Share

7. Membuntuti

last update Last Updated: 2025-12-01 11:11:39

Mita memutuskan kembali mengenakan topeng. Berperan menjadi istri yang selalu mendukung apapun langkah suaminya. Mita hanya ingin menjaga situasi tetap kondusif, setidaknya sampai ia menemukan celah untuk menyelamatkan asetnya.

“Besok aku ada pekerjaan di luar kota beberapa hari, Ma,” ujar Pram saat menikmati sarapan bersama.

“Keluar kota lagi?” tanya Mita sambil menatap penampilan Pram sudah rapi, seolah selalu sibuk mengumpulkan pundi-pundi rezeki.

“Iya, ada proyek lama yang butuh negosiasi ulang.” Pram tampak sedikit gelisah, biasanya istrinya hanya mengiyakan tanpan banyak bertanya.

Mita terdiam sejenak, dalam benaknya timbul ide untuk mengikuti alur sandiwara sang suami.

“Aku ikut ya, Pa.”

Pram tersentak. “Ikut? Ngapain? Jauh.”

“Aku bisa ambil cuti beberapa hari. Rasanya sudah lama kita tidak pergi berdua. Aku juga bisa melihat perkembangan market di sana, sekalian refreshing.” Mita menyodorkan ide itu dengan nada ceria seolah tidak terjadi apa-apa.

Ekspresi Pram menegang, kepanikan samar terlihat jelas di balik matanya. “Nggak bisa, Ma. Ini urusan kerjaan yang penting banget. Rapat dari pagi sampai malam, nggak ada waktu untuk jalan-jalan. Nanti kamu malah bosan di kamar sendirian.”

“Siapa tahu aku bisa bantu, Pa. Aku kan bisa handle orang.”

“Nggak usah, Ma. Aku perginya sendiri, saja. Aku akan sering-sering bagi kabar,” putus Pram, nadanya menjadi tegas, seolah tidak menerima bantahan. Ia buru-buru menghabiskan kopinya dan beranjak.

Hari yang sudah direncanakan itu tiba. Pram terburu-buru keluar rumah, menarik koper kecil yang tampak terlalu ringkas untuk perjalanan beberapa hari. Ia menghampiri Mita yang berdiri di ambang pintu.

“Doakan semua lancar ya, Ma,” ujar Pram sambil mendekatkan wajahnya, mengecup kening Mita dengan cepat, hanya sekilas, seolah hanya formalitas saja.

“Hmmm.” Mita mengangguk samar, dalam hati dia menertawakan diri sendiri, ternyata selama ini dia mendoakan suaminya lancar berselingkuh.

“Taksinya sudah datang,” ucap Pram, menunjuk mobil hitam yang baru saja berhenti di depan gerbang.

Tanpa banyak kata lagi Pram bergegas meninggalkan istrinya. Dengan wajah cerah dan penuh antusias, dia memasuki mobil.

Mita berdiri di sana, mengamati dengan saksama taksi yang membawa Pram menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Topeng dukungan di wajahnya perlahan runtuh, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan dingin.

Tak ingin membuang waktu, Mita bergegas menuju garasi. Ia memasuki mobilnya dan segera bermanuver di jalan, menjaga jarak aman dari taksi yang membawa suaminya.

Jantung Mita berdebar kencang, perpaduan antara kemarahan yang membara dan ketakutan akan kebenaran yang akan ia temukan. Jalan yang mereka lalui bukan jalan tol menuju bandara.

Taksi online itu berhenti di bahu jalan yang sunyi. Pram segera turun, koper kecilnya ia letakkan di sisinya. Mita memarkir mobilnya agak jauh, membiarkan mesin tetap menyala. Ia mengamati dari balik kaca jendela, kedua tangannya mencengkeram erat kemudi.

Tak lama kemudian, sebuah sedan mewah berwarna silver berhenti tepat di samping Pram. Tanpa ragu, Pram segera memasukkan kopernya ke bagasi, lalu ia masuk di kabin depan.

Mita mengepalkan tangan, kuku-kuku jarinya menancap di telapak tangan. Mobil silver itu mulai bergerak, dan Mita pun menginjak gas, kembali mengikuti bayangan pengkhianatan suaminya.

Perjalanan berakhir di depan sebuah hotel butik yang tampak mewah dan terpencil, jauh dari pusat kota. Mita menunggu hingga mobil sikver itu parkir. Ia melihat Pram dan seorang perempuan turun dari mobil.

Mita tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu. Hanya rambut panjang yang tergerai indah dan tubuh semampai yang dibalut dengan celana panjang hitam pas di kaki dipadu tunik panjang berwarna maroon dengan lengan tiga perempat.

Saat kaki mereka menyentuh trotoar, Pram langsung merengkuh tubuh perempuan itu. Rengkuhan itu bukan sekadar basa-basi, melainkan pelukan erat dan intim yang menyatukan tubuh mereka. Tanpa sedikit keraguan, Pram melabuhkan ciuman. Bukan ciuman singkat, melainkan ciuman yang dalam, penuh gairah, di tempat terbuka, seolah dunia hanya milik mereka berdua.

Pandangan Mita mengabur, ciuman itu berhasil meremukkan hatinya.

Ia menyaksikan suaminya sendiri tertawa, tawanya riang, sangat berbeda dengan tawa penuh beban yang sering tersaji di meja makan mereka. Pram menggenggam tangan perempuan itu, dan mereka berjalan menuju pintu masuk hotel, koper kecil Pram sudah diurus oleh seorang petugas hotel yang tersenyum hormat.

Hati Mita remuk, hancur berkeping-keping. Kembali perselingkuhan itu yang terpampang nyata di hadapannya. Mita tak kuasa lagi, air mata mulai mengalir membasahi pipinya.

Terdengar suara klakson keras dari belakang. Mobil Mita yang terparkir terlalu lama itu mulai mengganggu. Ia tersentak, dan harus bergerak, atau keberadaannya akan terungkap.

Dalam suasana hati yang remuk, Mita mengemudi tanpa arah, hanya ingin secepatnya menjauh dari hotel terkutuk itu, tapi kakinya terasa begitu berat, dan pikirannya hanya dipenuhi bayangan Pram yang tersenyum bahagia dalam pelukan wanita lain.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   101. Kesempatan Kedua

    Pram berdiri di sana. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak lebih kurus. Ada sisa lebam yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menatap Mita lama, seolah mencari celah.Mita bangkit berdiri. Jarak beberapa meter di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. Kehadiran Pram membawa aura pekat yang membuat dada Mita sesak."Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Mas?" Suara Mita dingin, memangkas semua basa-basi.Pram melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu dengan pelan namun terasa mengancam."Aku ingin bicara tentang rumah tangga kita," jawab Pram cepat, suaranya serak. "Tentang Samudra. Tentang semua yang…"Pram tidak melanjutkan kalimatnya, terlihat bingung mau bicara apa lagi. Sikap tak acuh Mita kala menyambutnya, sudah menjadi petunjuk, tak mudah untuk mengubah keputusan istrinya itu.Pram menelan ludah yang terasa pahit. "Aku tahu aku salah.""Mengaku salah setelah ketahuan?" sahut Mita ketus.Pram maju selangkah. Mita tidak mundur, namun bahunya menegang kaku."Aku tidak

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   100. Masa Lalu

    "Ternyata selingkuh bukan sekadar khilaf, tapi sudah jadi tabiat Papa sejak muda," suara Gara rendah, namun memukul hati Sadewa dengan keras.Pikirannya melayang pada lembar-lembar kaku berkas perceraian Mita yang baru saja ia baca. Angka-angka di sana menari mengejeknya. Selisih usia Gara dan Mita, sahabat SMA Amara, adalah empat belas tahun. Logika paling bodoh sekalipun tahu, tidak mungkin Amara melahirkannya saat masih mengenakan seragam SMP."Jadi Mama mengalami baby blues karena tahu Papa selingkuh dengan anak sekolah?" Gara menoleh, matanya berkilat menuntut."Gar..." Sadewa mencoba meraih lengan putranya.Gara menepisnya kasar. "Aku butuh penjelasan, bukan pembelaan. Papa mau jujur atau bohong tidak akan bisa mengubah masa lalu.”Sadewa menarik napas panjang, bahunya merosot seolah beban puluhan tahun mendadak menindihnya. "Papa dijebak, Gar."Gara tersenyum menyeringai sambil menggelengkan kepala. Apa yang diucapkan Sadewa adalah alasan klise bagi orang yang sudah terpojok ke

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   99. Selingkuhan Papa

    Sadewa menelan ludah. Bahunya merosot dengan tatap mata yang goyah. Rahasia yang selama ini dia simpan, sampai pada titik menunjukkan kebenarannya.Seolah seluruh tubuhnya ikut menyerah, akhirnya Sadewa mengangguk lemah“Kita bicarakan di dalam,” ucap Sadewa dengan suara lirih.Sadewa berbalik lebih dulu, lalu dengan langkah gontai menuju ke ruang kerja. Dan Gaa mengikuti, tak ingin melepaskan kesempatan untuk mengetahui yang sebenarnya.Sementara itu di ruang tamu lampu menyala setengah. Marina muncul dari ujung lorong. Wajahnya pucat. Monic berdiri di belakangnya, memeluk diri sendiri.“Ada apa, Pa?” Monic bertanya pelan, mencoba menarik perhatian ayah dan kakak tirinya.Sadewa tidak menjawab, mengabaikan Monic begitu saja.Gara melirik mereka sekilas. Tatapannya dingin. Tajam. Seolah baru sadar selama ini ia hidup di tengah orang-orang asing.Marina membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Dari sorot mata Sadewa, dia paham suaminya itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik-baik saj

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   98. Jati Diri

    Gara mematung.Kata demi kata yang terlontar dari mulut Amara seperti beban berta yang langsung di jatuhkan di atas kepalanya dengan begitu tiba-tiba.“Ibu kandungmu…” Kata itu masih berdengung di kepalanya.Selama ini yang Gara tahu, Amara adalah ibu kandungnya, Amara adalah perempuan yang melahirkannya. Tapi apa yang baru saja dia dengar seperti sebuah pukulan yang tak pernah Gara duga.Selama dua puluh lima tahun, Amara adalah poros dunianya. Perempuan itu adalah dekapan saat ia bermimpi buruk, tangan yang mengusap air matanya, dan sosok yang ia puja sebagai malaikat tanpa sayap. Kini, malaikat itu baru saja menanggalkan topengnya.Amara menatapnya, kali ini tanpa senyum. “Selama ini kamu pikir aku apa?”Gara membuka mulut, tapi tak ada suara keluar. Ia hanya bisa menatap bayangan dirinya di bola mata Amara, sosok pria dewasa yang tiba-tiba merasa sekecil debu.Amara mendekat selangkah. “Waktu ibu kandungmu dirawat di rumah sakit jiwa, papamu sibuk main perempuan di luar. Kamu masi

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   97. Ibu Kandung

    Rumah mewah itu sunyi saat pintu terbuka keras.Amara yang semula berdiri di depan cermin tersenyum refleks. Senyum yang biasa ia pakai saat Gara datang. Senyum ibu yang yakin masih punya kuasa atas putranya.Namun, senyum itu runtuh seketika saat Gara melangkah masuk ke dalam cahaya lampu kristal. Putranya tampak seperti orang asing.Sorot matanya segelap badai, rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot di wajahnya menegang. Tidak ada sapaan. Tidak ada hangat yang biasanya menyambut Amara.Amara menurunkan tangannya perlahan. Bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang sangat salah."Kenapa Mama ikut campur sampai sidang perceraian Tante Mita ditunda?" suara Gara keluar pelan, namun dinginnya terasa mengiris kulit.Amara terdiam sesaat, seolah sedang menimbang-nimbang reaksi apa untuk menanggapi putranya. Ia terkekeh pendek, suara yang dipaksakan untuk menutupi detak jantungnya yang mulai tak beraturan."Kamu marah sama mama karena Tante Mita, Sayang?""Jawab, Ma. Jangan bersandi

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   96. Salah Strategi

    Ruang sidang yang semula tenang berubah tegang saat pengacara dari pihak Pram berdiri. Map cokelat dibuka. Satu per satu lembaran dikeluarkan dengan gerakan terukur.Mita menegakkan punggung. Ada rasa tidak nyaman yang merayap pelan.​“Yang Mulia,” suara pengacara Pram memecah keheningan, berat dan penuh otoritas yang dipaksakan. “Klien kami, Saudara Pramudya Wijayanto, saat ini dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk hadir dan menjalani persidangan.”Pengacara lalu menyerahkan berkas.“Ini surat keterangan dari pihak rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan beberapa tulang rusuk klien kami mengalami fraktur. Kondisinya masih dalam pemulihan dan membutuhkan istirahat total.”Mita menghela napas pelan. Tangannya mengepal di pangkuan.Adnan berdiri. “Yang Mulia, kami menghormati kondisi kesehatan termohon. Namun perlu dicatat, ketidakhadiran ini bukan yang pertama. Kami memohon agar proses tetap berjalan.”Hakim menerima berkas. Membacanya saksama. Kacamata diturunkan sedik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status