MasukMita memutuskan kembali mengenakan topeng. Berperan menjadi istri yang selalu mendukung apapun langkah suaminya. Mita hanya ingin menjaga situasi tetap kondusif, setidaknya sampai ia menemukan celah untuk menyelamatkan asetnya.
“Besok aku ada pekerjaan di luar kota beberapa hari, Ma,” ujar Pram saat menikmati sarapan bersama. “Keluar kota lagi?” tanya Mita sambil menatap penampilan Pram sudah rapi, seolah selalu sibuk mengumpulkan pundi-pundi rezeki. “Iya, ada proyek lama yang butuh negosiasi ulang.” Pram tampak sedikit gelisah, biasanya istrinya hanya mengiyakan tanpan banyak bertanya. Mita terdiam sejenak, dalam benaknya timbul ide untuk mengikuti alur sandiwara sang suami. “Aku ikut ya, Pa.” Pram tersentak. “Ikut? Ngapain? Jauh.” “Aku bisa ambil cuti beberapa hari. Rasanya sudah lama kita tidak pergi berdua. Aku juga bisa melihat perkembangan market di sana, sekalian refreshing.” Mita menyodorkan ide itu dengan nada ceria seolah tidak terjadi apa-apa. Ekspresi Pram menegang, kepanikan samar terlihat jelas di balik matanya. “Nggak bisa, Ma. Ini urusan kerjaan yang penting banget. Rapat dari pagi sampai malam, nggak ada waktu untuk jalan-jalan. Nanti kamu malah bosan di kamar sendirian.” “Siapa tahu aku bisa bantu, Pa. Aku kan bisa handle orang.” “Nggak usah, Ma. Aku perginya sendiri, saja. Aku akan sering-sering bagi kabar,” putus Pram, nadanya menjadi tegas, seolah tidak menerima bantahan. Ia buru-buru menghabiskan kopinya dan beranjak. Hari yang sudah direncanakan itu tiba. Pram terburu-buru keluar rumah, menarik koper kecil yang tampak terlalu ringkas untuk perjalanan beberapa hari. Ia menghampiri Mita yang berdiri di ambang pintu. “Doakan semua lancar ya, Ma,” ujar Pram sambil mendekatkan wajahnya, mengecup kening Mita dengan cepat, hanya sekilas, seolah hanya formalitas saja. “Hmmm.” Mita mengangguk samar, dalam hati dia menertawakan diri sendiri, ternyata selama ini dia mendoakan suaminya lancar berselingkuh. “Taksinya sudah datang,” ucap Pram, menunjuk mobil hitam yang baru saja berhenti di depan gerbang. Tanpa banyak kata lagi Pram bergegas meninggalkan istrinya. Dengan wajah cerah dan penuh antusias, dia memasuki mobil. Mita berdiri di sana, mengamati dengan saksama taksi yang membawa Pram menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Topeng dukungan di wajahnya perlahan runtuh, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan dingin. Tak ingin membuang waktu, Mita bergegas menuju garasi. Ia memasuki mobilnya dan segera bermanuver di jalan, menjaga jarak aman dari taksi yang membawa suaminya. Jantung Mita berdebar kencang, perpaduan antara kemarahan yang membara dan ketakutan akan kebenaran yang akan ia temukan. Jalan yang mereka lalui bukan jalan tol menuju bandara. Taksi online itu berhenti di bahu jalan yang sunyi. Pram segera turun, koper kecilnya ia letakkan di sisinya. Mita memarkir mobilnya agak jauh, membiarkan mesin tetap menyala. Ia mengamati dari balik kaca jendela, kedua tangannya mencengkeram erat kemudi. Tak lama kemudian, sebuah sedan mewah berwarna silver berhenti tepat di samping Pram. Tanpa ragu, Pram segera memasukkan kopernya ke bagasi, lalu ia masuk di kabin depan. Mita mengepalkan tangan, kuku-kuku jarinya menancap di telapak tangan. Mobil silver itu mulai bergerak, dan Mita pun menginjak gas, kembali mengikuti bayangan pengkhianatan suaminya. Perjalanan berakhir di depan sebuah hotel butik yang tampak mewah dan terpencil, jauh dari pusat kota. Mita menunggu hingga mobil sikver itu parkir. Ia melihat Pram dan seorang perempuan turun dari mobil. Mita tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Hanya rambut panjang yang tergerai indah dan tubuh semampai yang dibalut dengan celana panjang hitam pas di kaki dipadu tunik panjang berwarna maroon dengan lengan tiga perempat. Saat kaki mereka menyentuh trotoar, Pram langsung merengkuh tubuh perempuan itu. Rengkuhan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan pelukan erat dan intim yang menyatukan tubuh mereka. Tanpa sedikit keraguan, Pram melabuhkan ciuman. Bukan ciuman singkat, melainkan ciuman yang dalam, penuh gairah, di tempat terbuka, seolah dunia hanya milik mereka berdua. Pandangan Mita mengabur, ciuman itu berhasil meremukkan hatinya. Ia menyaksikan suaminya sendiri tertawa, tawanya riang, sangat berbeda dengan tawa penuh beban yang sering tersaji di meja makan mereka. Pram menggenggam tangan perempuan itu, dan mereka berjalan menuju pintu masuk hotel, koper kecil Pram sudah diurus oleh seorang petugas hotel yang tersenyum hormat. Hati Mita remuk, hancur berkeping-keping. Kembali perselingkuhan itu yang terpampang nyata di hadapannya. Mita tak kuasa lagi, air mata mulai mengalir membasahi pipinya. Terdengar suara klakson keras dari belakang. Mobil Mita yang terparkir terlalu lama itu mulai mengganggu. Ia tersentak, dan harus bergerak, atau keberadaannya akan terungkap. Dalam suasana hati yang remuk, Mita mengemudi tanpa arah, hanya ingin secepatnya menjauh dari hotel terkutuk itu, tapi kakinya terasa begitu berat, dan pikirannya hanya dipenuhi bayangan Pram yang tersenyum bahagia dalam pelukan wanita lain.Kabar kehamilan Mita disambut Samudra dengan sorak kegembiraan yang tulus. Tidak ada lagi ganjalan di hati remaja itu, baginya, kehadiran calon adik baru adalah simbol bahwa rumah tangga ibunya kali ini benar-benar berdiri di atas landasan cinta, bukan sekadar kewajiban.“Kali ini, aku akan jadi abang yang siaga, Ma. Aku bakal jagain adik sampai dia besar,” ucap Samudra sambil memeluk Mita.Namun, di balik tawa lebar dan perayaan keluarga itu, ada badai kecemasan yang berkecamuk di dalam dada Gara. Setiap kali ia melihat Mita, bayangan kelam mendadak melintas, bayangan saat Amara meregang nyawa setelah melahirkan. Trauma itu menghantui Gara. Ia sadar betul bahwa Mita hamil di usia yang secara medis masuk dalam kategori risiko tinggi.Gara menjadi suami yang sangat protektif, bahkan cenderung ‘rewel’ dalam artian yang manis. Setiap jadwal periksa kandungan menjadi agenda paling sakral di kalendernya. Tidak ada rapat penting atau urusan bisnis yang bisa menggeser waktu konsultasi dokter
Ruang tamu rumah Mita yang biasanya sunyi, kini disulap menjadi tempat yang sakral dengan hiasan bunga melati putih yang menebar aroma wangi menenangkan.Tidak ada pesta pora mewah. Hanya ada keluarga inti, penghulu, dan saksi. Di bawah bimbingan penghulu, Gara mengucapkan kalimat ijab kabul dengan satu tarikan napas yang mantap, menjabat tangan wali dengan penuh keyakinan."Sah!"Suara para saksi menggema, membawa kelegaan yang luar biasa bagi Mita. Di balik kerudung tipisnya, air mata Mita jatuh, bukan karena sedih, melainkan karena rasa syukur telah menemukan pelabuhan yang berani memperjuangkannya.Setelah doa terakhir dipanjatkan, suasana haru menyelimuti ruangan. Samudra, yang sejak tadi duduk tenang di samping ibunya, langsung berdiri. Ia melangkah mendekati Gara yang kini telah resmi menjadi ayah sambungnya.Samudra menatap Gara tepat di mata, wajah remaja itu tampak jauh lebih dewasa dari usianya."Mas, tolong, jangan pernah sakiti Mama. Kalau suatu saat nanti Mas Gara sudah
Suara Gara mengelegar memenuhi ruangan. Pemuda itu masuk dengan langkah tegap penuh percaya diri, wajahnya sedingin es, namun matanya berkilat penuh kemenangan saat mendapati papanya duduk di kursi tamu.Sadewa tersentak, ia berdiri dengan raut wajah yang tak bisa menyembunyikan keterkejutannya."Gara? Sedang apa kamu di sini?"Gara tidak langsung menjawab. Ia berjalan mendekat ke arah meja Mita, melirik Sadewa dari sudut mata dengan tatapan meremehkan.“Setahuku hanya papa yang tidak bisa konsentrasi kalau melihat perempuan. Otaknya langsung kotor.”Wajah Sadewa memerah mendengar sindiran telak itu. "Jaga bicaramu, Gara! Lalu apa urusanmu datang ke sini?"Gara terkekeh getir, lalu ia mengangkat tangan kanannya yang menjinjing tas kertas berlogo Restoran Makanan Nusantara. Aroma rempah dan ayam bakar menyeruak di ruangan itu.Gara menaikkan sebelah alisnya. " Aku ke sini untuk makan siang dengan calon istriku."Kata-kata itu meledak seperti bom di tengah ruangan. Sadewa mematung, mata
Mita memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, namun seulas senyum tipis terukir saat melihat layar monitornya. Desain seragam kerja untuk jaringan minimarket yang sedang menjamur itu tampak sempurna.Perpaduan warna yang modern, pilihan bahan yang nyaman untuk bergerak, serta detail kantong yang fungsional, semuanya memiliki karakter kuat yang akan menjadi identitas baru bagi ribuan karyawan minimarket tersebut.Jika proyek ini gol, ini bukan sekadar keberhasilan biasa, ini adalah ladang penghasilan besar yang akan mengamankan posisi konveksinya di pasar industri.Dulu, butuh waktu berhari-hari untuk menyusun slide presentasi dan prototipe desain digital seindah ini. Namun, berkat Gara yang dengan sabar mengajarinya menggunakan perangkat lunak desain berbasis AI, semuanya menjadi jauh lebih mudah.Gara seolah tahu cara memanjakannya, bukan dengan bunga, tapi dengan teknologi yang memangkas waktu kerjanya. Berkat itu pula, Mita belum merasa perlu mencari asisten pribadi baru, meski be
Jam dinding di kamar Mita seolah berdetak lebih keras dari biasanya. Ia berguling ke kanan dan ke kiri, namun kantuk enggan menjemput. Ucapan Gara terus terngiang seperti kaset rusak di kepalanya.“Ada satu lagi pria yang sudah mengincarmu... istrinya bisa kalap.”Peringatan Gara terasa seperti ancaman nyata yang membayangi reputasinya. Selama ini Sadewa memang sangat agresif, dan istrinya pun begitu posesif. Tentu Marina tidak akan tinggal diam, bukan hanya karena cinta, tapi juga harta yang menjamin hidupnya sejahtera.Namun, di sela-sela kecemasan itu, bayangan lain menyelinap masuk, wajah mungil Alya yang merah padam karena demam, jemari kecilnya yang gemetar menahan sakit, dan boks bayi yang terasa dingin tanpa pelukan ibu.Ada desakan aneh di ulu hati Mita, sebuah keinginan untuk merawat bayi itu, memberikan kehangatan yang tidak sempat diberikan Amara. Namun, logika Mita segera menamparnya bangun.“Kalau aku merawatnya, itu artinya aku akan terjebak lagi dengan Pram,” batin Mit
Mobil Gara berhenti dengan sempurna di depan halaman rumah Mita. Suasana malam kian larut, menyisakan suara jangkrik dan hembusan angin dingin yang menusuk. Begitu mesin mati, Gara menoleh ke kursi belakang, menatap Samudra lewat spion tengah."Sam, masuk duluan ya? Aku mau bicara sebentar sama mamamu," bisik Gara pelan namun penuh penekanan.Samudra, yang sudah cukup dewasa untuk membaca ketegangan di antara kedua orang dewasa itu, hanya mengangguk kecil. Ia seolah paham bahwa ada sebuah percakapan yang selama ini tertahan di ujung lidah Gara."OK. Ma, Sam masuk duluan."Setelah pintu rumah tertutup di belakang Samudra, Mita hendak membuka pintu mobil, namun jemari Gara bergerak lebih cepat. Ia meraih tangan Mita, menahannya dengan genggaman yang tidak menyakiti namun sangat posesif."Tante, tunggu," suara Gara rendah, namun sarat dengan kecemasan.Mita menoleh, menatap Gara dengan dahi berkerut. "Ada apa lagi, Gara? Ini sudah sangat malam."Tanpa basa-basi, Gara langsung melontarkan







