Chapter: EpilogLangit Ibu Kota tampak cerah, seolah ikut merayakan hari paling bersejarah bagi Adit dan Sarah.Pesta pernikahan mereka diselenggarakan di ballroom termegah milik MIMPI MEDIA, dihiasi ribuan bunga mawar putih dan kristal yang berkilauan. Ini bukan hanya perayaan cinta, tetapi juga penanda resmi kembalinya pewaris sejati ke tahta perusahaannya.Adit, dalam balutan tuksedo hitam yang dibuat khusus, tampak gagah dan berwibawa. Namun, tatapannya saat melihat Sarah jauh lebih memancarkan cinta daripada kemewahan yang mengelilingi mereka. Sarah, dalam balutan gaun pengantin sederhana namun elegan, berjalan menuju altar dengan senyum yang akhirnya benar-benar bebas dari beban masa lalu.Indra, dengan mata berkaca-kaca, mendampingi mereka. Ia merasa seperti baru saja mendapatkan kembali seluruh hidupnya. Setelah Ijab Kabul yang syahdu dan penuh haru, Arga menatap mata Sarah, menggenggam tangannya erat."Selamat datang kembali, istriku," bisik Arga, senyumnya tulus."Aku tidak pernah pergi, Tu
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-18
Chapter: EndingKehidupan keluarga Indra, CEO MIMPI MEDIA, benar-benar berubah drastis setelah pengungkapan fakta kelam di balik trauma masa kecil Arga. Rumah yang dulunya dipenuhi kepalsuan kini terasa hangat dan penuh kejujuran. Namun, sebelum kebahagiaan sejati diraih, keadilan harus ditegakkan.Proses hukum berjalan dengan cepat dan transparan. Di ruang sidang, vonis dijatuhkan.Darius, yang terbukti ikut membantu Damar dan menutupi bisnis ilegal, menerima hukuman 30 tahun penjara. Hukuman itu menjadi akhir dari segala impiannya, dan ia hanya bisa menyesali perbuatannya, terutama setelah kehilangan Damar untuk selama-lamanya.Sementara itu, Natasha, otak di balik kekerasan fisik dan mental yang dialami Arga sejak kecil, menerima ganjaran setimpal. Hakim menjatuhkan vonis 70 tahun penjara, hukuman yang setara dengan seumur hidup. Natasha, dengan air mata penyesalan yang terlambat, tahu ia akan menghabiskan sisa hidupnya di dalam sel."Semoga ini menjadi pelajaran, bahwa harta tak pernah lebih pent
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-18
Chapter: Menuju endingSuasana di dapur semakin tegang. Tepat saat Indra hendak menelepon AKBP Arif, melaporkan Natasha dan meminta kepolisian menjemput Natasha dan Bi Sumi ke kantor polisi, ponselnya berdering. Itu panggilan masuk dari nomor yang sama."Arif? Ada apa?" tanya Indra, mencoba menenangkan diri."Indra, aku punya berita buruk dan baik sekaligus," suara AKBP Arif terdengar tegang. "Damar dan Darius mencoba kabur dari lapas barusan. Mereka dikepung."Indra menegang. "Lalu?""Damar ... tewas. Tertembak dalam upaya melarikan diri. Darius menyerah. Dia syok berat." AKBP Arif melanjutkan, "Pelaku yang menembak adalah petugas yang kami curigai bekerja untuk Sambo. Kami yakin Damar dibungkam."Mendengar nama Damar, Adit mendekat. Ia menatap Indra dengan serius. Kematian Damar, sang penculik yang ternyata bukan penculik."Damar tewas," bisik Adit berbicara pada diri sendiri tanpa sadar.Darius, di sudut lapas yang kini ramai, hanya bisa menjerit dalam diam. Kekasihnya, satu-satunya orang yang ia cintai
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-17
Chapter: TembakanAdit dan Siska berdiri terpaku di ambang dapur. Pemandangan di depan mereka sungguh di luar nalar. Indra yang biasanya tenang kini berdiri dengan raut wajah keras, penuh amarah dan kebencian. Di kakinya, Natasha duduk di lantai marmer yang dingin, meraung-raung histeris, memeluk kaki Indra.Siska adalah yang pertama bergerak. Naluri melindungi ibunya langsung muncul."Mama!" seru Siska, ia bergegas mendekat, menarik tubuh Natasha agar menjauh dari kaki Indra. Ia memeluk ibunya erat-erat, menatap ayahnya dengan bingung dan marah."Papa! Ada apa ini?! Kenapa Papa bentak Mama sampai nangis begini?" tuntut Siska, air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Kenapa Papa bilang talak?!"Natasha yang histeris semakin menjadi-jadi di pelukan Siska. "Siska ... Sayang... Mama dicerai! Papa kamu menceraikan Mama!"Siska menoleh ke Indra, wajahnya dipenuhi ketidakpercayaan. "Papa serius? Ada masalah apa? Apa karena Kak Arga bilang kalau Tante Sarah—""Ini tidak ada hubungannya dengan Arga at
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-16
Chapter: Akhir permainan intrik NatashaIndra tidak bisa menahan diri lagi. Darahnya mendidih. Wajahnya yang semula pucat karena terkejut kini memerah padam karena amarah yang tak tertahankan. Ia melangkah keluar dari balik pilar, menuju dapur. Setiap langkahnya terasa berat dan dipenuhi kebencian."Natasha!" raung Indra, suaranya menggelegar, memecah keheningan malam dan mengalahkan decitan ban mobil yang baru saja Adit dan Siska dengar.Natasha dan Bi Sumi terkesiap, tubuh mereka menegang seketika. Mereka berdua menoleh dengan pandangan horor ke arah Indra yang kini berdiri di ambang batas ruangan, wajahnya tampak seperti patung dewa yang murka."P-Pak Indra!" Bi Sumi memekik, tangannya langsung menutupi mulutnya. Wajahnya pucat pasi, seperti baru saja melihat hantu. Ia tahu, seluruh rencana pemerasan dan rahasia kotornya kini sudah tamat.Natasha lebih terkejut lagi. Ia tidak menyangka Indra akan ada di sana. Matanya membelalak. Ia mencoba menyusun kata-kata pembelaan, tapi otaknya kosong.Indra mengabaikan Bi Sumi. Selu
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-15
Chapter: Indra tauKemarahan Adit yang meledak di mobil, diikuti dengan decitan ban yang nyaris merenggut nyawa, membuat Siska histeris. Adit sendiri, setelah ingatan masa lalunya menerobos masuk, hanya bisa terdiam, tubuhnya membeku, diselimuti keringat dingin. Ia akhirnya melepaskan pijakannya dari pedal gas.Sementara ketegangan memuncak di jalanan, di rumah mewah milik Indra, suasana justru tampak tenang dan sunyi.Indra, sang pemilik MIMPI MEDIA, duduk sendirian di ruang kerjanya. Pria paruh baya itu tampak lelah. Ia tidak bisa tidur. Malam itu, ia memang sengaja menunggu Adit pulang. Ia tahu Siska sudah menjemput putra sambungnya itu.Di meja kerjanya, tersusun beberapa berkas, salah satunya adalah laporan keuangan perusahaan. Tapi mata Indra tidak fokus pada angka-angka itu. Pikirannya melayang pada Adit, putranya."Anak itu … Semoga akrab dengan kita," gumam Indra, mengusap pelipisnya.Peristiwa hilangnya Adit kecil bertahun-tahun lalu masih menjadi luka yang tak pernah sembuh. Meskipun Adit ber
ปรับปรุงล่าสุด: 2025-11-14
Chapter: Berat melepasFahmi menatap manik mata Rina dengan saksama. Ada getaran hebat di sana, sebuah ketakutan akan kehilangan yang begitu nyata. Namun, Fahmi tahu bahwa membawa Rina kembali ke Jakarta saat ini sama saja dengan menyerahkan wanita itu kembali ke dalam sangkar emas Ervan yang beracun."Rin, dengar aku," suara Fahmi merendah, mencoba memberikan ketenangan di tengah badai emosi yang berkecamuk. "Kalau kamu ikut aku sekarang, kita berdua dalam bahaya besar. Jakarta itu wilayah Ervan. Begitu kamu menginjakkan kaki di sana, dia akan langsung tahu. Aku nggak mau kamu kenapa-napa setelah sejauh ini kita berjuang.""Tapi aku takut, Fahmi... Aku takut ini terakhir kalinya aku bisa pegang tangan kamu," isak Rina. Air matanya jatuh mengenai punggung tangan Fahmi yang masih menangkup wajahnya. Rasa hangat air mata itu seolah membakar kulit Fahmi, menyalurkan kepedihan yang mendalam.Fahmi menggeleng perlahan, mencoba meyakinkan dirinya sendiri juga. "Aku janji cuma sebentar. Begitu aku pastikan Kekey b
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-11
Chapter: Rasa bersalah pada KekeyKetukan di jendela itu seolah bergaung di dalam kepala Bram, memicu detak jantung yang kian tak beraturan. Di kursi belakang, Fahmi segera menarik Rina untuk merunduk lebih rendah, hingga tubuh mereka nyaris rata dengan jok mobil. Keheningan di dalam kabin begitu pekat, hanya menyisakan deru nafas yang tertahan.Fahmi bersuara lirih tepat di telinga Rina, suaranya sangat kecil namun tegas. "Bram, menurutku lebih baik kamu buka saja jendelanya sedikit. Jangan sampai bapak itu curiga dan malah memanggil orang lain. Aku dan Rina sembunyi di bawah sini, jangan biarkan dia melihat ke belakang."Bram menelan ludah, tangannya yang gemetar perlahan meraih tombol power window. Kaca jendela itu turun perlahan, menyisakan celah yang cukup untuk melihat wajah pria di luar. Hawa dingin kabut pagi Sukabumi merangsek masuk, membawa aroma tanah basah.Wajah pria itu mendekat. Guratan-guratan di kulitnya yang terbakar matahari tampak jelas. Awalnya terlihat seram di bawah tudung jas hujan plastik, nam
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-10
Chapter: Berusaha lolosFahmi tidak menjawab peringatan Rina. Bibirnya terkatup rapat, menciptakan garis tegas yang menyiratkan beban pikiran yang luar biasa berat. Namun, genggaman tangannya pada jemari Rina berbicara jauh lebih banyak dari pada kata-kata. Ia meremas tangan wanita itu dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melonggarkannya sedikit saja, realitas pahit tentang Kekey yang demam akan menyeretnya pulang dan memisahkannya dari Rina selamanya.Mereka bergerak seperti bayangan di antara barisan pohon karet yang batangnya tampak putih pucat tersapu kabut pagi. Tanah merah yang becek akibat hujan semalam membuat langkah mereka terasa berat, namun adrenalin yang memompa di setiap detak jantung membuat rasa lelah itu seolah mati rasa.Bram berada di paling depan, bergerak dengan sangat taktis. Sesekali ia berhenti, mengangkat tangannya memberi kode agar Fahmi dan Rina membeku di tempat. Telinganya tajam menangkap setiap suara patahan ranting, kepakan sayap burung, hingga deru motor yang sayup-sayup t
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-10
Chapter: CelakaDi tangan Fahmi, ponsel itu masih terasa panas, seolah-olah gema suara Mbak Yati dan rintihan palsu Kekey masih tertinggal di sana.Fahmi melangkah kembali ke kamar dengan bahu yang merosot. Di ambang pintu, ia melihat Rina sudah duduk di tepi ranjang. Rambutnya sedikit berantakan, sisa-sisa kebahagiaan semalam masih membekas di wajahnya yang cantik, namun matanya langsung menyipit saat melihat wajah Fahmi yang pucat pasi."Fahmi? Ada apa? Kamu kelihatan ... kusut banget. Ada masalah lagi?" tanya Rina lembut. Ia berdiri, menghampiri Fahmi dan menyentuh lengan pria itu. "Tadi ada telepon?"Fahmi menatap mata Rina. Ia ingin berbohong. Ia ingin mengatakan semuanya baik-baik saja agar mereka bisa menikmati sisa waktu di persembunyian ini. Namun, ia tahu ia tidak bisa. Kejujuran adalah satu-satunya pondasi yang mereka miliki di tengah badai ini."Mbak Yati telepon, Rin," suara Fahmi serak. Ia menarik napas panjang, mencoba menstabilkan dadanya yang sesak. "Kekey ... Kekey sakit demam tingg
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09
Chapter: Rencana licik Aqila"Anu, Pak ... Kekey. Kekey sakit dari semalam. Demamnya tinggi sekali, Pak. Dia mengigau terus, panggil-panggil 'Papa ... Papa ...'. Saya takut, Pak," ucap Mbak Yati dengan suara yang pecah oleh isak tangis. Suasana di latar belakang telepon itu terdengar sunyi yang mencekam, hanya menyisakan suara hembusan nafas Mbak Yati yang tidak beraturan.Harapan dan kedamaian yang baru saja Fahmi rasakan bersama Rina di kamar sebelah mendadak menguap, digantikan oleh rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. "Sakit? Kekey sakit apa? Sudah dibawa ke dokter?" tanya Fahmi beruntun. Suaranya gemetar, ada kepanikan yang luar biasa yang kini menguasai nadinya."Belum, Tuan. Nyonya ... Mm ... Nyonya bilang tunggu Papanya Kekey pulang saja. Katanya cuma Papa yang bisa bikin Kekey tenang. Tapi Kekey badannya panas sekali, Tuan. Ini, Tuan lihat sendiri," ucap Mbak Yati lirih sembari mengarahkan kamera ponselnya ke arah ranjang kecil Kekey.Di layar ponsel yang kini jernih karena siny
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09
Chapter: Kekey sakitFahmi melumat bibir Rina dengan penuh kelembutan, sebuah ciuman yang tidak lagi terburu-buru oleh rasa takut atau kepanikan. Ini adalah ciuman yang menuntut pengakuan atas perasaan yang selama ini mereka simpan rapat-rapat di balik dinding kepura-puraan. Tidak ada lagi ketergesaan pelarian, yang ada hanyalah kerinduan yang akhirnya menemukan muaranya.Rina membalasnya dengan intensitas yang sama, seolah seluruh tenaganya ia tumpahkan dalam sentuhan itu. Tangannya yang melingkar di leher Fahmi menarik pria itu semakin dekat, merapatkan tubuh mereka hingga ia bisa merasakan detak jantung Fahmi yang berdegup kencang, seirama dengan miliknya. Di atas kasur kapuk yang sesekali berderit karena pergerakan mereka, segalanya terasa begitu jujur. Di dalam gubuk kayu di tengah perkebunan karet itu, semua label sosial luruh seketika. Tidak ada lagi "istri dokter ternama" yang harus menjaga martabat, tidak ada lagi "penulis yang sedang naik daun" yang harus menjaga citra. Yang ada hanyalah dua
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09
Sentuhan Panas Editorku
Meysa, penulis idealis yang hidup pas-pasan di rusun, mendadak viral setelah novelnya meledak di pasaran. Namun kegembiraannya runtuh ketika ia mengetahui editornya, Wildan, diam-diam mengubah novelnya menjadi novel erotis yang kini jadi fenomena.
Marah, malu, tapi diam-diam menikmati popularitas yang datang tiba-tiba, Meysa terjebak antara benci dan penasaran pada editor dingin itu. Pertengkaran mereka berubah menjadi ketertarikan yang tak diakui, hingga masa lalu Meysa, mantan pacar toxic yang obsesif kembali menghantui.
Saat reputasi Meysa goyah, terungkap pula bahwa Wildan masih terikat pernikahan dengan Alya, memicu drama dan fitnah yang mengguncang semuanya.
Dalam dunia kreatif yang penuh intrik, Meysa dan Wildan harus memilih antara, bertahan pada kenyamanan lama, atau memperjuangkan cinta yang tumbuh dari kekacauan, kejujuran, dan luka masa lalu.
อ่าน
Chapter: Fiona tidak terima"Dari cara Kakak menatap Wildan, dari cara Kakak selalu berusaha memisahkan kami, dan dari cara Kakak menyerang aku sekarang ... semuanya kelihatan jelas. Kakak cemburu, kan? Kakak takut kalau perhatian Wildan teralihkan ke aku?" Meysa kembali melajutkan kata-katanya.Fiona berdiri dari kursinya, tangannya menggebrak meja makan dengan keras. "Jaga mulut kamu, Meysa! Aku ini Direktur di PenaKata. Aku tahu apa yang terbaik buat perusahaan dan buat Wildan. Dan yang terbaik buat dia adalah jauh-jauh dari penulis pembawa masalah kayak kamu! Dasar penulis pembawa sial!"Meysa ikut berdiri. Ia tidak ingin lagi terlihat lemah. Pernikahan siri semalam, meski dilakukan karena terpaksa, telah memberikan semacam kekuatan baru di dalam dirinya. Ia merasa memiliki hak untuk membela keberadaannya di samping Wildan."Kalau Kakak memang peduli sama Wildan sebagai editor, harusnya Kakak senang kalau karyaku bagus karena bantuan dia. Tapi Kakak lebih peduli sama perasaan pribadi Kakak sendiri," ujar Mey
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-10
Chapter: Bertengkar dengan FionaMakan siang di villa siang itu terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Meskipun nasi liwet buatan Bi Aam sangat lezat, Meysa merasa setiap suapannya seperti pasir yang sulit ditelan. Di seberang meja, Pak Adam tampak asyik mengobrol dengan Wildan mengenai rencana pemasaran Season 2 yang akan dibuat lebih masif daripada sebelumnya. Sementara itu, Fiona duduk di samping Pak Adam, lebih banyak diam dengan tatapan yang sesekali menusuk ke arah Meysa.Setelah selesai makan, Pak Adam mengajak Wildan ke beranda depan. "Wildan, ikut saya sebentar. Ada beberapa detail kontrak distribusi yang perlu kita diskusikan berdua. Meysa, kamu istirahatlah sebentar sebelum mulai 'maraton' menulisnya," ujar Pak Adam sebelum menghilang di balik pintu kaca.Kini, di ruang makan yang luas itu, hanya tersisa Meysa dan Fiona. Bi Aam sedang sibuk di dapur belakang, sehingga suasana mendadak menjadi sangat sunyi. Sunyi yang menyesakkan.Meysa hendak beranjak berdiri untuk membereskan piringnya, namun suara Fion
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-10
Chapter: Menulis perasaan"Meysa ... aku merasa naskah kamu ini sangat nyata, menyentuh dan dalam. Saya merasa karakternya hidup. Dan jika firasat saya benar tentang siapa inspirasi di balik karakter Reyhan yang baru ini mendapatkan pengembangan, dia adalah ...."Pak Adam menggantung kalimatnya sejenak, sengaja membangun tensi yang membuat bulu kuduk Meysa meremang. Tatapan pria paruh baya itu bergeser perlahan, mengunci sosok pria yang duduk kaku di kursi stool."Inspirasi kamu adalah Wildan, bukan?"Duar!Meysa merasa ada bom yang meledak tepat di depan wajahnya. Jantungnya seperti merosot hingga ke perut. Ia merasa seluruh kebohongannya, pernikahan siri, kejadian semalam, hingga perasaan yang mulai tumbuh telah terpampang nyata di depan mata sang CEO. Di sampingnya, Wildan hanya diam membatu, wajahnya yang lebam tampak kaku, seolah ia sudah siap menerima surat pemecatan detik itu juga."Pak ... Pak Adam," Meysa langsung bersuara, suaranya bergetar hebat karena ketakutan. "Saya minta maaf, Pak! Tolong, janga
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09
Chapter: Tebakan pak AdamMeysa merasa oksigen di dalam kamar itu seolah tersedot habis. Dengan tangan yang masih gemetar, ia perlahan memutar layar laptopnya ke arah Fiona. Ia melirik Wildan melalui ekor matanya, berharap sang editor telah melakukan "sihir" penghapusan jejak dengan sempurna.Fiona tidak langsung menyentuh laptop itu. Ia menatap Meysa tajam sebelum akhirnya menunduk, matanya mulai memindai baris demi baris di Bab 15. Keheningan yang tercipta terasa begitu mencekam, hanya suara nafas berat Wildan dan detak jantung Meysa yang terdengar seperti genderang perang.Di layar, kursor biru milik Wildan masih tampak berkedip di paragraf terakhir, seolah baru saja menyelesaikan tugas suci. Berkat sinkronisasi otomatis Google Drive, Wildan telah merombak narasi berbahaya itu dalam hitungan detik. Deskripsi tentang Reyhan yang babak belur dihajar warga diganti menjadi adegan Reyhan yang terlibat perkelahian dengan preman di pasar demi menyelamatkan data penting perusahaan. Kalimat tentang suasana klinik p
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-09
Chapter: Cerminan hati sediriPintu kamar terbanting pelan saat Meysa dan Wildan masuk dengan terburu-buru. Ruangan dengan dua ranjang tunggal itu mendadak terasa sesak oleh aura kepanikan. Meysa langsung melompat ke meja kerja, sementara Wildan menarik kursi kayu lain dan duduk tepat di sampingnya."Cepat buka link shared drive-nya, Meys! Aku akan masuk lewat laptopku," perintah Wildan dengan suara yang tidak sabaran. Bahu kirinya yang luka tampak sedikit kaku, namun ia mengabaikan rasa nyeri itu demi menyelamatkan nasib mereka berdua.Meysa menyalakan laptop dengan tangan gemetar. Begitu layar menyala, ia langsung membuka draf naskah Season 2 miliknya. Benar saja, kursor berwarna biru milik Wildan sudah muncul di sana, menandakan pria itu sudah masuk ke dalam dokumen yang sama."Lihat ini, Meysa!" Wildan menunjuk baris kalimat di bab 15 dengan telunjuknya yang gemetar karena emosi. "Apa-apaan deskripsi ini? 'Aroma parfum maskulinnya yang bercampur dengan bau obat-obatan klinik memberikan rasa tenang yang asing d
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-08
Chapter: Menghilangkan jejaknyaLangkah kaki Fiona yang berirama di atas lantai villa terdengar seperti ketukan palu hakim di telinga Meysa. Setiap detiknya membawa Meysa lebih dekat pada kehancuran karier atau yang lebih buruk, terbongkarnya rahasia pernikahan siri mereka.Fiona kembali ke ruang tamu dengan laptop tipis berwarna putih bersih milik Meysa di tangannya. Ia meletakkannya di atas meja kopi dengan gerakan pelan, namun bagi Meysa, benda itu seolah-olah adalah bom waktu yang siap meledak."Ini laptopnya, Pak," ujar Fiona singkat, lalu kembali duduk di sofa sambil melirik Wildan dengan tatapan penuh selidik.Pak Adam menggeser laptop itu ke arah Meysa. "Buka, Meys. Saya ingin lihat seberapa 'matang' draf yang dibilang Wildan tadi. Kalau memang bab 15 itu sebagus itu, saya mungkin bisa mempertimbangkan untuk memperpanjang waktu deadline kalian."Meysa merasa jemarinya membeku. Ia mengulurkan tangan yang gemetar hebat untuk membuka layar laptop. Pikirannya melayang pada baris-baris kalimat yang ia ketik denga
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-08