LOGINDua orang sahabat, Emma dan Tony, pergi ke acara berkemah yang diadakan oleh universitas. Di hutan, Emma menemukan batu mirip permata. Batu itu ternyata mainan hantu. Karena hantunya tidak terima, mainannya dibawa pergi, hantu pun marah. Dia merasuki Emma dan membuat hidup Emma berantakan. Melihat keanehan yang menimpa Emma, Tony jadi curiga. Dengan kemampuan indra keenamnya, ia mencoba berkomunikasi dengan hantu tersebut. Ia meminta hantu itu berhenti mengganggu Emma. Tapi, usahanya tidak berhasil. Hantu tersebut menginginkan nyawa untuk dijadikan teman sebagai pengganti batu yang hilang. Berhasilkah Emma dan Tony melarikan diri dari hantu tersebut? Ataukah keduanya justru menjadi korban hantu ganas?
View MoreTININGNAN ni Alessandra ang repleksiyon sa salamin. Hindi malaman ang dahilan kung bakit nagtagal siya kanina sa pag-aayos sa sarili at pagpili ng damit na isusuot.
Maybe because you want to look beautiful in front of Nicholas Villarama? tudyo ng isang bahagi ng kanyang isipan.
No! I just wanted to show him what he lost! And that I am not the old naïve Alessandra, she reasoned out.
Inayos niya ang sarili at lumabas ng banyo kapagkuwan. Gulat ang lumarawan sa mukha ni Alessandra nang makita ang isang pamilyar na bulto na nakasandal sa dingding at tila ba may inaabangan. Bumuntung-hininga siya upang kalmahin ang sarili, hindi niya gustong mapahiya sa harapan ng isang Nicholas Villarama. Hindi na siya kagaya ng dati na ginawa itong sentro ng kanyang mundo.
She held her head high, tried to ignore him, and walked past him, but Nick grabbed her arm. She stopped herself from wincing when his strong hand gripped her own. She turned to him coldly and met his piercing eyes.
"How are you, Ally? You look different from what I remembered five years ago," Nick stated and eyed her from head to toe. "You look expensive," he added in sarcasm.
"Well, thank you, Mr. Villarama," sarkastikong turan ni Alessandra, lihim niyang ipinagpasalamat na hindi nanginig ang kanyang boses.
Hinila niya ang kanyang brasong hawak ni Nick ngunit hindi ito nagpatinag, ang kislap sa mga mata ay nanghahamon.
"Don't act as if we don't know each other. As far as I remember, we used to be lovers. I was even the one who took your alleged... innocence!" Nick exclaimed with gritted teeth. Contempt was written in his eyes.
Gustong kalmutin ni Alessandra ang mukha ni Nick dahil ito pa ang may ganang magalit sa kanya. "I initiated your first time," patuya nitong dagdag.
"Used to! It's all in the past now and I have long forgotten it," she countered. "At puwede ba, bitiwan mo ang braso ko baka makita tayo ni Ashton!"
Lalong naging mabalasik ang mukha ni Nick nang banggitin niya si Ashton. Ang mga kamay nito ay halos durugin na ang kanyang braso, nasisiguro ni Alessandra na magmamarka iyon.
"Are you happy that you are part of the Sanfords now? One of the most wealthy and influential families in the Philippines. Why it suits you perfectly!" Nick exclaimed, his eyes spit fire in contempt that it almost melted Alessandra's knees.
She doesn't understand why he was angry at her. Kung tutuusin ay siya dapat ang magalit dito dahil sa ginawa nito sa kanya limang taon na ang nakakaraan. He broke her.
"Wala kang pakialam kung parte na ako ng pamilyang Sanford ngayon, Villarama! And yes, I am happy with my family and it was my right to be a Sanford!" I hate you, Nick!
Sa galit ay isinadlak ni Nick si Alessandra sa dingding na ikinangiwi ng huli nang maramdaman ang sakit sa likuran. "Why, does your husband performed well than I did?!" mariin at pagalit na tanong ni Nick. Halos lamunin na ng buo ang dalagang napapagitnaan ng kanyang katawan at ng malamig na pader.
"Husband?" Alessandra asked in confusion and anger. Anong asawa ang pinagsasabi ni Nick? Si Ashton ba ang tinutukoy nito?
"I will break your marriage with him! Hindi kita hahayaang maging masaya!" Nick spat before claiming her lips in a savage kiss.
Nararamdaman niya ang hapdi sa mapagparusa nitong halik. Ngunit bakit ganoon nalang ang reaksiyon ng kanyang katawan? Tingling sensation were travelling from her belly to the tip of her toes.
Nang makahuma ay akmang itutulak ni Alessandra si Nick nang bigla siya nitong pakawalan, sabay talikod at malalaki ang hakbang paalis. Kamuntikan na siyang mapasalampak sa sahig, mabuti nalang at nabalanse niya ang sarili.
Habang pinagmamasdan ang papalayo nitong bulto ay tumulo ang luha sa kanyang mga mata. She doesn't know what she did wrong for him to get mad at her, she doesn't deserve his animosity. Subalit sa kabila ng lahat ay naroon ang matinding puwersa na nag-uudyok sa kanya na takbuhin ang binata at yakapin ng mahigpit. After all these years, she believed that she was over him, but seeing him again proved how foolish she was.
And Nick thought she was married! Gusto niyang matawa sa paniniwala nito, kung alam lang nito ang tunay niyang kalagayan siguradong kamumuhian nito ang sarili.
Kung ang paniniwala ni Nick na may asawa na siya ang maglalayo rito sa kanya ay hahayaan niyang bulagin ito ng huwad na paniniwalang iyon. Sarili lang niya ang niloloko nang sabihing nakalimutan na niya ito. Kailanman ay hindi nawaglit si Nick sa kanyang puso't isipan. She was grieving for her lost love and if wasn't for her twins, she would've lost her mind when he left her.
Her foolish heart still loves Nick after he shattered her to pieces five years ago, but she won't let him break her even more until she becomes nothing but a speck of dust.
Gaano man niya mapatunayan sa sarili na may nararamdaman pa siya para rito ay hindi niya ipipilit ang sarili sa isang taong ayaw sa kanya. She was happy with her life, with her family, the twins. Nicholas Villarama was out of the picture.
Hari pertama menjalani kegiatan di kampus Emma merasa sangat tidak nyaman. Dia tidak mudah berkenalan dengan orang baru karena tidak semua orang bisa memahaminya. Akibatnya, Emma jadi sering menyendiri. Baik di kelas, perpustakaan atau di kantin, dia jarang terlihat berbaur dan mengobrol dengan mahasiswa lain. Keadaan itu membuat banyak mahasiswa di kampus yang menganggap Emma sombong. Sehingga akhirnya ada banyak mahasiswa di kampus yang membenci Emma. Banyak yang memusuhi Emma secara diam-diam. Tapi tak sedikit juga yang memusuhi Emma secara terang-terangan. Akibatnya, hampir setiap hari ada saja yang membuat Emma marah dan mengamuk karena selalu ada yang mengganggunya. Puncaknya adalah saat ada yang menganggu Emma saat gadis itu makan siang sendirian di kantin.“Sombong banget sih ke mana-mana sendiri terus,” kata seorang gadis berambut sebahu.“Mungkin dia ngerasa paling cantik kali di sekolah ini. Atau dia kayak gini biar banyak yang ngedeketin. Ala-ala misterius,” kata gadis y
Karena tak ada respon setelah mengetuk pintu beberapa kali, Anne memutuskan untuk menelepon Desy. Setelah panggilan keempat baru teleponnya direspon.“Ada apa, Anne?” tanya Desy dari seberang. Suaranya terdengar sangat pelan.“Kamu ada di rumah?” tanya Anne.“Iya,” sahut Desy.“Kok ...,” Anne menghentikan kalimatnya karena dia melihat seorang bapak-bapak keluar dari rumah Desy. Sebatas yang dia ingat, itu bukan Ayah Desy. Apakah orang itu kerabatnya Desy yang dia tidak kenal sebelumnya?“Kamu masuk aja,” kata Desy.Anne seketika memutuskan sambungan telepon dan masuk ke melewati pintu yang terbuka. Setelah menutup pintu, dia berjalan ke tengah bagian rumah. Tempat yang dia tuju tentu saja kamar Desy.Anne mengerutkan kening saat masuk ke kamar Desy dan melihat ranjang gadis itu berantakan. Dia takut terjadi apa-apa dengan Desy.“Desy, kamu di mana?” tanya Anne. Dia menghembuskan napas lega saat mendegar suara keran dari kamar mandi.“Orang laki-laki yang tadi keluar dari rumah kamu si
Tiga hari setelah demo terakhir dilakukan, kedua orang tua Emma dipanggil ke kampus. Mereka berdua diminta untuk bertemu dengan Bu Marta langsung di ruangannya. “Selamat pagi,” kata Tony sambil mengetuk pintu ruangan Bu Marta ketika langkahnya terhenti di depan ruangan kepala sekolah itu.Bu Marta menatap ke arah pintu. “Selamat pagi,” katanya, “silakan masuk.”Bu Marta mengambil napas dalam sebelum berbicara dengan Robin dan Lily. “Sebelumnya saya mewakili pihak sekolah ingin mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya,” kata Bu Marta.“Apa tidak bisa dinegosiasikan lagi, Bu?” tanya Robin, “kita semua sama-sama tahu kan kalau semua kekacauan yang Emma perbuat bukan murni keinginan Emma. Ada mahluk astral yang mengendalikannya.”Bu Marta mengangguk. “Kami sudah berusaha semaksimal mungkin menjelaskan kepada para orangtua mahasiswa itu. Tapi mereka tak ada yang mau peduli. Alasan mereka, mereka tidak mau kekacauan itu terulang terus. Mereka tidak mau kalau nanti anak mereka dan yang lainny
Orang tua Yosi dan Burhan kompak mengajak puluhan orang tua mahasiswa lain untuk melakukan demo ke kampus. Mereka semua menuntut agar Emma dikeluarkan karena tingkahnya yang sangat meresahkan. Mereka tak hanya melakukan demo sekali, tetapi sebanyak tiga kali dalam seminggu.Fakta itu tentu saja membuat pihak sekolah bimbang. Di satu sisi, mereka tidak bisa mengabaikan permintaan wali murid. Tapi, di sisi lain, mengeluarkan Emma dari kampu begitu saja juga bukan pilihan yang paling tepat. Bagaimana pun juga, Emma adalah salah satu mahasiswa yang cukup berprestasi. Mereka bahkan mempunya beberapa rencana untuk mengikuti lomba dalam kurun waktu beberapa bulan ke depan. Dan salah satu mahasiswa yang akan mereka ikutkan untuk lomba itu adalah Emma.Tak hanya pihak sekolah yang dibuat pusing oleh demo yang dilakukan para orang tua mahasiswa itu. Emma dan orang tuanya juga dibuat pusing. Yang paling tertekan dengan kedaan itu tentu saja Emma. Hampir setiap hari dia menangis karena lelah meng
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.