Home / Horor / Terjebak Gairah Siluman / 115. Jebakan untuk Wulan

Share

115. Jebakan untuk Wulan

Author: Lincooln
last update Last Updated: 2026-01-05 20:00:19

Mentari pagi di kawasan PIK tidak pernah benar-benar terasa menyegarkan. Udara sudah tercemar aroma aspal panas dan uap laut yang lengket saat Wulan dan Doni melangkah keluar dari lobi apartemen.

Wulan mengenakan kaos putih tipis yang memeluk erat setiap lekuk tubuhnya, memamerkan siluet dadanya yang membusung tanpa pelindung bra. Jeans ketatnya membungkus pinggul dengan sempurna, menciptakan irama gerakan yang mematikan setiap kali ia melangkah.

Di depan kafe yang masih tertutup, sebuah mobil SUV hitam legam terparkir dengan mesin yang menderu halus. Boris bersandar di pintu kemudi, jaket kulitnya tampak mengilat di bawah cahaya matahari yang terik.

Aura hitam yang menguap dari tubuhnya terasa semakin pekat dan busuk, sebuah kontras tajam dengan aroma melati yang menguar dari kulit Wulan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Terjebak Gairah Siluman   122. Bahaya dari ruang pengawas

    "Rrrrghh.."Suara geraman terakhir Jaka mereda, digantikan oleh keheningan yang hanya dipecahkan oleh dengung ribuan kipas pendingin dari rak server. Tubuh gempal Sugeng dan Jaka terkulai tumpang tindih di atas lantai beton yang dingin, seperti tumpukan daging yang kehilangan nyawa.Cairan putih sisa kenikmatan mereka perlahan mengering di kulit paha Wulan yang kini justru tampak semakin bersinar.Wulan menarik napas panjang, membiarkan dadanya yang membusung tanpa balutan kain itu naik turun dengan ritme yang teratur. Sensasi hangat dari energi gairah kuning pekat yang tadi ia hisap kini mengalir di setiap pembuluh darahnya, menyembuhkan rasa lelah dan memberikan kekuatan baru yang luar biasa.Ia menatap dua pria yang mendengkur halus itu dengan tatapan dingin yang tak menyisakan sisa kehangatan dari aksi panas tadi."Dasar makhluk rendah."Wulan melangkah melewati mereka, jemari kakinya yan

  • Terjebak Gairah Siluman   121. Penjaga ruang cctv

    Wulan mulai menjalankan aksinya menjelang tengah malam. Lantai basement apartemen mewah itu terasa seperti perut monster yang dingin dan pengap. Cahaya lampu neon yang berkedip-kedip menciptakan bayangan panjang yang menari di atas lantai beton abu-abu.Aroma udara di sini berat, campuran antara bau knalpot yang mengendap, kelembapan dinding yang berjamur, dan sisa-sisa pelumas mesin.Wulan melangkah dengan pelan, membiarkan sendal yang dia pinjam dari doni beradu pelan dengan lantai, menciptakan gema yang terputus-putus. Jaket parka milik Doni yang berukuran jumbo membungkus tubuhnya, menutupi lekuk tubuhnya hingga ke pertengahan paha.Tangan Wulan tenggelam di dalam saku jaket, sementara tudungnya sengaja ia biarkan turun, memamerkan wajah almondnya yang tampak kebingungan di bawah sorotan lampu yang pucat.Di ujung lorong, di dekat deretan mesin kompresor yang menderu rendah, sebuah pintu kaca tebal dengan logo

  • Terjebak Gairah Siluman   120. Akses kamera pengawas

    Matahari merayap naik, memanggang aspal Pantai Indah Kapuk hingga uap panasnya terlihat bergetar di atas permukaan jalan. Di dalam kafe yang sejuk oleh embusan pendingin ruangan, Wulan berdiri terpaku di balik meja kasir.Jemarinya yang lentik menggenggam sebuah gelas kristal, mengelapnya berulang kali dengan kain mikrofiber hingga permukaannya nyaris tanpa noda. Namun, sorot mata almondnya tidak tertuju pada gelas itu; pandangannya kosong, menembus kaca besar kafe ke arah lobi apartemen mewah di seberang sana."Haaaah..."Helaan napas panjang lolos dari bibir merah meronanya. Gelas itu diletakkan dengan sedikit entakan di atas konter."Kenapa? Gelasnya ada salah apa sampai kamu mau pecahkan begitu?"Doni muncul dari balik mesin espreso, memperhatikan wajah Wulan yang cemberut. Gadis itu tidak menyahut, hanya menyandarkan dagunya di telapak tangan, membuat pipinya yang mulus sedikit tertekan.

  • Terjebak Gairah Siluman   119. Aku bisa melindungi diri

    Matahari pagi baru saja merangkak di antara gedung-gedung PIK, membakar sisa embun yang menempel pada rerumputan taman apartemen. Udara masih terasa sejuk, meski basah oleh aroma asin laut dan polusi kota yang mulai bangun.Wulan melangkah keluar dari lobi, kakinya yang jenjang terbungkus spandex hitam pendek yang berhenti di pertengahan paha, memamerkan kulit putih mulusnya yang kontras dengan bahan elastis yang ketat.Kaos crop top putihnya berpotongan lebar di dada, memperlihatkan tepian sport bra hitam yang menekan payudaranya yang padat hingga membentuk siluet yang jelas.Rambut hitam bergelombangnya diikat tinggi, menonjolkan leher jenjang dan garis rahangnya yang sempurna.Dia mulai berlari pelan, lengannya bergerak ritmis, memantulkan irama kecil di dadanya. Matanya yang sayu, kali ini tidak polos, melainkan tajam dan waspada, menyapu setiap sudut taman, s

  • Terjebak Gairah Siluman   117. Ojol yang malang

    Lantai semen gudang itu terasa sedingin es saat menyentuh kulit punggung Wulan yang polos. Keheningan segera menyergap begitu deru mesin mobil Boris menghilang di kejauhan, menyisakan bau apak ruangan dan aroma sisa pergulatan yang masih menggantung di udara yang lembap.Wulan perlahan membuka kelopak matanya, menatap langit-langit berkarat dengan sorot mata yang tak lagi sayu, melainkan tajam dan penuh perhitungan."Dasar kerbau bodoh."Wulan terkekeh lirih, sebuah suara yang terdengar kontras dengan kesunyian gudang. Tubuhnya yang indah, kini penuh dengan jejak kemerahan akibat perlakuan kasar Boris, menggeliat pelan di atas lantai yang kotor.Ia bangkit perlahan, mengabaikan rasa perih di beberapa bagian tubuhnya. Penyamarannya sebagai perempuan simpanan kelas teri telah berhasil total; Boris dan Maya benar-benar percaya bahwa ia hanyalah mangsa yang tak berdaya."Ugh, bau ini benar-benar menjijikkan

  • Terjebak Gairah Siluman   118. Penyimpanan data rahasia

    Lonceng di atas pintu kafe berdenting nyaring, membelah kebisingan mesin espreso yang tengah meraung. Doni tersentak, hampir saja menjatuhkan portafilter yang tengah ia bersihkan.Matanya langsung tertuju pada sosok yang baru saja melangkah masuk, mengenakan jaket hijau ojek online yang kedodoran dan kotor."Wulan? Itu kamu?"Doni melompat dari balik meja bar, mengabaikan pesanan pelanggan yang baru saja masuk. Ia menerjang maju, mencengkeram kedua bahu Wulan dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya nanar memindai setiap inci wajah gadis itu, mencari jejak luka atau air mata."Mas Doni, tenanglah. Aku tidak apa-apa."Wulan memberikan senyum tipis yang menenangkan, meskipun napasnya masih menyisakan sisa-sisa aroma laut dan debu gudang.Ia melepaskan ritsleting jaket hijau itu dengan perlahan, membiarkan kain tebal itu meluncur jatuh ke lantai kafe yang bersih.Di baliknya, Wulan t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status