“Dewi?” panggil Denver. Tidak ada jawaban, membuat pria itu menyentil pelan kening sang gadis. Seketika Dewi meraba dan mengusap-usap keningnya yang terasa panas. “Dokter jahil banget,” desah bibir merah muda gadis itu. Denver tergelak dan membelai bagian kening gadis itu yang tadi disentilnya. Dia bertanya, “Kamu melamun. Mikir apa?” Dewi tercengang mendapat pertanyaan itu. Benar, tadi dia melamun! Entah mengapa pikirannya malah berhalusinasi Denver melontarkan pertanyaan tidak wajar padanya. Jadi … gadis itu bergumam dalam hati, 'Artinya pertanyaan tadi cuma pikiranku saja, ya?' Tiba-tiba suara memalukan terdengar dari perut Denver. Iris hitam Dewi memandangi perut kota-kotak. “Dokter lapar?” Denver tertawa karena usahanya menahan lapar demi mandi bersama Dewi sia-sia. Pria itu mengangguk dan tangannya kembali membelai pipi mulus Dewi. Dia ke luar lebih dulu dari jacuzzi, lalu mengulurkan tangan kepada Dewi dan mengajak, “Ayo.” Bahkan pria itu membantu Dewi mengenakan jubah
“Ada apa?” tanya Denver. Pria itu tidak tinggal diam, melainkan mendekap tubuh Dewi yang nyaris terjatuh jika saja dia terlambat satu detik. “Aku … mau izin pulang ke Brebes. Kak Danu bilang ….” Dewi tidak kuasa menahan isak tangisnya. Dia menumpahkan air mata tepat di dada bidang Denver. Tubuhnya pun bergetar hebat dan seluruh persendiannya melemas. “Cepatlah pakai baju, aku antar,” kata pria itu membuat Dewi makin diam kehabisan kata. “Ayo,” ajaknya lagi. Secepat kilat Dewi menggunakan celana bahan putih dan sweater merah muda, serta menggendong backpack warna senada miliknya. Sedangkan Denver telah siap dengan celana jeans yang dipadu kaos putih dan jaket kulit gelap. Denver langsung menyambar tangan Dewi dan membawanya ke basement. Range Rover putih yang dikemudikan oleh Denver meninggalkan gedung apartemen dan melaju dengan kecepatan normal menuju Kabupaten Brebes. Pria itu mengutamakan keselamatan. Sesekali Denver mengusap puncak kepala Dewi dan menyeka lelehan hangat
‘Apa aku harus memberitahu Dokter Denver?’ batin Dewi bertanya-tanya. Gawai di sampingnya terus berpendar seolah memaksa sang pemilik untuk menerima panggilan suara dan membalas pesan. Namun, tidak ada niat secuil pun bagi Dewi menjawab telepon itu. Dia enggan bila Denver terlibat masalah bersama istrinya. Tiga menit kemudian, Denver telah kembali dari toilet. Pria itu mengamati kekakuan sikap Dewi. “Kenapa kamu tegang?” tanya pria itu. Denver memicingkan mata kepada Dewi. “Umm … itu ada telepon.” Jari telunjuk Dewi mengarah ke samping tubuhnya di mana ponsel itu diletakkan. Gegas Denver memeriksa telepon genggamnya dan menatap Dewi sekilas. Pria itu segera menjauh untuk menerima panggilan suara. Sedangkan Dewi memilih duduk, lalu memejamkan mata karena malam segera berakhir. Akan tetapi, sayup-sayup dia mendengar ucapan Dokter Denver. Mungkin karena selasar ini sepi, jadi suara kecil pun terdengar. “Aku di luar kota,” sahut Denver. Ekor mata pria itu melirik Dewi sekilas, lal
Tubuh Denver terbaring di atas ranjang berseprai putih. Dia menatap langit-langit kamar dan terbayang wajah manis Dewi. Dia juga teringat ‘malam panas’ bersama gadis itu. Meskipun bukan pertama kali bercinta, tetapi Dever merasa sensasi berbeda dengan Dewi. Seingatnya, dia tidak mendapati kesulitan yang sama saat malam pertama bersama Carissa. Dia tahu, istrinya bukanlah perawan. Namun, Denver tidak mempermasalahkan itu, termasuk ketika Carissa memberikan jawaban tak masuk akal. Dia yakin setiap orang memiliki masa lalu, dan terpenting mau berubah menjadi lebih baik. Denver meraih ponsel dari meja nakas dan mengetik pesan kepada Dewi.[Aku di Jakarta, sementara waktu jangan menghubungiku.]Pesan terkirim dan pria itu langsung menghapus seluruh chat serta panggilan telepon yang berhubungan dengan Dewi. Tentu saja dia melakukan itu karena memiliki alasan tersendiri.Denver tidak mengharap balasan, karena tahu gadis itu pasti mematuhinya.Akan tetapi, siapa sangka saat ini Dewi sedang
“Ada apa, Sayang?” Suara ini terdengar familiar di telinga Dewi.“Pembantu ini nabrak aku. Lihat deh bajuku jadi basah gini,” ketus seroang wanita cantik bertubuh ramping dan seksi.Seketika Dewi mengangkat pandangan dan … kelopak mata sipitnya melebar mendapati seseorang tidak asing sedang berdiri di sampingnya. Namun, pandangan pria itu tertuju kepada wanita yang sedang mengangkat dagu dengan angkuh di hadapan Dewi.Dewi mereguk air liur yang mendadak mengental dan menyakitkan, lalu hatinya berucap lirih, ‘Kenapa Dokter Denver dan istrinya ada di sini?’“Loh, kamu ‘kan suster di Rumah Sakit JB? Kenapa ada di sini? Ngapain?” berondong wanita itu yang menghunuskan tatapan setajam belati kepada Dewi.Detik itu juga Denver menoleh ke samping. Iris cokelat karamel pria itu mengunci Dewi pada tatapan. Namun buru-buru Denver menguasai diri.“Benar, Carissa. Dia perawat di rumah sakit,” kata Denver dan suaranya merambat dingin ke gendang telinga.“Oh. Dia merangkap pembantu juga kalau weeke
“Turun!” bentak orang itu lagi dari depan mobil.Dewi tercekat mendengar suara lantang itu. Mendadak sekujur tubuhya menjadi dingin karena tertangkap basah seperti ini. Dia menatap Denver dengan sorot mata mendalam dan ekspresi wajah menegang.Akan tetapi, Denver tidak terprovokasi. Sikap pria itu teramat tenang seolah tidak terjadi apa pun. Bahkan dia menggenggam lembut tangan Dewi, dan melalui sentuhan itu perasaan Dewi sedikit tenang.“Kita turun,” kata Denver.Dewi mengangguk. Keduanya ke luar dari mobil, dan disambut tatapan menyala bagai bara api.“Aku tanya, apa yang kalian lakukan di sini?!” tuntut orang itu menagih jawaban yang tentu saja ingin memuaskan keingintahuan.“Jangan salah paham, Mas.” Suara Dewi mengalun lemah lembut untuk menenangkan sang suami, meskipun dia tahu itu percuma.Bima tersenyum sinis dan menarik lengan Dewi secara kasar, membuat gadis itu terhuyung.Denver yang semula tenang, kini membalas tatapan tajam ke arah Bima. “Istrimu terluka, jadi aku obati,”
“Di mana Dewi? Kenapa dia belum datang ke ruanganku?” tanya Denver kepada seorang petugas yang mengantar berkas ke ruangannya. Ya, sejak semalam pria itu sulit menghubungi Dewi. Ponsel gadis itu tidak aktif, dilacak pun keberadaan terakhirnya di halte. Sedangkan di apartemen kosong. Dia memikirkan Dewi semalaman dan teringat kejadian di garasi. Siang ini setelah melakukan operasi caesar, dia tidak mendapati Dewi baik di ruang praktik atau direktur utama. “Oh, Mbak Dewi baru selesai makan siang Pak Dokter. Kasihan Mbak Dewi semalam menginap di ruang istirahat IGD,” kata petugas itu membuat Denver mengerutkan alis. “Saya permisi Pak Dokter.” Staf itu pamit dan berjalan menuju pintu. “Sampaikan pada Dewi ke ruanganku sekarang!” titah Dokter Denver dengan nada datar. “Siap. Laksanakan Pak.” Staf ke luar ruangan. Sedangkan Denver meresapi percakapan barusan. Ujung jemari pria itu mengetuk-ngetuk meja dan isi pikirannya menerka-nerka kemungkinan yang terjadi pada Dewi. Hampir sep
Satu jam sebelumnya.“Di mana Denver?” tuntut seorang wanita berlekuk tubuh bak gitar Spanyol dan berpenampilan seksi serta modis.“Pak Denver tidak ada di sini, Nyonya,” jawab seseorang yang terkejut melihat kedatangan wanita cantik itu.“Heh Rudi, jangan bohong! Suamiku bilang ada rapat pemegang saham di J&B Pharmacy.” Wanita itu menaruh kedua tangan di dipinggang dan menatap arogan kepada COO perusahaan farmasi ini—Rudi.Rudi mengelus dada didesak oleh istri atasannya. Pria plontos itu hendak menghubungi Denver, tetapi wanita di hadapannya melengos dan menerobos masuk ke ruang CEO. Dia mengurungkan niat, lalu berlari mengejar wanita itu.“Nyonya Carissa tidak boleh masuk!” tegur Rudi mengingat sang pemilik ruangan tidak ada di tempat.“Kenapa tidak boleh? Ini ruang kerja suamiku. Di mana dia? Masih di rumah sakit?” berondong Carissa dengan ekspresi galak.Rudi menggeleng. Namun, Carissa mencebik dan melenggang ke luar dari ruang CEO. Wanita itu langsung menggunakan masker putih, la
Siang itu, butik kecil bernuansa pastel milik Diana tampak tenang. Tirai tipis bergoyang lembut tertiup angin dari jendela yang terbuka. Di sudut ruangan, Diana sedang memeriksa detail bordiran pada salah satu gaun yang akan digunakan untuk pemotretan pernikahan besok. Jemarinya bergerak perlahan, matanya fokus, dengan senyum yang tetap lembut. “Cantik banget, Diana .…” Suara wanita dari pintu membuat Diana menoleh. “Tante Rani!” seru Diana pelan, senyumnya makin mengembang. Dia segera bangkit dan memeluk teman mamanya itu. Maharani tertawa kecil, lalu menunjuk gaun di tangan Diana. “Kalau kamu yang pakai, pasti tambah sempurna. Sumpah, waktu lihat kamu di catwalk bulan lalu … Tante sampai mikir, ini manusia apa bidadari, sih?” Diana mengerucutkan bibirnya merahnya, lalu menepuk lengan Maharani dengan. “Berlebihan banget, Tante. Tapi makasih, ya. Aduh, jadi malu.” Mereka duduk di sofa mungil dekat jendela. Maharani membuka kotak kecil berisi bros handmade yang ingin dia titipkan
“Dokter, bolehkah kami berfoto bersama sebelum operasi?” Dashel menoleh dengan senyum khasnya. Wajahnya yang sebagian tertutup masker dan sorot mata yang tajam membuat beberapa perawat tak kuasa menyembunyikan rona merah di pipi mereka. “Boleh saja,” jawab pria itu santai sambil mengangkat dua jari ke arah kamera. “Asalkan jangan sampai pasiennya menunggu terlalu lama. Bisa-bisa dia memutuskan kabur.” Si paling usil dari keluarga Denver, kini telah menjelma menjadi salah satu dokter bedah muda yang paling diidolakan di rumah sakit. Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis di Johns Hopkins University, sebuah institusi kedokteran bergengsi, Dashel—yang akrab disapa Dash—kembali ke Indonesia membawa pulang segudang prestasi serta rasa percaya diri yang tak terbendung. Akan tetapi, sesungguhnya transformasi Dash bukan hanya terlihat dari gelar dan jas putih yang kini melekat di tubuh atletisnya. Di ruang operasi, dia menjadi sosok yang sangat berbeda dari kesehariannya. Dash sela
Pukul tujuh pagi, lantai tertinggi gedung J&B Pharmacy sudah dipenuhi staf yang pucat pasi. Mereka berlarian, merapikan berkas, menyusun slide, mengecek statistik berkali-kali. Hal ini karena ada yang menakutkan, Akashan Draven Bradley mulai menjadi presdir. "Dia sudah di ruang rapat?" bisik salah satu staf. "Sudah. Dari jam enam empat puluh," jawab yang lain pelan, seakan menyebut nama Draven terlalu keras bisa bikin dicoret dari daftar gaji. Di ruang rapat, suasana membeku. Draven duduk di ujung meja panjang, mengenakan jas hitam pekat, dasinya lurus, rambutnya klimis tak bergerak. Tatapannya setajam pisau bedah. “Proyeksi penjualan kalian di kuartal ini ... menyedihkan,” kata Draven sambil menatap grafik. Salah satu kepala divisi mencoba menjelaskan, “Kami mengalami hambatan distribusi karena banjir—” “Jadi kamu biarkan masyarakat tidak dapat obat hanya karena hujan?” Suaranya datar dan dingin. “Kamu kerja untuk perusahaan farmasi. Kalau distribusimu kalah sama cuaca, se
"Jangan pernah bilang menjadi dokter itu mudah." Kalimat itu terngiang di kepala Dirga sejak pagi buta. Entah mengapa, hari ini dia mengenakan jas putih dan berdiri di depan rumah sakit milik ayahnya—bukan sebagai anak pemilik, melainkan sebagai dokter baru. Ya, entah mimpi apa yang menghampirinya semalam. Dirga, si paling anti bau rumah sakit, kini resmi bertugas sebagai residen di Poli Anak. “Dokter Dirga, pasien pertama sudah menunggu di dalam,” ujar seorang perawat sambil tersenyum manis. Dirga mengangguk, mencoba tampak tegar. Namun, tangannya gemetar saat membuka pintu ruang periksa. Di sanalah bencana pertama dimulai. “Aku tidak mau disuntik!!” jerit seorang bocah lima tahun sambil melempar botol minum ke arah wajah Dirga. “Tenang … Dokter tidak gigit, sungguh.” Seketika boneka putih mendarat keras tepat di antara alisnya. Hari pertama, tiga pasien anak menangis, satu muntah di pangkuannya, dan satu lagi kabur lewat jendela kecil. Sesampainya di rumah, Dirga duduk lema
12 Tahun Kemudian"Berisik banget sih! Bisa nggak sekali aja nggak nangis?" teriak Draven dari ambang pintu kamarnya.Anak laki-laki berusia 13 tahun itu mengacak-acak rambutnya sendiri, kesal. Dia mendelik ke arah Diana—adik perempuannya—yang lagi sesenggukan di tengah lorong lantai dua.Diana, dengan mata berkaca-kaca, mendongak marah. "Bukan bantu aku, malah ngomel! Huh!" serunya sambil mengusap kasar air mata."Bantu apa? Kamu tuh cengeng!" balas Draven sengit.“Dash ambil cokelatku lagi, padahal sisa sedikit tahu!” lontar Diana dengan bibir merah mudanya.Sebelum pertengkaran makin memanas, suara pintu kamar terbuka terdengar dari sisi lainnya. Seketika Diana berlari ke arah sumber suara, meninggalkan Draven yang masih berwajah masam.Diana berdiri tepat di depan seorang remaja laki-laki yang baru saja keluar dari kamar. Rapi dengan kemeja putih dan celana panjang hitam.“Kak Dirga,” rajuk Diana, sambil menerjang ke pelukan kakaknya.Dirga telah tumbuh menjadi pemuda tampan berus
Satu Tahun Kemudian--Birmingham, InggrisUdara musim semi yang sejuk menyapa kota Birmingham saat mobil yang dikemudikan Darius melaju pelan memasuki area Rumah Sakit JB. Di sebelahnya, Maharani menatap keluar jendela dengan kening berkerut."Kenapa ke rumah sakit?" tanyanya heran, sambil merapikan pakaiannya.Darius hanya tersenyum tipis, tidak menjawab.Maharani makin bingung. "Kita mau sakit? Atau mau jenguk seseorang?"Darius menggeleng pelan, tetap dengan ekspresi datarnya yang membuat Maharani makin penasaran."Darius ... ada apa sebenarnya?" tanya Maharani lagi, sedikit merajuk."Ikut saja dulu," sahut Darius tenang, sambil menggandeng tangan istrinya.Mereka berjalan melewati koridor rumah sakit yang bersih dan wangi. Sesekali Maharani melirik ke kanan dan kiri, mencoba mencari petunjuk apa yang sebenarnya terjadi. Akhirnya mereka tiba di sebuah poli, dan seorang dokter bule menyambut dengan ramah."Good afternoon, Mr. and Mrs. Darmawan," sapa dokter itu.Maharani yang masih t
"Waaa! Waaah!" Dirga panik bukan main saat mendengar tangisan nyaring menggema dari boks bayi di ruang keluarga. Dia buru-buru mengintip ke sumber suara yang mengganggu acara televisi kesukaannya. "Dash jangan nangis dong ... Kamu ‘kan udah minum susu tadi," bujuk Dirga sambil mengelus pipi sang adik dengan tangan kecilnya. Belum sempat Dashel tenang, tangisan lain menyusul. Dirga nyaris melompat kaget. "Aduh, Di ... jangan ikut-ikutan, ya," keluhnya. Sambil setengah berjongkok, Dirga mengambil botol susu yang tadi diletakkan pengasuh di meja dekat boks, mencoba menyerahkannya pada Diana. Dirga menoleh dengan wajah bingung, kedua tangannya sudah sibuk masing-masing memegang satu botol susu. Dia mencoba menyeimbangkan keduanya sambil terus berbicara setengah memohon, setengah bingung, "Diam, ya, ssst ... sebental lagi Mama pulang, kok ... Sabal." Dirga bagai seorang kapten kapal kecil mencoba menenangkan tiga anak buahnya yang memberontak bersamaan. Ya, memang Draven agak lebih t
Dua bulan setelah kelahiran tiga malaikat kecil mereka, kediaman Denver dan Dewi berubah menjadi kehebohan yang tiada henti. Meskipun sudah ada empat pengasuh yang disiapkan, untuk Dirga, Draven, Dashel, dan Diana—tetap saja pagi ini kacau balau. Di sudut kamar, Dewi tengah sibuk memompa ASI sembari menyusui Diana. Tubuhnya agak membungkuk, dengan rambut disanggul seadanya, dan wajah cantik itu terlihat sedikit pucat. Sementara itu, Dirga mondar-mandir dari kamar ke kamar, keningnya berkerut karena kesal. "Aduh, di mana, ya, kaus kaki dino?" rengeknya, suara kecil itu sungguh nyaring memenuhi seluruh rumah. Pengasuh sudah menawarkan beberapa pasang kaus kaki yang lain, tetapi Dirga menggeleng keras. "Dirga, ini kaus kakinya sudah dicuci bersih. Pakai saja ini, ya?" bujuk pengasuhnya lembut. "Bukan itu!" Dirga berteriak kecil, lalu berlari ke kamar Dewi. Sayang, yang dicarinya tidak ada. Dengan langkah kecil yang mantap, dia menuju kamar bayi dan menemukan Dewi sedang menyusu
Pukul delapan pagi, suasana ruang presidential suite sudah jauh berbeda dari kemarin. Aroma antiseptik khas rumah sakit masih tercium, tetapi kini bercampur dengan tawa kecil dan desah lega yang menghangatkan udara di sekitar.Di ranjang besar berseprei putih bersih itu, Dewi duduk sembari bersandar lemah. Ya, tubuhnya masih tampak pucat, tetapi mata sipit itu berbinar lembut. Di pelukannya, Dirga sedang berbaring, melepas rindu katanya. Satu tangan mungil itu menggenggam erat piyama rumah sakit Dewi, tidak mau terpisah lagi.“Aku sayang Mama,” bisik anak itu.Dengan jemarinya, Dewi membelai rambut putra pertamanya. Dia menunduk dan mencium kening mungil itu beberapa kali, tentu penuh rasa rindu yang menyesak dada.“Mama juga sayang banget sama Kakak Dirga,” balas Dewi, diikuti senyum merekah.Sedangkan Denver berdiri di sis ranjang. Dia memeriksa kondisi Dewi. Tangan pria itu sesekali menyentuh pergelangan tangan istrinya, mengecek denyut nadi yang masih terasa lemah, tetapi stabil.