MasukTak ada niat balas dendam, semua terjadi begitu cepat dan tanpa disengaja. Saat Mita dihancurkan oleh perselingkuhan dan pengabaian dari suaminya, takdir mempertemukannya dengan Gara, pegawai magang yang bukan hanya mengobati kesepiannya, tetapi juga memberikan kehangatan. Hingga akhirnya kebenaran terkuak, ternyata Gara adalah anak selingkuhan suami Mita. “Salahkah aku mencintai wanita yang sepantaran dengan ibuku?” — Lazuardy Sagara — “Saat ini dia sedang berjuang untuk bisa pantas menjadi pendampingku, tapi… pada saat itu tiba, apakah aku masih layak untuk dia?” — Sasmita Ayuningtyas —
Lihat lebih banyak“Tante tidak jelek.”
Ibu jari Gara yang besar dan hangat mengusap jalur air mata di pipi Mita. Gara menahan napas saat menyelipkan helai rambut Mita ke belakang telinganya, gerakan lembut itu membuat napas pemuda itu berembus sangat dekat.
Mita menatap Gara, mata sembabnya menelisik mencari bukti. Jangan-jangan pemuda itu hanya sedang kasihan.
“Tante cantik.” Gara menelan ludah dengan susah payah, suara seraknya mengandung kejujuran. “Mungkin suami Tante yang buta.”
Belum sempat Mita bereaksi, jemari Gara meluncur menyusuri garis rahangnya, turun ke leher yang berdenyut cepat. Pandangan Gara terkunci pada bibir Mita yang pucat, dan sentuhan ibu jarinya membuat Mita tanpa sadar sedikit membuka bibirnya, mengundang.
“Tante tidak hanya cantik,” bisik Gara, suaranya kini bergetar karena desakan. “Tapi juga indah.”
Gerakan Gara tak lagi lembut, melainkan memutuskan, bibirnya menyergap bibir Mita dalam sebuah ciuman yang mendesak, panas, dan menggairahkan.
***
"Selingkuh? Kayaknya ga mungkin deh, Mas Pram selingkuh."
Amara memegang tangan Mita, mencoba menenangkan. Mita mengangguk, mencoba percaya, atau minimal terlihat percaya.
"Mungkin cuma perasaanku aja. Kami sama-sama sibuk. Komunikasi juga berantakan," katanya pelan, meski ia sendiri tahu itu kedengarannya klasik, tapi ya … apa lagi yang bisa ia pegang?
“Kalau capek, istirahat Mit,” ucap Amara kala menatap wajah lelah sahabatnya.
Mita menggeleng getir. “Untuk sekarang belum bisa, Ra. Pinjaman modal Mas Pram sebagian besar aku yang tanggung. Kamu ingat kan, proyek konstruksi yang ambrol dua tahun lalu?”
Amara mengangguk, tentu dia ingat. Karena hubungan baiknya dengan salah satu petinggi bank swasta, bisa membantu Mita dan Pram mendapat pinjaman dalam jumlah besar.
“Sekarang ini berat, Ra. Konveksiku harus bersaingan dengan produk murah dari China. Kalau aku berhenti putar modal, bisa-bisa Mas Pram semakin kesulitan menutup cicilan bank. Terpaksa deh, aku harus kerja keras bagai kuda,” sambung Mita, memejamkan mata menahan lelah.
Amara terkekeh, suara tawanya sedikit menusuk. “Kerja keras bagai kuda, sampai lupa ‘kuda-kudaan’ ya, Mit!”
Seringai Amara itu membuat Mita tersentak. Ia merasakan guyonan Amara terdengar seperti ejekan, seolah tahu betapa dingin dan hambar kehidupan ranjangnya kini.
“Mau gimana lagi, Ra. Hutang kami banyak, apalagi Mas Pram berencana ambil proyek besar lagi untuk menutupi kerugian lama. Kalau itu berhasil, mungkin kami bisa sedikit bernapas lega.” Mita berusaha mengabaikan sindiran Amara.
Mita menghela napas panjang. Pram mengambil pinjaman bank yang nominalnya sangat besar. Selama perusahaan properti Pram belum stabil, tidak jarang Mita yang harus menomboki dari keuntungan garmentnya, hanya demi menyelamatkan rumah tangga dan nama baik suaminya.
“Kamu tidak usah mikir yang nggak-nggak, Mas Pram sudah terlalu sibuk dengan berbagai proyek, sudah tidak ada waktu untuk yang aneh-aneh. Doakan saja rejekinya selalu lancar, biar perusahaannya tambah gede.”
“Amin.”
Terlalu asik berbincang membuat Mita lupa waktu. Tanpa terasa sudah berjam-jam dia duduk hingga kandung kemihnya terasa penuh.
“Maaf, Ra. Mau numpang pipis,” ucap Mita yang terlihat sudah tidak nyaman. “Eh, kamar mandinya di mana, ya?”
Amara langsung berdiri. “Lewat sini.”
Mita melangkah mengikuti Amara menuju bagian belakang rumah, menyusuri lorong yang luas dengan pencahayaan hangat. Mita menarik napas dalam-dalam. Bahkan kamar mandinya pun berbau mahal. Kemewahan ini adalah kontras tajam dari hidupnya yang penuh perhitungan utang.
Amara memiliki kehidupan yang makmur dan stabil meski menikah muda. Rumor yang pernah dia dengar, Amara melahirkan tiga bulan setelah acara perpisahan sekolah. Ya, dia memang hamil duluan, tapi beruntung menikah dengan anak orang kaya.
Beberapa menit kemudian, setelah menyelesaikan hajatnya, Mita langsung keluar. Tapi saat membuka pintu, tepat di depannya ada pintu kamar lain yang terbuka.
Tubuh Mita menegang.
Di sana, pria tinggi tegap sedang membelakangi sambil membuka kemeja flanelnya. Gerakan tangannya yang cepat menarik kaus itu ke atas, memperlihatkan punggungnya bidang, otot-ototnya tegas bagai pahatan. Saat ia berbalik, six-pack di perutnya lebih mencolok daripada keterkejutan di mata pemuda itu.
Tanpa sengaja mereka saling beradu pandang.
Mita terpaku, darahnya mendadak berdesir cepat karena terkejut dan panik. Ia merasa seperti sedang mengintip momen pribadi yang seharusnya tak ia saksikan. Matanya cepat-cepat beralih, namun sensasi visual itu sudah terekam jelas di benaknya.
“Ma-maaf,” ucap Mita terbata.
Pemuda itu mengangkat alis, berusaha tetap sopan. “Oh… saya tidak tahu kalau ada tamu.”
Wajah Mita memanas, lalu bergegas ke ruang tamu, menekan rasa malu yang anehnya sulit dijelaskan.
Mita duduk, mencoba mengatur napasnya. “Suamimu sudah pulang, Ra?” tanya Mita berusaha mengalihkan pikiran yang dia anggap tidak pantas, dia merasa sudah mengintip suami dari sahabatnya.
Amara tertawa kecil, sedikit menunduk. “Suamiku? Astaga, Mit. Di rumah ini aku hanya tinggal bersama anakku. Aku sudah lama bercerai dari suamiku.”
Mita tercekat. Ia tak pernah mendengar kabar perceraian sahabatnya itu. Dan ia tak menyangka, pria bertubuh kekar itu adalah putra Amara.
Belum sempat Mita bertanya lebih, Gara sudah muncul di ruang tamu. Pemuda itu hanya mengenakan celana jins, dengan tubuh bagian atasnya masih polos.
“Ma, handuk di mana?” tanya Gara dengan Santai.
Amara memarahi putranya, "Gara! Pakai bajumu! Ada tamu, tidak sopan!"
“Gerah, Ma,” jawab Gara ringan sambil mengusap lehernya.
Gara hanya menyeringai cuek, lalu menoleh pada Mita. Mata mereka kembali bertemu. Kali ini, tidak ada kepanikan, hanya sebuah tatapan intens yang berlangsung sedikit lebih lama.
“Mit, ini anakku, Gara.”
Mita mengulurkan tangan, menjabat tangan Gara. Telapak tangan Gara terasa hangat, sedikit kasar, namun genggamannya mantap.
“Gara,” ucap Gara singkat.
“Mita,” balas Mita.
“Panggilnya apa, ya?”
“Ya, tante dong, Gar,” sahut Amara. Nada suaranya mengandung perintah. “Tante Mita kan, sahabat mama waktu SMA.”
“Sayang,” celetuk Gara, senyum jahilnya menyergap. Ia melirik tajam ke arah Mita.
“Jangan iseng, Gar," hardik Amara, suaranya tiba-tiba dingin dan matanya menyipit. “Tante Mita sudah punya suami dan anak.” Suara Amara tegas, seperti sebuah peringatan.
“Masa sih sudah tante-tante, Ma. Orang masih cantik gini.”
Mita hanya tersenyum tipis, lalu menundukkan kepala menyembunyikan rona merah di pipinya. Guyonan garing pemuda di hadapannya terdengar seperti gombalan. Tapi kata ‘sayang’ yang sempat terucap mampu membangkitkan sesuatu yang telah lama ia rindukan. Sang suami, yang sudah lama hanya melihatnya sebagai mesin pencetak uang, bukan sebagai istri yang seharusnya disayang.
Pram berdiri di sana. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak lebih kurus. Ada sisa lebam yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menatap Mita lama, seolah mencari celah.Mita bangkit berdiri. Jarak beberapa meter di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. Kehadiran Pram membawa aura pekat yang membuat dada Mita sesak."Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Mas?" Suara Mita dingin, memangkas semua basa-basi.Pram melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu dengan pelan namun terasa mengancam."Aku ingin bicara tentang rumah tangga kita," jawab Pram cepat, suaranya serak. "Tentang Samudra. Tentang semua yang…"Pram tidak melanjutkan kalimatnya, terlihat bingung mau bicara apa lagi. Sikap tak acuh Mita kala menyambutnya, sudah menjadi petunjuk, tak mudah untuk mengubah keputusan istrinya itu.Pram menelan ludah yang terasa pahit. "Aku tahu aku salah.""Mengaku salah setelah ketahuan?" sahut Mita ketus.Pram maju selangkah. Mita tidak mundur, namun bahunya menegang kaku."Aku tidak
"Ternyata selingkuh bukan sekadar khilaf, tapi sudah jadi tabiat Papa sejak muda," suara Gara rendah, namun memukul hati Sadewa dengan keras.Pikirannya melayang pada lembar-lembar kaku berkas perceraian Mita yang baru saja ia baca. Angka-angka di sana menari mengejeknya. Selisih usia Gara dan Mita, sahabat SMA Amara, adalah empat belas tahun. Logika paling bodoh sekalipun tahu, tidak mungkin Amara melahirkannya saat masih mengenakan seragam SMP."Jadi Mama mengalami baby blues karena tahu Papa selingkuh dengan anak sekolah?" Gara menoleh, matanya berkilat menuntut."Gar..." Sadewa mencoba meraih lengan putranya.Gara menepisnya kasar. "Aku butuh penjelasan, bukan pembelaan. Papa mau jujur atau bohong tidak akan bisa mengubah masa lalu.”Sadewa menarik napas panjang, bahunya merosot seolah beban puluhan tahun mendadak menindihnya. "Papa dijebak, Gar."Gara tersenyum menyeringai sambil menggelengkan kepala. Apa yang diucapkan Sadewa adalah alasan klise bagi orang yang sudah terpojok ke
Sadewa menelan ludah. Bahunya merosot dengan tatap mata yang goyah. Rahasia yang selama ini dia simpan, sampai pada titik menunjukkan kebenarannya.Seolah seluruh tubuhnya ikut menyerah, akhirnya Sadewa mengangguk lemah“Kita bicarakan di dalam,” ucap Sadewa dengan suara lirih.Sadewa berbalik lebih dulu, lalu dengan langkah gontai menuju ke ruang kerja. Dan Gaa mengikuti, tak ingin melepaskan kesempatan untuk mengetahui yang sebenarnya.Sementara itu di ruang tamu lampu menyala setengah. Marina muncul dari ujung lorong. Wajahnya pucat. Monic berdiri di belakangnya, memeluk diri sendiri.“Ada apa, Pa?” Monic bertanya pelan, mencoba menarik perhatian ayah dan kakak tirinya.Sadewa tidak menjawab, mengabaikan Monic begitu saja.Gara melirik mereka sekilas. Tatapannya dingin. Tajam. Seolah baru sadar selama ini ia hidup di tengah orang-orang asing.Marina membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Dari sorot mata Sadewa, dia paham suaminya itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik-baik saj
Gara mematung.Kata demi kata yang terlontar dari mulut Amara seperti beban berta yang langsung di jatuhkan di atas kepalanya dengan begitu tiba-tiba.“Ibu kandungmu…” Kata itu masih berdengung di kepalanya.Selama ini yang Gara tahu, Amara adalah ibu kandungnya, Amara adalah perempuan yang melahirkannya. Tapi apa yang baru saja dia dengar seperti sebuah pukulan yang tak pernah Gara duga.Selama dua puluh lima tahun, Amara adalah poros dunianya. Perempuan itu adalah dekapan saat ia bermimpi buruk, tangan yang mengusap air matanya, dan sosok yang ia puja sebagai malaikat tanpa sayap. Kini, malaikat itu baru saja menanggalkan topengnya.Amara menatapnya, kali ini tanpa senyum. “Selama ini kamu pikir aku apa?”Gara membuka mulut, tapi tak ada suara keluar. Ia hanya bisa menatap bayangan dirinya di bola mata Amara, sosok pria dewasa yang tiba-tiba merasa sekecil debu.Amara mendekat selangkah. “Waktu ibu kandungmu dirawat di rumah sakit jiwa, papamu sibuk main perempuan di luar. Kamu masi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasanLebih banyak