FAZER LOGINMalam yang dinantikan akhirnya merangkak tiba, menyeret selubung kelamnya ke puncak Halimun. Bulan purnama menggantung di kubah langit seperti mata pucat raksasa, sinarnya yang dingin dan tanpa belas kasihan menumpah ke bumi, mengubah hutan pinus menjadi lautan bayangan dan perak.
Di tengah sungai yang deras, yang airnya sedingin es mengalir dari puncak Halimun, Wulan duduk bersila. Batu pipih yang ia duduki terasa licin dan membekukan, seolah menyedot semua sisa kehangatan dari tubuhnya.
Ia hanya mengenakan sehelai kain jarik tipis yang sudah basah oleh percikan air. Kain itu menempel di kulitnya, menjiplak setiap lekuk tubuhnya yang kini padat dan kencang berkat latihan-latihan brutal Broto.
Angin malam menusuk tanpa ampun, membawa hawa gunung yang menggigit tulang. Tubuh Wulan menggigil hebat, giginya gemeletuk pelan, tetapi matanya tetap terpejam.
Napasnya ia atur dalam-dalam, mencoba mengabaikan hawa dingin yang merayap masuk ke sumsumnya. Dendamnya adalah api yang menghangatkan jiwanya dari dalam.
Malam ini adalah malam pembayaran. Jiwa dan raganya sudah siap.
Dari tepi sungai, di antara bayang-bayang pepohonan, Broto mengamati. Matanya yang kecil berkilat dalam gelap, memantulkan cahaya bulan.
Ia puas. Sangat puas.
Gadis itu telah berubah. Tubuhnya yang dulu hanya indah kini juga mematikan. Kelenturannya bukan lagi sekadar pesona, melainkan senjata. Setiap otot di paha dan betisnya terbentuk sempurna, menjanjikan kecepatan dan kekuatan.
Broto bisa melihatnya, bahkan dari kejauhan. Pemandangan Wulan yang menggigil, dengan kain basah yang nyaris transparan membalut tubuhnya, membangkitkan gairahnya.
Tapi Broto menahannya. Malam ini bukan untuk nafsu rendahan seperti itu. Malam ini adalah untuk sesuatu yang jauh lebih agung.
Tiba-tiba, simfoni malam terhenti. Suara jangkrik, derik serangga hutan, bahkan lolongan burung hantu yang biasa bersahutan di kejauhan, semuanya lenyap.
Gemericik air sungai yang deras menjadi satu-satunya suara, sebelum itu pun terasa meredam, seolah ditelan oleh keheningan absolut yang turun seperti selimut tebal. Kesunyian yang pekak. Kesunyian yang sakral.
Inilah tandanya.
Broto bergerak. Ia menghampiri obor-obor yang ditancapkan melingkari area sungai itu, empat buah di setiap penjuru mata angin.
Satu per satu, ia meniup apinya. Kegelapan langsung menelan mereka, hanya menyisakan cahaya perak pucat dari bulan purnama.
"Wulan."
Suara Broto terdengar berat dan bergema dalam keheningan.
Wulan membuka matanya. Ia tidak menoleh, hanya menatap lurus ke depan, ke arah aliran sungai yang gelap. "Aku siap, Mbah."
"Bagus. Sekarang, berdiri."
Wulan bangkit dengan gerakan yang anggun namun penuh kekuatan. Air menetes dari ujung kainnya, membentuk riak-riak kecil di permukaan sungai.
"Sudah tiba waktunya bagimu untuk melepaskan dunia lamamu. Lepaskan satu-satunya yang tersisa dari dunia itu."
Wulan menunduk, menatap kain jarik yang melilit tubuhnya. Kain terakhir yang ia kenakan saat berlari dari hutan larangan, kain yang menjadi saksi bisu kematian ibunya. Tangannya gemetar saat menyentuh simpul di pinggangnya.
"Jangan ragu," desis Broto. "Kau ingin balas dendam atau ingin terus memeluk masa lalumu yang menyedihkan?"
Kata-kata itu seperti tamparan. Wulan menarik napas tajam. Tangannya berhenti gemetar.
Dengan satu gerakan cepat, ia menarik simpul itu. Kain jarik itu melorot turun, jatuh ke dalam air dan langsung hanyut terbawa arus deras, lenyap ditelan kegelapan.
Kini ia berdiri polos di atas batu, di tengah sungai, di bawah tatapan bulan purnama dan tatapan Broto. Kulitnya yang putih mulus seolah menyerap cahaya bulan, berpendar dengan keindahan yang tidak wajar seperti patung pualam.
Setiap lekuk tubuhnya, dari bahunya yang halus, dadanya yang padat dan membusung dengan kuncup yang mengeras karena dingin, pinggangnya yang ramping, hingga pinggulnya yang bulat penuh, semuanya terpapar tanpa penghalang.
Broto menahan napas. Pemandangan itu lebih indah dan lebih menggoda dari apa pun yang pernah ia bayangkan.
Nafsu yang tadinya ia tekan kini bergejolak hebat, panas dan menuntut. Ia ingin berlari ke sana, meraih tubuh itu, merasakannya di bawah tangannya.
Namun ia menggelengkan kepalanya dengan keras, mengusir bayangan itu. "Fokus, Broto, fokus," gumamnya pada diri sendiri.
"Jangan rusak semuanya hanya karena otakmu gatal."
Wulan bisa merasakan tatapan itu. Tatapan lapar yang seolah melahap setiap inci kulitnya.
Dan seperti biasa, tubuhnya berkhianat. Panas menjalar di perut bagian bawahnya, membuat area paling pribadinya berdenyut basah.
Namun, rasa malu yang naluriah sebagai seorang perempuan membuatnya bergerak. Dengan gerakan refleks, ia menyilangkan lengannya di depan dada, sementara tangannya yang lain turun untuk menutupi pangkal pahanya.
Sebuah perlindungan yang sia-sia, yang justru semakin menonjolkan apa yang coba ia sembunyikan.
"Berbaring," perintah Broto dengan suara serak, mencoba mengendalikan gejolak dalam dirinya. "Di atas batu."
Wulan menurut. Ia berbaring telentang di atas batu pipih yang dingin dan basah. Punggungnya seolah menempel pada bongkahan es, tapi ia tidak peduli.
Ia hanya menatap langit malam, pada bulan yang menatapnya balik tanpa emosi.
Broto berbalik, berjalan menuju sebuah baskom perak besar yang telah ia siapkan di tepi sungai.
Di dalamnya, ada cairan kental berwarna hitam pekat. Darah ayam cemani jantan, yang disembelih tepat saat bulan mencapai puncaknya.
Broto menaburkan segenggam bunga melati, beberapa kuntum kenanga, dan irisan akar-akaran wangi ke dalam baskom itu.
Bau anyir darah yang pekat langsung bercampur dengan wangi bunga dan aroma tanah dari rempah-rempah. Sebuah kombinasi yang aneh, membuat perut mual.
Broto mencelupkan kedua tangannya ke dalam cairan itu, mengaduknya perlahan sambil mulutnya mulai berkomat-kamit.
"Ingsun ngundang roh leluhur, ingkang rumekseng ing wana… Ajegaken wadah punika, dadosaken pusaka…"
Mantra dalam bahasa kuno yang serak dan dalam mengalir dari bibirnya, sebuah bisikan yang lebih tua dari pohon-pohon di sekeliling mereka.
Setelah beberapa saat, ia mengangkat kedua tangannya. Cairan hitam pekat itu menetes dari sela-sela jarinya.
Ia meraih kain jarik milik Wulan yang tadi ia pungut dari sungai. Ia mencelupkan kain itu ke dalam baskom, menekannya hingga seluruh kain basah kuyup oleh campuran darah dan rempah.
Saat kain itu diangkat, warnanya telah berubah menjadi hitam legam, meneteskan cairan kental yang berbau menusuk. Broto membawa kain itu, berjalan menyeberangi sungai yang dangkal menuju tempat Wulan berbaring.
Ia berdiri di samping batu altar itu, menatap Wulan yang masih menutupi tubuhnya. Wajahnya yang polos tampak pasrah, namun matanya menyiratkan pergulatan antara rasa takut, malu, dan gairah yang aneh.
"Singkirkan tanganmu."
Wulan ragu-ragu.
"Kubilang, singkirkan!" bentak Broto, kesabarannya menipis.
Dengan gerakan kasar, ia menepis lengan Wulan yang menutupi dadanya. Lalu ia menyingkirkan tangan yang menutupi bagian bawahnya.
"Sekarang rentangkan tanganmu ke atas. Pegang ujung batu. Kakimu luruskan."
Wulan menurut tanpa perlawanan. Tubuhnya kini terbaring pasrah dalam posisi terbuka, membentuk huruf Y, mempersembahkan dirinya sepenuhnya pada malam dan ritual yang akan datang.
Setiap bagian tubuhnya yang paling intim kini terpapar jelas di bawah cahaya bulan dan tatapan tajam Broto.
Broto tersenyum puas. Sempurna.
Gairah di dalam diri Wulan mencapai puncaknya. Kepasrahan total ini, tatapan Broto yang seolah memiliki setiap inci tubuhnya, mengirimkan gelombang kenikmatan yang begitu kuat hingga kepalanya terasa pening.
Napasnya menjadi pendek dan cepat. Ia siap. Apa pun yang akan terjadi, ia siap menerimanya.
Udara di dalam kabin bus yang semula dingin menusuk mendadak berubah menjadi uap kental yang berbau busuk, perpaduan antara bangkai yang membusuk dan belerang yang membakar hidung.Wulan tersentak, merasakan getaran mesin di bawah kakinya bukan lagi berupa putaran piston, melainkan denyut jantung raksasa yang tidak beraturan. Kaca jendela yang tadinya memperlihatkan kegelapan jalanan kini tertutup oleh lapisan lendir berwarna merah tua yang merayap cepat, menyelimuti seluruh pandangan."Kau merasakannya, Neng? Bus ini sudah bosan menjadi besi tua."Suara Gatot pecah, berubah menjadi geraman rendah yang menggetarkan tulang rusuk Wulan. Wulan menatap pria plontos itu, namun yang ia lihat bukan lagi manusia.Kulit di wajah Gatot retak, terkelupas seperti kertas terbakar, menyingkap daging merah yang basah di bawahnya. Sepasang taring melengkung keluar dari rahangnya yang membesar, sementara matanya menyusut menjadi lubang hitam yang memancarkan kebencian murni."M-mas Gatot... wajahmu...
Napas Gatot yang berat menderu di ceruk telinga Wulan, membuahkan geli yang menjalar hingga ke pangkal paha. Rambut Wulan terasa tertarik paksa saat Gatot mencengkeramnya, menarik kepalanya mendongak. Matanya yang merah membara menatap dalam, menuntut."Jadi, ini yang kau mau, Neng?"Wulan memejamkan mata, mengangguk lemah, merasakan desakan gairah hitam yang pekat dari tubuh Gatot merasuk ke setiap pori kulitnya. Itu memabukkan, merampas semua daya untuk melawan.Gatot menyeringai. Bibirnya yang tebal mendarat di leher jenjang Wulan, lidahnya menjulur, menjilat dan menghisap kuat. Sensasi panas menjalari kulit Wulan, seolah setiap jilatan Gatot membakar setiap serat sarafnya. Gadis itu mendesah panjang, punggungnya melengkung secara refleks."Nnghh... Mas...""Manis," Gatot mengerang, suaranya parau, dipenuhi nafsu yang tak tertahankan. Lidahnya bekerja liar, menghisap, menggigit kecil, meninggalkan jejak merah di kulit Wulan yang putih.Tangan besar Gatot tidak tinggal diam. Perlaha
Udara di dalam kabin bus sleeper itu terasa dingin menusuk kulit, namun Wulan justru merasakan hawa panas yang berbeda merayap dari arah depan. Melalui celah tirai kabinnya yang sedikit terbuka, dia bisa merasakan sepasang mata dari balik kaca spion tengah—sang sopir yang sesekali melirik dengan tatapan lapar.Di samping pintu, kernet bus bersandar sambil memainkan ponsel, namun kepalanya condong ke arah lorong kabin dan sesekali melirik separuh tubuh Wulan yang terlihat menjorok ke koridor bus.Wulan meregangkan tubuh di atas kasur sempitnya. Jaket denim pendeknya tersingkap, memperlihatkan perut putih mulusnya yang berdenyut halus mengikuti irama napas. Ceruk pusarnya yang seksi mengintip di balik garis pinggang jeans rendah yang ketat.Dia tahu mereka menonton. Dia membiarkan satu kakinya tertekuk, membuat paha di balik jeans itu tercetak jelas, mengundang imajinasi liar bagi siapa pun yang melihatnya.Tiba-tiba pintu hidrolik terbuka dengan bunyi yang berdecit berat. Tak lama, der
Pulogebang jam sembilan malam itu ibarat lubang kakus yang meluap. Bau solar menyengat bercampur aroma keringat basi dan asap rokok murahan yang menggantung di udara lembap.Wulan berdiri di depan gerbang terminal, membiarkan ransel kecilnya menggantung malas di satu bahu. Dia teringat geraman rendah Mbah Broto tempo hari di apartemen."Bus malam itu sarang gairah paling busuk, Wulan. Para lelaki yang lelah, jauh dari istri, dan penuh tekanan. Hisap semua gairah mereka sebelum kita sampai di Jawa Timur."Wulan menarik napas panjang. Udara kotor terminal itu justru terasa seperti candu. Dia menyesuaikan letak tank top putihnya yang berbahan tipis. Belahan dadanya yang padat menyembul berani, ditekan oleh jaket denim pendek yang bahkan tidak sampai menutupi pinggangnya.Setiap kali dia bergerak, kulit perutnya yang putih mulus dan ceruk pusarnya yang seksi mengintip nakal di atas garis jeans rendahnya yang ketat.
Sprei sutra di bawah tubuh Wulan terasa seperti hamparan silet halus yang menggores kulitnya yang terlalu sensitif. Dia mengerang, mencoba menggerakkan lengannya yang terasa seberat timah.Setiap inci dagingnya berdenyut, mengirimkan sinyal nyeri yang tajam ke pangkal otaknya. Namun, saat dia menunduk untuk memeriksa kerusakan itu, dia tertegun.Kulitnya mulus. Tak ada memar keunguan, tak ada bekas cengkeraman kuku siluman, bahkan tak ada robekan di liang kewanitaannya yang tempo hari dihantam habis-habisan.Wulan bangkit perlahan, membiarkan selimut itu merosot jatuh ke lantai apartemen mewah milik Broto. Dia berdiri di depan cermin besar di sudut kamar, memandangi pantulan dirinya.Tubuhnya tampak lebih bercahaya, seolah-olah gairah hitam yang diserapnya telah menyatu sempurna dengan aliran darahnya. Dia melangkah keluar kamar tanpa sehelai benang pun, membiarkan udara dingin dari pendingin ruangan membelai leku
Lantai daging itu berdenyut lebih liar, seolah-olah seluruh ruangan sedang mengalami orgasme masal yang menjijikkan. Lendir ungu pekat menetes dari langit-langit, membasahi tubuh Wulan yang sudah tidak berbentuk lagi di bawah himpitan tiga monster babi hutan.Di luar sana, di balik lapisan dimensi daging ini, bulan purnama menggantung sempurna di langit kelam, memancarkan perak yang mematikan."Makan lagi, Jalang! Telan semuanya!"Siluman kurus itu menghantamkan miliknya yang berduri ke dalam mulut Wulan, memaksa kepala gadis itu membentur lantai yang kenyal. Di bawah, siluman bertaring patah masih sibuk mengoyak lubang belakang Wulan, sementara sang pemimpin raksasa meremas payudara Wulan hingga kuku-kukunya membenam ke dalam daging putih itu."Wulan... Kau dengar aku?"Sebuah suara berat, berwibawa, dan sangat dingin bergema di dalam tempurung kepala Wulan. Suara itu tidak datang dari telinga, melainkan langsung merasuki jiwanya.Batara Durja. Sang harimau penguasa kawah Halimun sed







