Share

Merasakan gairah membara

Author: Risya Petrova
last update Last Updated: 2025-10-02 22:14:35

Rina berada tepat di atas tubuh Fahmi, napasnya berat, wajahnya dekat sekali. Begitu dekat, hingga tiap hembusan hangat dari bibirnya jatuh ke kulit Fahmi. Sesaat ia menatap mata lelaki itu.

Ada sesuatu di sana, bukan sekadar gairah. Ada rasa sayang, rasa ingin melindungi, rasa yang nyaris mustahil ia temukan di tempat lain. Bahkan dalam sorot mata Ervan.

“Mi …,” bisiknya, lembut namun gemetar.

Fahmi menatap balik, tangannya menelusuri punggung Rina dengan perlahan. “Aku nggak tahu ini salah atau benar, Rin. Tapi aku tahu … aku nggak sanggup lagi jauh dari kamu.”

Tatapan itu membuat dada Rina seolah pecah. Ia menunduk, mengecup pelipis Fahmi pelan, lalu turun ke pipinya, dan akhirnya kembali ke bibirnya. Kali ini ciuman mereka lebih lembut, lebih tenang. Bukan lagi sekadar lumatan penuh nafsu, melainkan ciuman yang mengandung janji, seolah mereka berdua ingin saling memastikan bahwa malam ini, luka lama bisa sedikit sembuh.

Kancing piyama Rina yang tinggal setengah terbuka akhirnya b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Jesica Andrea
Nah loh ....
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Sayembara mencari Rina

    SUV hitam itu melaju menembus jalanan aspal yang semakin menyempit dan berlubang. Setelah keluar dari jalur utama yang berisiko, Bram memutuskan untuk memutar jauh, menghindari Cianjur yang merupakan basis keluarga Aqila. Ia membawa mereka ke arah selatan, menuju sebuah wilayah perkebunan karet terpencil di daerah Sukabumi.Suasana malam di sini sangat pekat. Pepohonan karet yang berjejer rapi di sisi jalan tampak seperti barisan raksasa yang mengawasi pelarian mereka. Gerimis mulai turun, menciptakan aroma tanah basah yang kuat menyusup ke dalam kabin mobil."Kita akan aman di sini untuk sementara," ucap Bram sambil memutar setir memasuki sebuah jalan setapak tanah. "Ini rumah singgah milik kenalanku, seorang mandor perkebunan yang sedang bertugas di luar kota. Tidak ada yang tahu tempat ini, bahkan Ervan sekalipun."Bram menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan semi-permanen yang didominasi kayu. Di sekelilingnya hanya ada keheningan, sesekali pecah oleh suara burung malam dan

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Melaporkan Fahmi

    DUAK! DUAK! Kaca jendela SUV itu bergetar hebat di bawah hantaman kepalan tangan Ervan. Wajah pria itu menempel di kaca, memperlihatkan sorot mata yang bukan lagi seperti manusia, melainkan predator yang baru saja menemukan mangsanya."RINA! KELUAR!" raung Ervan dari luar. Suaranya teredam kaca, tapi kebenciannya terasa menembus hingga ke tulang.Di dalam mobil, Rina mencengkeram lengan Fahmi dengan sangat kuat, hingga kuku-kukunya memutih. Napasnya memburu, matanya tidak bisa lepas dari sosok suaminya yang sedang mengamuk di luar."Kenapa dia bisa ada di sini?" bisik Rina dengan suara yang nyaris hilang. "Apa Toni menjebak kita? Apa dia sengaja kasih tahu Ervan kalau kita di sini?"Bram, yang sudah berada di kursi pengemudi, menatap layar ponselnya yang mati total dengan wajah frustrasi. "Nggak, Rin. Aku rasa Toni nggak bohong. Dia benar-benar membelot.""Terus kenapa Ervan tahu?" cecar Rina lagi, air matanya mulai tumpah."Ponselku," jawab Bram pendek sambil memukul setir. "Sinyal

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Belum aman

    Di tengah kesunyian yang mencekam dan rasa putus asa yang mulai menggerogoti kewarasan, sebuah getaran mendadak muncul dari saku celana Bram. Ia tersentak, mengira itu hanya halusinasi akibat kelelahan luar biasa. Ia yakin ponselnya sudah mati total sejak beberapa jam lalu. Namun, getaran itu nyata. Dengan tangan gemetar, ia merogoh sakunya dan mendapati layar ponselnya menyala redup, menampilkan angka 2% di pojok baterai, sebuah keajaiban kecil yang muncul di saat yang paling kritis.Layar itu menampilkan nomor yang tidak dikenal. Bram ragu sejenak, mungkinkah ini jebakan lain dari Ervan? Namun begitu, ia tetap menggeser ikon hijau."Halo?" suara Bram parau, hampir tidak terdengar."Bram? Ini Toni."Mendengar nama itu, tubuh Bram menegang seketika. Amarah dan kecurigaan bergejolak di dadanya. Ia segera menjauh beberapa langkah dari Fahmi yang sedang merangkul Rina. "Toni? Mau apa lagi kamu? Dari mana kamu dapat nomor pribadiku?""Aku tahu banyak hal dengan mudah, Bram. Itu pekerjaan

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Mencari tempat tinggal sementara

    Mobil Mini Cooper milik Claudia melaju membelah kabut malam yang semakin tebal. Di dalam kabin yang kedap suara itu, bau parfum mahal Claudia bercampur dengan aroma keringat dan debu dari pakaian Ervan. Suasana begitu menyesakkan, bukan karena sempitnya ruang, melainkan karena ego dua orang di dalamnya yang saling berbenturan.Ervan menyandarkan kepalanya ke kursi, memejamkan mata mencoba meredam denyut di pelipisnya. Namun, suara Claudia segera membuyarkan ketenangannya."Jadi, kita mulai dari mana, Dokter?" tanya Claudia tanpa menoleh, matanya tetap fokus pada jalanan yang berkelok. "Kamu sudah tahu kan, aku tidak menjemputmu hanya karena rasa iba. Aku mau kita memperjelas kesepakatan kita."Ervan menghela napas berat, matanya terbuka, menatap profil samping wajah Claudia yang tampak keras. "Apa yang kamu mau, Claudia? Uang? Kamu tahu aku bisa memberimu lebih dari yang kamu bayangkan setelah aku membereskan Fahmi."Claudia tertawa sinis, suara tawanya terdengar garing. "Uang? Janga

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Ahli manipulasi

    Suara jangkrik di tengah hutan pinus yang gelap itu seolah mengejek Ervan. Udara malam yang dingin menusuk hingga ke tulang, menembus kemeja mahalnya yang kini kotor oleh tanah dan keringat. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan perih. Namun, yang lebih menyakitkan dari rasa dingin itu adalah harga dirinya yang terkoyak. Ia benci dipandang rendah."Buka pintunya, Claudia. Aku tidak butuh ejekanmu sekarang," desis Ervan. Suaranya serak, namun masih membawa nada perintah yang kaku.Claudia tidak segera bereaksi. Di balik kaca mobil yang setengah transparan, ia justru mematikan mesin mobilnya. Keheningan hutan seketika menyergap, hanya menyisakan suara detak jantung Ervan yang tak beraturan. Dengan gerakan yang sengaja diperlambat, Claudia bersandar santai di kursi pengemudi, melipat tangan di depan dada, dan menatap Ervan dengan tatapan yang sulit diartikan."Tunggu dulu, Sayang. Jangan terburu-buru," ucap Claudia, suaranya teredam kaca namun tetap terdengar tajam. "Bukan

  • Terjebak Hasrat Terlarang Tetanggaku   Pria arogan yang kini mirip gembel

    Di sebuah apartemen mewah di pusat Jakarta, suasana hening menyelimuti kamar yang temaram. Claudia berbaring telentang, menatap langit-langit plafon dengan mata sembab. Di samping tempat tidurnya, sebotol red wine yang sudah kosong dan beberapa helai tisu berserakan. Hatinya baru saja hancur berkeping-keping setelah beberapa pekan diabaikan oleh pria yang sangat ia puja, Ervan.Bahkan saking perihnya, membuat mentalnya terluka dan ia memutuskan untuk mengambil cuti panjang.Kini Claudia mulai merasa dirinya hanyalah bayangan. Ia adalah tempat pelarian Ervan saat pria itu bosan dengan citra "suami sempurna" di samping Rina. Namun, belakangan ini, Ervan bahkan tidak mengangkat teleponnya. Claudia merasa dibuang seperti sampah setelah memberikan segalanya.Tiba-tiba, getaran kuat dari ponsel di atas nakas memecah kesunyian. Claudia mengerang pelan, mengira itu hanya alarm atau pesan sampah. Namun, saat matanya melirik layar, jantungnya seolah melompat keluar dari dada.Ervan Calling ….

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status