Share

6. Cerai Saja

Penulis: Henny Djayadi
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-27 00:06:33

Gara memutar kemudi, menjauhi hingar bingar pusat kota dan kemewahan Hotel Red Orchid. Ia memilih jalan menuju pinggiran, mengarah ke pantai yang sepi, yang ia tahu jarang didatangi orang. Keputusan yang Gara Ambil secara sepihak, karena dia tahu Mita butuh ruang untuk melepas semua amarahnya.

Saat mobil berhenti di tepi pantai, suara ombak yang memecah karang terdengar nyaring, seolah menenggelamkan semua kebisingan pikiran Mita.

Mita keluar dari mobil. Angin laut menerpa wajahnya, sedikit meredakan panas di hatinya. Ia berjalan ke pasir, membiarkan deburan ombak menyentuh ujung sepatu haknya.

Gara menyusul, berdiri di sampingnya. Ia tidak bertanya, hanya menunggu.

Mita menatap lautan yang luas, air matanya sudah mengering. Mita menumpahkan unek-unek yang selama ini dia pendam sendiri.

“Aku tidak pernah menduga jika dia akan membalasku seperti ini. Aku kira setelah kami berjuang bersama, kami juga akan memetik hasil bersama. Tapi ternyata…”

Mita menggelengkan kepala, tidak sanggup melanjutkan kalimat yang terasa sangat getir.

“Aku bekerja keras, untuk menutup semua kebutuhan dan cicilan yang begitu besar, sedangkan dia… ada sedikit keuntungan sudah buru-buru check-in.”

Tangis yang sempat mereda datang kembali, dan terdengar lebih menyayat hati.

“Aku menunggunya di rumah, berdandan, mengenakan pakaian yang dia sukai, lingerie-lingerie yang dia belikan dulu…” Seperti orang kalap, Mita mengungkap hal-hal yang seharusnya private. “Tapi dia sama sekali tidak melirikku, tidak menyentuhku, dia… menolakku.”

Mita menoleh, pandangannya hampa. “Aku kira dia lelah karena banyaknya pekerjaan.” Mita tertawa getir, suaranya parau. “Ternyata dia memilih menuntaskan hasratnya bersama wanita lain.”

Mita tersentak, air matanya kembali menggenang. Ia merasa sangat rendah diri dengan tubuhnya yang tidak menarik lagi di hadapan suaminya. Dan seolah kerja keras yang ia lakukan hanya untuk membiayai suaminya bersenang-senang.

“Apa aku seburuk itu? Apa aku sudah tidak cantik lagi?” Mita memohon jawaban dari Gara, suaranya kembali menjadi isakan pedih yang tertahan.

Gara hanya diam, membiarkan ombak menyerap semua kepedihan Mita. Setelah Mita sedikit tenang, Gara melangkah mendekat, perlahan.

“Tan,” panggil Gara lembut. Ia memutar tubuhnya, menghadap langsung Mita. “Tante itu perempuan hebat. Tante sudah melakukan yang terbaik untuk keluarga, tapi…”

Gara menatap mata Mita, lurus dan tanpa keraguan.

“Kalau memang sesakit ini, kenapa Tante tidak cerai saja?”

Pertanyaan itu, lugas dan tanpa basa-basi, menusuk tepat di ulu hati Mita. Semua kepedihan, pengkhianatan, dan keraguan yang ia simpan, kini dihadapkan langsung oleh pemuda di depannya.

Gara tidak bicara secara asal, karena dia juga tumbuh bersama ibunya yang menjanda. Perceraian tidak membuat Amara tumbang. Mungkin Mita bisa menjadikannya sebagai pertimbangan.

“Nggak bisa,” jawab Mita, suaranya pelan dan berat, bukan penolakan melainkan pengakuan.

“Kenapa tidak bisa?” Gara mencondongkan tubuhnya, pandangannya memaksa Mita untuk jujur. “Tante adalah wanita yang sukses, mandiri. Tante layak mendapatkan yang lebih baik daripada dibohongi dan diselingkuhi.”

Mita mengepalkan tangan, memasukkan jemarinya ke dalam saku celana panjang. Menyembunyikan amarahnya dari Gara.

“Masalahnya bukan hanya diriku, Gar,” jelas Mita, matanya memancarkan rasa lelah yang mendalam. “Ada anakku, dan ada… pinjaman bank.”

“Justru itu. Kamu yang menanggung finansial keluarga kalian. Anakmu bakal makin sedih kalau lihat kamu disakiti terus.” Gara berbicara dengan nada frustrasi yang tulus.

Membicarakan anak seolah menjadi pukulan telak yang membuat mata Mita memanas. Apa yang dilakukan Pram sangat menyakitkan, tapi reaksi yang dia ambil akan sangat mempengaruhi arah ke depan keluarganya.

Mita menimbang-nimbang, urusan finansial masih bisa diusakan, tapi apakah rumah tangganya masih bisa diperbaiki? Bisakah Pram berubah, dan kembali menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab?

“Seluruh asset yang kami miliki menjadi jaminan, Gar. Termasuk konveksiku dan juga rumah yang kami tempati.

“Aku takut, jika kami cerai sekarang, Pram akan lepas tanggung jawab, dan itu pasti akan semakin memberatkan keuanganku.”

Mita mendongak, matanya menatap Gara dengan tatapan seorang pejuang yang terpojok. “Aku harus menyelamatkan anakku dari kebangkrutan, Gar. Lebih mudah menelan pengkhianatan ini daripada menghancurkan masa depannya.”

Gara terdiam. Ia melihat dilema yang lebih besar dari sekadar cinta dan perselingkuhan. Ini adalah perangkap finansial yang mengikat seorang istri dari suami yang korup.

Gara menghela napas panjang, ekspresinya melunak. Menyadari betapa rumit masalah yang dihadapi Mita, membuat Gara menghormati apa pun keputusannya.

“Aku mengerti.” Gara meraih tangan Mita. "Tapi kalau kamu butuh apa pun, aku ada di sini."

Untuk sesaat keheningan tercipta kala mereka saling beradu pandang. Mita merasakan getaran hangat yang aneh di hatinya, sesuatu yang sudah lama hilang.

“Terima kasih.” Mita mengangguk samar dengan suara lirih yang dibarengi lelehan air mata.

Mita menatap Gara yang berdiri tegap di hadapannya. Pemuda di hadapannya bukan sekadar anak magang, tapi sosok baru yang bisa menemani kesepiannya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   101. Kesempatan Kedua

    Pram berdiri di sana. Wajahnya pucat. Tubuhnya tampak lebih kurus. Ada sisa lebam yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menatap Mita lama, seolah mencari celah.Mita bangkit berdiri. Jarak beberapa meter di antara mereka terasa seperti jurang yang menganga lebar. Kehadiran Pram membawa aura pekat yang membuat dada Mita sesak."Apa lagi yang ingin kau bicarakan, Mas?" Suara Mita dingin, memangkas semua basa-basi.Pram melangkah masuk tanpa diundang, menutup pintu dengan pelan namun terasa mengancam."Aku ingin bicara tentang rumah tangga kita," jawab Pram cepat, suaranya serak. "Tentang Samudra. Tentang semua yang…"Pram tidak melanjutkan kalimatnya, terlihat bingung mau bicara apa lagi. Sikap tak acuh Mita kala menyambutnya, sudah menjadi petunjuk, tak mudah untuk mengubah keputusan istrinya itu.Pram menelan ludah yang terasa pahit. "Aku tahu aku salah.""Mengaku salah setelah ketahuan?" sahut Mita ketus.Pram maju selangkah. Mita tidak mundur, namun bahunya menegang kaku."Aku tidak

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   100. Masa Lalu

    "Ternyata selingkuh bukan sekadar khilaf, tapi sudah jadi tabiat Papa sejak muda," suara Gara rendah, namun memukul hati Sadewa dengan keras.Pikirannya melayang pada lembar-lembar kaku berkas perceraian Mita yang baru saja ia baca. Angka-angka di sana menari mengejeknya. Selisih usia Gara dan Mita, sahabat SMA Amara, adalah empat belas tahun. Logika paling bodoh sekalipun tahu, tidak mungkin Amara melahirkannya saat masih mengenakan seragam SMP."Jadi Mama mengalami baby blues karena tahu Papa selingkuh dengan anak sekolah?" Gara menoleh, matanya berkilat menuntut."Gar..." Sadewa mencoba meraih lengan putranya.Gara menepisnya kasar. "Aku butuh penjelasan, bukan pembelaan. Papa mau jujur atau bohong tidak akan bisa mengubah masa lalu.”Sadewa menarik napas panjang, bahunya merosot seolah beban puluhan tahun mendadak menindihnya. "Papa dijebak, Gar."Gara tersenyum menyeringai sambil menggelengkan kepala. Apa yang diucapkan Sadewa adalah alasan klise bagi orang yang sudah terpojok ke

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   99. Selingkuhan Papa

    Sadewa menelan ludah. Bahunya merosot dengan tatap mata yang goyah. Rahasia yang selama ini dia simpan, sampai pada titik menunjukkan kebenarannya.Seolah seluruh tubuhnya ikut menyerah, akhirnya Sadewa mengangguk lemah“Kita bicarakan di dalam,” ucap Sadewa dengan suara lirih.Sadewa berbalik lebih dulu, lalu dengan langkah gontai menuju ke ruang kerja. Dan Gaa mengikuti, tak ingin melepaskan kesempatan untuk mengetahui yang sebenarnya.Sementara itu di ruang tamu lampu menyala setengah. Marina muncul dari ujung lorong. Wajahnya pucat. Monic berdiri di belakangnya, memeluk diri sendiri.“Ada apa, Pa?” Monic bertanya pelan, mencoba menarik perhatian ayah dan kakak tirinya.Sadewa tidak menjawab, mengabaikan Monic begitu saja.Gara melirik mereka sekilas. Tatapannya dingin. Tajam. Seolah baru sadar selama ini ia hidup di tengah orang-orang asing.Marina membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Dari sorot mata Sadewa, dia paham suaminya itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik-baik saj

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   98. Jati Diri

    Gara mematung.Kata demi kata yang terlontar dari mulut Amara seperti beban berta yang langsung di jatuhkan di atas kepalanya dengan begitu tiba-tiba.“Ibu kandungmu…” Kata itu masih berdengung di kepalanya.Selama ini yang Gara tahu, Amara adalah ibu kandungnya, Amara adalah perempuan yang melahirkannya. Tapi apa yang baru saja dia dengar seperti sebuah pukulan yang tak pernah Gara duga.Selama dua puluh lima tahun, Amara adalah poros dunianya. Perempuan itu adalah dekapan saat ia bermimpi buruk, tangan yang mengusap air matanya, dan sosok yang ia puja sebagai malaikat tanpa sayap. Kini, malaikat itu baru saja menanggalkan topengnya.Amara menatapnya, kali ini tanpa senyum. “Selama ini kamu pikir aku apa?”Gara membuka mulut, tapi tak ada suara keluar. Ia hanya bisa menatap bayangan dirinya di bola mata Amara, sosok pria dewasa yang tiba-tiba merasa sekecil debu.Amara mendekat selangkah. “Waktu ibu kandungmu dirawat di rumah sakit jiwa, papamu sibuk main perempuan di luar. Kamu masi

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   97. Ibu Kandung

    Rumah mewah itu sunyi saat pintu terbuka keras.Amara yang semula berdiri di depan cermin tersenyum refleks. Senyum yang biasa ia pakai saat Gara datang. Senyum ibu yang yakin masih punya kuasa atas putranya.Namun, senyum itu runtuh seketika saat Gara melangkah masuk ke dalam cahaya lampu kristal. Putranya tampak seperti orang asing.Sorot matanya segelap badai, rahangnya terkatup begitu rapat hingga otot-otot di wajahnya menegang. Tidak ada sapaan. Tidak ada hangat yang biasanya menyambut Amara.Amara menurunkan tangannya perlahan. Bulu kuduknya meremang. Ada sesuatu yang sangat salah."Kenapa Mama ikut campur sampai sidang perceraian Tante Mita ditunda?" suara Gara keluar pelan, namun dinginnya terasa mengiris kulit.Amara terdiam sesaat, seolah sedang menimbang-nimbang reaksi apa untuk menanggapi putranya. Ia terkekeh pendek, suara yang dipaksakan untuk menutupi detak jantungnya yang mulai tak beraturan."Kamu marah sama mama karena Tante Mita, Sayang?""Jawab, Ma. Jangan bersandi

  • Terjerat Cinta Anak Selingkuhan Suamiku   96. Salah Strategi

    Ruang sidang yang semula tenang berubah tegang saat pengacara dari pihak Pram berdiri. Map cokelat dibuka. Satu per satu lembaran dikeluarkan dengan gerakan terukur.Mita menegakkan punggung. Ada rasa tidak nyaman yang merayap pelan.​“Yang Mulia,” suara pengacara Pram memecah keheningan, berat dan penuh otoritas yang dipaksakan. “Klien kami, Saudara Pramudya Wijayanto, saat ini dalam kondisi kesehatan yang tidak memungkinkan untuk hadir dan menjalani persidangan.”Pengacara lalu menyerahkan berkas.“Ini surat keterangan dari pihak rumah sakit. Hasil rontgen menunjukkan beberapa tulang rusuk klien kami mengalami fraktur. Kondisinya masih dalam pemulihan dan membutuhkan istirahat total.”Mita menghela napas pelan. Tangannya mengepal di pangkuan.Adnan berdiri. “Yang Mulia, kami menghormati kondisi kesehatan termohon. Namun perlu dicatat, ketidakhadiran ini bukan yang pertama. Kami memohon agar proses tetap berjalan.”Hakim menerima berkas. Membacanya saksama. Kacamata diturunkan sedik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status