Serumah Dengan Mantan

Serumah Dengan Mantan

last update최신 업데이트 : 2026-05-26
에:  Dahlia Cici 방금 업데이트되었습니다.
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
순위 평가에 충분하지 않습니다.
7챕터
6조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Naura tidak pernah menyangka hidupnya akan sehancur ini. Setelah kehilangan ayahnya, ia justru dipertemukan kembali dengan Raka, mantan pacar yang paling ingin ia lupakan. Dan lebih parahnya lagi, mereka harus tinggal serumah, dan menerima nasib jika kini mereka adalah saudara tiri. Di balik hubungan yang seharusnya hanya sebatas keluarga, ada rahasia, dan skandal yang perlahan menghancurkan semuanya. Ketika masa lalu dan status baru bertabrakan, siapa yang bisa menahan hati?

더 보기

1화

Rumah Baru, Luka Lama

“Hujannya tambah deres, Mbak. Yakin mau turun di depan gerbang saja?” Suara sopir taksi memecah lamunan Naura.

Naura tersadar. Ia menatap keluar jendela yang dipenuhi titik-titik air. Di balik kaca buram itu, berdiri rumah besar bercat putih dengan gerbang hitam tinggi.

“Iya, Pak. Di sini aja,” jawabnya pelan.

“Totalnya seratus dua puluh ribu.”

Naura mengangguk, menyerahkan uang tanpa banyak bicara. Tangannya dingin saat menerima kembalian.

“Barangnya cuma itu?” tanya sopir lagi, melihat koper kecil di sampingnya.

“Iya.” Satu koper. Cuma itu yang tersisa dari hidup lamanya.

“Makasih, Pak,” ucap Naura sambil memaksakan senyum.

Pintu mobil tertutup, suara mesin menjauh, dan suasana mendadak sunyi. Yang tersisa hanya suara hujan tipis dan detak jantungnya sendiri.

Naura berdiri beberapa detik di depan gerbang, menatap rumah itu tanpa ekspresi. Rumah besar. Bersih. Terlihat mahal. Terlihat… asing.

"Kalau Ayah masih ada…” gumamnya pelan. “Aku nggak bakal di sini.”

Gerbang tiba-tiba berbunyi klik dan terbuka otomatis. Satpam di pos depan melambaikan tangan.

“Mbak Naura, ya? Silakan masuk. Ibu sudah nunggu dari tadi.”

Naura hanya mengangguk pelan. Setiap langkah terasa berat saat ia menyeret koper masuk ke halaman.

Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu utama sudah terbuka.

“Naura!” Suara itu membuatnya menoleh.

“Ya ampun… kamu makin kurus,” katanya begitu sampai di depan Naura. Belum sempat menjawab, Naura sudah ditarik ke pelukan. Terasa hangat dan lembut, tapi anehnya sedikit canggung.

“Kamu capek, ya? Perjalanan jauh banget pasti,” ujar Maya sambil mengusap punggungnya.

“Lumayan,” jawab Naura pelan.

“Ayo masuk. Mama sudah siapin kamar kamu. Kamu pasti suka.” Naura hanya mengangguk.

Setiap langkah memasuki rumah itu terasa berat. Lantainya marmer mengilap, dinding putih bersih. Aroma pengharum ruangan terlalu manis. Naura berbisik pelan, nyaris tak terdengar, “kaya hotel…”

“Hm? Kamu bilang apa, sayang?” tanya Maya.

“Nggak, Ma.” Maya tersenyum, lalu berkata hati-hati, “Papi kamu masih di kantor. Nanti malam baru pulang.” Langkah Naura langsung berhenti.

“Papi?” ulangnya datar. “Aku cuma punya ayah. Dan ayah udah meninggal.”

Maya terdiam, lalu menghela napas. “Iya… maksud Mama, Om Arman. Maaf. Mama cuma—”

“Nggak apa-apa,” potong Naura cepat. Ia tak mau bahas itu.

“Ya sudah. Kamu istirahat dulu, ya.” Naura menarik koper melewati ruang keluarga. Namun baru beberapa langkah—

Tap.

Tap.

Tap.

Suara langkah kaki dari lorong dekat tangga. Berat dan tenang. Naura refleks menoleh, dan dunia seperti berhenti.

Seorang pria keluar dari arah dalam rumah. Pria itu tinggi, bahu lebar, kemeja abu-abu digulung sampai siku.

Wajah itu.

Rahang tegas itu.

Tatapan itu, membuat napas Naura tercekat.

"Tidak mungkin," gumam Naura lirih hampir tak terdengar. Mereka saling menatap dan waktu seolah runtuh.

Raka Pratama.

Nama itu muncul begitu saja di kepalanya. Bukan sebagai kakak tiri, bukan orang asing, tapi sebagai lelaki yang dulu pernah menggenggam tangannya saat hujan deras. Lelaki yang setia menunggunya di depan kelas, dan lelaki yang berjanji akan selalu ada, tapi juga menghilang tanpa penjelasan.

Bibir Naura bergetar. “Ra… ka…?

Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, ekspresi pria itu berubah. Dingin, datar, formal, seperti mereka tak pernah punya masa lalu.

“Jadi ini adik tiriku,” ucapnya pelan. “Papa bilang kamu baru sampai.” Hatinya seperti diremas.

“Kamarmu di lantai dua, ujung kanan,” lanjutnya singkat. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, tidak ada tanda kalau mereka pernah punya masa lalu.

“Oh… iya.” Hanya itu yang keluar. Terdengar sangat bodoh karena di kepalanya kini memiliki ribuan pertanyaan.

Kenapa dia di sini?

Kenapa dia jadi anak suami Mama?

Kenapa harus dia?

Raka berjalan melewatinya. Aroma parfumnya masih sama. Dan itu yang justru paling menyakitkan. Semua ini terlalu familiar dan terlalu bahaya untuk hatinya. Naura menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang ingin pecah.

Jangan menangis.

Jangan lemah.

Dia cuma masa lalu.

Namun semakin keras ia mencoba meyakinkan diri, napasnya justru makin tak beraturan.

Deg.

Deg.

Deg.

“Tenang… Naura, tenang…” bisiknya pelan pada diri sendiri. Tangannya dingin saat menggenggam gagang koper. 

Naura memaksa kakinya melangkah.

Satu langkah.

Dua langkah.

Suara roda koper bergesekan dengan lantai marmer terdengar nyaring sekali. Naura meringis. “Berisik banget sih…”

Dada Naura masih terasa sesak. Nama itu terus berputar-putar di kepalanya.

Raka.

Raka.

Raka.

Nama yang bertahun-tahun berusaha ia kubur, nama yang dulu pernah jadi alasan ia tersenyum tanpa sebab dan nama yang juga jadi alasan ia menangis sendirian hampir setiap malam.

Tangga di depannya terasa tinggi, berat, seakan setiap anak tangga menahan kakinya untuk naik. Naura menggigit bibir, memaksa diri tetap tenang. 

"Jangan menoleh, jangan lihat dia dan jangan lemah," ucap Naura lirih. Sudah beberapa langkah berjalan, namun tubuh Naura tetap bisa merasakan keberadaan Raka di belakang. Aroma parfumnya juga masih samar di udara.

Kenapa bahkan aromanya pun masih sama?

Kenapa tak ada satupun dari dirinya yang berubah?

Seharusnya dia berubah, seharusnya dia asing, seharusnya dia tak lagi terasa seperti rumah. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Semakin familiar, semakin menyakitkan.

Naura semakin cepat menaiki tangga, nyaris seperti orang kabur dari sesuatu, atau kabur dari seseorang. Begitu sampai di lantai dua, ia langsung menemukan kamar di ujung kanan. Pintu putih dengan gagang perak. Tangannya gemetar saat memutarnya.

Klik.

Pintu terbuka. Kamar itu luas, terlalu luas untuk satu orang. Kasur queen size dengan sprei krem, lemari kayu besar, meja belajar rapi dan jendela lebar menghadap taman, semua terlihat cantik, nyaman, dan sempurna.

Naura menutup pintu pelan. Begitu bunyi klik terdengar, pertahanannya runtuh. Koper terlepas dari tangannya begitu saja.

Bruk.

Ia berdiri beberapa detik, lalu perlahan tubuhnya merosot duduk di lantai. Tangannya menutup mulut sendiri, tapi tetap saja isakkan itu keluar. Air matanya jatuh tanpa permisi. Perlahan, namun lama kelamaan tak bisa ia hentikan.

“Kenapa…” suaranya bergetar pelan. “Kenapa harus dia? Dari jutaan orang di dunia, kenapa h

arus Raka lagi?” ucap Naura sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
7 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status