로그인Naura tidak pernah menyangka hidupnya akan sehancur ini. Setelah kehilangan ayahnya, ia justru dipertemukan kembali dengan Raka, mantan pacar yang paling ingin ia lupakan. Dan lebih parahnya lagi, mereka harus tinggal serumah, dan menerima nasib jika kini mereka adalah saudara tiri. Di balik hubungan yang seharusnya hanya sebatas keluarga, ada rahasia, dan skandal yang perlahan menghancurkan semuanya. Ketika masa lalu dan status baru bertabrakan, siapa yang bisa menahan hati?
더 보기“Hujannya tambah deres, Mbak. Yakin mau turun di depan gerbang saja?” Suara sopir taksi memecah lamunan Naura.
Naura tersadar. Ia menatap keluar jendela yang dipenuhi titik-titik air. Di balik kaca buram itu, berdiri rumah besar bercat putih dengan gerbang hitam tinggi.
“Iya, Pak. Di sini aja,” jawabnya pelan.
“Totalnya seratus dua puluh ribu.”
Naura mengangguk, menyerahkan uang tanpa banyak bicara. Tangannya dingin saat menerima kembalian.
“Barangnya cuma itu?” tanya sopir lagi, melihat koper kecil di sampingnya.
“Iya.” Satu koper. Cuma itu yang tersisa dari hidup lamanya.
“Makasih, Pak,” ucap Naura sambil memaksakan senyum.
Pintu mobil tertutup, suara mesin menjauh, dan suasana mendadak sunyi. Yang tersisa hanya suara hujan tipis dan detak jantungnya sendiri.
Naura berdiri beberapa detik di depan gerbang, menatap rumah itu tanpa ekspresi. Rumah besar. Bersih. Terlihat mahal. Terlihat… asing.
"Kalau Ayah masih ada…” gumamnya pelan. “Aku nggak bakal di sini.”
Gerbang tiba-tiba berbunyi klik dan terbuka otomatis. Satpam di pos depan melambaikan tangan.
“Mbak Naura, ya? Silakan masuk. Ibu sudah nunggu dari tadi.”
Naura hanya mengangguk pelan. Setiap langkah terasa berat saat ia menyeret koper masuk ke halaman.
Belum sempat ia mengetuk pintu, pintu utama sudah terbuka.
“Naura!” Suara itu membuatnya menoleh.
“Ya ampun… kamu makin kurus,” katanya begitu sampai di depan Naura. Belum sempat menjawab, Naura sudah ditarik ke pelukan. Terasa hangat dan lembut, tapi anehnya sedikit canggung.
“Kamu capek, ya? Perjalanan jauh banget pasti,” ujar Maya sambil mengusap punggungnya.
“Lumayan,” jawab Naura pelan.
“Ayo masuk. Mama sudah siapin kamar kamu. Kamu pasti suka.” Naura hanya mengangguk.
Setiap langkah memasuki rumah itu terasa berat. Lantainya marmer mengilap, dinding putih bersih. Aroma pengharum ruangan terlalu manis. Naura berbisik pelan, nyaris tak terdengar, “kaya hotel…”
“Hm? Kamu bilang apa, sayang?” tanya Maya.
“Nggak, Ma.” Maya tersenyum, lalu berkata hati-hati, “Papi kamu masih di kantor. Nanti malam baru pulang.” Langkah Naura langsung berhenti.
“Papi?” ulangnya datar. “Aku cuma punya ayah. Dan ayah udah meninggal.”
Maya terdiam, lalu menghela napas. “Iya… maksud Mama, Om Arman. Maaf. Mama cuma—”
“Nggak apa-apa,” potong Naura cepat. Ia tak mau bahas itu.
“Ya sudah. Kamu istirahat dulu, ya.” Naura menarik koper melewati ruang keluarga. Namun baru beberapa langkah—
Tap.
Tap.
Tap.
Suara langkah kaki dari lorong dekat tangga. Berat dan tenang. Naura refleks menoleh, dan dunia seperti berhenti.
Seorang pria keluar dari arah dalam rumah. Pria itu tinggi, bahu lebar, kemeja abu-abu digulung sampai siku.
Wajah itu.
Rahang tegas itu.
Tatapan itu, membuat napas Naura tercekat.
"Tidak mungkin," gumam Naura lirih hampir tak terdengar. Mereka saling menatap dan waktu seolah runtuh.
Raka Pratama.
Nama itu muncul begitu saja di kepalanya. Bukan sebagai kakak tiri, bukan orang asing, tapi sebagai lelaki yang dulu pernah menggenggam tangannya saat hujan deras. Lelaki yang setia menunggunya di depan kelas, dan lelaki yang berjanji akan selalu ada, tapi juga menghilang tanpa penjelasan.
Bibir Naura bergetar. “Ra… ka…?
Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, ekspresi pria itu berubah. Dingin, datar, formal, seperti mereka tak pernah punya masa lalu.
“Jadi ini adik tiriku,” ucapnya pelan. “Papa bilang kamu baru sampai.” Hatinya seperti diremas.
“Kamarmu di lantai dua, ujung kanan,” lanjutnya singkat. Tidak ada senyum, tidak ada sapaan, tidak ada tanda kalau mereka pernah punya masa lalu.
“Oh… iya.” Hanya itu yang keluar. Terdengar sangat bodoh karena di kepalanya kini memiliki ribuan pertanyaan.
Kenapa dia di sini?
Kenapa dia jadi anak suami Mama?
Kenapa harus dia?
Raka berjalan melewatinya. Aroma parfumnya masih sama. Dan itu yang justru paling menyakitkan. Semua ini terlalu familiar dan terlalu bahaya untuk hatinya. Naura menggigit bibirnya, menahan sesuatu yang ingin pecah.
Jangan menangis.
Jangan lemah.
Dia cuma masa lalu.
Namun semakin keras ia mencoba meyakinkan diri, napasnya justru makin tak beraturan.
Deg.
Deg.
Deg.
“Tenang… Naura, tenang…” bisiknya pelan pada diri sendiri. Tangannya dingin saat menggenggam gagang koper.
Naura memaksa kakinya melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Suara roda koper bergesekan dengan lantai marmer terdengar nyaring sekali. Naura meringis. “Berisik banget sih…”
Dada Naura masih terasa sesak. Nama itu terus berputar-putar di kepalanya.
Raka.
Raka.
Raka.
Nama yang bertahun-tahun berusaha ia kubur, nama yang dulu pernah jadi alasan ia tersenyum tanpa sebab dan nama yang juga jadi alasan ia menangis sendirian hampir setiap malam.
Tangga di depannya terasa tinggi, berat, seakan setiap anak tangga menahan kakinya untuk naik. Naura menggigit bibir, memaksa diri tetap tenang.
"Jangan menoleh, jangan lihat dia dan jangan lemah," ucap Naura lirih. Sudah beberapa langkah berjalan, namun tubuh Naura tetap bisa merasakan keberadaan Raka di belakang. Aroma parfumnya juga masih samar di udara.
Kenapa bahkan aromanya pun masih sama?
Kenapa tak ada satupun dari dirinya yang berubah?
Seharusnya dia berubah, seharusnya dia asing, seharusnya dia tak lagi terasa seperti rumah. Tapi kenyataannya justru sebaliknya. Semakin familiar, semakin menyakitkan.
Naura semakin cepat menaiki tangga, nyaris seperti orang kabur dari sesuatu, atau kabur dari seseorang. Begitu sampai di lantai dua, ia langsung menemukan kamar di ujung kanan. Pintu putih dengan gagang perak. Tangannya gemetar saat memutarnya.
Klik.
Pintu terbuka. Kamar itu luas, terlalu luas untuk satu orang. Kasur queen size dengan sprei krem, lemari kayu besar, meja belajar rapi dan jendela lebar menghadap taman, semua terlihat cantik, nyaman, dan sempurna.
Naura menutup pintu pelan. Begitu bunyi klik terdengar, pertahanannya runtuh. Koper terlepas dari tangannya begitu saja.
Bruk.
Ia berdiri beberapa detik, lalu perlahan tubuhnya merosot duduk di lantai. Tangannya menutup mulut sendiri, tapi tetap saja isakkan itu keluar. Air matanya jatuh tanpa permisi. Perlahan, namun lama kelamaan tak bisa ia hentikan.
“Kenapa…” suaranya bergetar pelan. “Kenapa harus dia? Dari jutaan orang di dunia, kenapa h
arus Raka lagi?” ucap Naura sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
Malam hari. Rumah besar itu sudah mulai sepi. Jam menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh malam. Dari celah pintu kamar, Naura mengintip pelan ke arah koridor. Suasana begitu sunyi. Naura langsung menarik napas lega.“Oke… sekarang atau nggak sama sekali,” gumamnya pelan.Ia sudah berganti pakaian sejak tadi. Dress hitam sederhana dengan jaket tipis di luar. Rambutnya dibiarkan terurai natural. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup membuat dirinya terlihat berbeda.Naura berjalan pelan sembari berjinjit menuruni tangga. Matanya beberapa kali melirik ke arah ruang kerja Raka yang pintunya tertutup.“Aman…”Namun baru satu langkah menuju pintu depan...“Naura.”Tubuhnya langsung membeku. Pelan-pelan Naura menoleh. Dan benar saja, Raka duduk di sofa ruang keluarga sambil memegang laptop di pangkuannya. Lampu ruang tamu yang redup membuat wajahnya terlihat semakin dingin.“Kamu mau ke mana?”Naura langsung salah tingkah sepersekian detik, tapi ia cepat-cepat memasang wajah santai.“Kelua
“RAKA!” pekik Naura kaget.Tubuhnya langsung terangkat begitu saja ke pundak Raka.“Turunin aku!” teriak Naura sambil memukul punggung Raka pelan karena panik. Beberapa mahasiswa langsung menoleh heboh ke arah mereka.“Ya Tuhan, itu Naura, kan?” “Cowoknya siapa?”Namun Raka berjalan tetap tenang seolah tidak peduli dengan semua tatapan itu. Wajahnya masih dingin. Rahangnya mengeras. Satu tangannya menahan kaki Naura agar tidak jatuh.“Raka! Aku malu!” desis Naura panik.“Kalau nggak mau malu, seharusnya dari tadi nurut,” jawab Raka datar.Naura semakin kesal. “Aku bisa jalan sendiri!”“Tapi kamu keras kepala.”“Dan kamu nyebelin!”Raka tidak membalas lagi. Ia langsung membuka pintu mobil dan menurunkan Naura ke kursi dengan cepat namun tetap hati-hati.Brak.Pintu mobil tertutup. Naura langsung menatap tajam ke arah Raka dari dalam mobil. “Kamu gila ya?!”Raka berjalan memutari mobil tanpa menjawab. Beberapa detik kemudian ia masuk ke kursi kemudi dan langsung menjalankan mobil.Suas
Naura langsung menegang mendengar perkataan Raka. “Hah? Maksudnya?” Tanya Naura. Suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia inginkan.Raka tidak langsung menjauh. Napas hangatnya masih terasa di dekat telinga Naura, membuat tubuh Naura masih menegang, bahkan bulu kuduknya berdiri tegak.“Dari tadi kamu memang sengaja goda aku, Naura. Mulai dari rambut, sampai sekarang masalah sabuk pengaman," ucap Raka hampir berbisik.Naura menelan ludah. “Jangan ngaco,” balasnya cepat, berusaha terdengar tegas meski jantungnya mulai kacau lagi.Raka terkekeh pelan. Tangannya bergerak turun ke arah sabuk pengaman di dekat bahu Naura.“Diam dulu,” ucapnya singkat. Beberapa detik kemudian sabuk pengaman terlepas. Namun Raka tidak langsung mundur. Wajahnya masih terlalu dekat. Tatapannya turun sejenak ke leher Naura yang terbuka karena rambut yang terurai. Naura langsung menahan napas. “Lain kali jangan bikin aku salah fokus di jalan.” Kalimat itu membuat pipi Naura langsung memanas.Naura segera mend
Wajah Raka semakin mendekat. Nafas Naura langsung tercekat. Jarak mereka kini hanya beberapa senti. Terlalu dekat sampai Naura bisa merasakan hembusan nafas hangat Raka menyentuh wajahnya.Deg.Deg.Deg.Jantungnya berdetak kacau.“Raka…” bisik Naura lirih, hampir tak terdengar. Tangannya bahkan masih mencengkram kemeja Raka tanpa sadar. Sementara tangan Raka tetap menahan pinggang Naura dengan kuat, seolah takut Naura benar-benar jatuh.Tatapan Raka turun lagi ke bibir Naura. Lalu kembali ke matanya. Ada sesuatu di sana. Bukan dingin, bukan juga marah. Lebih seperti emosi yang selama ini ditahan.Naura menelan ludah. “Apa yang kamu lakuin?” ucapnya pelan, suaranya bergetar tipis.Raka tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Naura dalam-dalam. Seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri.Beberapa detik berlalu. Dan waktu terasa jauh lebih lambat. Namun tiba-tiba, Raka menarik napas panjang. Rahannya menegang, dan perlahan ia menjauhkan wajahnya. Seakan baru tersadar dengan apa












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.