Share

9. Kontrak gaib

Penulis: Lincooln
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-15 00:34:34

Pemandangan itu hanya sekejap, sebuah lukisan pualam yang segera dihapus oleh kegelapan yang lebih pekat. Broto mengangkat kain hitam legam itu tinggi-tinggi, tetesan darah dan rempah jatuh kembali ke dalam baskom perak.

Dengan satu gerakan cepat, ia menyelimuti tubuh Wulan yang terbaring pasrah.

Kain itu dingin, basah, dan berat. Seketika, bau anyir darah yang menyengat menyerbu hidung Wulan, bercampur dengan aroma wangi melati yang kini terasa memuakkan.

Gelombang mual menghantam perutnya. Ia mengernyit, menahan keinginan untuk muntah. Napasnya ia atur, pendek dan cepat melalui mulut, mencoba menyaring udara busuk itu.

Kain basah itu menempel erat di setiap jengkal kulitnya, dari lekuk lehernya hingga ke lutut, seperti kulit kedua yang dingin dan lengket.

Alih-alih menyembunyikan, kain itu justru mencetak bentuk tubuhnya dengan lebih jelas. Di bawah sinar bulan yang pucat, siluet tubuh Wulan yang terbungkus kain hitam itu tampak seperti patung gelap yang basah, setiap lekuknya terpahat sempurna dan menantang.

Broto menelan ludah, menekan gejolak panas di pangkal pahanya.

Ia melangkah mendekat, jarinya yang besar dan kasar terulur. Telunjuknya menempel lembut di dagu Wulan yang runcing, lalu mendorongnya perlahan hingga wajah gadis itu menengadah ke langit. Tatapannya kosong, pasrah.

"Jangan melawan apa yang akan kau rasakan. Terima saja," bisik Broto, suaranya serak.

Jari itu kemudian mulai menari. Ia turun dari dagu, menelusuri garis leher Wulan yang jenjang. Terasa geli saat ujung kukunya menggesek kulit di atas kain yang basah itu.

Jari itu terus turun, berhenti sejenak di cekungan di antara tulang selangkanya, sebelum meluncur lebih rendah, membelah gundukan kembarnya. Wulan merasakan napasnya tertahan.

Perjalanan jari itu berlanjut, menyusuri perutnya yang rata, lalu berputar-putar di sekitar pusarnya, mengirimkan sengatan-sengatan aneh ke seluruh tubuhnya.

Gairah yang sebelumnya hanya percikan kini menjadi kobaran api. Tubuhnya tanpa sadar menggeliat pelan di atas batu yang dingin.

Tangannya mencengkeram tepi batu lebih erat, buku-buku jarinya memutih, mencoba menahan tubuhnya agar tidak melengkung keenakan.

Jari itu berhenti tepat di atas gundukan venusnya, menekan lembut dari luar kain. Wulan tersentak, sebuah desahan kecil lolos dari bibirnya yang setengah terbuka.

Tiba-tiba, dengan gerakan yang cepat dan tak terduga, jari itu melesat kembali ke pusarnya.

Kali ini, tekanannya tidak lagi lembut. Broto menancapkan ujung telunjuknya dengan paksa ke dalam lubang kecil itu.

"NGHH!" Wulan memekik tertahan.

Rasa perih yang tajam menusuk perutnya. Jari Broto yang besar terasa merobek pusarnya yang mungil.

Ia menggali, memutar, memaksa masuk lebih dalam. Wulan merasakan sakit. Sangat sakit.

Namun di balik rasa sakit itu, api gairah yang tadi berkobar meledak menjadi lahar panas. Perutnya kejang. Seluruh syarafnya seakan ditarik antara siksaan dan kenikmatan puncak.

Wulan menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan jeritan yang bisa jadi adalah teriakan kesakitan atau desahan kenikmatan.

Ia tidak tahu lagi. Tubuhnya menggelinjang hebat di atas altar batu, pinggulnya terangkat, punggungnya melengkung.

"Tahan.. Sebentar lagi." Suara Broto terdengar jauh, seperti datang dari seberang sungai.

Setelah terasa cukup, Broto menarik jarinya keluar dengan kasar. Wulan terkesiap, tubuhnya lemas seketika, terengah-engah dengan napas yang memburu.

Matanya berkaca-kaca, menatap Broto dengan pandangan kabur.

Broto mengangkat telunjuknya di bawah cahaya bulan. Di ujung jarinya, ada noda darah segar yang berkilauan.

Ia tersenyum puas, seringai serigala yang telah menemukan titik lemah mangsanya.

"Lihat?" Ia menunjukkan jari itu ke hadapan wajah Wulan. "Pintu pertama sudah terbuka. Sekarang, bersiaplah untuk tamu kita."

Jantung Broto sendiri berdebar kencang. Inilah intinya. Bagian paling berbahaya, di mana satu kesalahan kecil bisa membuat mereka berdua dimangsa oleh kekuatan yang ia panggil.

Seolah menjawab penantian itu, dari kedalaman hutan di seberang sungai, seekor anjing gunung melolong panjang dan sedih.

Lolongan itu segera disambut oleh puluhan lolongan lain dari segala penjuru, menciptakan paduan suara yang mengerikan dan memilukan.

Pada saat yang sama, gumpalan awan hitam pekat bergerak dengan kecepatan tak wajar, menutupi bulan purnama sepenuhnya.

Cahaya perak yang tadi menyinari mereka lenyap seketika. Kegelapan absolut menelan segalanya. Hanya suara napas Wulan yang terengah-engah dan gemericik sungai yang terdengar.

Lalu, Wulan merasakannya.

Sesuatu bergerak di bawah kain hitam yang membungkusnya. Tepat di kulitnya.

Rasanya seperti sebuah tangan yang kasar, besar, dan dingin merayap dari lutut, lalu naik perlahan ke pahanya.

Mata Wulan membelalak ngeri dalam gelap. Itu bukan tangan Broto. Ia bisa melihat siluet Broto yang masih berdiri diam di sampingnya.

"Mbah…" bisiknya ketakutan, suaranya bergetar hebat.

Tangan itu terus merayap naik. Sentuhannya tidak terburu-buru, seolah sedang menjelajahi wilayah baru. Wulan gemetar hebat, bukan lagi karena dingin, melainkan karena teror murni.

Namun, saat jari-jari kasar itu membelai paha bagian dalamnya, sengatan kenikmatan yang luar biasa dahsyat menyetrumnya, jauh lebih kuat dari sentuhan Broto tadi.

Ia menggigit bibirnya lebih keras hingga berdarah, mencoba membungkam desahan yang memaksa keluar.

Tangan itu tidak sendiri.

Tiba-tiba, ia merasakan tangan lain di punggungnya. Lalu satu lagi di perutnya.

Dua, tiga, empat, entah berapa banyak tangan kasar dan besar yang kini meraba-raba seluruh tubuhnya dari balik kain itu. Tangan-tangan tak terlihat yang bergerak dengan kehendak mereka sendiri.

Sepasang tangan meremas payudaranya dengan kasar, memelintir kuncupnya hingga Wulan menjerit lirih. Tangan lain mencubit pinggulnya dengan keras, meninggalkan rasa perih yang anehnya terasa nikmat.

Jari-jari panjang dan dingin menusuk-nusuk pusarnya yang masih perih, membuatnya menggelinjang hebat.

"Aahhh… Hentikan… Jangan…" Wulan mulai meracau, kepalanya menggeleng ke kiri dan kanan.

Tapi kata-katanya terdengar seperti permohonan untuk lebih, bukan untuk berhenti.

Setiap sentuhan adalah teror. Setiap sentuhan adalah kenikmatan yang tak tertahankan. Tubuhnya menjadi arena pertarungan antara rasa takut dan nafsu yang paling liar.

Ia tidak bisa lagi mengendalikan dirinya. Pinggulnya mulai bergerak-gerak, mengikuti ritme sentuhan tangan-tangan gaib itu.

"Nikmati, Wulan! Terima mereka! Jadilah satu dengan mereka!" Perintah Broto menggelegar di tengah kegelapan, terdengar seperti suara dewa.

Puncak kenikmatan datang bertubi-tubi, seperti gelombang pasang yang menghantamnya tanpa henti.

Satu, dua, tiga kali. Tubuhnya kejang hebat, setiap ototnya menegang hingga batasnya. Ia mendesah, menjerit, meracaukan kata-kata tak jelas.

Dunianya kini hanya berisi sensasi murni, tanpa pikiran, tanpa rasa takut, hanya gelombang pasang kenikmatan yang menenggelamkannya.

Kesadarannya mulai memudar. Tepat saat kegelapan di ujung matanya mulai merayap masuk, Broto bergerak.

Dengan sigap, ia mengambil sebuah benda dari samping baskom perak. Sebuah kayu jati tua berbentuk lingga, dipahat halus dengan ukiran-ukiran kuno, ujungnya tumpul namun kokoh.

Tanpa ragu, ia menyingkap sedikit ujung kain di antara paha Wulan yang terbuka. Dengan satu dorongan kuat, ia membenamkan lingga kayu itu ke dalam liang kenikmatan Wulan yang sudah basah dan berdenyut.

Tepat masuk ke inti gairahnya yang paling dalam.

"AAAAAAAAHHHHHHHH…."

Sebuah desahan panjang yang melengking keluar dari bibir Wulan, desahan terakhir yang membawa serta sisa-sisa kesadarannya. Matanya memutih, dan tubuhnya yang tadi tegang kini terkulai lemas di atas batu. Ia pingsan.

Saat itu juga, awan hitam yang menyelimuti bulan tersibak. Sinar purnama kembali menumpah, menerangi tubuh Wulan yang tak sadarkan diri, terbungkus kain hitam dengan lingga kayu yang masih tertancap di antara kedua pahanya.

Tangan-tangan gaib itu telah lenyap. Broto menghela napas panjang, napas lega yang luar biasa. Wajahnya basah oleh keringat. Ia berhasil.

Dengan perlahan, ia menarik lingga kayu itu keluar dari tubuh Wulan. Permukaan kayu itu kini basah, berlumuran darah yang bercampur dengan cairan gaib dari ritual itu.

Tanpa ragu, Broto mengangkat lingga itu ke depan wajahnya, lalu menjilat darah itu hingga bersih dengan lidahnya. Rasanya manis, asin, dan penuh kekuatan.

"HAHAHAHAHA… HAHAHAHAHA!"

Tawanya meledak, menggema di keheningan malam, tawa kemenangan yang buas dan penuh kebanggaan. Ia telah berhasil. Kontrak gaib itu telah disegel dengan darah dan kenikmatan.

Kini, Wulan bukan lagi sekadar gadis desa. Ia adalah miliknya. Ia adalah wadah bagi sekutunya.

Sebuah persekongkolan jahat antara manusia tamak dan siluman lapar telah terjalin. Wulan, dengan kecantikan dan dendamnya, telah menjadi boneka mereka yang paling indah dan paling mematikan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Gairah Siluman   165. Kepuasan Durja

    Berhari-hari berlalu sejak malam di angkot itu. Wulan menjadi boneka Ano, setiap sentuhannya, setiap rintihannya, setiap kehancurannya direkam dan dijual sehingga memberikan keuntungan bagi peretas nakal itu.Wulan tak lagi menghitung waktu. Dia hanya merasakan denyut gairah hitam yang semakin pekat di setiap aliran darahnya.Kristal-kristal jiwa siluman itu kini menumpuk di dalam tas kecilnya, terasa dingin dan berat, seperti beban yang ia pikul sendiri. Malam ini, purnama menggantung penuh di langit, memanggilnya.Wulan meninggalkan kamar kos Ano yang pengap menuju apartemen mewah milik Broto. Tempat yang jauh dari jangkauan Ano ini menjadi tujuannya karena ingin melakukan ritual wajibnya, melayani Batara Durja saat purnama.Apartemen itu sunyi, dingin, hanya suara napas Wulan yang berdesir di antara dinding-dinding kaca yang menjulang. Tidak ada tanda-tanda Bro

  • Terjebak Gairah Siluman   164. Preman angkot

    Lampu neon restoran cepat saji 24 jam itu berkedip-kedip gelisah, memantulkan cahaya pucat ke kap mesin mobil van putih milik Ano yang masih berderu halus. Di kejauhan, terminal bayangan di salah satu sudut Bekasi tampak hening dan mencekam, dipenuhi remang cahaya kuning dan kepulan asap dari knalpot tua."Kau siap, Lan? Ingat, penonton di forum sudah membayar deposit besar untuk adegan ini."Ano menyesuaikan posisi tas selempangnya, memastikan lensa kamera ponselnya menyembul sedikit dari balik lubang kecil yang sudah ia modifikasi. Matanya yang cekung tampak berkilat, bukan karena lelah, melainkan karena gairah yang menggila.Wulan merapatkan jaket parka hitam selututnya, membiarkan kain sintetis itu bergesekan dengan kulit polosnya yang mulai merinding karena angin malam yang menusuk. Ia mengulas senyum sayu, menatap pantulan dirinya di kaca jendela mobil."Gairah mereka sudah terasa sampai sini, No. Bau alkoho

  • Terjebak Gairah Siluman   163. Semakin dalam

    Cahaya biru dari monitor kembar di sudut kamar kos itu berdenyut, membiaskan bayangan panjang yang menari di dinding yang lembap. Aroma kopi basi dan sisa-sisa keringat yang mengering menggantung di udara, menciptakan atmosfer yang pengap namun entah bagaimana terasa intim bagi Wulan.Sudah tujuh hari ia terperangkap di sini—atau mungkin, ia sengaja membiarkan dirinya terperangkap.Wulan merayap di atas kasur yang berderit, hanya mengenakan kaos oblong hitam milik Ano yang sangat kebesaran. Kain katun tipis itu menggantung longgar, menutupi tubuhnya hingga pertengahan paha, namun setiap kali ia bergerak, ujung kaos itu tersingkap dan menyingkapkan pinggulnya yang polos tanpa sehelai benang pun di baliknya.Rambut hitam bergelombangnya berantakan, membingkai wajahnya yang kini tampak lebih sayu namun memancarkan binar yang liar."Kau masih betah menatap angka-angka

  • Terjebak Gairah Siluman   162. Mencari manusia jahat

    Tidak butuh waktu lama, postingan Ano mendapatkan berbagai komentar. Suara kipas prosesor komputer menderu kencang, beradu dengan bunyi pings dari notifikasi yang masuk bertubi-tubi.Ano menyandarkan punggungnya ke kursi kerja yang berderit, jemarinya yang kurus mengetuk-ngetuk pinggiran meja kayu yang dipenuhi remahan abu rokok."Lihat ini, Wulan. Semua berebutan berkomentar, kekeke."Wulan yang tengah mengatur nafasnya menoleh ke arah Ano, lalu bergeser di atas kasur, membiarkan selimut yang melilit tubuhnya merosot hingga memperlihatkan punggungnya yang polos. Ia berjalan mendekat ke meja kerja Ano dengan tangan mendekap bagian depan tubuhnya, sementara lekuk belakang tubuhnya terlihat tanpa lilitan selimut.Ia membungkuk dan menyandarkan dagunya di bahu Ano, membiarkan rambut hitam gelombangnya jatuh menutupi sebagian punggung pria itu."Apa kata mereka, No? Apa mereka takut?"

  • Terjebak Gairah Siluman   161. Pemahaman Ano

    Dengung di kepala Wulan terasa seperti ribuan lebah yang terperangkap di dalam tengkoraknya. Saat kelopak matanya yang berat perlahan terbuka, cahaya lampu neon yang berkedip di langit-langit kosan Ano menusuk tajam, memaksa Wulan merintih dan membuang muka.Ia mencoba duduk, namun otot-otot di sekujur tubuhnya memprotes. Punggungnya kaku, dan area di antara kedua pahanya masih menyisakan denyut nyeri yang aneh—sisa-sisa dari invasi energi yang merobek kewarasannya di klinik tua itu.Sprei katun yang kasar menggesek kulitnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Wulan menarik selimut tipis hingga menutupi dadanya yang padat, merasakan puncak payudaranya yang masih sensitif bergesekan dengan kain. Di sudut ruangan, suara klik mouse yang repetitif dan tawa kecil yang serak memecah keheningan."Kau harus lihat ini, Wulan. Rekor baru. Bahkan video di pabrik kemarin tidak ada apa-apanya dib

  • Terjebak Gairah Siluman   160. Di luar logika

    Bayangan di dinding itu tidak lagi statis. Siluet Wulan yang terikat di kursi kini terlihat jelas, namun ada lebih dari satu sosok hitam yang menindihnya.Ano terkesiap, napasnya tertahan di tenggorokan. Ia mencoba mengarahkan kameranya lebih dekat, ingin menangkap setiap detail, namun kakinya seolah terpaku di lantai.Di balik kabut pekat itu, Wulan menjerit. Bukan jeritan takut sepenuhnya, melainkan lolongan panjang yang bercampur dengan erangan kepuasan yang menyakitkan.Tubuhnya melengkung ke atas, punggungnya menegang seperti busur panah yang ditarik maksimal. Ia merasakan ribuan lidah dingin menjilat setiap inci kulitnya, menghisap sisa-sisa udara dari paru-parunya.Tangan-tangan tak kasat mata itu tidak lagi meraba; mereka mencengkeram, meremas, menusuk paksa setiap lubang di tubuhnya."Ahhh... tidak... terlalu banyak!" Wulan melolong, kepalanya terlempar ke belakang,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status