ini jadi teror yang berkelanjutan tanpa ada ujungnya. Rasanya sudah lelah kalau tiap hari harus dihantui oleh hantu Marni. Ia ingin hidup dengan tenang seperti sedia kala.“Hufff ....” Thomas mengembuskan napas pelan.“Kalau kamu beneran Tante Marni, keluarlah! Kami i
"Udah, jangan banyak nanya. Lupakan saja! Intinya fokus nyetir supaya bisa cepat-cepat sampai," kata Rio."Oke, oke."Entah makhluk yang dimaksud Rio masih mengejar atau tidak, Thomas pun tak tahu. Rio pun mungkin juga sama tidak tahu. Akan tetapi hal itu sudah tak perlu dikhawatirkan lagi kala mereka sudah sampai di rumah Thomas."Cepetan Thom, buka garasimu. Biar aku yang masukin motornya.""Tam Tom. Aku bukan kucing.""Sudahlah, jangan protes! Cepat!" perintah Rio lagi."Iya, tunggu!"Thomas langsung berlari masuk ke dalam rumah dan segera membuka pintu garasi. Selepas itu ia pun langsung menyuruh kedua temannya itu untuk memasukkan motor ke garasi.***"Hufff. Emang kamu lihat apa tadi?" tanya Sendi sembari merebahkan tubuhnya di atas kasur kamar Thomas."Biasalah. Ya tahu sendiri, lah," jawab Rio."Kurasa kita memang harus cepat-cepat memecahkan misteri ini, deh. Kita gak bisa membiarkan hantu itu meneror kampung kita lebih lama lagi," ucap Thomas."Iya, emang. Makanya itu kita h
Sendy yang mendengar ucapan Thomas pun langsung terkejut dan melihat ke arah yang ditunjuk. Ternyata di sana tidak ada apa-apa."Mana?""Hahaha. Nggak, nggak. Aku cuma bercanda.""Sialan! Jangan kayak gitu!""Kenapa mendadak jadi penakut? Padahal tadi siang berani banget nyelidiki sampe toilet," ucap Thomas."Masalahnya ini baru aja habis ngelihat hantu. Ya kesan takutnya masih kerasa, lah. Entah kalau nanti. Mungkin akan hilang. Ya biasanya kayak gitu," ucap Sendy."Berarti berani pulang sendiri, entar?" Kali ini Rio yang bertanya."Mungkin.""Yeee. Ya jangan mungkin. Yang yakin, dong.""Hmm. Ya, ya. Aku berani. Aku laki-laki. Ngapain juga harus takut," ucap Sendi."Baguslah. Kita emang gak boleh takut," ucap Thomas.Setelah itu, ketiganya pun diam. Musik mulai menyala, dan sang penyanyi di cafe itupun mulai menyanyikan sebuah lagi. Thomas, Rio dan Sendi dapat melihat dengan jelas tentang bagaimana penyanyi cantik itu bernyanyi serta berjoget di sana. Namun itu bukan tujuan utama mer
"Gak, gak. Aku berani," ucap Sendy."Oh. Syukur deh. Kalau begitu tunggu di rumah dulu. Jangan berangkat dulu.""Kenapa?""Aku belum izin orang tua. Hahaha. Kalau gak diizinin ya gak jadi.""Lah. Parah banget.""Lha iya. Tapi akan tetap aku usahakan. Ya udah. Udah dulu. Aku mau bilang ke mereka.""Siap, deh."Thomas mematikan panggilan teleponnya. Ia pun kemudian berniat untuk menemui orang tuanya yang kini sedang menonton televisi. Entah diberi izin atau tidak, ia tetap harus mencoba untuk meminta izin."Eee ... Aku mau keluar, boleh nggak?" tanya Thomas ke keduanya."Keluar ke mana, sih? Harusnya kalau malam-malam di rumah aja," kata ibunya."Harusnya sih gitu, Bu. Tapi ini penting banget," kata Thomas."Penting apa?" Kali ini ayahnya yang bertanya."Ada tugas. Lagian entar aku juga sama Rio. Sama si Sendy juga. Aku gak sendiri, kok."Ada keraguan di hati kedua orang tuanya untuk memberikan izin kepada sang anak. Tentu itu disebabkan oleh teror hantu yang akhir-akhir ini ada di kamp
"Rumit, sih. Kalau aku hubungkan dengan yang difilm-film, kayaknya Tante Marni ini diperkosa seseorang. Mungkin sampai hamil. Lalu setelah mengetahui bahwa dirinya hamil, dia jadi malu dan memutuskan untuk pergi dari kampung sini," ucap Thomas."Terus soal teror hantu itu?""Kurasa itu emang hantunya Tante Marni. Ini mungkin, ya. Mungkin ketika perjalanan pergi, si pelaku itu membunuh Tante Marni dan membuangnya di suatu tempat yang kita tidak tahu di mana. Makanya itu arwahnya jadi tidak tenang dan menghantui kampung ini.""Nah, sekarang yang jadi pertanyaan, kenapa yang dihantui kampung ini. Maksudku, kenapa dia gak menghantui orang yang udah memerkosa dia?" tanya Nana.Thomas tersenyum meremehkan. Ia sudah menebak dari awal kalau bakalan ada yang bertanya seperti itu, dan ternyata benar, Nana bertanya seperti yang ia pikirkan."Itulah alasan kenapa aku tidak ingin siapapun tahu tentang penemuan test pack itu, tak terkecuali juga Pak RT. Hantu Tante Marni meneror kampung ini, kemung
Wajah makhluk itu tak nampak karena tertutup oleh rambut panjangnya. Namun tetap saja terlihat sangat menyeramkan.Thomas mengembalikan pensil alis itu ke tempat semula. Setelah itu ia memutuskan untuk mencari sesuatu yang lain. Di saat yang bersamaan, sosok hantu menyeramkan itu juga sudah menghilang dari sana."Ah, apa Tante Marni tidak meninggalkan sesuatu yang lain soal kepergiannya?" tanya Thomas pada dirinya sendiri.Ia mengembuskan napas pelan. Entah kenapa ia merasa bahwa penyelidikan ini pasti akan berakhir dengan sebuah kegagalan. Itu yang ada di pikiran Thomas saat ini.Thomas terus mencari sesuatu yang berada di kamar itu. Ia benar-benar mengesampingkan rasa takutnya, atau bahkan bisa dibilang menghilangkan rasa takutnya itu. Berada di dalam kamar yang gelap dan sepi tanpa ditemani oleh siapapun. Jelas itu terasa seperti uji nyali baginya. Namun ia seolah tak peduli dengan itu semua. Misinya jauh lebih penting daripada rasa takutnya."Seandainya aku punya indera ke-enam. A
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Comments